
Rico dan Anita masih setia duduk di kursi yang ada di pinggir pantai. Dua insan berlawanan jenis itu terlibat Obrolan ringan yang seru di antara mereka. Terkadang menciptakan tawa, terkadang juga terlihat serius. Apalagi saat mereka membicarakan hobi masing-masing.
Waktu terasa begitu cepat berlalu hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, dan itu sudah subuh. Bagi yang lain, masih berada di alam mimpi tetapi, bagi mereka masih berada di alam sadar yang penuh keceriaan. Bagi Rico ini sebuah mimpi, bisa ngobrol bersama seorang Anita yang baginya wanita luar biasa, sudah sejak dulu dia menyukainya. Namun, tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya, Rico sangat takut jika Anita menolak dirinya. Apa lagi saat mendengar isu bahwa Anita menyukai Jack. Pupus sudah harapan Rico pada saat itu. Akan tetapi, sekarang dia akan berjuang untuk mendapatkan hati wanita pujaannya, bagaimanapun caranya.
"Ini sudah pagi ... Kita kembali ke ke kamar, ya?” Ajak Anita rasa ngantuk pun sudah mulai terasa di matanya yang mulai berat.
"Oke. Ayo!” Rico pun berdiri mengajak Anita. Mereka berdua pun pergi dari pinggir pantai untuk menuju kamar masing-masing.
Kamar Rico dan kamar Anita kebetulan arahnya sejajar. Dari Kamar kedua manusia cantik dan tampan itu hanya terhalang dua kamar lain, yaitu kamar yang di tempati Ferdy dan kamar Bibi serta Zay. Hanya kamar Jack dan Mira yang letaknya cukup jauh dari kamar mereka.
Rico dan Anita berjalan beriringan, hingga merak tiba di depan pintu kamar Anita. Sesaat mereka berhenti, lalu saling berpandangan.
"Silahkan masuk
....” Rico mempersilahkan Anita untuk masuk terlebih dahulu dari dirinya, sebab dia masih berdiri di depan pintu dan ingin melihat Anita masuk ke kamarnya.
"Iya, baiklah." Jawab Anita sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Terima kasih, Atas waktunya ....” Jack mengucapkan terima kasih untuk Anita karena sudah bersedia menemaninya untuk mengobrol dan membuatnya gembira.
"Sama-sama," Jawab Anita sambil tersenyum lalu menatap wajah Rico, yang terlihat sangat manis di matanya kali ini. Rico itu di ibaratkan gula jawa, hitam tetapi rasanya manis. Setelah saling mengucapkan kata selamat istirahat, Anita pun masuk ke kamarnya dan menutup pintunya. Sementara Rico masih berdiri di depan pintu kamar Anita.
Dari kejauhan ada seseorang yang melihat interaksi kedua manusia tadi, orang itu adalah ferdy. Dia memperhatikan interaksi keduanya dari depan kamar miliknya, sudah sejak tadi dia terbangun karena terbiasa bangun di jam lima pagi. Jadi, tidak heran jika pria itu sudah berada di luar lalu, melihat Anita dan Rico, yang baru datang entah itu dari mana, dia tidak tahu.
Rico pun pergi berlalu meninggalkan kamar Anita, untuk menuju tempat peristirahatannya sendiri. Pria itu juga sudah merasa mengantuk. Dengan langkah yang pelan sambil mengudarakan asap tembakaunya. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dekat, membuat Rico kaget, dilihatnya Ferdy berdiri di pinggir tiang yang sedikit gelap sehingga wajar bila pria itu tak melihatnya.
"Baru pulang?” Tanya Ferdy terhadap Rico. Namun, pria itu mencari keberadaan suara tersebut, hingga Ferdy mendekat, barulah dia tahu asal suara.
"Iya, Gua enggak bisa tidur!” Jawab Rico. "Nah, Lu ngapain jam segini udah bangun? Ini baru jam lima pagi!” Tanya Rico sedikit heran.
"Jam lima itu, Sudah waktunya bangun! Jadi, gua enggak bisa tidur lagi kalau sudah jam lima," Ferdy menjelaskan tentang kebiasaannya, yang tidak bisa tidur kembali setelah jam lima pagi.
__ADS_1
"Terus, lu mau ngapain?” Tanya Rico.
"Gua, mau lari-lari kecil di sekitar sini. Biar tambah sehat!" Ucap ferdy sambil pergi berlalu meninggalkan Rico yang masih berdiri.
Rico pun akhirnya pergi menuju kamarnya, dan begitu tiba di sana, dia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Pria itu rebah dalam keadaan telentang sambil langit-langit kamar. Dia senyum-senyum sendiri ketika mengingat saat tadi bersama Anita, Setelah lama pandangannya ke arah langit-langit tidak terasa sang pemilik raga pun sudah tertidur pulas.
Pagi sudah tiba,
Semua yang ada di penginapan pun sudah keluar, dari kamar masing-masing untuk sarapan bersama. Masakan berbagai menu sudah di persiapkan, Semuanya yang ada pun duduk di tempat masing-masing. Namun, Mira merasa ada yang kurang, entah apakah itu. Wanita itu melirik ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu tetapi dia lupa apa yang dicari. Jack pun heran melihat istrinya seperti itu. Hingga akhirnya Jack pun bertanya.
"Apa yang kamu cari?” Tanya Jack
"Eh, itu ... Seperti ada yang kurang tapi aku lupa, apa, ya?" Jawab Mira dan masih tetap seperti mencari sesuatu.
Ferdy yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Dia sudah bisa menebak yang dicari Mira itu pasti Anita dan Rico. Namun, pria itu pura-pura saja tidak tahu. Dia malah sibuk mengambil sarapan, tidak memedulikan apa yang ada di sekitarnya. Toh bagi dirinya, ini sudah terlalu siang. Ini sudah jam sembilan pagi baru mau sarapan, Sedangkan dia sudah bangun dari jam lima pagi.
"Sudah, Ayo! Sarapan,” Ucap Jack sambil mengisi piring Mira dengan makanan, dan Mira belum sadar apa yang tidak ada.
"Anita sama Rico mana?” Tanya Ferdy.
Seketika Mira ingat dengan sahabatnya itu kenapa tadi dia tidak bisa mengingatnya.
"Oh, iya, Anita ke mana kok, belum bangun?" Ucap Mira penuh rasa khawatir, “Masa iya belum bangun. Anita kan sudah terbiasa bangun pagi. Nah, ini kenapa belum ke sini, si?”
"Sudah, Makan dulu!” Jack memberi perintah agar Mira segera makan, “Anita udah gede enggak perlu di khawatir kan seperti itu.”
"Iya, tapi ....” Mira pun ragu, Sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Gimana enggak bangun siang, orang dia baru tidur jam lima pagi," Sarkas Ferdy dengan santai dan tatapannya terfokus ke piring makanannya.
"Maksudnya?” Selidik Mira.
__ADS_1
"Iya, mereka tidur jam lima!” Ferdy memberi pernyataan bahwa Anita dan Rico baru pergi tidur ketika hari menjelang pagi.
"Tahu dari mana, Lu?” Selidik Jack
"Iya, kamu tahu dari mana?" Mira pun ikut menimpali.
"Ya, gua tahulah! Karena melihat mereka baru masuk Kamar Jam lima pagi, pas gua sudah bangun dan mau lari pagi, gua lihat mereka baru datang dari luar.”
"Datang, mereka, dari mana?” Mira pun mengerutkan keningnya. Heran dengan pernyataan Ferdy, ini sangat tidak mungkin, lalu, dia menebak bila ada sesuatu antara Anita dan Rico. Setahu Mira selama ini, wanita itu mencintai Ferdy namun pria yang disukainya itu tidak peka akan perasaannya.
"Ya, mana gua tahu!” Jawab ferdy sambil mengelap bibirnya dengan tisu, dia sudah selesai sarapan.
"Ya, kan, kamu yang melihat, kenapa tidak ditanya?” Ucap Mira dengan wajahnya yang kesal terhadap Ferdy. Karena pria itu memberi informasi hanya setengah-setengah bagi Mira dan itu tidak asik baginya.
"Sudah! Mereka itu sudah dewasa. Jadi, biarkan saja, " Jack pun berbicara sambil menikmati menu sarapan pagi ini. Sarapan yang sangat enak terlalu sayang jika harus dilewatkan.
"Tapi, kan!” Mira ragu, tapi tetap menyantap kembali sarapannya hingga sudah tidak ada yang tersisa di piringnya.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah selesai menikmati sarapan.
"Zay, mau renang?” Tanya Mira terhadap sang anak tercinta, dia tahu anak itu sangat suka berenang di laut bermain ombk dan pasir.
"Iya," Jawab Zay sambil mengangguk dengan wajah yang sangat cerah, secerah mentari pagi ini. Anak itu sudah tidak sabar untuk berenang.
Zay pun menarik tangan Bibi untuk segera menuju pantai, dia sudah tidak sabar lagi. Dia ingin segera masuk ke air laut di pinggir pantai itu.
Bersambung.
Bersambung
__ADS_1