Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 132


__ADS_3

Sania masih dalam kebimbangan saat dia memikirkan Juna, jujur dia mulai sedikit khawatir jika terjadi sesuatu pada pria yang sudah banyak berjasa dalam pelariannya itu. Namun, di mana pria itu sekarang? Alih-alih menghubungi Juna kembali, Sania justru merebahkan diri dengan kesal. Dia memainkan handphonenya tanpa maksud mengirim pesan, karena dia hanya ingin bicara saja dengan laki-laki itu, ada sesuatu yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya dan, dia ingin membicarakannya saat itu juga.


Sementara Sania tengah gelisah, di tempat lain, Jack tampak masih berbincang dengan Mira. Pria itu seperti hendak bepergian.


"Sayang... Nanti siang, Mama datang ke sini takutnya aku pulang malam, dan kamu kesepian nggak ada teman ngobrol, selama aku nggak ada, jadi, biar Mama yang temani kamu aja," Kata Jack terhadap istrinya.


"Mas, mau langsung berangkat ke sana atau ke kantor duluan?" Tanya Mira terhadap suaminya.


"Aku ke kantor dulu, nanti bertemu sama Rico di sana, baru berangkat," Kata Jack.


"Hati-hati di jalan, ya Mas, jangan ngebut terus, apalagi itu masuk daerah terpencil yang katanya rawan akan kejahatan," Mira mengingatkan suaminya agar berhati-hati. Wanita itu berkata sambil merapikan dasi serta kerah baju suaminya.


"Iya, aku pasti hati-hati, nanti Zay di jemput Pak Sopir saja, ya, nanti aku telepon dia, biar kamu nggak usah jemput," Ucap Jack terhadap istrinya.


"Ya sudah, gimana baiknya saja aku ngikut, deh," Jawab Mira sambil tersenyum. Sebelum keluar kamar, Jack melingkarkan kedua tangannya di pinggang Mira sambil menundukkan kepala, lalu, satu ciuman mendarat di bibir lembut wanita yang tampak menikmati perlakuan suaminya. Dia menatap pria itu dengan malu-malu dan, dia membalas ciuman Jack dengan kecupan hangat di kedua pipinya.


“Aku mencintaimu,” gumam Jack lirih dan Mira mengangguk cepat tanda dia mengerti, sambil kembali memberikan pria ini satu kecupan hangat di bibir, sebelum pelukan mereka terlepas.


Jack sudah siap, dia memakai setelan kerja yang di siapkan oleh istrinya, dan terlihat sangat memesona di mata sang istrinya juga wanita lainnya yang mungkin akan sangat mudah terpikat oleh pria seperti dirinya.


Mira sudah memutuskan untuk berhenti bekerja mulai minggu ini, dia sudah memikirkan segala sesuatunya, degan baik. Dia tahu jika dirinya tidak boleh egois kalau memang ingin mempertahankan bayinya, maka dia tidak harus memaksa tubuhnya sendiri, untuk terus mengikuti hati yang ingin bekerja. Dia memang menyukai pekerjaannya, tapi, demi bayi dalam rahimnya, dia harus mengabaikan semua untuk sementara.


 Jack merasa sangat bahagia ketika Mira mengatakan keinginannya, akan berhenti bekerja. Hatinya merasa lega karena merasa beban berat tentang penyakit istrinya itu sedikit ringan. Setidaknya dia tidak perlu merasa tak berdaya saat Mira kelelahan karena pekerjaannya. Mira memang tidak pernah mengeluh, tapi, dia tahu jika istrinya itu capek atau sedih.


Sekarang, dia bisa lebih fokus ke kesehatannya, karena Mira punya banyak waktu untuk berpikir dengan matang tentang segalanya.


Jack dan Mira pun keluar dari kamar segera menuju meja makan, ritual pagi yang selalu di laksanakan keluarga itu, yaitu, sarapan bersama di rumah sebelum memulai aktivitas di luar ruangan.

__ADS_1


Mira selalu mengajarkan anak dan suaminya makan apa yang di siapkan di rumah, tidak membiasakan mereka untuk menikmati makanan di luar.


Rutinitas pagi di rumah akhirnya sudah selesai. Seperti biasa, Jack akan mengantarkan Zay terlebih dahulu ke sekolah. Setelah itu baru menuju kantor, hari ini dia akan pergi ke luar kota.


"Sayang ... kita berangkat dulu ya, jaga diri kamu baik-baik. kalau nanti siang Mama belum datang nanti kabari aku, ya?" Jack berpamitan terhadap istrinya untuk segera berangkat ke kantor.


"Iya, hati-hati di jalan."


Zay mencium tangan Mira—ibunya, terlebih dahulu sebelum berangkat. Setelah itu, Mira melambaikan tangan pada dua orang pria yang dicintainya dengan semangat.


Kedua pangeran dalam hidup Mira itu pun  menuju kendaraan yang akan mereka tumpangi dan membawa mereka sampai di tujuan setiap hari.


Begitu mereka berdua masuk ke mobil, Jack segera menyalakan mesin kendaraannya. Dan dengan perlahan dia menginjak pedal gas hingga mobil yang membawa dua orang pria itu meninggalkan pekarangan rumah.


Setelah cukup lama mereka menempuh perjalanan menuju tempat Zay bersekolah, akhirnya sampai juga ke lokasi itu dan, Jack memarkirkan kendaraan di tempat biasa, lalu, dia turun terlebih dahulu sebelum membukakan pintu mobil untuk Zay dan anak itu pun turun sendiri. Biasanya Mira yang akan mengantarkan Zay sampai di ruang kelasnya, tapi, saat ini Jack yang mengantarkan anak kecil itu sampai ke ruang kelasnya.


Setelah zay masuk ke ruang kelas, Jack pun kembali ke mobil yang terparkir dengan cepat. Lalu, pria itu langsung masuk dan meninggalkan area sekolah, untuk menuju kantor.


Setelah berhasil melewati beberapa tempat yang sebenarnya biasa dia lewati di jalan yang sama, akhirnya Jack pun sampai di area gedung perkantoran miliknya, dan langsung memarkirkan kendaraannya. Dia turun dengan gerakan yang sedikit tergesa lalu, berjalan dengan cepat menuju ruangannya.


Suasana kantor pun sudah mulai ramai para karyawan juga sudah mulai berdatangan, bahkan, ada juga yang sudah berada di ruangan mereka masing-masing bergelut dengan tugas-tugas.


Hari ini, Jack akan pergi bersama Rico ke luar kota.


Mereka akan mengurus pekerjaan yang tidak bisa di bereskan oleh orang kepercayaan Jack, ini hal yang tidak biasa sebab biasanya orang itu selalu bekerja dengan baik dan bisa diandalkan menanggulangi masalah di lapangan. Jadi, kali ini, dia terpaksa harus turun tangan mengatasinya sendiri.


Begitu Jack sudah sampai ruangan pribadinya, dia langsung masuk dan mengambil beberapa berkas serta barang yang sangat diperlukan, dalam mengatasi masalah proyek dan kantor cabang ini.

__ADS_1


Setelah semua siap dalam satu tas, dia kembali keluar dari ruangannya dan menuju ke lobi.


Rico sudah menunggunya di tempat parkir. Tidak terlalu lama menunggu, Jack pun tiba juga dan tanpa basa-basi, dia langsung masuk ke dalam kendaraan yang sudah dipersiapkan oleh Rico, untuk membawa mereka ke lokasi proyek di mana masalah menunggu untuk diselesaikan dengan baik.


“Apa kau sudah memeriksa kondisi mobil ini baik-baik?” tanya Jack dari kursi penumpang di samping Rico yang duduk di kursi kemudi.


“Hmm ... jangan kuatir, Bos!”


“Aku salah bekerja sama dengan orang itu, huh!”


“Itulah fungsinya, Bos yang nggak pernah tinjau lokasi, akhirnya begini, kan?”


“Kau pikir apa gunanya punya orang kepercayaan kalau aku harus turun tangan juga, sialan!”


“Jangan marah, Jack. Ayo kita selesaikan sekarang!”


“Hmm ...”


Saat mereka berbincang, mobil pajero sport keluaran terbaru itu sudah meluncur ke jalanan, dengan kecepatan tinggi.


Namun, setelah mobil memasuki sebuah kawasan dengan jalan yang mulai berkelok-kelok, banyak perkampungan dan pepohonan di kiri kanan jalan ... Tiba-tiba.


“Ahk! Jack!”


“Rico! Apa yang—Ahk-- ”


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2