Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 175


__ADS_3

"Mau makan sate mang udin! " kata Anita, dia bicara tanpa merasa bersalah.


"Tapi ini kan sudah malam, bisa saja udah habis! " jawab Rico.


Mendengar Rico berbicara seperti dan agak sedikit tinggi nada bicara nya, langsung membuat Anita menundukkan pandangan nya sambil mengusap Air mata. Anita yang kuat dan tidak pernah menangis sekarang menjadi wanita paling cengeng.


Rico yang melihat istri menundukkan kepala sambil menangis, langsung mengusap wajahnya kasar.


"Ya sudah tunggu nyari dulu! " kata Rico sambil turun dari tempat tidur, lalu mengambil kunci mobil tak lupa pula dompet.


Dengan gerakan cepat Rico pun segera pergi keluar kamar.


*


*


*


Di tempat lain


Keesokan harinya, semua orang sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Begitu pun dengan Mira dan juga Jack, mereka akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.


Bu Merlin pun akan ikut mengunjungi besan nya.


"Ayo Zay sarapan dulu, nanti telat loh ke sekolah nya! " Mira memanggil Zay.


"Iya, Ma... tunggu sebentar! " Zay menyaut dari dalam kamar.


Setelah beberapa saat Mira menunggu Zay, akhirnya dia pun keluar dari kamar sambil menggendong tas sekolah nya.


Keluarga yang terlihat hampir sempurna, melakukan sarapan bersama.


Mereka sudah siap untuk berangkat ke rumah sakit, sebelum itu akan mengantarkan Zay terlebih dahulu ke Sekolah.

__ADS_1


Mereka semua sudah berada di dalam kendaraan yang siap mengantarkan ke tempat tujuan.


Jack dengan perlahan menginjak gas kendaraan, kendaraan pun melaju dengan kecepatan sedang.


Jalanan di pagi hari begitu lancar sehingga tidak ada hambatan selama di perjalanan,sampai di sekolah pun tiba tepat waktu.


Mira turun bersama dengan Zay, dia akan mengantar anaknya terlebih dahulu ke depan kelas.


Zay sudah berada di dalam kelas, dan Mira pun kembali ke tempat parkir di mana suami dan Ibu mertuanya sedang menunggu.


Mira sudah masuk ke dalam kendaraan.


"Yuk mas... berangkat! " Mira mengajak suaminya untuk segera meninggalkan area sekolah.


"Ok, kita langsung ke Rumah sakit kan? " tanya Jack terhadap sang istri.


"Iya... memangnya mau ke mana lagi! " kata Mira.


"Takutnya kamu mau ke mana dulu gitu, biar ku antar terlebih dahulu! " kata Jack.


"Nggak lah, langsung ke Rumah sakit aja! "


Tidak terasa perjalanan yang mereka tempuh pun sudah cukup lama, dan mereka sudah sampai di area parkir rumah sakit.


Mereka sudah keluar dari kendaraan yang di tumpangi nya, lalu segera memasuki gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya.


Mereka akan segera masuk ke ruang perawatan Bu Della, meskipun belum ada perkembangan apapun tentang kesehatan ibunya.


Mira tetap berbaik sangka pada sang kuasa bahwa sang Mama akan sembuh.


Setelah beberapa saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Bu Dellia,Jack langsung menekan tombol akses untuk masuk ke ruangan tersebut.


Pintu sudah terbuka, di mana sudah nampak terlihat tubuh lemah tak berdaya sedang terbaring di atas ranjang pasien.


Mira dan yang lainnya mendekat ke arah ranjang pasien, dan dia mengucapkan salam untuk sang Mama lalu Mira mencium tangan nya lalu kening sang Mama.

__ADS_1


"Ma... bagaimana hari ini, apakah lebih baik? " tanya Mira terhadap sang Mama.


Meskipun Mamanya belum bisa sadar,tetapi Mira tidak akan pernah lelah untuk mengajak nya bicara.


"Oh ya, Ma... ini loh ada Mama Merlin juga katanya kangen loh sama Mama! "


"Del... cepat sembuh yah, nanti kita pergi bersama membeli keperluan buat cucu kita nanti! " ucap Bu Merlin sambil mengusap tangan Bu Dellia.


Entah apa yang terjadi dengan suara dan sentuhan Bu Merlin terhadap Bu Dellia, tiba-tiba monitor pendeteksi jantung Bu Merlin berbunyi yang tadinya bergelombang sekarang sudah tidak lagi.


Mira panik dan Jack pun langsung memangil dokter, yang di tugaskan khusus untuk menjaga Bu Dellia.


Tidak berselang lama


Dokter dan para perawat pun sudah berada di ruangan, mereka memeriksa kan keadaan Bu Dellia.


Sudah berbagai cara mereka lakukan tetapi hasil nya belum mendapatkan yang terbaik.


Mira sudah tidak kuasa lagi melihat keadaan sang Mama, dia terus berpegangan terhadap Jack. Jika saja tidak ada suaminya mungkin Mira sudah ambruk.


Dengan berat hati dokter pun memberi tahu hasil pemeriksaan yang telah di lakukan.


"Maaf Bu, Pak! kami sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Namun, Tuhan berkehendak lain. Pasien tidak bisa di selamat kan,yang sabar yah" dokter berkata dengan nada bicara yang ragu,dia sambil mengusap bahu Jack pertanda memberi kekuatan buat keluarga Jack.


Gelap rasanya dunia pada saat ini, bumi serasa berhenti berputar sesak di dada seperti tertimpa bongkahan batu. Itu gambaran perasaan Mira pada saat ini, sungguh tidak akan ada satu anak pun yang rela di tinggal kan seorang ibu. Tetapi apalah daya, ini sudah takdir dari sang kuasa yang tidak bisa di hindari.


Jenazahnya Bu Dellia pun sudah di urus dan akan segera di bawa ke rumah duka, stelah itu akan di makam kan di dekat sang puri yaitu Karina.


Mira masih duduk di sofa sambil memeluk suaminya.


"Mas... apa aku tidak pantas untuk bahagia! " tanya Mira terhadap sang, suami sambil menangis.


"Ngomong apa sih...!jangan pernah bilang seperti itu " kata Jack sambil mengelus punggung sang istri, dia tidak menyuruh istrinya untuk berhenti menangis, sebab dengan menangis bisa meringankan beban yang ada.


"Kenapa Tuhan begitu tidak adil, orang-orang yang ku sayang mereka semua di ambil dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi" kata Mira sambil sesegukan menangis.

__ADS_1


"Kamu itu orang yang spesial di pilih Tuhan, sebab dia tahu bahwa kamu itu mampu menerima semua ini makanya Tuhan uji kamu dengan semua ini" ucap Jack, dia berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Aku tidak sanggup, mas... jika suatu saat harus kehilangan kamu dan juga Zay, lebih baik aku yang pergi terlebih dahulu" ucap Mira.


__ADS_2