Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 142


__ADS_3

“Owh, iya, Fer, gua hampir saja lupa!" Jawab Jack sambil tertawa kecil.


 Belakangan ini pria itu sering melupakan sesuatu jika tidak diingatkan.


"Sudah jadi kebiasaan sih, jadi gak heran gua sama lu, Jack! Padahal belum juga punya cucu, udah pikun!" Ucap Ferdy dengan nada santai sambil melihat sahabatnya seraya mencibir.


"Baru juga lupa kali ini!" Jawab Jack, dia tidak terima jika di bilang lupa itu kebiasaannya.


"Hmmm ... Si Rico belum masuk kantor yah?" Tanya Ferdy, sambil mengetuk jari ke dagunya.


"Belum, lah ... dia, kan terluka lumayan parah pasti butuh beberapa hari ke depan buat sembuh, jangan bilang, Lu yang sekarang lupa.” Jawab Jack.


"Eh! Mana ada begitu, semoga aja dia cepat sembuh padahal, tuh anak bulan depan kan mau menikah?" Kata Ferdy sambil menatap ke arah Jack.


"Iya ... lu bakal kalah saingan sama dia!" Ucap Jack dengan nada mengejek seraya menahan tawa.


"Gua belum kepikiran ke arah situ, gua masih takut belum mampu membina rumah tangga!" Kata Ferdy sambil menatap lurus ke depan.


"Lu jangan pernah bilang seperti itu, sebelum juga nikah, menjalani aja dulu, mana bisa ngomong seperti itu!" Ucap Jack.


"Gua tuh, masih ingat betul saat Mama dan Papa, mereka harus pisah karena ada orang ketiga. Nah, kalau gua inget itu, perasaan gua jadi takut mau ngelamar cewek!" Jawab Ferdy.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya juga lu terus melihat ke belakang, sudah saatnya, lu mikirin diri sendiri buat masa depan, apalagi Mama lu juga udah berumur, kan? Dia pasti pengen gendong cucu, gua yakin dia butuh teman di rumah," Nasehat Jack terhadap sahabatnya itu.


"Iya juga sih, tapi, kalo sekarang, bener deh gua belum siap jika harus menjalin hubungan serius apalagi mau menikah," Jawab Ferdy.


"Terus ... Selvi bagai mana kabarnya?” Tanya Jack.


"Baik, gua lagi menyelidiki latar belakang dia, soalnya nih, kalo gaya lagi Deket sama dia, rasa ingin melindungi perempuan itu tinggi banget, rasanya gua nggaj rela kalo lihat dia sedih!" Ucap Ferdy.


"Mungkin lu, sudah jatuh cinta sama Selvi?" Ucap Jack dengan nada menggoda, dengan menarik sedikit ujung bibirnya.


“Ah! Yang bener aja, gua nggak mikir ke situ loh, yang ada di kepala gua sekarang adalah, Selvi itu saudara ... Papa pergi ninggalin Mama saat usia gua masih kecil, gua gak bisa mengingat semuanya tetapi, satu hal yang gak pernah gua lupa yaitu, Istri kedua Papa itu sedang hamil. Nah, malah gua mikirnya Selvi itu adik gua, dari ibu tiri gua, Jack!" Ucap Ferdy panjang lebar.


"Tunggu dulu ... dari mana lu, punya pemikiran kayak begitu, padahal lu, belum pernah bertemu, kan, sama adik lu yang beda ibu itu?" Tutur Jack penasaran.


"Lu, Sudah ada petunjuk, soal latar belakang dia?" Tanya Ferdy.


"Belum ada, tadinya gua pikir, perlahan aja tanya langsung sama Selvi, dan dia mau jujur soal latar belakangnya, ternyata gua salah. Setiap kali gua membahas ke arah asal-usul, dia langsung diam!" Tutur Ferdy terhadap sahabat nya itu.


"Lu pakai jasa orang, dong, buat cari tahu kebenaran, membuktikan kecurigaan lu!" Ucap Jack memberi saran, sambil menatap tajam penuh penekanan.


"Udah ... gua suruh orang juga tapi, baru beberapa hari sih jadi, belum ada titik terang," Jawab Ferdy.

__ADS_1


"Sekarang, gua mau tanya serius sama Lu, kalau memang Selvi itu adik lu, apa yang akan lu lakukan?" Tanya Jack, sambil menegakkan punggungnya.


"Ya! Mau gua bunuh orang yang sudah bikin dia menderita dan hamilin dia tanpa tanggung jawab!" Tegas Ferdy.


"Lu nggak dendam sama Selvi? Secara ibunya kan, yang sudah merebut Papa lu dari Mama Lu?" Kata Jack.


"Buat apa juga gua dendam, biar bagaimana pun juga, dia tetap adik gugua Jawab Ferdy.


"Terus, gimana dengan tante, jika dia tahu bahwa anak itu adalah anak dari Papa lu, atau adik tiri lu?" Ucap Jack.


"Ya, kan ini semua baru dugaan, belum tentu juga benar kalau Selvi itu adik nya gua," Jawab Ferdy.


"Ya, kan lu, harus mikirin juga dampak dari masalah ini, Fer. Ck!” Kata Jack sambil mendecak kasar.


Ferdy menarik napas dalam saat bicara, "Gua sudah yakin, bahwa Mama akan menerima Selvi dengan baik, lagian anaknya tidak salah apa-apa tidak berhak juga baik gua maupun mama buat membenci Selvi," Kata Ferdy sambil menatap lurus ke depan. Pikirannya sejenak menerawang tentang kehidupannya di masa lalu, yang pernah mengalami hal yang pahit dalam hidupnya dengan kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga kedua orang tuanya. Namun, dia beserta mamanya tidak pernah menyalahkan siapa pun atas apa yang terjadi di masa lalu, mereka selalu berpikir positif dan menerima dengan lapang dada bahwa, yang sudah terjadi itu kehendak sang kuasa. Sebagai manusia tidak bisa menolaknya, hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas.


"Iya juga sih, Lu dan tante memang yang terbaik pokoknya!" Ucap Jack sambil mengacungkan dua jempolnya. Dia sangat mengenal betul keluarga pria di dekatnya itu, bahwa mamanya Ferdy itu orang yang sangat baik dan lembut hatinya, jadi, pasti dia yakin jika wanita itu akan sangat senang menerima kehadiran Selvi jika itu benar terbukti bahwa wanita itu adalah anak dari mantan suaminya.


"Nggak gitu juga, cuma gua nggak maulah, selalu melihat ke belakang, mikirin masa lalu," Jawab Ferdy. Jack menganggukkan kepalanya tanda dia bisa memahami arah pikiran dari sahabatnya yang sebenarnya memiliki masalahnya sendiri.


Percakapan kedua sahabat itu berlangsung cukup lama. Dan, setelah itu tiba saatnya mereka memulai aktivitas di ruangan masing-masing.

__ADS_1


Mereka harus membereskan beberapa berkas presentasi  sebelum berangkat ke tempat meeting. Jack dan Ferdy akan bekerja sama dengan perusahaan lain, mereka akan bertemu dengan klien bisnis yang cukup penting kali ini. Mereka berencana mengadakan rapat disalah satu kafe yang ada di tengah kota.


__ADS_2