Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 56


__ADS_3

Kapal yang di tumpangi Jack, Mira, Zay dan Bibi sudah hampir merapat di Pulau pribadi yang akan mereka singgahi. Pemandangan berbeda sudah terlihat jelas, tidak jauh dari lagi keindahan itu bagi mereka. Ini Pulau yang sangat indah, dan bisa membayar semua kelelahan yang mereka lalui selama menempuh perjalanan ke tempat itu.


Keluarga kecil itu sempat beberapa Jam istirahat di dalam kapal.


Tidak lama setelah melihat sebuah pulau, Mira pun keluar. Dia berdiri di atas kapal, matanya  tertuju ke satu tempat yaitu tempat yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Mungkin hanya dengan hitungan menit. Mereka akan segera sampai di pulau itu. Meskipun baru terlihat dari jauh, tapi wanita itu sudah merasakan keindahannya.


Bukan hanya Mira, Zay dan Jack pun sudah tidak sabar ingin segera sampai di tempat tujuan Apalagi Mira, dia sangat suka dengan sunset, juga  bermain air laut dengan pemandangan yang sangat luar biasa itu. Terkadang hal sederhana lah yang membuat kita tertawa lepas.


"Sayang," Panggil sang suami.


"Iya," sahut Mira, sambil menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya Jack tengah berjalan dari pintu kapal menuju ke arahnya.


"Kamu ini, aku cari-cari, ternyata kamu di sini!” Ucap Jack sambil berjalan mendekat, sambil menatap istrinya dengan tatapan berbinar, seolah menemukan benda yang paling berharga.


"Lagian mas, kamu tidur seperti kerbau!” Ucap Mira sambil tertawa kecil.


"Aku butuh tenaga yang cukup, buat nanti malam, kan, kita mau mendaki gunung!” Ujar Jack dengan tatapan menggoda sambil memeluk Mira dari belakang.


"Memangnya ada gunung juga, ya?” Tanya Mira penasaran.


"Hmm ... Ada dong, Gunungnya besar kembar lagi!” Jack menyahut dengan santainya. Namun, Yang diajak bicaranya belum mampu mencerna apa maksud dari ucapannya.


"Oohhh," Hanya itu yang terucap dari bibir Mira.


"Kamu suka naik gunung kan?” Tanya Jack terhadap Mira.


"Iya, tapi ... Itu dulu, sebelum punya Zay. Mana ada waktu aku untuk pergi mendaki gunung sekarang,” ucap Mira dengan polos nya. Mira belum paham arah tujuan pembicaraan suaminya, padahal pria itu mempunyai makna berbeda dalam ucapannya.


"Baiklah, aku akan ajak kamu mendaki bersama nanti malam, kalau kita mendaki gunung tengah malam itu lebih indah, suasananya juga adem dan bisa melihat keindahan alam lainnya yang ada di bawah gunung.”


"Tetapi, Zay, Bagaimana? Apa di tinggal dipenginapan?" Tanya Mira terhadap sang suami, sementara Jack sudah tidak tahan ingin tertawa lepas. Dia merasa begitu lucu melihat wajah istrinya yang sangat polos itu.


"Zay ... Itu kan, ada Bibi! Kita pergi berdua saja." Ucap Jack sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Apa tidak masalah pergi tengah malam, Bagaimana jika ada binatang buas?” Tanya Mira lagi.


"Jangan khawatir, Pan ada aku!” Jack meyakinkan Mira, dengan memeluk pinggangnya lebih erat lagi. Sementara wajahnya dia simpan di pundak Mira dan menghirup aroma tubuh wangi istrinya sepuas hati.


"Baiklah," Jawab Mira Singkat, dia sudah tidak sabar ingin mendaki gunung. Mira sangat suka menikmati suasana alam. Akan tetapi, beda dengan Jack, versi gunung menurutnya bukan seperti yang ada di pikiran Mira, sebab baginya gunung yang dia maksud adalah keindahan surgawi yang tidak ada duanya.


Kapal yang mereka tumpangi pun sudah menyandar di dermaga, semua keperluan yang akan mereka gunakan selama berada di pulau pun, Sudah di bawa turun oleh orang-orang yang telah Jack siapkan.


Setelah semuanya sudah turun dari kapal, kemudian mereka akan segera pergi ke penginapan. Mengingat waktu sudah sore, mereka menyegerakan langkah.


Akan tetapi Mira enggan untuk beranjak dari pantai, yang indah dan tak jauh dari tempat kapal mereka merapat tadi. Zay pun berlari ke arah yang sama menuju pantai karena melihat ibunya.


Apa lagi keadaan laut saat ini sedang surut, menambah keindahan dan rasa tertarik mereka semakin besar. Bibi pun mengikuti ke mana arah Zay berlari.


Mira merentangkan kedua tangannya, sambil menghirup dalam-dalam udara pantai. Sementara Zay langsung membenamkan kaki ke air laut begitu sampai di samping Mira.


Sejuk, hanya itu yang dirasakan Mira. Jack pun menyusul dan berdiri di samping sang istri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan kaca mata hitam yang bertengger di atas Kepalanya.


"Sangat, sangat suka!” Jawab Mira dengan wajah semringahnya, dia sangat bahagia sekali hari ini. Serasa dunia ini hanyalah milik nya.


"Terima kasih banyak, untuk semua hal, yang telah kau persiapkan, untukku dan anakku, Mas!” Ucap Mira sambil menatap lekat wajah sang suami dan bibir yang tersenyum manis.


"Itu sudah kewajibanku. Jadi, jangan ucapkan itu lagi, aku masih banyak kejutan lainnya yang belum kamu liat!” Jawab Jack santai, membalas senyum istrinya dengan kelembutan yang sama.


"Memangnya apa?” Mira sangat penasaran, sinar wajahnya semakin merona.


"Liat saja nanti," ucap Jack.


"Duduk sanah yu?” Mira mengajak Jack sambil menunjuk tempat yang tak jauh dari mereka, lalu, menarik tangannya untuk duduk di sebuah kursi yang ada di pantai ttersebut


Jack pun mengikuti langkah Mira untuk menuju kursi.


Mereka berdua duduk di kursi yang berbeda  sambil menyandarkan punggung dan menarik napas dalam. Menikmati ke indahan senja, matahari hampir tenggelam.

__ADS_1


"Senja, aku sangat menyuksinya!” kata Mira sambil melihat ke arah cakrawala di mana senja itu sangat indah.


"Kenapa?” Tanya Jack.


"Senja itu setia, dia tidak perlu berjanji untuk kembali, dia hanya butuh waktu untuk menepati, karena dia tahu meninggalkan bukan berarti menguasai akan segala harapan, tetapi meninggalkan hanya untuk menguji sebuah kesetiaan!" Ucap Mira sambil tersenyum , melihat ke arah Jack.


"Jika seperti itu, aku tidak akan menjadi senja, karena walau sedetik pun tidak akan pernah pergi dari pandanganmu," Ucap Jack sambil meraih tangan istrinya dan duduk dengan tegak, mengecup sekilas punggung tangan istri yang sangat di cintainnya itu.


"Jangan lakukan itu, hanya karena aku," Ucap mira penuh penekanan.


"Kenapa, Tidak! Kalian berdua itu sangat berharga bagiku, jadi, tidak ada alasan untuk tidak membuat kalian berdua bahagia."


Hari sudah mulai gelap pertanda siang akan berganti malam. Namun, kedua manusia yang sedang dimabuk cinta itu tidak peduli, mereka sangat menikmatinya, sinar senja pun sudah berganti dengan sinar bulan, udara pantai pun sudah mulai terasa dingin hingga ke tulang sumsum.


"Ayo! Kita ke penginapan, di sini mulai dingin nih!” Ajak Jack terhadap istri dan anaknya. Lalu, dia kembali berkata, “Kita bisa lanjut besok, kan, masih ada waktu."


"Iya! Ayo!” Mira pun bangkit dari duduknya lalu, saat akan melangkah, Jack justru berjongkok di depan wanita itu sambil menepuk pundaknya.


"Ayo! Naik!” Perintah Jack terhadap Mira. Wanita itu melihat ke arah punggung suaminya dan mengerti maksud pria itu ingin menggendongnya.


"Tidak! Aku bisa jalan sendiri." Mira menolak perintah Jack. Hal itu membuatnya harus memaksa istrinya.


Dengan gerakan cepat pria bertubuh atletis itu pun menggendong wanitanya, meskipun, dia memberontak tetap saja Jack memaksanya.


"Jangan berontak, nanti jatuh!” Jack memperingatkan Mira agar tidak memberontak, dan pria itu lebih mudah menggendong dirinya. Dengan wajah malu-malu, akhirnya Mira pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang suaminya. Dia sangat santai menggendong tubuh mungil sang istri, seolah menggendong boneka besar akan tetapi tubuhnya sangat ringan seperti kapas. Tubuhnya yang kecil itu membuat Jack tidak merasa kan apa pun. Meskipun tubuh istrinya kecil mungil, tapi tetap berisi di beberapa bagian tertentu.


Kebahagiaan pengantin baru ini terlihat jelas di mata semua orang, meskipun umur mereka tidak lagi muda, tetapi itu semua tidak mengurangi keromantisan mereka. Mungkin Mira pernah merasa kan kebahagiaan menjadi pengantin baru, tetapi tidak dengan Jack, baru kali ini dia merasakan kebahagiaan yang tidak pernah di dapat sebelumnya. Kebahagiaan yang seutuhnya disaat bisa hidup dan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Hanya itu tujuan hidup Jack saat ini, agar bisa tetap hidup bersama Mira dan membuatnya bahagia tanpa ada lagi tetesan air mata dan luka seperti yang pernah dialaminya. Jack akan berusaha menghapus luka di hati istrinya dengan kebahagiaannya saat ini.


Kini, mereka sudah sampai di penginapan. Jack dan Mira berada di depan pintu kamar yang akan mereka tempati, pria itu pun membuka pintu sambil tetap menggendong wanitanya dan itu sangat membuatnya kesusahan tetapi, dia tetap semangat hingga pintu pun berhasil dibuka. Sebuah kamar super mewah yang sudah di dekorasi dengan sangat bagus, terhampar di depan mata dua insan dewasa itu.


Hal ini membuat Mira tidak percaya. Ternyata seorang Jack yang dikenal berkepribadian super galak, tegas dan tidak mudah terpengaruh ketika di kantor itu, bisa seromantis ini terhadap istrinya. Mira pun tercengang dan tidak bisa berkata-kata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2