Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 89


__ADS_3

Juna duduk di hadapan Bu Dellia sambil sesekali meminum kopi dari gelasnya. Dia menceritakan semua yang telah di ketahuinya tentang anak perempuan Bu Dellia yang sudah lama terpisah, serta bukti-bukti yang mereka butuhkan juga sudah lengkap. Alamatnya pun sudah mereka ketahui, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk segera menemui putrinya yang sudah sejak lama terpisah darinya. Begitu lama pula hatinya diliputi rasa rindu.


"Apa aku bisa sekarang juga menemui anakku ke sana, Juna?" Kata Bu Dellia terhadap Juna sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan sang putri yang sudah lama terpisah.


"Bisa Nyonya, tapi, ini sudah siang, bila Nyonya pergi juga, mungkin kita akan sampai ke sana malam, Nyonya. Perjalan ke sana, kan, cukup jauh," Jawab Juna terhadap sang majikan.


"Tidak masalah, yang penting aku segera bertemu dengan anak itu," Ucap Bu Dellia dengan antusias sudah tidak sabar lagi ingin segera memeluk putrinya.


"Baiklah, Saya persiapkan terlebih dahulu mobilnya, Nyonya," Ucap Juna.


"Baiklah, aku juga bersiap dulu," Kata Bu Dellia sambil bangkit dari duduknya lalu, pergi perlahan meninggalkan Juna yang masih duduk di kursi yang ada di teras belakang.


Setelah cukup lama Juna menunggu di tempat itu, akhirnya Bu Dellia pun sudah siap untuk berangkat segera menemui putri tercintanya.


Sejak terpisah sejak dua puluh tahu yang lalu mereka tidak pernah bertemu. Meskipun Dellia selalu mencari keberadaan tempat tinggal mantan suami dan anaknya tetapi, tidak mendapatkan hasil apa pun. Mungkin saat itu Sang Maha Kuasa belum menghendaki untuk mereka bertemu. Saat ini sudah tiba waktunya bagi Bu Dellia untuk menemukan orang yang di carinya itu, dan ternyata, keberadaannya itu tidak jauh. Hanya saja, mungkin waktu itu belum berpihak.


Dengan semangat membara dan wajah yang di selimuti kebahagiaan Bu Dellia mengajak Juna untuk segera berangkat.


"Sudah siap, kan, ayo kita berangkat sekarang!” Ajak Bu Dellia terhadap sang asisten.


"Baik, Nyonya!" Ucap Juna sambil mengangguk hormat terhadap sang majikan.


Bu Dellia pun berjalan di belakang Juna, untuk segera menuju kendaraan mereka yang terparkir tidak jauh dari sana.


Juna pun mempersilakan majikannya untuk masuk. Lalu, menutup pintu kembali. Dia pun segera menuju kursi depan di belakang kemudi, menyalakan mesin lalu, perlahan menginjak gas. Kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah pergi meninggalkan pekarangan Rumah bu Dellia. Mungkin butuh waktu sekitar empat jam atau bahkan lebih untuk sampai di kediaman Mira.


Juna melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, Sesekali dia melirik sang majikan yang terkadang senyum-senyum sendiri. Dia juga merasa senang akhirnya Majikannya itu bisa bertemu dengan anak perempuannya kembali. Dia sangat senang bisa mempertemukannya. Selama ini Bu Dellia sangat mempercayai Juna bahkan, sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Kebaikan Bu Dellia terhadap Juna tidak bisa di hitung. Sungguh sangat beruntung pria itu bisa bertemu dengan senang majikan seperti dirinya.

__ADS_1


Perjalanan kali ini terasa sangat lama di rasakan mereka, padahal biasanya juga biasa saja entah mengapa kali ini terasa sangat barbeda. Rasa mengantuk pun sudah menyelimuti Bu Dellia. Akhirnya dia pun tertidur sambil bersandar.


Setelah cukup lama perjalanan yang mereka tempuh siang sudah berganti sore, pun dengan malam. Suasana jalanan pun sudah mulai gelap. Hanya terlihat sinar-sinar dari kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Mungkin sekitar satu jam lagi mereka akan segera sampai di tempat yang mereka tuju.


"Masih lama ya, Jun?" Tanya Bu Dellia dengan suara khas bangun tidur. Dia tertidur cukup lama di mobil itu.


"Sebentar lagi Nyonya, Mungkin satu jam lagi," Jawab Juna sambil melirik sang majikan dari arah kaca spion.


"Owhh," Hanya itu yang terucap dari bibirnya.


Di belahan bumi lain.


 


Keluarga kecil Jack terlihat sangat bahagia malam itu. Baru saja mereka menyelesaikan makan malam mereka, sementara Mira di bantu Bibi merapikan meja makan. Bu Merlin, Jack beserta Zay, sudah kembali ke ruang tengah. Sejak dari tadi Zay sudah tidak sabar ingin segera bermain dengan ayah angkatnya. Sedangkan di dapur, Seluruh ruangan masak itu dan peralatannya pun sudah tertata rapi, Mira pun segera menyusul suami dan anaknya ke ruang tengah.


Mira pun berjalan perlahan ke arah mereka dengan senyuman yang terpancar di wajahnya. Sunguh sangat bahagia hanya itu yang di rasakan Mira pada saat ini.


"Ngetawain apa sih, Sampe segitunya, kalian ini?"  Tanya Mira terhadap anak dan suaminya yang masih saja tertawa terbahak-bahak.


"Enggak kok, Ma!" Jawab Zay yang masih saja tertawa.


"Sampe segitunya mereka ya, Ma," Ucap Mira sambil duduk di samping ibu mertuanya, yang sedari tadi menyaksikan interaksi antara anak dan bapak, yang menurut wanita itu tidak lucu tetapi, yang mengherankan adalah kenapa mereka bisa tertawa seperti itu.


"Besok sekolah, kan, Nak?" Tanya Mira terhadap sang anak.


"Iya," Jawab Zay singkat.

__ADS_1


"Ya.. Sudah tidur sana." Mira menyuruh anaknya untuk segera pergi ke kamar. Agar bangun pagi nanti tidak kesiangan.


Zay pun berpamitan untuk pergi ke kamarnya, untuk segera tidur, tinggallah mereka bertiga yang ada di ruang tengah.


"Nak... Bagaimana kalau kita pindah ke Rumah yang di sana? Sebentar lagi, kan, kalian punya bayi?" Kata Merlin terhadap anak dan menantunya itu. Dia sangat berharap bahwa, mereka akan mengabulkan permintaannya.


"Aku mah, terserah Mira saja.


"Jack berkata sambil melihat ke arah sang istri.


"M


Apa Mama, Tidak betah tinggal di sini?” Mira malah balik bertanya terhadap sang mertua.


"Bukan tidak betah, Tetapi, itu juga Rumah kalian dan jarak menuju kantor pun tidak terlalu jauh," Ucap Bu Marlina dengan hati-hati dia tidak mau perkataannya menyinggung menantunya. Soalnya dia tahu jika mood ibu hamil susah di tebak.


"Bukan Mira tidak mau... Ma! Tapi, kalau ikut mama nanti Bi Minah bagaimana? Di sana, kan, sudah banyak asisten rumah tangga" Ucap Mira dengan wajah sendu. Dia memikirkan nasib Bi Minah, jika dia meninggalkannya, biar bagaimanapun juga, wanita itu banyak membantu dan berjasa pada Mira.


"Oh, itu Bisa diatur, biar dia ikut kita, Jika Bi Minah mau lagi pula kamu juga akan melahirkan, butuh tambahan asisten juga," Jawab Bu Merlin sambil tersenyum tipis ke arah sang menantunya.


Jack yang ada di antara perbincangan menantu dan mertua hanya menyimak saja, Dia menyerahkan semua keputusan terhadap sang istri, Apa pun yang menjadi keputusannya dia akan menyetujuinya selama itu dalam kebaikan.


"Mama sangat berharap sekali, kalian bisa tinggal di rumah Mama," Ucap Bu Merlin dengan penuh permohonan.


"Iya.. Nanti Mira pikir-pikir dulu," Jawab Mira sambil melihat terhadap suaminya yang dari tadi diam saja.


Di sela perbincangan mereka terdengar suara pintu di ketuk, dari luar Jack pun segera berdiri untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka, pria itu menjadi terkejut karenanya.

__ADS_1


"Tante?" Sapa Jack terhadap orang tersebut.


__ADS_2