Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 90


__ADS_3

"Tante?" Sapa Jack terhadap orang tersebut, sekilas wajahnya menunjukkan keheranan.


"Bisa bertemu dengan anak saya?" Ucap Bu Dellia sambil menatap pria yang ada di hadapannya.


"Anak...? Anak siapa maksud Tante?" Jack bertanya dengan mata membulat. Sungguh belum bisa mencerna ucapan Bu Dellia, yang aneh karena baginya, tidak ada orang yang bisa disebut anak dalam rumah itu.


"Iya, Anak saya." Bu Dellia bicara dengan penuh penekanan.


"Silakan tante masuk dulu... Kita bicara di dalam!" Jack mempersilahkan wanita itu untuk masuk.


Delia pun melangkahkan masuk dengan tenang, hatinya bahagia karena sungguh ini adalah pertemuan yang sangat di nanti. Bagaimana tidak, mereka sudah terpisah puluhan tahun. Ini semua tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang sangat luar bisa itu, terpencar jelas dari binar matanya.


Bu Dellia pun mengikuti Jack, menuju ruang tamu, saat itu dia melihat seorang wanita muda sedang duduk berdampingan dengan wanita paruh baya, yang sangat di kenalinya.


Bu Dellia pun langsung menghamburkan diri memeluk erat tubuh Mira, sambil menangis. Hal ini membuat wanita yang tengah hamil itu kebingungan, karena tiba-tiba ada yang datang memeluk dirinya sambil menangis. Sungguh dia tidak mengerti, apalagi dia tidak kenal dengan orang yang memeluknya kali ini.


"Maaf in, Mama, Nak...?” Ucap Bu Dellia di sela-sela isakan tangisnya,sambil mengeratkan pelukannya. Dia sangat merindukan semua ini.


"Mama....?" Mira berusaha mengurai pelukan dari mamanya, seraya melihat wajah wanita itu tetapi, Bu Dellia semakin mengeratkan pelukan seolah enggan melepaskan.


"Iya... Kamu itu anak Mama, Nak. Saudari kembarnya Karina ...." ucap Bu Dellia sambil menangis.


Sementara Jack merasa takjub melihat dan mendengar semuanya, sungguh sulit di percaya, dia yang dulu hampir menikah dengan Karina, tapi, entah kenapa justru takdir sekarang membuatnya  menikah dengan saudara kembarnya.


Pantas saja saat pria itu dulu pertama kali bertemu dengan Mira, dia merasa telah menemukan Karina pada diri istrinya. Ternyata, mereka itu saudara kembar. Sungguh dunia ini terasa sempit.


"Tapi... Papa bilang Mama sudah tidak ada!” Kata Mira terhadap Bu Dellia.


Kini kedua wanita itu sudah saling melepaskan pelukan dan hanya saling menatap lekat sambil terus berbincang.

__ADS_1


"Maaf in Mama, Nak, saat itu Mama tidak bisa mempertahankan keluarga kita, karena kami tidak bisa menolak keinginan kakek dan nenekmu!" Ucap Bu Dellia masih dengan menangis sesegukan. Sungguh jika ingat masa lalu... dirinyalah, yang paling bersalah atas kehancuran keluarganya sendiri. Seandainya saja pada saat itu dia punya daya untuk melawan kedua orang tuanya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Sungguh Mira belum bisa menerima kenyataan, selama ini dia berpikir sudah tidak memiliki seorang ibu, disebabkan ayahnya yang selalu berkata bahwa ibunya telah tiada. Akan tetapi hari ini, datang seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya, sungguh sulit di percaya.


"Jika masih tidak percaya, Silakan lihat semua foto-foto ini." Ucap Bu Dellia sambil menyerahkan album foto dan Mira pun meraih album itu lalu membuka lembar demi lembar album tersebut. Terlihat dengan jelas dua anak kembar yang masih kecil dan ada juga foto keluarga di mana terdapat ayahnya juga di sana.


Mira sungguh sulit untuk percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana tidak? Sudah sekian lama dia berjuang sendiri, menganggap dirinya sebatang kara, untuk mendapatkan kehidupan yang layak setelah ayahnya meninggal. Dia sedikit menyesali, kenapa bukan pada saat itu ibunya datang, disaat dia terpuruk dan tak tahu arah menjalani kehidupan?


Sungguh dia merasa seolah takdir sudah mempermainkan hidupnya. Tidak ada sosok seorang ibu selama ini di sampingnya. Namun, kenapa di saat hidupnya mulai membaik, barulah wanita itu datang dan mengaku sebagai ibu? Sungguh sangat lucu bukan hidup ini?


Mata Mira sudah di penuhi oleh cairan bening. Beberapa saat dia bisa menahannya tetapi, ketika dia tiba-tiba ingat penderitaannya selama ini, dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia sudah mengalami hal yang begitu pahit,  tidak diakui keluarga suami, ditinggal pergi untuk selamanya oleh suami dan harus menjual diri untuk pengobatan sang anak.


"Tidak.... ini semua tidak mungkin!" Mira teriak sambil menangis dan memegang kedua telinganya dia tidak mau mendengar semua ucapan dari orang-orang di sekitarnya.


Melihat istrinya menangis histeris, Jack langsung mendekat ke arah istrinya lalu, di peluknya tubuh ringkih sang istri dengan erat dia sangat tahu penderitaannya selama ini.


Mira pun menangis sambil dengan keras di dada suaminya. Sedangkan Jack tidak tahu harus berbuat apa agar istrinya berhenti menangis dan tidak histeris. Bu Merlin pun semakin mendekat ke Mira mengusap-usap kepala sang menantu agar lebih tenang, tetapi, semua itu tidak membuahkan hasil. Hingga pada akhirnya Mira tidak sadarkan diri.


Bu Merlin dan Bu Dellia pun terlihat cemas dengan keadaan Mira. Jack merebahkan tubuh Mira di atas sofa sambil menggosok-gosok tangannya, sambil berharap agar istrinya bisa segera tersadar, tetapi, setelah melakukan beberapa waktu lamanya, belum juga ada respons apa pun.


"Bawa ke rumah sakit saja, Jack!" Bu Merlin memberi perintah terhadap anaknya agar segera membawa Mira ke tempat yang tepat.


"Iya, Ma...!" Jawab Jack sambil mengangkat tubuh ringkih sang istri.


Jack langsung membawa sang istri masuk ke mobil. Mengajak Juna untuk mengendarai mobil miliknya.


Dari rumah itu menuju ke klinik tidak terlalu jauh, hanya butuh lima belasan menit perjalanan saja. Sepanjang perjalanan Jack terus mengusap-usap minyak angin ke hidung Mira tetapi, usahanya itu belum juga membuahkan hasil, sungguh membuatnya semakin khawatir.


Harus berbuat apa dan bagaimana agar istrinya segera tersadar.

__ADS_1


Tidak berselang lama, kendaraan roda empat yang mereka tumpangi pun Sudah memasuki area klinik.


Mobil itu berhenti di depan UGD dan Jack segera turun dengan sigap mengendong sang istri untuk masuk ke ruangan. Sambil memanggil-manggil dokter dan perawat. Beberapa orang dengan cekatan menyambut kedatangan pasien, hingga tubuh Mira pun segera di baringkan di atas brankar. Dokter dan perawat pun Sudah datang mereka akan segera memeriksakan keadaannya.


"Tolong tunggu di luar, Pak!" Ucap salah satu perawat terhadap Jack, dia mempersilahkan pihak keluarga pasien untuk menunggu di luar.


"Tapi... dia itu istri saya! " Ucap Jack dirinya tidak ikhlas jika harus meninggalkan istrinya di ruangan tanpa di mendampinginya.


"Percaya saja pada kami, kami akan melakukan yang terbaik!" Ucap dokter yang memeriksakan keadaan Mira.


Dengan langkah gontai, Jack keluar Dari ruang UGD dan menunggu di kursi ruang tunggu.


Setelah cukup lama Jack mondar-mandir di depan Pintu akhirnya Pintu pun terbuka.


"Keluarga Nyonya Mira?” Panggil salah seorang perawat.


"Iya.. Saya sendiri!” Jack langsung mendekat ke arah yang memanggil dirinya.


"Dokter menunggu Anda di ruangannya,” Ucap sang perawat.


"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Jack dengan raut wajah yang di selimuti ke khawatiran.


"Nanti dokter yang akan menjelaskannya, Pak!” Kata perawat itu lagi.


Akhirnya Jack pun mengikuti perawat tersebut untuk menuju di mana ruangan dokter berada.


Setelah beberapa saat tibalah mereka di ruangan yang di tuju dan Jack di persilahkan untuk duduk di hadapan sang dokter, yang akan memberi tahu tentang kesehatan Mira.


"Bagai mana dengan keadaan istri saya dokter?” Tanya Jack terhadap sang dokter yang ada di hadapannya, dengan cemas.

__ADS_1


"Ini tidak baik-baik saja, Pak!" jawab dokter itu dengan tenang.


"Maksudnya? Apa yang terjadi dengan istri saya?” Tanya Jack dengan wajah sangat khawatir.


__ADS_2