
Sore hari di kediaman keluarga Basrie.
Saat itu,Zay dan kedua sepupunya sudah bangun dari tidur siang, ketiga anak itu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian hingga sekarang mereka sudah rapih dan terlihat menggemaskan.
Mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga, bersama Bu Parida mengajak untuk menonton film kesukaan mereka.
Ketika wanita itu bertanya pada Zay tentang keinginannya, maka, anak lelaki itu selalu menjawab tidak mau apa-apa, karena dia selalu ikut apa yang menjadi kemauan kedua sepupunya. Selama bersama mereka, jika Zay bilang tidak menyukai Sesuatu pasti keduanya akan protes. Akhirnya dia lebih memilih diam saja untuk menghindari adanya pertengkaran. Jadi, meski tidak suka dia tidak masalah, toh tidak tiap hari juga mereka bersama dalam rumah itu. Memang, ini yang ada dalam pikiran Zay, mengalah bukan berarti kalah.
Bu Parida yang melihat semua sikap dan perbuatan Zay, merasa semakin sayang terhadapnya, dia tahu kalau cucunya itu tidak menyukainya tetapi, dia berusaha untuk membuat kedua sepupunya bahagia. Wanita itu melihat sifatnya anak itu yang mirip sekali dengan anaknya yang kini sudah tiada, ternyata menurun padanya.
Jul—anaknya, juga selalu mengalah terhadap Roxy, oleh karena itu Bu Parida dan juga Pak Basrie lebih menyayangi Jul karena kebaikan sikapnya yang selalu mengalah pada saudaranya. Akan tetapi, hal itu di anggap oleh Roxy, bahwa kedua orang tuanya selalu pilih kasih.
Dari dulu Roxy tidak suka saudaranya itu, karena dia selalu mencuri perhatian kedua orang tuanya, dan sekarang pun terulang terhadap anak mereka. Namun, kali ini Bu Parida tidak akan membiarkan kedua cucu perempuannya selalu membenci Zay, walau bagaimana pun juga, mereka itu tetap saudara, yang harus rukun sebagai mana mestinya, tidak ada permusuhan atau apa pun itu jenisnya.
"Zay ... nginap saja di sini, ya?" Ajak Bu Parida terhadap cucu laki-lakinya.
"Gimana nanti saja nek.... " Jawab Zay pelan sambil melihat ke arah sang nenek yang sedari tadi terus menatapnya.
"Jika Zay mau menginap semalam saja di sini, nenek sangat senang sekali, dari dulu selalu berharap bisa memeluk Zay kalau nenek mau tidur," Ucap Bu Parida berharap sang cucu mau menginap di rumahnya.
Anak itu bukan tidak mau tetapi, dia pikir pasti mamanya tidak akan mengizinkannya untuk menginap, lagi pula, pasti sebentar lagi dia akan datang menjemputnya.
Mira—mamanya itu belum terbiasa jika malam hari, tidak ada anaknya di rumah, karena dia selalu merasa tidak tenang.
Sejenak Zay terdiam di kala melihat tatapan sang nenek, yang berharap dirinya akan menginap malam ini. Namun, dia merasa, belum sepenuhnya aman berada di tempat itu, sebab dia masih merasa takut jika nanti sore harus bertemu dengan kakeknya atau sang paman. Bagi anak itu keduanya sangat menyeramkan, meskipun terakhir kali bertemu dengan kakeknya dia sudah berubah.
Meskipun begitu, Zay tetap beranggapan kalau sang kakek adalah orang yang sangat jahat dan selalu membuat mamanya menangis.
Namun, tak henti-hentinya Bu Parida selalu memberi pengertian terhadap Zay, bahwa kakeknya itu sangat menyayanginya tetapi, tidak mudah bagi seorang anak kecil untuk melupakan peristiwa yang menyakiti hatinya. Dia selalu terbayang di saat mamanya menangis yang di sebabkan oleh sang kakek, bukannya dia dendam terhadap sang kakek tetapi, dia takut hal itu akan terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Hai, Zay, Kenapa diam saja?" Tanya Bu Parida terhadap anak itu.
"Tidak apa-apa, Nek...” Jawab zay sambil tersenyum kecil ke arah sang nenek.
"Apa ada yang sakit? atau mau sesuatu?" Tanya Bu Parida.
"Tidak" Jawab Zay sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Yakin Zay tidak mau apa-apa?" Tanya bu Parida lagi untuk memastikan bahwa, tidak terjadi apapun dengan cucunya itu.
Setelah beberapa saat hening, tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah berbunyi.
Seorang asisten rumah tangga membuka pintu. Saat pintu terbuka, sang tamu pun di persilahkan untuk masuk ke dalam rumah dan menemui pemiliknya.
Dari kejauhan sudah terlihat sepasang suami-istri itu berjalan perlahan menuju ruang keluarga, sentara Bibi, sang asisten, berjalan di belakang mereka.
Setelah berada di ruang tamu, Mira dan Jack pun mengucapkan salam sambil mengulurkan tangannya terhadap sang ibu mertua.
Mira memanggil anaknya yang dia anggap sebagai sang jagoan kecil, lalu, Zay mendekat ke arahnya. Dia bersalaman terhadap mama dan juga papanya, tetapi lain lagi dengan kedua sepupunya itu, mereka tidak menghiraukan orang yang datang sebagai tamu, karena mereka masih saja terfokus pada acara yang di tonton hingga pada akhirnya Bu Parida memanggil kedua cucunya agar memberikan salam terhadap Mira dan Jack, tentu saja dan mereka berdua merasa terpaksa harus mengikuti permintaan sang nenek mereka.
"Papa belum pulang, Ma...?" Tanya Mira terhadap sang ibu mertua.
"Belum, entah kenapa bisanya jam segini sudah ada di rumah tapi kenapa hari ini belum pulang juga," Jawab Bu Parida sambil tersenyum tipis ke arah sang menantu.
"Mungkin terjebak macet di jalan, jam segini kan, rawan sekali soalnya jam pulang kerja," Ucap Jack menimpali.
"Mungkin juga yah... " Jawab Bu Parida.
"Mir... Boleh, ya, zay semalam saja menginap di sini?" Ucap Bu Frida dengan nada penuh permohonan.
__ADS_1
Mira belum menjawab perkataan dari sang mertua, dia malah menatap ke arah sang suami lalu ke arah anaknya. Jack tahu jawabannya bahwa, ibunya itu tidak akan mengizinkan anaknya untuk menginap di sana.
"Tapi, Ma... besok Mira akan berkunjung ke rumah Mama Merlin, katanya Mama sangat merindukan Zay," Ucap Mira memberikan alasan agar Bu Parida merasa tidak tersinggung, dengan penolakan yang di berikan Mira.
"Ya, semalam saja... besok kalian bisa menjemputnya lagi, di sini sebelum pergi ke sana, gimana?” Kata Bu Parida dengan raut wajah penuh permohonan.
Sungguh Mira tidak tega melihat sang mertua seperti itu, tetapi dia juga tidak rela harus membiarkan Zay menginap bersamanya. Entah kenapa hati kecilnya tidak mengizinkannya menginap.
"Nanti saja ya, Ma... jangan malam ini," Ucap Mira, sambil tersenyum tipis ke arah sang mertua. "Oh iya, Ma.. Nilam ke mana?" Tanya Mira, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Dia masih di kamarnya belum turun dari tadi siang," Jawab sang mama.
"Apa kabarnya, dia Ma ...?"
"Baik, tadi siang dia ada di sini nemenin anak-anak main," Jelas Bu Parida.
"Alhamdulillah jika baik," Ucap Mira sambil tersenyum, Zay mengikuti di belakangnya.
"Zay sayang, ambil tasnya, kita pulang sekarang," Mira memberi perintah terhadap sang anak agar mengambil barang miliknya.
"Baru-baru amat, mir.... " Ucap Bu Parida.
"Ini sudah terlalu sore, Ma.... nanti jalan akan lebih macet," Mira menimpali.
"Ya sudah jika mau pulang saja, Mama sih sangat berharap Zay menginap," Ucap Bu Parida lagi.
"Iya, MA... lain kali saja, ya Ma," Jawab Mira.
Bu Parida pun pergi ke kamar Zay, untuk mengambil barang milik cucunya itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Bu Parida pun telah kembali dengan membawa beberapa barang yang dimaksud lalu, dia menyerahkannya pada Mira, dengan perasaan yang sedikit kecewa karena keinginannya untuk bisa tidur dengan Zay, tidak terlaksana.
Bersambung