Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 182


__ADS_3

Setelah beberapa saat mereka menempuh perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Selvi turun dari mobil terus di ikuti juga oleh Ferdy. Mereka berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi di hadapan nya.


"Udah masuk sanah... abang akan pergi ke kantor dulu, nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin" Kata Ferdy sambil mengacak kasar rambut sang adik, meskipun mereka baru bertemu setelah dewasa tetapi itu semua tidak mengurangi rasa sayang Ferdy untuk sang adik.


"Ikh, abang... berantakan ni rambutku, udah dandan cantik juga kenapa di acak-acak" kata Selvi sambil mengerucut kan bibirnya.


"nggak usah terlihat cantik, pasti nanti banyak buaya yang gombalin kamu. " kata Ferdy sambil mencubit lagi hidung Selvi.


"Abang.... ikh sakit tahu, iseng bener sih" Kata Selvi sambil mengusap hidung nya, yang tadi di tarik sang kakak.


"Sudah sanah masuk! " perintah Ferdy terhadap sang adik.


"Iya.. aku pamit ya abang ku yang paling ganteng, tapi sayang masih jomblo" kata Selvi dengan nada bicara meledek, dia berlari meninggalkan Ferdy yang masih berdiri di halaman kampus.


Setelah kepergian Selvi, akhirnya Ferdy pun masuk kembali ke dalam kendaraan nya.


Setelah berada di dalam kendaraan Ferdy pun menginjak gas dengan perlahan.


Setelah beberapa saat di perjalanan akhirnya dia sudah sampai di tempat tujuan.


Ferdy dengan gerakan cepat langsung keluar dari kendaraan yang di tumpangi nya, lalu dia bergegas pergi dari area parkir untuk segera menuju ke ruangan nya.


Setelah beberapa saat Ferdy pun sudah sampai di tempat tujuan yaitu ruang kerja, di mana tempat ini akan menemani nya sampai sore bahkan terkadang sampai malam.


Kerja dan kerja hanya itu yang di lakukan Ferdy setiap harinya, bahkan untuk mencari jodoh pun dia lupa.

__ADS_1


Setelah berada di dalam ruangan Ferdy pun menjatuhkan tubuhnya, di atas kursi kebesaran nya lalu menyenderkan punggung nya ke sandaran kursi.


Dia akan segera memulai pekerjaan nya,di sini lah ferdy akan menghabiskan hatri harinya bersama pekerjaannya.


Dia pun memulai membuka lembar demi lembar dokumen yang sudah menumpuk di hadapan nya, meskipun hanya memeriksa tetapi tetap saja butuh ketelitian dan tenaga yang cukup.


Setelah cukup lama dia berkutat dengan semua kertas yang ada di hadapan nya, ternyata waktu bergulir begitu cepat.


Dia berencana untuk makan siang di restoran yang ada di depan kantornya,sekalian minum kopi.


Mungkin rasa lelah dan puyeng akan segera hilang setelah minum kopi.


Ferdy pun bangkit dari duduk nya, lalu segera berjalan perlahan untuk segera menuju pintu keluar.


*


*


*


Mira di kagetkan dengan kedatangan tamu, istimewa yaitu Bu Farida.


Setelah sekian lama mereka juga nggak ketemu akhirnya Bu Farida yang menyempatkan diri untuk mengunjungi sang cucu.


"Mama... " ucap Mira dengan raut wajah terkejut saat melihat ibu mertuanya nya itu berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Hai... apa kabar? Mama sudah kangen sekali dengan kalian semua" ucap Bu Farida sambil cipika cipiki, dia langsung masuk setelah mira mempersilahkan nya untuk masuk.


"Baik, Ma... silahkan duduk! " Mira pun mempersilahkan Bu Farida untuk segera duduk, Meskipun sudah tidak bersama dengan ayah nya Zay, tetapi hubungan Mira dengan Bu Farida masih sangat baik.


Tidak ada yang berubah di antara keduanya, meskipun Mira sudah menikah lagi. Bahkan Bu Farida sangat bersukur terhadap Jack, bahwa dia telah menyayangi Zay dengan sepenuh hati.


"Terimakasih " jawab Bu Farida, sambil duduk di sofa yang ada di hadapan Mira.


"Sama-sama, Ma.. " Jawab Mira sambil tersenyum tipis ke arah sang mertua.


"Oh iya, Zay belum pulang yah? tadinya Mama mau ke sekolah zay terlebih dahulu tapi Mama sudah terlalu kangen sama kamu! " kata Bu Farida, sambil menatap lekat wajah Mira.


"Mungkin sebentar lagi akan datang, Ma...ini kan sudah waktunya pulang" Jawab Mira.


"Udah nggak sabar juga liat anak itu! " kata Bu Farida.


"Gimana kabar nilam dan anak-anak nya Ma.. ? " tanya Mira.


"Mereka baik-baik saja, Cuma Roxy yang semakin menjadi sekarang sudah jarang pulang lagi. Kadang Mama kasian sama Clara dan Meutia, mereka juga kan masih butuh sosok ayah." Kata Bu Farida dengan wajah sendu, dia merasa gagal menjadi seorang ibu jika melihat anaknya seperti Roxy.


"Yang sabar Ma... mungkin Roxy belum dapat hidayah" Kata mira sambil menatap lekat wajah Bu Farida, yang terlihat dengan jelas raut kesedihan.


"Mama... merasa gagal jadi seorang ibu, kenapa juga harus Jul yang pergi terlebih dahulu! " Kata Bu Farida.


"Hus, Ma... nggak boleh ngomong seperti itu, Walau bagai mana pun Roxy tetap anak mama" Ucap Mira.

__ADS_1


Di sela perbintangan mereka pun tiba-tiba ada yang mengucapkan salam, Mira dan Bu Farida pun menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2