
"Kita mampir dulu ke klinik, ya?" Jack mengajak sang istri.
"Mau apa?" Tanya Mira heran.
"Nengok Ferdy sama bayinya," Ucap Jack dengan pandangan lurus ke depan.
"Baiklah" Jawab Mira tanpa bertanya lebih jauh sebab dia tahu akan tahu jawabannya sendiri.
Jack dengan perlahan melajukan kendaraan nya, membelah keramaian kota.
Saat itu siang sudah berlalu menapaki hari yang menjelang sore, itu artinya mereka sudah berkeliling kota Jakarta seharian penuh.
Sebelum pulang ke rumah, Jack mengajak istrinya untuk mampir terlebih dahulu, agar tidak bolak-balik, untuk menemui Ferdy—temannya yang sedang terkena masalah itu.
Suasana jalanan yang harus mereka lalui, sangat ramai dengan kendaraan lain dari berbagai jenis yang ikut serta memenuhi jalanan, memang cukup indah untuk di pandang, tapi membuat sulit untuk melaju karena memicu kemacetan.
Perjalanan yang terasa lumayan panjang pun akhirnya dilalui juga dan sukses membuat Zay tertidur. Mungkin zay merasa lelah setelah berkeliling, jangankan anak kecil, orang dewasa pun merasakan keletihan yang sama, ketika harus menjalankan aktivitas seharian, walaupun itu liburan.
Kendaraan yang mereka tumpangi pun sudah memasuki area klinik, dan Jack memarkirkan kendaraan keluarganya terlebih dahulu. Lalu, ia membuka pintu untuk sang istri.
Setelah itu keluar Mira sambil berkata, "Mas... Zay, kan, masih tidur gimana ini?" Tanya Mira terhadap suaminya.
"Bangunkan saja, kamu nggak mungkin nunggu di sini, kan? Siapa tahu nanti kita lama di dalam,” Ucap Jack terhadap sangat istri.
"Ya sudah," Kata Mira.
Jack pun membuka pintu mobil bagian belakang untuk membangunkan jagoan kecilnya. Dia pun menggendong sang anak untuk keluar dari mobil dengan perlahan.
Zay pun mulai membuka mata saat tangan sang ayah menyentuhnya. Keluarga kecil itu mulai berjalan perlahan meninggalkan area parkir untuk segera masuk ke klinik. Jack memegang tangan Mira, dengan satu tangan yang lain menggendong Zay, dan Mira yang berjalan di samping sang suami pun sesekali menoleh padanya.
Terlihat dari kejauhan seorang lelaki sedang duduk di kursi ruang tunggu.
Jack dan Mira berjalan melewati lorong-lorong klinik itu dan akhirnya mereka pun sampai, di ruang nifas, di tempat perempuan itu di rawat.
Sementara itu, Ferdy sedang duduk di luar kamar di kursi penunggu pasien. Dia tahu bahwa Jack dan Mira akan datang mengunjunginya, oleh karena itu, dia menunggu mereka di sana.
"Ah, kalian, akhirnya datang juga?" Tanya Ferdy terhadap Jack dan Mira.
"Iya, Ini baru saja," Jawab Jack.
__ADS_1
Mira dan Jack pun duduk di samping Ferdy, sedangkan Zay, duduk di pangkuan sang ayah. Meskipun dia sudah terbangun, tetapi anak itu belum sepenuhnya sadar.
"Sudah bisa pulang belum?" Tanya Jack terhadap sahabatnya sambil memberi isyarat pada dengan dagu menunjuk pada perempuan yang masih terbaring lemah.
"Besok pulangnya, tapi gua bingung di tanya pulang ke mana terus keluarga juga dia bilang tidak punya. tambah bingung deh, gua!" Kata Ferdi sambil mengusap wajahnya kasar sungguh ini sangat sulit baginya karena dia tidak setega itu harus membiarkan seorang wanita yang baru melahirkan untuk pergi begitu saja.
"Lu carikan rumah kontrakan saja, yang bisa dia tempati. Terus, kita cari tahu latar belakang dia, apa betul nih, dia nggak punya keluarga, dia bohong atau nggak!" Ucap Jack terhadap sahabatnya itu.
"Tapi, Jakc, dia itu bukan siapa-siapa gua, Masa iya harus mencarikan dia rumah juga." Jawab Ferdy.
"Anggaplah ini sebagai sikap sosial, lu terhadap sesama manusia, toh ini tidak akan membuatmu jatuh miskin. Hanya karena memberikan rumah kontrakkan dan makan wanita itu, menolong orang yang membutuhkan itu pahala, Fer!” Ucap Jack sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu yang mulai terlihat frustrasi.
"Memangnya kamu ketemu di mana?" Mira menyela pembicaraan antara suami dan sahabatnya itu.
"Semalam, hampir gua tabrak itu orang itu,” Jawab Ferdy.
"Boleh gua lihat dia?" Tanya Mira terhadap Ferdy.
"Silakan lu masuk saja, tadi dia lagi kasih asi, makanya gua keluar sekalian nungguin lu. Dan gua juga baru datang sih,” Kata Ferdy.
Mira pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan perlahan mendekati ke arah pintu masuk ke ruangan tersebut. Meninggal kan suami dan sahabatnya yang sedang mengobrol.
Mira berjalan perlahan mendekat ke arah wanita itu sambil menatapnya lekat. Hati Mita merasa sedikit perih di kala tatapan dirinya bertemu dengan wanita itu.
Mira sudah berada di dekat ranjang pasien lalu menarik kursi yang ada di samping tempat tidur, lalu, duduk di samping seorang wanita yang duduk di atas ranjang sambil menggendong bayi yang masih merah itu.
"Hai perkenalkan. Namaku Mira, Namamj siapa?" Tanya Mira sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum tipis ke arah wanita itu.
"Selvi, Mbak,Mira ....” Jawab wanita itu ragu.
"Nama yang bagus, terus itu bayinya laki-laki atau perempuan? lucu sekali,* ucap Mira.
"Laki-laki, Mbak," Jawab wanita itu.
"Ganteng ya, pasti Mirip bapaknya, oh, ya di mana dia sekarang?” Tanya Mira.
Bukannya menjawab pertanyaan Mira, wanita itu justru memalingkan pandangannya ke arah lain, seperti ada yang di sembunyikan.
Mira yang melihat itu langsung berkata "Tidak usah di jawab, kalau memang tidak mau, dan jangan khawatir ada kita di sini" Ucap Mira.
__ADS_1
"Sepertinya, kamu masih muda banget ya, berapa umur kamu?" tanya Mira.
"Sembilan belas, Mbak" jawabnya.
"Masih muda ya," ucap Mira.
"Boleh nggak, kugendong sebentar bayinya?” Tanya Mira terhadap Selvi.
"Boleh," Selvi pun mengulurkan tangannya, menyerahkan bayi itu.
Bayi tersebut sudah berada di gendongan Mira, Dia menatap lekat wajah bayi yang ada di gendongannya.
Setelah cukup lama bayi itu ada di gendongan Mura, akhirnya tertidur juga lalu dia meletakan di bok penyimpanan bayi yang tidak jauh dari tempat tidur ibunya.
Setelah meletakkan bayi itu Mira pun duduk kembali.
"Sudah makan?" Tanya Mira lagi, menunjukkan perhatian terhadap Selvi.
"Sudah mbak, baru saja tadi,” ucap Selvi sambil melirik ke piring yang ada di atas nakas, namun makanan itu hanya di makan sedikit.
"Kenapa cuma sedikit yang di makan, Ibu menyusui itu butuh makan yang banyak dan jangan lupa juga sayuran," Kata Mira.
"Nanti saya habiskan setelah ini," Jawab Selvi.
"Jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk bilang sama Ferdy, dia orang baik, kok. Jadi, jangan khawatir," Ucap Mira sambil tersenyum ke arah Selvi.
"Iya, Mbak terima kasih banyak atas kepedulian Mbak sana saya, padahal saya ini orang asing," ucap Selvi dengan mata yang berkaca-kaca.
Sedangkan Mira yang mendengarnya pun tertegun, merasa miris sekali akan hidupnya jika dia berpikir tentang apa yang terjadi dengan dirinya sendiri di masa lalu.
Setelah itu Mira pun berpamitan untuk keluar dari ruangan, dirinya sudah terlalu lama di dalam. Apalagi ini juga sudah malam waktunya dia untuk pulang. Wanita itu sungguh merasa sangat lelah setelah seharian keliling Jakarta.
Mira bangun dari duduknya lalu berjalan perlahan ke arah pintu keluar. Setelah itu, dia langsung mengajak suaminya untuk pulang.
Kini Jack dan Mira sudah pergi, Ferdy pun masuk ke ruangan di mana Selvi berada.
Bersambung
__ADS_1