Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 80


__ADS_3

"Ayo! kita berangkat!" Ajak Jack terhadap semuanya karena sudah terlalu lama mereka di ruangan tersebut.


"Iya," Jawab Merlin dan Mira secara bersamaan.


Keluarga kecil itu pun berjalan beriringan keluar dari  ruang rawat, menyusuri koridor menuju halaman parkir.


Saat itu, Merlin masih harus menggunakan kursi roda karena kondisinya, sedangkan jarak dari ruang rawat menuju tempat parkir terlalu jauh. Bibi mendorong kursi roda Merlin dengan berjalan di belakangnya. Sedangkan Jack membawa semua barang milik ibu sambungnya yang akan di bawa pulang.


Setelah beberapa saat mereka sudah sampai di mana Jack memarkirkan kendaraan roda empatnya.


Pria itu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Merlin, sang mama, untuk duduk di kursi penumpang bagian belakang sedangkan dirinya dan Mira di kursi bagian depan.


Setelah semua orang duduk dengan nyaman, Jack pun perlahan menyalakan mesin kendaraannya lalu, menginjak gas dengan tenang.


Kendaraan roda empat yang mereka tumpangi pun, melaju dengan kecepatan sedang pergi meninggalkan area rumah sakit.


Sepanjang perjalanan mereka mengobrol ringan, Sesekali mereka tertawa kecil di sela perbincangan di antara mereka. Sekarang sudah tidak ada jarak lagi di antara mereka. Tidak seperti waktu -waktu yang kemarin di mana terdapat jarak cukup riskan tetapi, jarak itu sudah sirna dan justru yang terlihat hanya cinta dan ketulusan yang begitu nyata.


Setelah cukup lama melewati jalanan kota yang sudah di penuhi oleh kendaraan, yang berlalu lalang, mobil itu terus melaju seperti berkejaran. Kendaraanlah yang membuat jalanan terlihat sangat indah, karena nerbagai jenis kendaraan yang terlihat berwarna-warni seakan hiasan sebuah jalan.


Akhirnya mereka pun sampai di rumah Mira. Merlin yang baru kali ini menginjakkan kaki di rumah Mira, seakan terpana demi melihat rumah yang sederhana tapi, begitu asri dan nyaman untuk di huni.


Rumah itu terlihat sangat rapi dipenuhi banyak tanaman hias dalam pot yang diletakkan secara berjajar di depan rumah, menambah keindahan rumah hingga suasana terkesan sangat sejuk.


Jack memarkirkan mobilnya lalu turun, dan membuka pintu untuk istrinya. Mira pun keluar lalu, berdiri di samping kendaraan yang sudah terparkir, sambil menunggu Mama mertuanya. Sedangkan Bibi beserta Zay keluar dari sisi pintu lainnya.


"Ayo... Ma! Masuk," Ajak Mira terhadap sang mama mertua. Mira menggandeng Merlin untuk masuk ke rumahnya dengan sopan. Sedangkan Jack mengeluarkan semua barang yang di bawa dari rumah sakit di bantu oleh Bibi.


Mira sudah berada di teras rumah dan mengetuk pintunya, menunggu Bibi untuk membukakan pintu untuk mereka.


"Ma, Duduk dulu ya? Mira mempersilahkan Merlin untuk duduk di kursi yang ada di teras sambil menunggu.

__ADS_1


"Iya, Terima kasih Yah," ucap Merlin sambil duduk di kursi yang ada di tempat itu.


Setelah sedikit lama menunggu pintu pun terbuka.


"Eh, Nyonya sudah pulang?" Sapa bibi sambil mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Non, ibu ini siapa?" Tanya Bibi terhadap sang majikan.


"Bi, kenalin ini mama mertua saya, yang kemarin di rawat," Jelas Mira terhadap sang Bibi.


"Iya, Nyonya.” Bibi pun mengangguk hormat.


Akhirnya Mira pun mengajak ibu mertuanya untuk masuk.


"Ma, Maaf ya, tempatnya sempit," kata Mira sambil tersenyum ke arah sang mama mertua. Lalu, mereka berjalan perlahan masuk ke rumah yang tidak terlalu luas itu. Dia membawa mama mertuanya ke kamar Zay, di mana Merlin akan menempati kamar itu bersama anaknya.


"Iya, tidak masalah bagi Mama. Mau sempit atau luas yang penting tinggal bareng kalian. Sudah cukup membuat mama bahagia" Ucap sang mama mertua sambil tersenyum lebar ke arah sang menantu.


"Mama bisa istirahat di sini," ucap Mira sambil membuka kamar Zay. Terlihat sebuah tempat tidur yang berukuran sedang, tapi, bisa  di tempati untuk dua orang.


"Ya, Sudah Mama istirahat dulu ya, Mira ke sana lagi," ucap Mira mempersilakan Merlin untuk istirahat. Lalu dirinya kembali ke ruang tengah di mana Bibi dan suaminya sedang duduk di ruang tengah.


Mira sudah sampai di ruang tengah, terlihat sang suami sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sebetulnya pria itu tidak suka dengan keputusan istrinya yang membawa Merlin pulang ke rumah mereka. Akan tetapi, mau bagai mana lagi dia tidak bisa menolak keinginan istrinya. Mengingat bahwa istrinya sedang hamil dan keinginannya harus selalu ingin dipenuhi.


"Bi, semua barang-barang Mama simpan di kamar Zay saja ya?” Mira memberi perintah terhadap sang Bibi.


"Baik, Non!" Jawab Bibi sambil mengangguk hormat lalu membawa semua perlengkapan Merlin yang tadi dibawa oleh Jack, ke kamar Zay.


Sedangkan Bi Mar, asisten Merlin duduk di sofa sambil menikmati teh buatan Bi Minah.


"Bi, Istirahat dulu yah di kamar Bi Minah, nanti saja pulang ke rumah Mamanya agak sorean." Kata Mira sambil melihat ke arah Bi Mar.

__ADS_1


"Tapi... Non! Setelah ini saya mau pulang," Jawab Bi Mar yang tidak enak dengan permintaan Mira.


"Nanti saja Bi... Nanti Sore saja!" Perintah Mira dengan penuh penekan.


"Ya, Sudah....!" Jawab Bi Mar sambil melihat ke arah Tuannya yang dari tadi, tidak berkata sepatah kata pun.


"Ok, Bi... Saya ijin ke kamar dulu, yah?" Ucap Mira sambil berdiri lalu, perlahan pergi meninggalkan Bi Mar dan suaminya yang masih berada di ruang tengah.


"Ya, Sudah Bi saya tinggal juga, ya?” Ucap Jack sambil berdiri lalu pergi perlahan melangkah meninggalkan Bi Mar. Dia ingin segera menyusul istrinya ke kamar. Dengan waktu singkat dia sudah berada di depan pintu kamar lalu, perlahan membukanya. Dari depan pintu sudah terlihat sang istri sedang duduk di sofa yang ada di kamar sambil selonjoran. Dia pun perlahan melangkah memasuki kamar. Lalu, mendekat ke arah istrinya dan duduk di sofa yang sama. Dia mengambil alih kaki sang istri dan meletakkannya di atas paha.


"Pegel ya...? Sini aku pijit.” Kata Jack. “Aku akan pelan-pelan yah!” Ucap Jack Sambil tersenyum tipis ke arah istrinya.


"Eh... Tidak usah Mas...!" Jawab Mira sambil menarik kakinya. Sebetulnya dia ingin sekali tetapi, tidak mau merepotkan suaminya.


"Tidak apa-apa kok ...!" Kata Jack, “Hanya sebentar saja biar kakimu agak sedikit ringan.”


“Eh, Mas, kakiku kok, seperti bengkak ya Mas...?” Tanya Mira terhadap sang suami.


"Iya...” Jack memperhatikan kaki Mira yang ada di atas pangkuannya. “Ini agak bengkak. Apa waktu mengandung Zay seperti ini juga?” Tanya Jack terhadap sang istri.


"Tidak... Pas Hamil Zay aku tidak merasakan ngidam atau apa pun, tapi, ini kenapa, perasaan sering banget aku kelelahan, padahal nggak kerja apa-apa,"  Kata Mira sambil menatap lurus ke depan. Pada kehamilannya saat ini, Mira merasa sangat berbeda dengan sebelumnya. Seperti perut sering keram, cepat lelah tapi, dia tidak pernah mengatakannya kepada suaminya karena dia takut suaminya akan sangat khawatir padanya.


"Berarti kamu mesti banyak istirahat, Jangan terlalu cape atau bisa berhenti dulu dari kantor?” Jack memberikan penawaran agar istrinya berhenti bekerja.


"Loh... Bagaimana bisa berhenti dari kantor, sedangkan kontrak kerja saja belum setengahnya. Berarti harus bayar ganti rugi dong, ke kantor. Seperti yang tertulis di kontrak kerja yang sudah di tanda tangan," Celoteh Mira panjang lebar.


"Yah... kan. Aku bisa membayar semua itu untuk kamu!” Ucap Jack dengan wajah penuh harap.


"Nanti saja, Mas... kalau aku sudah tidak sanggup pasti aku akan bilang kok,” Jawab Mira, membuat Jack menatapnya dengan alis yang berkerut, wajahnya menampakkan kecemasan pada istrinya.


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2