Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 169


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu


Usia kandungan Mira sudah memasuki bulan ke tujuh, perut wanita itu semakin membesar tetapi hal itu menjadikan Jack semakin gemes melihat istrinya yang perut nya semakin hari semakin buncit.


Setelah berkonsultasi dengan dokter Riyan, rasa sakit yang di derita Mira tidak terlalu hebat. Namun, bukan berarti penyakit itu sembuh, obat yang Mira konsumsi hanya untuk pereda nyeri sesaat. Tidak lupa pula Mira selalu mengkonsumsi obat-obatan herbal, semoga dengan cara ini juga bisa menyembuhkan penyakit Mira tanpa harus operasi dan mengganggu janin.


Jack sangat suka mengelus-elus perut istrinya, terkadang seperti menendang hal itu membuat Mira geli tetapi kebahagiaan bagi Jack.


Bagi Jack ini adalah interaksi antara dirinya dan anak yang ada di dalam kandungan istrinya, setiap hari sebelum berangkat bekerja sudah pasti Jack akan bermain dulu bersama sang buah hati yang masih berada di dalam perut.


Mira merasa sangat beruntung sekali bisa memiliki suami seperti Jack, di usia kehamilan yang ke tujuh sudah pasti dia tidak di perbodohkan melakukan apapun.


Hanya berjalan ringan pun yang berada di taman belakang rumah terkadang Jack melarang nya, dengan alasan takut kecapean.


Jika bukan Mama merlin yang selalu memberikan pemahaman terhadap anaknya, bahwa wanita hamil itu tidak sepenuhnya harus duduk diam.


Ada juga yang harus di kerjakan ibu hamil, seperti senam ibu hamil dan lain sebagainya.


Terkadang Jack tidak bisa menerima apa yang di katakan Mama Merlin, tetapi seiring berjalan nya waktu Jack mulai memahami semuanya.


*


*


*


Di ruang keluarga

__ADS_1


Mira dan juga Mama Merlin sedang duduk sambil menikmati acara televisi kesukaan mereka, semenjak berhenti bekerja Mira jadi ikut nonton acara televisi seperti yang di liat Mama mertua nya.


Kegiatan mereka setiap hari selalu seperti itu, hubungan antara menantu dan mertua itu semakin hari semakin dekat begitu pun hubungan Mira dengan Bu Dellia semakin membaik.


Setiap dua minggu sekali sudah pasti Bu Dellia akan datang mengunjungi Mira dan juga ke makan Kirana.


Bu Dellia sudah tidak memiliki kerabat lain selain anak sematawayangnya Mira.


"Ma... ini kayanya bagus deh buat dekorasi kamar bayi nanti? " tanya Mira terhadap ibu mertuanya itu, sambil menyerah kan salah satu gambar yang dari tadi di lihat nya.


"Coba sini, Mama lihat dulu! " ucap Bu Merlin sambil mengulurkan tangan nya untuk mengambil gambar tersebut dari tangan sang menantu.


Gambar pun sudah berpindah ke tangan Bu Merlin, dia meneliti gambar tersebut lalu berkata "ini kan warna perempuan, apa kamu yakin anak yang akan lahir nanti itu perempuan bagai mana kalau laki-laki" kata Bu Merlin sambil menatap lekat wajah menantu nya itu.


"Nggak tahu juga Ma... tapi aku suka warna itu! " ucap Mira, yang nada bicara seperti anak kecil.


"Ya sudah, kalau suka beli saja nggak apa-apa ko, lagi pula kalau pun laki-laki kan tinggal beli warna lain atau sekalian beli beberapa warna! " ucap Bu Merlin agar menantu nya tidak merasa sedih, terkadang memahami mood ibu hamil itu sangat sulit.


"Beli saja, toh harga nya juga tidak seberapa kalau pun nantinya tidak terpakai kan bisa kita sumbang kan ke panti asuhan" ucap Bu Merlin sambil tersenyum kecil terhadap sang menantu.


Ketika menantu dan mertua itu sedang asik berbincang tiba-tiba di kagetkan dengan suara dari arah depan, yang seperti nya suara itu tidak asing lagi di telinga nya. Hal itu membuat Mira dan juga Bu Merlin langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


Orang itu pun langsung masuk setelah di persilahkan untuk masuk, oleh pelayanan yang membuka kan pintu.


Lalu duduk di sofa yang tersedia di ruang keluarga, hal itu membuat Mira dan juga Bu Merlin merasa heran dengan apa yang terjadi.


"Kamu kenapa? " tanya Mira sambil mengerutkan kening nya, dia heran kenapa temannya itu tiba-tiba datang dengan wajah cemberut kurang bersahabat.

__ADS_1


"Eh iya, ko datang-datang cemberut seperti itu? " ucap Bu Merlin menimpali ucapan menantunya itu.


"Itu Rico, masa aku cuma minta di rujak mangga tapi mangga nya nggak boleh beli, mesti nyuri dari dari pohon mangga pak jamal. Eh malah di marahin bukan nya istri lagi ngidam itu di sayang ini malah di marahin" ucap Anita dengan nada bicara yang yang penuh dengan kekecewaan.


"Ya jelas lah dia marah, kamu sih ada-ada saja masa iya anak nya di kasih mangga dapet mencuri kan itu perbuatan tidak baik, sama saja kamu itu sudah ngajarin anak yang nggak bener " ucap Mira dengan nada meledek, sambil menatap sahabat nya itu dengan tajam. tatapan Mira itu sudah membuktikan bahwa Mira juga tidak mendukung keinginan ngidam dirinya.


"Tapikan aku lagi ngidam, nanti kalau nggak di turutin anak ku ngeces" ucap Anita.


"Halah, mana ada yang begituan itu hanya mitos" ucap Mira.


Anita yang mendengar ucapan sahabat nya itu semakin kesal saja, bukan nya mendapatkan pembelaan mah seperti ini.


Bu Merlin yang melihat ini semua dan sudah pasti Anita merasa sedih.


"Ya sudah bagai mana kalau kita ke taman yang ada di dekat kota? di sanah ada banyak jenis yang jual rujak kamu juga belum pernah ke sanah kan? " ucap Bu Merlin sambil menatap menantu dia sambil memberi isyarat agar Mira mau pergi ke sanah dan perempuan yang sedang mengidam itu tidak sedih lagi.


"Tapi kan aku mau nya bukan rujak yang itu "ucap Anita sambil mengerucut kan bibirnya.


" Coba aja dulu! siapa tahu ketagihan "ucap Bu Merlin dia berusaha meyakinkan Anita agar melupakan ngidam nya soal mencuri mangga pak Jamal.


Setelah Anita dan Rico menikah, Bu Merlin menjadi orang tua kedua bagi Anita dia sering berkunjung ke rumah ini.


Bu Merlin pun sudah menganggap Anita itu seperti Mira yang harus di perhatikan juga, jika mengingat jasa Rico itu begitu besar untuk keluarga Maholtra.


Setelah di ketahui bahwa Anita juga positif hamil akhirnya Rico pun meminta nya untuk berhenti bekerja, hal itu di setujui oleh Anita setelah berbicara dengan Ibu nya di kampung. Bahwa seorang istri harus nurut apa kata suaminya itu pepatah yang di ucapan Ibunya Anita, dan akhirnya Anita pun berhenti bekerja.


" Ya sudah jika tante memaksa aku nurut saja"ucap Anita pasrah.

__ADS_1


"Bilang aja lu mau! " kata Mira dengan nada meledek.


Tetapi perkataan Mira tidak di gubris oleh Anita.


__ADS_2