
"Ke ruanganku sekarang juga!” Perintah Jack terhadap seseorang yang ada di seberang telepon, lalu, mengakhiri kembali panggilan begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari orang yang diajaknya bicara.
Sementara menunggu, dia menyandarkan tubuh dengan pandangan jauh menerawang ke langit-langit ruangan sambil menarik napas dalam dan mengetukkan jarinya ke meja, dia tampak sedang memikirkan sesuatu.
Selang beberapa saat kemudian orang yang di panggil oleh Jack melelui telepon pun sudah berada di depan pintu ruangan. Pria itu pun mendorong pintu setelah di ketuk dari luar.
"Boleh aku masuk?” Tanya yang berada di luar pintu.
"Silakan, Masuklah," Jawab Jack.
Pintu pun terbuka, Terlihat di depan sana seorang yang sangat gagah, berjalan perlahan mendekat ke arah meja kerja sang bos. Lalu, duduk di kursi yang ada di depannya sambil tersenyum.
"Ada hal penting apa? Sampai kamu memanggilku, kamu pikir Cuma kamu yang sibuk?" Tanya pria itu, dia adalah Ferdy.
"Banyak hal! Apa kamu keberatan?" Jawab Jack dengan raut wajah sangat serius.
"Silakan, katakan saja?" Ucap Ferdy sambil menatap wajah sahabatnya yang mengerutkan alisnya begitu dalam.
"Carikan pegawai baru, untuk pengganti Mira. Aku ingin dia berhenti bekerja._ Ucap Jack.
"Apa? Kenapa memangnya?” Jawab Ferdy dengan raut wajah terkejut.
"Tidak perlu menunjukkan wajah terkejut seperti itu, Cukup carikan secepatnya!" Ucap Jack dengan penuh penekanan.
"Alasnya apa? Tidak salah, kan kalau aku tahu, kenapa harus mencari pengganti dia?” Tanya Ferdy lagi.
"Karena dia sedang hamil, kalau nanti dia belum ada penggantinya terus dia harus cuti bagaimana?" Kata Jack.
__ADS_1
"Itu kan masih lama, Baru juga Mira hamil dua bulan, kan?" Jawab Ferdy.
"Segala sesuatu harus di persiapkan dari awal, jangan serba mendadak, lagian aku Cuma jagain Mira biar dia tetap baik-baik saja!" Ucap Jack, sambil bersungut-sungut.
"Iya... tapi, tidak secepat itu juga, kali!” Ferdy menimpali ucapan Jack dengan datar.
"Kamu tahu sendiri, kan, Mira itu orang yang tidak pernah mengeluh, tidak mau diem, walaupun dia sedang hamil. Dia tetap kerja dan mengurus semuanya sendiri bahkan keperluan gua dan Zay, di rumah pun masih tetap dia yang menyiapkan, padahal aku kasih pembantu. Kenapa ya, dia nggak seperti orang yang hamil di novel-novel itu, istrinya mengidam dengan banyak permintaan aneh, kenapa dia malah nggak seperti orang yang lagi hamil." ucap Jack panjang lebar.
"Ya... tidak semua ibu hamil itu mengidam yang aneh-aneh juga kali!" Jawab Ferdy singkat.
"Tapi gua sangat khawatir... dengan kesehatannya. Lihat dia, Itu kakinya sudah mulai bengkak bagaimana aku tidak khawatir coba!" Terang Jack pada sahabatnya itu dengan raut wajah yang mulai tidak bersahabat, karena dia sangat khawatir dengan kesehatan sang istri.
"Bagaimana dengan pemeriksaan... selanjutnya yang pernah kamu bilang tempo hari?" Tanya Ferdy tentang pemeriksaan Mira yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.
"Belum di jadwal ulang. Nanti siang gua telepon lagi dokternya, biar dia cepat melakukan pemeriksaan untuk Mira. Aku mau tahu bagaimana hasil dari penyakitnya! " Ucap Jack dengan raut wajah khawatir.
"Gua... sudah meminta Mira untuk berhenti kkerja, tetapi dia tidak mau... Apa kita berhentikan dia saja ya, gimana menurut Lu, Fer?" Kata Jack asal.
"Eh... yang benar saja lu kalo ngomong, masa mau pecat istri sendiri? Kalo Mira di pecat pasti dia merasa sangat sedih banget dan, dia pasti ngerasa sudah tidak dibutuhkan lagi. Mood ibu hamil, kan, berubah-ubah ... gimana kalau burung kamu tidak di kasih masuk sangkar selama sembilan bulan?" Jawab Ferdy dengan nada sambil meledek sahabatnya itu lalu, terkekeh pelan.
"Ya... mana bisa selama itu kali... satu minggu saja rasanya sudah seperti seabad, gua." Jack berbicara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya... sudah kalau sudah tidak ada yang mau lu omongin lagi, Gua kembali ke ruangan, deh!" Kata ferdi sambil beranjak dari duduknya.
"Tunggu dulu... Bagaimana dengan Kasus Sania dan Demian, apa sudah ada perkembangannya?" Tanya Jack soal kasus yang menimpa kedua orang tersebut. Jack sangat berharap, bahwa kedua orang itu segera ditemukan agar mendapatkan balasan yang setimpal atas kejahatannya.
"Hmm ... Demian, Sudah di ketahui keberadaannya kok, tetapi, Sania belum... Entah pergi ke mana perempuan itu, ada kemungkinan dia bisa sembunyi selama ini karena campur tangan dari orang yang melindunginya!" Ucap Ferdy.
__ADS_1
"Maksudnya, Campur tangan dari karen menurutmu?” tanya Jack dengan raut wajah penasaran.
"Mungkin ... Dari seseorang yang mempunyai kekuasaan setara dengan Lu, sebab kalau tidak, rasanya tidak mungkin.” Jawab Ferdy lagi.
"Tetapi, Siapa dia? Tanya Jack lagi.
"Ya... mana gua tahu!” Jawab Ferdi sambil menggerakkan bahunya, Karena dia juga sampai saat ini belum mengetahui keberadaan Sania, yang kuat dugaan sebelumnya jika ada orang yang sudah membantu wanita itu untuk kabur.
"Sudah, lah... gua juga tidak terlalu memikirkan itu, kan sudah kita serahkan terhadap pihak yang Berwajib. Jadi, tunggu hasilnya saja,” Ucap Jack dengan nada yang lemah dan terkesan pasrah.
Saat itu dia berpikir jika tidak ada salahnya kali ini mempercayai para pihak berwajib untuk menangani sebuah kasus yang terkadang sangat lambat. Dia tidak bisa berbuat banyak, sebab mencari orang jahat itu tidak mudah. Butuh taktik dan juga biaya, apalagi jika harus mengerahkan banyak jasa Intel untuk menyelidiki keberadaan dan orang yang berada di balik kaburnya Sania. Terkadang, sebuah perbuatan jahat dan kelicikan seseorang harus dibalas dengan kelicikan pula.
Jika terus memikirkan hal ini kemungkinan Jack tidak akan mempunyai waktu untuk memikirkan istrinya, sebab keadaan Mira jauh lebih penting saat ini mengingat wanita itu tengah mengandung anaknya.
"Itu lebih bagus!" Jawab Ferdy.
"Fokus gua untuk saat ini soal kehamilan istri gua aja... " Kata Jack.
"Ya sudah... kalau sudah tidak ada hal lain, Gua balik ke ruangan dulu ya, Karena nanti siang ada pertemuan." Ucap Ferdi sambil berdiri.
"Ok... Terima kasih atas waktunya."
Ferdy pun perlahan pergi meninggalkan ruangan Jack, sambil berpikir keras usaha apa lagi yang bisa dilakukannya kali ini. Sementara dia harus mencari seorang pengganti untuk Mira. Hal ini tidak mudah sebab, Mira adalah salah satu pegawai yang kompeten, setidaknya dia harus mencari pengganti yang sepadan atau kalau bisa jauh lebih baik.
Sementara itu Jack
masih sibuk dengan apa yang ada di kepalanya. Dia selalu khawatir dengan apa yang akan terjadi terhadap sang istri, kemungkinan terburuk pun selalu menghantui pikirannya. Apa lagi rasa khawatir dan takut jika Sania nekat untuk mencelakai Istrinya. Semua itu selalu ada di pikiran Jack, membuat pria itu selalu waspada.
__ADS_1