Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 71


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara dering telepon, menghentikan perbincangan mereka. Suara itu berasal dari ponsel Jack lalu, dia pun menjawab panggilan teleponnya.


"Kok bisa, apa yang terjadi?" Tanya Jack terhadap seseorang di seberang telepon, setelah dia menempelkan benda pipih itu di telinga.


"Tadi, jatuh dari tangga!" suara sang penelepon terdengar begitu khawatir.


Seketika tubuh Jack lemas, serasa tidak ada tulangnya. Meskipun, dia merasa kecewa bukan berarti sudah tidak sayang lagi, pada orang yang dimaksud dalam pembicaraan mereka. Hanya saja dia belum bisa berdamai dengan keadaannya sekarang.


"Terus sekarang, dia di mana?" tanya pria itu lagi.


"Sudah dibawa ke rumah sakit, tapi belum sadarkan diri," Jawab suara itu.


"Rumah sakit mana?" tanyanya lagi dengan penuh kekhawatiran.


"Rumah Sakit Medika,” jelas sang penelepon.


"Mas... Ada apa?" Tanya Mira terhadap suaminya.


Jack tidak menjawab pertanyaan istrinya, sementara wajahnya sudah tegang sambil tetap berbicara di telepon. Mira belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi, dari yang dia dengar hanya tentang rumah sakit. Entah apa yang terjadi dengan suaminya, Pria itu masih terus berbicara di telepon. Mira menatap lekat wajah sang suami penuh dengan tanda tanya.


"Ya, Sudah tunggu di situ, aku akan ke sana sebentar lagi! Bilang sama dokter berikan dia perawatan yang terbaik!" Ucap Jack sambil mengusap wajahnya dengan kasar dan setelah berkata begitu, dia pun menutup sambungan telepon.


"Sayang ... Tunggu di sini dulu ya! Mama jatuh dari tangga dan sekarang di rumah sakit belum sadarkan diri!" Jelas Jack terhadap sang istri.


"Astaghfirullah ... Kok, bisa?” kata Mira kaget, dengan pernyataan sang suami, yang memberi tahu bahwa ibu mertuanya telah mengalami kecelakaan di rumahnya.


"Aku juga tidak tahu,"  Jawab Jack singkat.


"Aku ikut!" Mira meminta untuk ikut bersama Jack ke rumah sakit.


"Tidak, nanti kamu capek!” Jack menolak permintaan sang istri untuk ikut dengannya.


"Pokoknya, aku ikut!" Tegas Mira.


Jack pun tidak bisa menolak permintaan sang istri. Lagi pula, mungkin ini kesempatan untuk memperbaiki hubungan keluarga di antara mereka ke arah yang lebih baik.


"Ya sudah, ganti baju dulu sana. Masa mau pakai daster terus?" Jack memberi perintah terhadap sang istri untuk berganti pakaian.


"Iya,” Jawab Mira sambil berdiri lalu beranjak meninggalkan suaminya yang masih berada di ruang tamu.


Jack masih termenung di sana, sedang memikirkan ibu sambungnya itu. Sebuah ketakutan pun tanpa dia sadari sudah menguasai otak dan hatinya.


"Hayu berangkat ...." Ajak Mira terhadap sang suami.

__ADS_1


"Iya, Eh bilang bibi dulu," Ucap Jack.


"Eh, Iya ... " Jawab Mira, lalu memanggil Bibi.


"Bu, Bibi!" Panggil Mira.


Sahutan pun terdengar dari arah belakang.


"Iya, Non! Ada yang bisa di bantu?" Tanya bibi terhadap Sang majikan.


"Kami mau pergi ke rumah sakit dulu, bilang nanti sama Zay, kalau kami pergi ya, Bi!" Ucap Mira terhadap Bibi.


"Siapa yang sakit, Nyonya?" Tanya bibi.


"Mama," Jawab mira singkat.


"Astaghfirullah ... Semoga cepat sehat,” Ucap Bibi dengan tulus.


"Titip Zay, ya, Bi!" Ucap Mira.


"Iya, Non!" Jawab Bibi sambil menganggukkan kepala.


"Ya, Sudah kami pamit, ya Bi!” Ucap Jack sambil menggandeng tangan sang istri kemudian melangkah ke luar, di mana mobil mereka terparkir, di halaman Rumah. Dia membukakan pintu untuk Mira dan, wanita itu pun masuk sesuai arahan dari suaminya. Kedua orang yang jadi sepasang suami istri tersebut kini sudah berasa di dalam mobil.


"Hmmzz" Jack hanya menjawab dengan deheman.


Kendaraan yang mereka tumpangi pun perlahan, pergi meninggalkan area perumahan tersebut. Jack dengan perlahan menginjak gas karena sang istri terus berbicara dan memintanya agar hati-hati dalam berkendara.


Sepanjang perjalanan pun di antara keduanya, Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga akhirnya mereka tiba walaupun, waktu yang di tempuh cukup lama. Sekitar  satu jam telah berlalu, tanpa terasa dan kini mereka sudah berada di area parkir rumah sakit.


Jack memarkirkan mobilnya, Setelah itu, dia pun keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Mira. Tidak segan-segan pria itu menggandeng tangan istrinya, menuju ruangan rawat inap di mana ibu sambungnya berada.


Saat mereka tadi berada di loby Rumah sakit, asisten yang bekerja di rumah ibunya, sudah di sana untuk menunggunya.


"Selamat datang Tuan?" Sapa pelayanan tersebut sambil membungkukkan badannya.


"Hamzz..." Hanya itu yang keluar dari mulut Jack. Mira yang berada di samping suaminya memberi senyuman terhadap orang yang menyapa mereka.


"Mama di mana?" Tanya Jack dengan raut wajah sangat khawatir.


"Di Lantai atas, Tuan! Sekarang sudah di pindah ke ruang perawatan," Jelas sang pelayanan, dengan sopan.


"Baiklah," Ucap Jack singkat.

__ADS_1


Pelayanan tersebut, berjalan terlebih dahulu di ikuti Jack dan Mira. Mereka harus melalui lift untuk menuju lantai di mana Merlin, ibu sambung Jack itu di rawat. Setelah beberapa saat lift pun berhenti, ketiga orang tersebut keluar lalu, bergegas menuju ruang rawat yang di tempati Merlin. Akhirnya sampai jugalah mereka di depan pintu ruangan dan sang pelayanan pun mempersilahkan Jack untuk masuk.


Rasa sesal seketika menguasai dirinya. Di kala melihat ibu sambungnya terbaring lemah tak berdaya. Terlihat beberapa alat medis menempel di tubuh sang mama. Jack perlahan mendekat ke arah wanita yang tengah memejamkan mata. Lalu, duduk di kursi dekat ranjang pasien. Dia merasakan dadanya sesak bagaikan timpa bongkahan batu, melihat tubuh sang mama yang terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya.


"Ma ... Ini Jack datang untuk Mama." Dia berkata sambil menegang tangan sang mama.


"Mama ... Bangun, ya! Jack minta maaf, Sudah membuat Mama seperti ini, Jack janji akan pulang membawa menantu Mama ... Asal Mama bangun!" Jack pun terus berbicara kepada sang mama tapi, tidak ada respons darinya. Hanya cairan bening yang keluar dari sudut mata Merlin. Seakan dia mendengar semua yang di katakan anaknya. Mira pun berdiri di samping sang suami sambil mengelus bahunya. Dia bersikap seperti itu dengan tulus  Seraya memberi kekuatan untuknya.


"Nama akan baik-baik saja, kita doakan saja, Karena hanya kekuatan doa yang bisa mengubah segalanya, jadi, jangan kuatir ...." Jelas Mira terhadap sang suami. Dia pun memegang tangan suaminya yang sedang memegang tangan Merlin.


"Ma ... Maafin Mira, ya? Belum bisa menjadi menantu seperti yang diharapkan Mama,” Ucap Mira, seakan ikut merasa sakit ketika melihat tubuh lemah sang ibu mertua.


Wanita itu dulu terlihat anggun dan cantik tapi, kini semua itu telah hilang dari diri Merlin, dan yang terlihat sekarang hanyalah tubuh lemah dan di penuhi alat-alat medis sebagai penopang hidupnya. Mira terus menatap lekat wajah sang ibu mertua, terlihat dengan jelas cairan bening keluar dari sudut matanya, dia pun mengusap dengan ibu jarinya, lembut.


"Mas... Terus ajak Mama ngomong, dia mendengarnya. Siapa tahu Mama bisa cepat bangun," perintah Mira terhadap sang suami.


Jack pun terus mengajak Merlin berbicara. Meskipun, tidak ada respons darinya. Jika saja dia bisa menggantikan posisi Merlin saat ini, pasti dia akan mengantikkannya.


Jack belum bertanya lebih jauh pada sang pelayanan yang ada di rumah, tentang kronologi kejadian sebenarnya seperti apa. Jack bangkit dari duduknya lalu, mempersilahkan Mira untuk duduk di kursi yang tadi dia duduki


"Bi!" Panggil Jack terhadap sang pelayanan yang bekerja di rumah, mengurus Merlin selama ini.


"Iya ... Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Jawab Bibi.


"Ya, saya ingin bicara, ayo! Kita duduk di sana.”  Ajak Jack terhadap Bibi.


"Baik, Tuan," Bibi pun mengagukkan kepala, pertanda setuju dengan ajakan sang majikan.


Mereka kini duduk dengan saling berhadapan di sofa yang ada di ruangan tersebut.


"Jelaskan pada saya sekarang, apa yang sebenarnya terjadi!" Tegas Jack terhadap sang pelayanan.


"Itu Tuan, tadi pagi ada Non Sania dan seorang laki-laki. Saya tidak melihat kejadian itu tiba-tiba nyonya sudah tergelincir di tangga dan mereka juga yang mengantarkan Nyonya ke sini!" Jelas sang pelayanan tersebut.


"Terima kasih, Bi... atas bantuannya," Jack mempersilahkan bibi untuk keluar dari ruangan kembali.


‘SANIA TUNGGU KEHANCURAN MU, KAU SALAH MEMILIH LAWAN’ batin Jack kesal.


Pria itu mengepalkan tanganya kuat, menunjukkan kemarahan yang sudah di ubun-ubun.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2