Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 73


__ADS_3

Sudah hampir dua puluh empat jam Merlin berada di ruang ICU. Akan tetapi belum menunjukkan respons apa pun yang menunjukkan wanita itu akan pulih dengan cepat. Jack terpaksa pulang malam itu, walaupun, sebenarnya dia masih mau menunggu Merlin serta ingin melihat ibu sambungnya siuman. Akan tetapi Mira  tidak mau pulang jika suaminya tidak pulang. Akhirnya, dengan berat hati pria itu menitipkan Mamanya pada Bibi.


Selain itu, ada seseorang lagi yang menjaganya, dialah suruhan Jack. Disebabkan rasa khawatir Jack apabila Sania dan Demian akan datang kembali untuk mencelakai Merlin, saat dirinya tidak ada.


Merlin mengalami benturan hebat di kepala, yang mengakibatkan pembuluh darahnya pecah sehingga terjadi pendarahan di otaknya, itulah yang menyebabkannya koma. Entahlah, apakah wanita itu masih bisa bertahan atau tidak mengingat kondisi dan usianya semakin melemah. Hanya menunggu keajaiban dari sang Maha Kuasa saja karena sejatinya manusia hanya bisa pasrah, dan ikhlas menerima dari setiap kehendaknya.


Jika kisah Merlin hanya sampai di sini, maka itu sudah takdir dari Sang Maha Kuasa. Jika kita di tanya apakah sudah siap ditinggalkan maka, jawabannya adalah tidak. Akan tetapi dari semua takdir itu, tidak ada di antara kita yang bisa menolaknya. Segala sesuatu yang terjadi itu sudah di atur oleng sang pemilik alam semesta. Hanya saja kadang kita tidak paham akan hal itu. Manusia terkadang kurang bersyukur atas nikmat yang diterima dan jika dapat musibah langsung murka sehingga lupa, berapa banyak nikmat dari-Nya yang telah di abaikan. Ya, itulah manusia yang terkadang lupa bagaimana caranya untuk bersyukur, pada nikmat yang telah diberikan Sang Pencipta.


*****


 

__ADS_1


Di belahan bumi yang lain


Seorang perempuan setengah baya sedang menatap sebuah photo anak kecil kembar, yang sangat lucu dan menggemaskan. Dia tidak lain adalah Ibu Delia, yang beberapa bulan terakhir ini sudah mencari keberadaan putrinya di berbagai tempat dan kota. Anaknya sudah lama terpisah darinya. Dia masih ingat bagaimana bisa berpisah dengan anak yang kini dia rindukan, bahkan dia tidak tahu di mana keberadaannya, yaitu pada saat wanita itu bercerai dengan suaminya, atas paksaan dari orang tua Delia, hanya karena sang suami tidak memiliki cukup uang. Seperti itu lah anggapan keluarga bahwa uang adalah segalanya. Sementara suaminya saat itu bukanlah orang yang kaya raya sehingga dengan sangat terpaksa dia menuruti keinginan orang tuanya dan rumah tangga pun tidak berhasil di selamatkan.


"Sekarang kamu di mana, Nak?" Ucap wanita paruh baya itu. Rasanya rindunua terhadap sang putri kecil sudah tidak bisa di tahan. Sudah banyak waktu yang mereka lewati. Dulu Delia tidak bisa mencari keberadaan putrinya karena orang tuanya selalu menghalangi niatnya. Akan tetapi sekarang tidak ada lagi yang bisa menghalangi keinginannya, dia ingin segera menemukan putri kandungnya. Meskipun dengan cara apa pun, anak itu harus segera di temukan. Mengingat usianya sudah tidak lagi muda dan harapan satu-satunya yang bisa menjadi pewarisnya adalah anaknya yang hilang. Sedangkan saat ini, putri kecil yang ikut bersamanya sudah meninggal karena mengalami kecelakaan.


Ibu mana yang bisa dipisahkan oleh anaknya? Delia sangat terluka jika dia harus mengingat lagi pada kisah nyata yang telah lalu. Tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Kadang dia sempat menyesali kenapa dia harus memiliki orang tua seperti orang tuanya. Hanya karena suami Delia tidak memiliki banyak uang, sehingga rela memisahkan ibu dan anak. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara itu membuyarkan lamunan tentang masa lalu dan anaknya.


"Silakan masuk." Delia mempersilahkan Juna untuk masuk.


Pria itu pun berjalan perlahan untuk masuk ke sebuah ruangan yang ada di bagian dalam rumah, di mana tempat itu sangat mewah. Akan tetapi rumah mewah pun seolah tidak ada artinya jika hanya ditinggali seorang diri saja, tanpa anak atau cucu yang bisa menghangatkan suasana yang ada, karena suasana rumah akan hidup ketika ada penghuninya.

__ADS_1


Delia merasakan kesepian di hari tuanya, yang harus dihabiskan seorang sendiri. Makanya dia tidak akan menyerah sebelum ada titik terang tentang keberadaan putrinya.


 


“Bagaimana, apakah sudah ada titik terang soal anakku?” tanya Delia seraya merubah posisi duduknya di sofa besar yang ada di tengah rumah itu.


Wanita itu meletakkan foto anaknya yang selama ini menjadi pelipur lara, di atas meja. Dia menatap Juna tajam sekaligus penuh harapan bila pria di hadapannya itu akan membawa kabar yang menggembirakan.


Juna mendekat mengangguk hormat sambil berkata, “Sesuai harapan Anda, Nyonya.”


Seketika Delia berdiri dan wajahnya menunjukkan kegembiraan, bibirnya tersenyum lalu, dia berkata.

__ADS_1


“Benatkah? Katakan padaku di mana dia?”


__ADS_2