Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 94


__ADS_3

Siang hari itu telah berganti dengan malam, waktu seolah berlari tanpa mau menunggu. Seperti itulah hakikat waktu, di mana manusia membutuhkannya sedangkan waktu tidak butuh kita. Waktunya makan malam pun telah tiba. Suasana hangat melingkupi semua anggota keluarga pun sudah berkumpul di ruang makan


Tanpa terkecuali.


Menu makan malam yang berbeda kali ini telah tersaji sehingga membuat semua yang ada di ruangan itu, merasa ingin segera menghabiskan makanannya. Bu Dellia yang sudah menyiapkan hidangan istimewa itu di bantu oleh Bi Minah. Wanita itu sangat bersemangat meskipun sudah tidak lagi muda, tetapi dirinya masih begitu cekatan dalam hal memasak. Mungkin dari dirinyalah Mira mewarisi sedikit sifat yang energik dan pandai dalam memasak seperti ibunya.


Saat semua berada di meja makan, suasana hening, tidak ada yang berbicara apa pun kecuali hanya suara dari alat makan yang terdengar.


Tiba-tiba terdengar suara Bi Minah memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka, "Nyonya, Saya ada dengar dari orang bahwa ada orang pintar yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah" Celetuk Bi minah tanpa merasa bersalah.


Seketika wajah semua orang yang ada di sana menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat aneh.


"Seperti pegadaian saja Bi," Jawab Jack sambil menatap wajah Bi Minah dengan penuh tanya.


"Iya... Tuan dia itu orang pintar, mungkin bukan kanker yang ada di rahim Nyonya, bisa saja itu guna-guna yang di kirim Sania. Dia, kan tidak suka sekali sama Non Mira, orang seperti dia, kan, bisa saja melakukan berbagai cara agar tujuannya tercapai," Ucap Bi Minah panjang lebar seolah dia tidak percaya bahwa Mira itu bukan menderita penyakit kanker melainkan guna-guna yang dikirim oleh seseorang yang membenci majikannya.


"Maksud Bibi apa, ngomong seperti itu? Apa di jaman sekarang masih ada hal seperti itu?" Ucap Jack heran, dengan semua ucapan Bi Minah. Bagi pria itu semua yang dikatakan asistennya juga cerita yang pernah dia dengar tentang teluh atau santet, hanya ada di film-film dan bukan di dunia nyata.


"Banyak, Tuan, hal seperti itu, Saya sering dengar dari orang di luar sana. Hal seperti itu mereka gunakan untuk membunuh para musuh mereka,” Jawab Bi Minah lagi.


Semua yang ada di sana hanya menyimak pernyataan dari  Bi Minah, mereka enggan menimpali karena bagi mereka sungguh tidak masuk akal. Akan tetapi, mereka juga pernah mendengar tentang ilmu hitam yang berupa santet sehingga mereka menduga, mungkin Mira kena guna-guna dari Sania, seperti yang dikatakan pembantu rumah tangga itu.


Apabila dilihat dari keilmuan modern dan manusianya serta teknologi canggih yang ada, memang semua sepertinya tidak mungkin. Sungguh semua itu adalah hal yang sulit di percaya.


 


Pada saat itu semua yang berada di meja makan pun bergulat dengan pikiran mereka masing-masing mencerna semua perkataan Bi Minah.


"Apa Bi Minah tahu tempat nya?" Tanya Mira terhadap Bi Minah dia Ingin memastikan bahwa info yang di bawa itu bukan asal-asalan tetapi, dengan fakta bahwa orang pintar itu ada.


"Ada! Di daerah sana, pokoknya, saya tahu Non, tapi, untuk rumahnya Saya tidak tahu," Jawab Bi Minah.

__ADS_1


"Bisa anatar Saya tidak, Bi?" Katan Mira kemudian.Spontan Jack menolehkan wajahnya pada Mira dan berkata, "Eh, Tunggu dulu.... Mau ngapain mau ke sanah?" Sepertinya Jack berusaha mencegah tindakan istrinya.


"Mau ketemu orang pintar itu, Katanya bisa mengatasi masalah tanpa masalah, kan?” Tegas Mira tanpa rasa bersalah pada suaminya.


"Jangan aneh-aneh deh... kita itu orang yang berada di jaman modern, masa iya percaya hal begituan?"  Kata Jack sambil menatap tajam wajah sang istri.


"Aku mau cari pengobatan alternatif saja, tidak mau ke dokter lagi, Mereka itu pasti akan membunuh anakku, Mas!" Ucap Mira sambil berdiri dan pergi berlalu meninggalkan semuanya yang ada di meja makan.


Semua orang yang melihat itu,  hanya menghela napas panjang. Mereka seperti tidak berdaya untuk memberi memberi pengertian terhadap ibu hamil itu. Hanya bisa menuruti semua keinginannya, meskipun itu tidak masuk akal.


Acara makan malam pun telah selesai di lakukan dan semuanya kembali ke ruang tengah. Sementara Bi Minah merapikan meja sisa makan malam mereka.


Malam harinya, Mira masih mendiamkan Jack—suaminya, membuat pria itu frustasi karena Mira menjawab begitu irit saat dia bertanya dan berusaha berbincang dengannya. Wanita hamil itu bahkan kini tidur memunggungi dirinya. Malang sekali nasib Jack malam ini tidak dapat merasa belaian lembut dari sang istri.


Namun Jack tetap teguh kepada pendiriannya, ia tidak percaya akan hal mistis seperti yang dikatakan asistennya. Saat ini tahun 2022, sekarang zaman modern lagi pula termasuk musrik apabila percaya kepada selain Tuhan.


Kedua manusia suami istri itu tertidur dengan jarak di antara mereka. Jack hanya bisa memandang punggung indah sang istri dari belakang. Bahkan malam terasa lebih dingin dari biasanya karena semalaman tidak ada selimut hidup yang mau memeluknya.


Tanpa terasa sang mentari mulai menyapa, suara kicauan burung terdengar merdu membangunkan Mira. Dia menengok ke samping dan melihat suaminya nampak yang masih setia dalam tidurnya.


Suara gemercik air dari kamar mandi membuat Jack terbangun, ia segera membuka matanya secara perlahan dan menengok ke samping, tapi tidak melihat keberadaan Mira. Namun mendengar suara gemercik air, laki-laki itu nampak semangat sekali, dengan cepat ia bangkit dari atas ranjang hendak menyusul Mira yang sedang mandi.


Namun, semangat Jack tiba - tiba saja menciut saat mencoba membuka pintu kamar mandi yang ternyata dikunci dari dalam. Ternyata Mira sudah berjaga-jaga apabila Jack masuk dan menyusulnya untuk mandi bersama.


Jack kembali duduk di atas ranjang menunggu Mira selesai dengan ritual mandinya.


Singkat waktu kini keduanya sudah duduk di ruang makan untuk sarapan bersama Zay. Jack dan Mira sarapan dalam diam, keduanya tidak saling berbicara seolah sedang bermusuhan, membuat Zay menjadi bingung melihat tingkah kedua orang tuanya itu.


Setelah sarapan Jack dan Zay berpamitan kepada Mira. Dia  mencium punggung tangan suaminya lalu, kini beralih mencium kening putranya.


"Assalamualaikum." ucap kedua pria itu kepada Mira secara bersamaan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." jawab Mira.


Jack dan Zay pun masuk ke dalam mobil, Mira masih setia memandangi kepergian mereka sampai mobil itu pergi meninggalkan pelataran rumah.


Setelah memastikan Jack dan kendaraannya tidak terlihat lagi, kini Mira bersiap untuk mencari tempat orang pintar yang dikatakan pembantunya kemarin. Wanita itu pergi ke kamar Bi Minah untuk mengajak asistennya mencari tempat tinggal orang pintar tersebut.


"Bi Minah!" Panggil Mira.


"Iya, Nyonya!" Jawab Bi Minah sambil menghampirinya.


"Cepat ganti baju, Kita pergi ke tempat orang pintar itu!"  Perintah Mira terhadap Bi Minah.


"Ke Mana Nonya?" Tanya Bi Minah.


"Ke tempat orang pintar Bibi bilang kemarin malam. Mumpung suami saya lagi ke kantor!" Ucap Mira.


"Tapi, Nyonya... Di sini, kan, ada Bu Merlin sama Dellia pasti mereka tidak setuju!" Ucap Bi Minah dirinya takut di marahi tuannya jika harus pergi sembunyi-sembunyi.


"Sudah, Jangan di pikirkan soal mereka, biar nanti saya yang mencari alasannya," Kata Mira.


"Tapi, Nyonya?" Ucap Bi Minah.


"Ayo... buruan ganti baju!" Mira menyuruh Bi Minah agar cepat-cepat.


"Baik.. Nya!" Bi Minah pun segera  mengganti baju, Sementara Mira masih berdiri di dekatnya, menyaksikan Bi Minah berganti pakaian.


Setelah selesai, Mira dan Bi Minah pun pergi ke luar kamar, dengan hati-hati.


"Tunggu di sini Ya, Ambil tas dulu," Ucap Mira sambil meninggalkan Bi Minah yang sudah berada di ruang tengah.


Tak lama kemudian, Mira pun sudah kembali dengan membawa tas, lalu mengajaknya untuk pergi. Namun, sebelum itu Mira berpamitan sama Bu Dellia dan Bu Merlin. Dia mengatakan jika dirinya akan pergi ke pasar membeli semua keperluan rumah tangga bersama Bi Minah.

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2