Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 105


__ADS_3

Keesokkan harinya pagi yang sangat cerah secerah mentari pagi yang mulai menyinari bumi. Sinar mentari itu masuk melalui celah-celah jendela di ruang perawatan yang di tempati oleh Selvi.


Dengan perlahan wanita itu turun dari tempat tidur, dia ingin pergi ke kamar mandi. Selvi merasakan tubuhnya sudah tidak nyaman dari kemarin dirinya tidak menyentuh air, tidak bisa membersihkan diri karena kondisi badannya yang lemah, bahkan kondisi hatinya pun rapuh. Meskipun demikian, dia memaksakan dirinya untuk hari ini. Pada beberapa bagian tubuhnya masih terasa ngilu, tetapi dirinya berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Dengan perlahan dia mengerahkan kakinya untuk menuju kamar mandi, memanfaatkan keadaan sang bayi kecil yang masih tertidur pulas.


Setelah berada di kamar mandi dia membersihkan diri seperti biasanya. Akan tetapi, baru saja dia sadar dan bingung secara dia tidak memiliki baju ganti.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Selvi pun keluar dari tempat itu dengan tidak mengganti bajunya, dia masih memakai pakaian yang kemarin.


Tidak masalah baginya sebab yang terpenting sudah merasa lebih segar dari sebelumnya.


Dengan langkah perlahan dia berjalan menuju ranjang tempat dia biasa berbaring di sana, lalu, dia berdiri di hadapan box bayi kecilnya. Ditatapnya lekat wajah sang anak yang membawa kedamaian untuk dirinya.


Meskipun dengan cara yang tidak sepantasnya dia hadir, tetapi Selvi dengan tekad yang kuat akan menyayangi dan melindungi anaknya itu, sekuat hati dan tenaga, walaupun, harus dia menukar nyawanya.


Setelah cukup lama menatap wajah sang anak yang masih tertidur, dia pun naik kembali ke atas ranjang.


Dia duduk di sana, sambil melihat ke sekeliling kamar klinik. Dalam hati dia bersyukur bertemu dengan orang yang sungguh-sungguh baik pada dirinya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang mau menolong,  walaupun dia pada dasarnya ikut andil dan bersalah hingga menyebabkan kecelakaan yang menimpanya. Bahkan pria itu memperlakukan dirinya penuh kelembutan dan ramah, apalagi wajah dan postur tubuhnya tergolong sempurna. Ternyata di dunia ini masih ada orang baik seperti Ferdy, batinnya.


Sungguh wanita itu merasa sangat beruntung, di pertemukan dengan pria itu. Namun, dia juga tidak mau jika harus bergantung secara terus-menerus terhadap orang lain. Oleh karena itu, dia berniat untuk pergi sebelum Ferdy kembali menemuinya pagi ini. Selvi merasa malu jika masih saja merepotkan pria itu, dia tidak mau berhutang Budi padanya lebih besar lagi.


Selvi pun turun lagi dari ranjang lalu, mendekat ke arah sang bayi dan menggendongnya. Setelah itu, dia melangkah dengan perlahan mendekati pintu untuk melihat di sekeliling, memastikan bahwa dia bisa keluar dengan aman.


Setelah merasa cukup aman Selvi pun segera bergegas dari ruangan tersebut, dia sangat terburu-buru agar tidak ada yang melihat.

__ADS_1


Meskipun masih terasa ngilu di bagian inti tubuhnya, karena dia menjalani masa pasca persalinan selama dua hari lamanya. Mungkin bagi orang lain belum mampu untuk berjalan terlalu jauh, tapi dia lakukan agar tidak merepotkan Ferdy terus menerus.


Tadi malam Selvi sempat mendengar pembicaraan Ferdy di telepon, tentang rumah sewa, entah mengapa dia sudah yakin bahwa rumah itu untuk di tempati dirinya.


Menurut perempuan itu, sudah cukup sampai di sini kebaikan Ferdy. Dia punya hutang budi yang cukup besar. Mungkin bila suatu saat dia sudah memiliki uang yang cukup, dia akan datang kembali untuk mengganti biaya persalinannya hari ini. Sebetulnya masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ferdy justru ini semua salahnya sendiri. Jika saja malam itu dia menyeberang dengan hati-hati, mungkin tidak akan membawa orang lain terhadap masalah seperti ini. Akan tetapi, dia pun berpikir mungkin juga ini adalah cara sang kuasa menolong dirinya.


Setelah berada di luar klinik Selvi yang terlihat pucat, berjalan dengan langkah terseok-esok. Dia keluar gerbang sambil menggendong bayi kecilnya melihat ke kanan dan ke kiri.


Dirinya bingung harus memilih jalur kanan atau kiri sungguh tidak ada tujuan. Dia pergi melarikan diri bukan tidak tahu terima kasih, melainkan karena dia tidak mau berhutang budi. Dia tidak mau membuat Ferdy merasa repot dengan mengurus dirinya lagi. Dia rela membuang waktu, tenaga dan pikiran, hanya untuk seorang wanita malang yang tidak di kenalnya sama sekali.


Sementara dia saat ini merasa bingung harus pergi ke mana, sedangkan dirinya tidak memiliki uang sepeser pun. Sampai pada akhirnya dia menemukan gang, dirinya masuk melewati jalanan sempit, tak jauh dari klinik. Berharap di tempat baru itu, tidak ada yang mengenali dirinya, dia akan menutupi identitas dengan menggunakan nama Selvi.


Hari ini bapak baru dalam hidupnya akan di mulai, tanpa orang-orang yang selama ini ada di dekatnya.


"Bu numpang duduk ya?" Selvi meminta ijin terhadap sang pemilik warung.


"Silakan, Neng," Jawab ibu warung tersebut, sambil memperhatikan wajah ibu muda tersebut. Tanpa di sadari, ternyata Selvi, sang pemilik warung terus memperhatikan wanita itu.


"Neng mau ke mana?” Tanya ibu pemilik warung.


"Saya nyari rumah kontrakan Bu, sekaligus nyari kerjaan. tidak apa-apa jadi buruh cuci atau apa yang saja yang penting saya bisa bekerja, dan dapat uang,” Ucap Selvi.


"Itu bayi kamu, sepertinya baru beberapa hari, ya?" Kata si ibu.

__ADS_1


"Baru dua hari Bu!" Jawab Selvi.


"Terus bagaimana kamu bisa bekerja, baru juga habis melahirkan terus bayi kamu juga nanti bagaimana?”


“Oh, Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah, Bu, lagi pula dia masih bayi belum bisa apa-apa jadi bisa bekerja dengan leluasa,” Ucap Selvi meyakinkan ibu warung bahwa dirinya bisa bekerja meskipun dia memiliki seorang bayi.


"Tapi neng... setelah melahirkan itu tidak bisa di anggap sepele, bisa saja kamu itu terlihat baik-baik saja padahal nyatanya tidak!" Ibu warung memperingati Selvi.


Sungguh dirinya tidak tega melihat Selvi, dengan membawa anak bayi dan harus mencari pekerjaan. Sedangkan wanita yang masih nifas itu harusnya belum bisa beraktivitas layaknya orang biasa. Meskipun ibu pemilik warung itu belum pernah merasakan yang namanya melahirkan, tetap saja dia tahu akibat ketika seorang wanita yang masih nifas melakukan pekerjaan berat.


"Jika kamu mau boleh jadi pelayanan di warung ibu, tetapi gajinya kecil. Maklum, warungnya tidak terlalu ramai," Ibu pemilik warung tersebut memberi penawaran terhadap Selvi.


"Terima kasih banyak Bu! Tidak apa bagi saya asal dapat pekerjaan, dan saya bisa makan," Jawab Selvi dengan rasa haru, ternyata ada juga orang yang mau memberinya pekerjaan. Meskipun dirinya dalam keadaan seperti ini.


Sungguh dia sangat bersyukur di pertemukan dengan orang-orang baik, ternyata di dunia ini masih banyak orang baik.


Mungkin ini juga rezeki dari bayi yang ada di gendongannya. Sungguh kuasa Tuhan itu nyata.


🌾🌾🌾🌾🌾


Di belahan bumi lainnya, beberapa orang sedang sibuk mencari keberadaan pasien yang pagi tadi masih ada di klinik. Ferdy sedang marah-marah terhadap pegawai yang ada di rumah sakit kecil itu, dia kecewa, mengapa tidak ada seorang pun yang mengetahui ke mana Selvi pergi. Sungguh dirinya sangat prustasi, harus mencarinya ke mana dia juga tidak ada bukti, yang bisa memudahkannya mencari keberadaan wanita itu.


Setelah cukup lama diam, dalam keadaan bingung. Ada seseorang memanggil dirinya untuk ikut ke ruangan CCTV, dia berharap dari sana bisa mengetahui ke mana wanita itu pergi.

__ADS_1


Ferdy sudah berada di ruangan tersebut, untuk melihat ke monitor rekaman demi rekaman yang ada di sana, belum juga ada titik terang, mungkin Selvi juga tahu, hingga saat keluar tadi, dia  menghindari area CCTV. Namun, tiba-tiba Ferdi teringat dengan CCTV yang ada di gerbang, dia menyuruh orang itu untuk membuka bagian rekaman kamera yang mengarah ke sana hingga akhirnya.


__ADS_2