Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 109


__ADS_3

Suasana pagi hari di perkantoran milik Jack, semua orang karyawan sudah mulai berdatang tanpa terkecuali.


Suasana pun sudah semakin ramai, ada yang pergi ke kantin untuk sarapan dan minum kopi, ada juga yang langsung masuk ke ruangannya. Tidak sedikit pula yang hanya bergosip ria bersama teman-temannya di antara cubicle mereka.


Sementara rutinitas pagi bagi petugas kebersihan, sudah di mulai mereka membersihkan lantai dan kaca gedung tersebut tanpa ada satu pun yang tertinggal.


Semua para pegawai yang datang hari itu dengan penuh semangat memulai aktivitas paginya dengan senyuman, berharap hari ini akan lebih baik dari hari sebelumnya. Mereka semua bekerja keras untuk kemajuan perusahaan, karena dengan perusahaan inilah, mereka bisa menghidupi keluarganya. Tidak sedikit pula orang yang di pecat secara tiba-tiba akibat dari kesalahan mereka, dan itu semua tidak ada ampun, sebab Jack tidak bisa menolerir kesalahan apalagi sesuatu yang bersifat fatal. Memang dia terkesan arogan sebagai pemilik perusahaan, tetapi sebetulnya dia, memiliki kepribadian yang sangat baik. terapi jika karyawannya sudah melakukan kesalahan, apalagi kesalahan itu tergolong fatal, maka, tidak akan ada ampun bagi mereka yang melakukan, pemecatan adalah hukumannya.


Semua karyawan pun yang sudah mengenali sifat asli atasnya itu, membuat mereka sungguh sangat berhati-hati dalam bekerja. Mereka tidak mau mengecewakan perusahaan, yang sudah menaungi mereka.


Ferdy datang ke kantor setelah Jack dan Rico datang, dia berjalan cepat agar segera sampai di ruangannya. Ruangan yang mereka tempati ada di bagian atas gedung, sehingga bisa menikmati pemandangan kota.


Ferdy berjalan tanpa melihat ke kanan dan kiri tiba-tiba dia terpeleset lantai yang licin


"Auhhhh.... Ferdy pun meringis kesakitan, Kenapa lantainya basah? Tanya Ferdy terhadap orang yang sedang membersihkan lantai.


"Maaf, pak... saya sedang mengepelnya. Di sana, kan, sudah ada tanda, Pak, bahwa lantai ini basah, Bapak saja kenapa tidak lihat-lihat, kalau jalan?” Ucap seorang yang sedang membersihkan lantai.


"Dasarnya saja kamu tidak becus bekerja, setiap bertemu kamu bawaannya sial melulu!" Ucap Ferdy sambil menatap tajam wanita itu dan berusaha untuk bangun. Namun, usahanya sia-sia malah terjatuh kembali.


"Mau saya bantu berdiri, Pak?" Ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya dan Ferdy pun menerima uluran tangannya, wanita itu berusaha untuk membantu Ferdy untuk bangun. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, mereka kembali terjatuh dengan posisi menimpa tubuh Ferdy. Ini mungkin yang suka di sebut orang, Sudah jatuh tertimpa tangga namun ini beda, bukan tertimpa tangga namun tertimpa Siti.


Tubuh Siti yang menimpa Ferdy itu membuat seolah tidak ada jarak di antara mereka. Sejenak tatapan mereka pun saling bertemu. Setelah beberapa saat tatapan mereka saling terkunci akhirnya siti pun sadar.


"Maaf Pak...! Saya nggak sengaja," Ucap siti sambil berusaha untuk bangun, dan merapikan kembali pakaiannya.


"Kerja itu yang benar, gara-gara kamu pakaian saya jadi kotor, begini!" Ucap Ferdy sambil meringis kesakitan, mengibas tangannya ke bagian pakaiannya yang basah, dan berusaha untuk bangun kembali.


"Sekali lagi saya minta maaf, sungguh itu tidak sengaja, tapi, jangan pecat saya Pak!" Ucap Siti dengan penuh permohonan sambil menunduk, sungguh tidak berani lagi dirinya untuk menatap atasannya itu.

__ADS_1


Setelah bangun Ferdy pun berjalan, perlahan meninggalkan Siti yang masih mematung di tempat semula.


Sungguh dirinya hari ini ketiban sial, sudah datang ke kantor sedikit telat ada saja masalah yang menimpanya, Ferdy pun terus menggerutu di sepanjang jalan menuju ruangannya.


Sesampainya di depan ruangan, dia berpapasan dengan Anita yang baru saja keluar dari ruangan Jack.


"Selamat pagi pak...?” Sapa Anita sambil mengangguk hormat.


"Pagi...!" Jawab Ferdy singkat, dia terus berjalan perlahan, sambil menahan sakit di kakinya akibat terjatuh. Namun, baru satu langkah Ferdy berjalan, Anita memanggilnya.


"Eh, tunggu...?" panggil Anita.


"Ada apalagi, sih?” Jawab Ferdy ketus sambil menghentikan langkah.


Anita pun melihat ke atas dan ke bawah, ke arah penampilan Ferdy yang berantakan.


"Ini kan masih pagi, tapi kenapa dengan penampilan Bapak yang acak-acakan seperti ini?” Tanya Anita sambil menatap tajam ke arah Ferdy.


"Sungguh aneh, kenapa belakangan ini dia suka ketus, sih, terhadap diriku. Apakah aku banyak salah sama dia, perasaan dulu tidak seperti ini, deh. Dia itu orang yang baik, ramah dan santun,” Gerutu Anita dalam hati.


Anita pun kembali ke raungannya kembali, untuk memulai semua aktivitas seperti biasanya. Sebelum dirinya menikah nanti, semua pekerjaan harus sudah selesai, dan setelah itu bisa fokus mengurus persiapan pernikahan, itulah yang ada dalam pikirannya.


Mengingat waktu menuju pernikahannya semakin dekat, dia tidak mau gara-gara rencana menikah, semua pekerjaan terbengkalai. Sungguh ini bukan sifat dan kepribadian Anita yang sangat bertanggung jawab dan rapi dalam menyelesaikan tugas.


Sesampainya di sana, Anita duduk di kursi kebesaran miliknya. Lalu, dia melihat kembali semua pekerjaan tugas revisi yang harus diselesaikan, bagian mana yang masih tertunda dan yang harus segera ditandatangani. Dari segi pekerjaan Anita adalah orang yang sangat teliti.


Dia orang yang sangat bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan. Oleh karena itu, Anita mempunyai posisi bagus di perusahaan ini. Itu semua berkat kinerja yang di milikinya.


Waktu terus bergulir begitu cepat, dari menit ke menit, dari jam ke jam hingga waktu istirahat pun tiba. Namun, Anita belum mau menyudahi pekerjaannya.

__ADS_1


Dia masih menenggelamkan diri berkutat dengan semua berkas yang ada di tangannya, Anita bisa di sebut orang yang gila kerja. Jika sudah memegang pekerjaan dia bisa melupakan apa pun yang ada di sekitarnya. Termasuk rasa lapar pun dia tahan, itu semua karena pekerjaan.


Anita pun masih asyik dengan semua pekerjaan, ketika terdengar suara pintu ruangan pribadinya di ketuk.


"Silakan masuk!" Anita mempersilahkan orang yang mengetuk pintunya tersebut untuk masuk.


Pintu ruangan pun sudah terbuka, Anita menatap lekat wajah seseorang yang sedang berdiri di depannya.


"Kenapa masih berdiri di situ, masuklah!" Tanya Anita sambil meletakkan berkas yang sedang di pegangnya.


"Iya,” Jawab orang itu sambil melangkah perlahan, mendekat ke arah Anita. Lalu duduk di kursi di hadapan wanita itu, sambil menatap tajam sahabatnya itu.


"Kenapa melihatku seperti itu, risi aku jadinya melihat tatapan kamu," Ucap Anita terhadap sahabatnya itu.


"Belum, makan siang, yah?" Tanya Mira terhadap Anita.


"Belum, memangnya kenapa?"


“Bisa antar gua enggak, Niat?” Tanya Mira terhadap sahabatnya itu.


"Ke mana, tapi gua lagi sibuk banget," Jawabnya.


"Lagi pengen makan durian Haji Kodir, tapi mau gua, lu yang atar ke sana, bukan orang lain," Ucap Mira dengan raut wajah melas dan tatapan penuh permohonan.


"Kenapa mesti ke sana sih... Mir? Kan, bisa di telepon terus di antar!" Kata Anita.


"Orang maunya, di makan di bawah pohonnya," Tegas Mira.


"Ajak suami, lu aja kenapa...? beneran, gua lagi sibuk ini," Kata Anita.

__ADS_1


"Kenapa, lu gitu, sih? Nggak mau mengabulkan permintaan gua sih... padahal tahu sendiri gua itu lagi hamil, bagaimana  nanti kalau anak gue ngeces, mau lu punya ponakan yang seperti itu?" Ucap Mira dengan wajah sendunya.


 


__ADS_2