
Setelah jam istirahat selesai, seluruh karyawan kembali ke ruangan masing-masing. Mereka akan kembali bekerja setelah satu jam beristirahat, Jack juga sudah kembali ke ruangan nya. Dia akan mempelajari ulang semua berkas yang akan di bawa ke ruang meeting, hari ini tepat pukul dua siang, bersama beberapa staf ahli dan juga mitra bisnisnya.
Jack dengan teliti membaca ulang berkas-berkas itu agar tidak ada kekeliruan di saat harus presentasi.
Jakc melakukann semuanya dengan penuh persiapan hingga tak terasa waktu meeting pun telah tiba.
Jack perlahan bangkit dari kursi kebesarannya, sambil membawa berkas yang akan di bawa ke ruang meeting tersebut. Dia berjalan perlahan, Jack pun keluar dari ruangannya, untuk menuju ke ruangan yang telah di siapkan untuk para petinggi perusahaan membahas segala masalah yang ada.
Begitu dia sampai di ruangan, sudah terlihat semua orang duduk di sana menunggu kedatangannya, termasuk juga istrinya, Mira.
Dia melirik ke arah istrinya yang terlihat biasa saja. Kedatangan pria itu pun di sambut oleh semua orang yang ada dengan ramah juga menjabat tangannya.
Jack dengan segala pesona yang dimilikinya termasuk kegagahan, menerima sambutan mereka dengan senyuman, hal itu sungguh membuat semua kaum hawa yang terlibat dalam rapat, tergoda dengan penampilannya. Tentu saja mereka begitu, karena Jack memang tampan. Namun, berbeda dengan Mira, wanita itu malah merasa jengkel ketika melihat suaminya tersenyum seperti itu terhadap semuanya, mengingat di ruangan itu tidak hanya dirinya saja yang seorang perempuan, tetapi, ada juga yang lainnya. Ada juga di antara mereka adalah, Bu Lidiya dia manajer pemasaran, di perusahaan Jack ini. Dia juga orang yang selalu berusaha mencuri perhatian suaminya, oleh karena itu, Mira tidak suka melihat suaminya tersenyum terlalu manis.
Jack melirik ke arah sang istri, dia tahu bahwa istrinya itu tidak suka akan hal ini. Jack pun tersenyum penuh kemenangan di saat melihat reaksi Mira seperti itu.
Seiring berjalannya waktu, meeting pun di mulai dan Jack memimpin jalannya rapat ini dengan sempurna. Dia menjelaskan semua dengan rinci dan juga bisa di mengerti oleh para pegawainya tetapi, ada satu hal kendalanya.
Setelah Jack memaparkan semuanya ini saat nya bagi mereka yang untuk menyangkal atau memperbaiki yang sudah Jack jelaskan tadi.
"Pak, kita punya masalah itu di lahan yang akan di bangun. Mereka tidak akan menjual lahan tersebut jika akan di jadikan tempat wisata, mereka sangat membutuhkan untuk tempat pendidikan, secara di daerah tersebut masih minim tempat pendidikan yang layak, dan lahan yang kita punya itu tidak cukup luas jika tidak menambahnya lagi," Kata salah satu peserta rapat.
"Coba kita tawarkan harga dua kali lipat dari harga normal, jika masih menolak kita cari cara lain," Perintah Jack terhadap orang tersebut.
"Kalau bisa sih, Bapak sendiri yang datang ke tempat itu agar bisa tahu kondisi yang sebenarnya seperti apa dan keinginan mereka juga, terakhir saya ke sana mereka ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan, Pak!"
"Baiklah, jika seperti itu, saya akan segera pergi ke sana," Kata Jack sambil memberi perintah terhadap sekretaris pribadinya, agar mengatur ulang jadwalnya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka berdiskusi tentang masalah perusahaan, tidak terasa waktu yang mereka habiskan sudah hampir dua jam. Itu saatnya pertemuan kali ini berakhir dan acara pun di tutup.
Saat ini semua peserta rapat sudah meninggal kan ruangan tersebut termasuk juga dengan Mira, yang keluar tanpa permisi dulu terhadap suaminya. Apalagi saat melihat Lidiya berbincang dengan suaminya, hawa panas di ruangan itu pun mulai di rasakannya. Padahal ruangan tersebut sudah di lengkapi dengan pendinginan udara, tetapi tidak bisa membuat Mira merasa segar.
Jack adalah orang terakhir keluar dari ruangan tersebut, dia tidak langsung ke ruangan pribadinya melainkan pergi ke ruangan istrinya.
Dia sangat tahu bahwa istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Jack berjalan perlahan ke ruangan di mana istrinya itu berada, dia memutar gagang pintu setelah tiba di sana dan saat pintu terbuka, terlihat sang istri sedang berdiri di depan jendela yang mengarah ke luar gedung, dari sana dia bisa melihat pemandangan kota dan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Jack dengan perlahan berjalan mendekat ke arah Mira dan mengalihkan tangannya dengan lembut di pinggang sang istri.
Hal itu membuat wanita itu kaget dan refleks langsung memukul tangan suaminya.
"Aw! Sakit Sayang... " Kata Jack sambil berpura-pura meringis kesakitan.
"Kenapa sih... dari tadi ko, wajahnya seperti tidak suka, apa ada yang salah?” Tanya Jack terhadap istrinya.
"Astaga, Mas... dasar tidak peka!" Ucap Mira sambil membuang muka.
"Kamu kan tidak bilang, salah aku tuh, di mana? Wajar kalau aku tidak tahu, aku itu bukan cenayang yang bisa tahu apa yang ada di pikiranmu," Ucap Jack lagi, padahal dia sudah tahu bahwa Mira ngambek gara-gara dia tadi berbincang dengan Lidiya, hanya saja Jack ingin mendengar langsung dari mulut istrinya itu.
"Sudahlah, nggak penting juga," Ucap Mira sambil melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya, tetapi usahanya sia-sia tenaganya kalah telak dari suaminya. Jack justru semakin mengeratkan pelukannya, membuat Mira tidak bisa apa-apa hanya dan terdiam karena pasrah.
Dia berusaha untuk menetralkan semua perasaan yang ada di hatinya, saat berada di pelukan sang suami sambil memejamkan mata karena di saat yang sama, rasa nyaman pun mulai timbul meredam hawa panas sudah menguasai dirinya.
Setelah beberapa saat Jack terus memeluk tubuh sang istri, sambil berdiri dan melihat ke arah luar yang menampakkan keindahan kota.
__ADS_1
"Mas... lepasin, susah nafas ini," Mira meminta suaminya untuk melepaskan pelukannya sambil mendorong pelan dadanya.
Dan Jack pun mengurai pelukannya, lalu memegang satu tangan istrinya yang kanan.
"Kenapa tiba-tiba marah-marah, ada yang salah? Coba kasih tahu salahnya di mana?” Tanya Jack terhadap sang istri dengan suara lembutnya.
"Aku tidak suka melihat kamu itu senyum-senyum seperti tadi ke semua orang, dan aku juga tidak suka kamu deket-dekat sama Lidiya. Dia itu cantik dan aku enggak, nanti kamu jatuh cinta sama dia terus aku jadi janda lagi," Mira berbicara sambil berurai air mata.
"Astaga, sayang... kamu cemburu? Tanya Jack terhadap istrinya.
"Itu bukan cemburu, tapa, takut," ucap Mira, dengan berderai air mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Apa bedanya?" Ucap Jack sambil mengusap air mata istrinya dengan ibu jari lalu memeluknya kembali.
"Dia itu cantik, pintar pasti semua orang menginginkan wanita seperti dia," Ucap wanita itu lagi sambil sesenggukan.
"Kata siapa? Di mataku wanita yang paling cantik dan pintar itu yang sekarang sedang mengandung anakku, berarti dia orang yang sangat hebat dan beruntung, tidak akan ada lagi wanita secantik dan sehebat dia di dunia ini," Ucap Jack sambil mengusap pelan kepala sang istri, agar segera tenang.
Setelah beberapa saat kemudian keadaan pun sudah mulai tenang, Mira sudah tidak lagi menangis namun pria itu masih saja memeluk tubuh kecil sang istri, dan belum melepaskannya.
Tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka.
“Astaga... kalian ini! Kenapa tidak di kunci pintunya, sih?”
Kata seseorang yang sedang berada di depan pintu.
Bersambung.
__ADS_1