Janda Satu Miliar

Janda Satu Miliar
Part 70


__ADS_3

"Ini sudah siap Nyonya Jack, nasi gorengnya!” Jack menyerahkan nasi goreng ke hadapan Mira. Hidangan itu terlihat begitu menggoda dari warna dan juga tampilannya, membuat wanita itu begitu berselera.


Satu sendok nasi goreng sudah berhasil masuk ke mulut Mira.


"Mas ....”


" Kenapa, Tidak enak, ya?” tanya Jack terhadap sang istri. Wanita itu tampak membulatkan mata saat mengunyah nasi goreng buatannya.


" Enak loh, Mas! Coba deh, pasti kamu juga suka!" Kata Mira, sambil mempersilahkan Jack untuk mencicipi nasi goreng buatannya. Dia pun menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi goreng tersebut lalu, menyuruh Jack membuka mulutnya agar suaminya ikut merasakan enaknya nasi goreng yang sedang dinikmatinya.


"Enak, kan!” Ucap mira sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Akan tetapi seketika Jack menyemburkan nasi goreng dari mulutnya.


"Asin sekali...!” Jack berkata sambil menyeka bibirnya dengan tisu, setelah berhasil memuntahkan semua Nasi goreng dari mulutnya.


"Kata siapa? Ini enak loh,” Mira pun menyuapkan kembali nasi goreng tersebut ke dalam mulutnya seolah apa yang dirasakan Jack itu salah.


"Sayang, sudah, Enggak usah di makan ya! Biar bibi membuat kembali nasi gorengnya!” Tutur Jack terhadap sang istri.


"Kata siapa nggak enak? Biarin, aku mau memakannya! Justru aku sangat bahagia kalau Mas, yang menghabiskannya," Ucap mira sambil menatap lekat wajah sang suami yang sudah memucat.


"Tidak, Sayang...! Aku tidak mau,” kata Jack Seraya minta permohonan agar Mira tidak usah menghabiskan nasi goreng buatannya.


Seketika wajah perempuan itu menjadi murung, mendengar Jack menolak permintaannya.


"Mas, apa kamu tidak sayang sama bayi yang ada dalam kandungku? Dia, loh, yang menginginkan Papanya makan nasi goreng ini,” sarkas Mira dengan nada yang sedikit sedih. Hal ini membuat Jack tidak bisa berkutik,


jika sudah bicara soal kehamilan, maka, pria itu tidak bisa berkata apa pun. Dia pikir, keinginan semua wanita hamil itu, harus serba di penuhi, jika tidak, katanya anak yang lahir kelak akan terus-menerus mengeluarkan air liur, ini menggelikan sekali. Entah itu mitos atau fakta. Sambil menghela nafas panjang Jack pun menerima suapan demi suapan nasi goreng meskipun tenggorokan rasanya seret. Bahkan, dari satu sendok nasi yang dia makan, dia bisa minum setengah gelas air.


"Perasaan tadi menaburkan garamnya secukupnya deh, tapi, kenapa ini asin banget, sih?" Kata Jack sambil meneguk air kembali.


"Salah kali mas ...." Jawab mira dengan senyum seluas samudera melihat suaminya menikmati nasi goreng pete ikan asin rasa air laut.


"Enggak, kok, itu aku tabur garam secukupnya, kan, biasanya kalau buat kopi juga harus pake gula secukupnya? Jadi, tadi aku tabur seperti membuat kopi satu sendok garam saja," Jawab Jack dengan rasa tidak bersalah.


Seketika Mira tertawa lepas mendengar penjelasan dari suaminya. Mana bisa membuat nasi goreng satu piring dengan garam satu sendok penuh seperti membuat kopi. Tetapi hal ini sudah membuatnya sangat bahagia, setidak-tidaknya dia merasa disayangi oleh suaminya.


"Salah ya ...?" Jawab Jack dengan wajah yang sudah lemas setelah makan.

__ADS_1


"Ya, salah," Jawab mira sambil tertawa lepas.


Jack sangat bahagia ketika melihat sang istri tertawa lebar begitu saja. Dia kini menyadari bahwa, membuat  Mira bahagia itu ternyata sangat sederhana. Tidak perlu barang mewah, perhiasan atau berlian, sebuah nasi goreng asin pun sudah berhasil membuat istrinya tertawa lepas. Sungguh wanita yang sangat aneh, tetapi, sangat menggemaskan itulah istrinya, Karina Numaira yang lebih sering di sapa Mira.


Jack pun merapikan semua peralatan masak dan piring yang telah digunakan. Dia tidak membiarkan istrinya untuk melakukan itu semua. Pria itu rela melakukannya padahal dis masih mengenakan stelan kemeja kerjanya. Dia penuh semangat melakukan pekerjaan dapur, padahal ada Bibi entah kenapa dia merasa bahagia ketika melakukannya sendiri. Apalagi sambil melihat senyum kebahagiaan selalu terpancar di wajah sang istri.


"Sudah selesai?" Tanya Mira terhadap sang suami yang mendekat ke arahnya.


"Sudah," Jawab Jack singkat sambil duduk di kursi samping istrinya duduk.


"Padahal tadi ada meeting loh, tapi aku harus pulang deh, demi kamu," Jack pun tersenyum sambil mengelus perut sang istri yang masih rata, membuat mira sangat geli dengan sentuh suaminya.


"Geli, Mas...!" Kata Mira, sambil memegang tangan Jack yang ada di atas perutnya.


"Semoga tumbuh sehat ya, Nak!" Jack pun mendekat lalu mencium perut sang istri.


"Terimakasih, Ya mas ... Telah menjadi suami yang baik dan pengertian juga,” kata Mira, lalu, Cup! Satu kecupan darinya berhasil mendarat di pipi Jack. Hal itu membuat pria itu begitu senang terlihat dari senyum yang mengembang. Dia merasa ini perkembangan baru pada Mira, istrinya jadi agresif seperti ini.


"Maaf, itu bayi yang di kandunganku yang menginginkannya," Ucap Mira dengan malu dan raut wajah yang sudah merah merona.


"Kenapa, minta maaf! Aku sangat suka melihatmu seperti itu. Terlihat sangat cantik malah," Goda Jack.


"Terus tersenyum ya ... Jangan  biarkan senyumanmu pudar dan hilang oleh waktu, tetap jadi mira yang seperti ini aku suka dengan sikapmu yang manja seperti ini,” Ucap Jack sambil mengelus rambut sang istri.


"Terima kasih, kamu juga telah menerimaku apa adanya," Jawab mira lembut.


"Hmm ... Ke ruang tengah tuk, Mau nonton TV!" Ajak Mira.


"Iya, tapi sebentar deh. Buat kopi dulu, ya,” ucap Jack.


"Aku duluan, ya?” Ucap Mira sambil pergi berlalu meninggalkan suaminya yang sedang membuat kopi.


"Ya. Nanti aku nyusul,” Jawab nya.


Mira pun sudah sampai di ruang tengah, dia menyalakan televisi, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Tidak berselang lama Sang suami pun datang, lalu, duduk di sofa dan mengangkat kepala istrinya dan memberikan paha kekarnya menjadi bantal.


"Nanti sore kita periksa lagi, ya? Tidak lupa apa yang tadi pagi aku ucapan,” tutur Jack, sambil melihat ke arah Mira lalu ke layar televisi di depannya.

__ADS_1


"Kenapa sih, Mas... Mesti ke rumah sakit lagi?” Jawab mira heran.


"Ya, intuk memeriksa anak kita.” Jack bicara sambil memainkan rambut sang istri.


"Kan kemarin sudah, Masa tiap hari, sih?” kata Mira dengan heran.


"Biar lebih jelas," Jawab Jack.


"Tapi, aku enggak mau ke mana-mana!” Tutur Mira sambil mengerucutkan bibirnya. Akhir-akhir ini dia malas untuk ke luar rumah. Apalagi harus bertemu orang banyak. Berbagai wewangian pun tercium hal itu yang membuat Mira tidak tahan berada di tempat ramai.


"Masa, Iya? Kamu yang hamil, aku yang di periksa, kan, aneh?” Ujar Jack.


"Iya ... tidak seperti itu juga Mas.... Harus hari ini saja, ya?” Tanya Mira.


"Sudah ada janji loh, sama dokter Ryan, Enggak enak jika di batalkan"Jelas Jack terhadap sang istri.


"Iya deh" Jawab mira terpaksa.


"Saya boleh nanya tidak?" Ucap Jack ragu.


"Nanya saja, Tapi jangan yang sulit dijawab yah!” Ujar Mira.


"Apa perut kamu sering terasa sakit atau apa gitu?" Tanya Jack untuk memastikan bahwa apa yang di bilang dokter itu benar atau tidak.


"Tidak terlalu sering sih, tapi, pernah sakit banget di perut bagian bawah, aku pikir mau haid,” Terang Mira terhadap sang suami.


"Selain itu apa ada yang di rasa?" Tanya Jack lagi.


"Kenapa sih, Mas... Nanya-nanya hal seperti itu?”


"Tidak, hanya ingin tahu saja"


Tiba-tiba di sela perbincangan mereka Ponsel Jack berdering, Lalu Jack pun menjawab panggilan telepon.


"Kok bisa, apa yang terjadi?" Tanya Jack terhadap sang penelepon.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2