
Ferdy saat ini berada di ruangan Selvi, dia duduk dengan tenang dekat tempat tidur perempuan yang masih terbaring lemah itu. Meskipun wanita itu bukan siapa-siapanya, tapi, dia juga tidak begitu tega membiarkan seorang wanita yang tidak memiliki pendamping sendirian. Dia memang Pria sibuk dan selama ini sering mengabaikan perasaannya sendiri. Akan tetapi, Pria itu masih punya hati dan memiliki rasa tanggung jawab yang sangat besar terhadap Selvi, ditambah lagi dia merasa bersalah atas musibah itu. Walaupun dia tidak bersalah sepenuhnya, Ferdy juga sempat berpikir jika bukan dirinya yang menolong, lantas siapa? Apakah wanita itu harus melahirkan dengan fasilitas kesehatan yang semestinya atau melahirkan di jalanan? Akhirnya dia bisa menerima semua dengan lapang dada, mungkin ini jalan yang sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa. Kecelakaan yang terjadi adalah cara agar dia bisa menolong Selvi dengan cara seperti ini.
Ferdy masih duduk di sisi ranjang Selvi sambil memperhatikan bayi kecil yang tertidur dengan nyenyak di boxnya. Sungguh dirinya merasa bersalah sekali jika besok pagi mereka sudah harus meninggalkan klinik, lalu, membiarkan bayi itu pergi tanpa tujuan di bawa sang ibu.
Tidak berselang lama Ferdy teringat Rico, mungkin saja temannya itu bisa membantunya mencarikan rumah kontrakan sederhana untuk di tempati Selvi.
"Kamu sudah lebih baik kan?" Tanya Ferdy terhadap Selvi.
"Iya," Selvi pun mengangguk pelan. Dia melahirkan secara normal, tentu saja keadaan tubuhnya belum pulih benar hanya dalam waktu beberapa hari saja. Bahkan belum bisa merasa lebih baik sebelum satu minggu. Sepertinya, mungkin Selvi hanya ingin terlihat baik-baik saja di hadapan Ferdy, agar dirinya tidak terlalu banyak berhutang budi.
"Jika butuh sesuatu tinggal tekan bel itu, nanti perawat akan datang, saya pergi dulu, tidak mungkin juga, kan, saya jika harus menginap di sini?" Kata Ferdy sambil menatap wajah Selvi
"Terima kasih banyak Tuan, atas bantuannya saya janji akan membayar semua biaya yang sudah Anda keluarkan untuk saya, setelah saya sembuh dan bisa bekerja" Ucap Selvi sambil menundukkan pandangan, sungguh dirinya merasa malu terhadap Ferdy. Tidak seharusnya dia membawa orang lain pada masalah pribadinya.
"Jangan bicara seperti itu, saya ikhlas membantu kamu, jadi jangan banyak pikiran, makan yang cukup, dan istirahat juga" Ucap Ferdy sambil berdiri.
"Iya, Tuan," Selvi pun mengangguk pelan.
"Saya permisi dulu," Ferdy berkata sambil berjalan perlahan menuju pintu keluar.
Setelah keluar dari ruangan Selvi Ferdy pun menghubungi seseorang, agar segera mencarikannya rumah sewa yang strategis dekat dengan kantor, supaya dirinya mudah mengawasi wanita itu, walau bagaimana pun, atas dasar kemanusiaan, dia tetap harus bertanggung jawab sepenuhnya, sampai keluarganya di temukan.
Tak lama kemudian, Ferdy pun menerima pssan dan dia segera pergi ke tempat di mana orang tersebut mengirim lokasi. Mereka janji akan bertemu di area perumahan yang akan di kontrak.
Mungkin ini sudah malam dan bukan waktu yang tepat untuk mencari rumah sewa tetapi apalah daya, besok rumah itu harus sudah di tempati.
Perjalanan yang harus ditempuh menuju lokasi itu ternyata cukup jauh, tapi Ferdy sudah berada di area perumahan yang menjadi tujuannya. Sahabatnya, Rico, sudah menunggu di sana.
__ADS_1
Ferdy segera turun dari mobil lalu menghampiri Rico.
"Gimana, Sudah kamu temukan Rumahnya?” Tanya Ferdy terhadap sahabatnya itu.
"Sudah," Jawab Rico singkat.
"Ternyata lu gerak cepat juga yah, eh tahu dari mana ada rumah sewa di sini?" Tanya Ferdy terhadap sahabatnya itu.
"Lu kaya baru kenal gua aja sih, Fer?" ucap Rico sambil menepuk dadanya, menyombongkan diri.
"Alah lu, itu, baru segitu juga," Ledek Ferdy sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
"Yuk kita lihat dulu cocok apa nggak?" Ajak Rico untuk melihat rumah yang akan mereka sewa.
"Oke, mumpung belum terlalu malam juga," Ucap Ferdy sambil melangkah mendahului Rico.
Setelah itu Rico menghentikan langkahnya tepat di sebuah rumah berukuran mungil dengan beberapa ruangan berukuran sedang, di dalamnya, sangat cocok di tempati oleh para pasangan baru karena menawarkan kehangatan dan kedekatan antar penghuni rumah. Lokasinya berjarak cukup dekat dengan rumah lain dengan ukuran yang sama. Ferdy melihat ke sekeliling, sambil menganggukkan kepalanya, dia merasa sepertinya cocok untuk di tempati Selvi dan bayinya. Apalagi jarak rumah itu tidak terlalu jauh dari kantor dan dia bisa mengawasinya setiap saat.
"Sepertinya ini cocok ... mana kunci, aku mau lihat bagian dalamnya!" Ferdy menanyakan kunci rumah tersebut terhadap Rico.
"Ini," Rico pun menyerahkan kunci tersebut.
Ferdy dengan perlahan membuka kunci rumah, lalu memutar pintu.
Pintu sudah terbuka, Terlihat ruangan itu terdiri dari dua kamar tidur dapur dan kamar mandi, kecil tetapi tidak terlalu sempit lagi pula Selvi hanya tinggal berdua dengan bayinya.
"Eh... Fer, gua heran deh, kenapa nggak lu ajak aja tuh cewek tinggal di rumah lu aja, di sana kan banyak kamar, gimana sih?" Ucap Rico sambil menatap wajah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Apa kata dunia, jika gua pulang tiba-tiba bawa perempuan punya bayi lagi, pasti Mamah langsung pingsan. Di kira anak gua di luar nikah!" Kata Ferdy sambil menatap tajam sahabat itu, dia kesal.
"Iya sih," ucap Rico sambil mengangguk pelan.
Ferdy masuk ke rumah itu melihat setiap sudut yang ada di sanah, Rapih, bersih tetapi belum ada peralatan apa pun di dalamnya.
"Besok lu isi rumah ini dengan semua peralatan rumah tangga, termasuk semua kebutuhan bayinya!" Ferdy memberi perintah terhadap Rico.
"Apa! Gila, lu, ya?" Rico pun kaget dengan semua perintah itu. Ferdy memang teman sekaligus bosnya di kantor, walaupun begitu, dia tidak mau diperintah di luar pekerjaan kantor bahkan dirinya seolah pembantu rumah tangga.
Apalagi menurutnya, Ferdy bisa menikahi perempuan itu dan membawanya pulang sebagai istri hingga dia tidak perlu repot mencari rumah untuk wanita itu tinggal sendiri.
"Nggak usah kaget seperti itu, lakukan saja semua perintah gua. jangan sampai ada yang ketinggalan, oke?" Kata Ferdy terhadap Rico.
"Iya, iya ... Besok gua lengkapi rumah ini sebelum Nyonya Ferdy datang," Ucap Rico sambil meledek sahabatnya.
"Nggak usah ngeledek gitu, gua usir juga lu, baru tahu rasa!" kata Ferdy.
"Ya, ya, baiklah! Ayo, kita pulang sudah selesai kan ...? Tidak ada lagi yang perlu dilihat kan?" Tanya Rico.
"Sudah cukup," Jawab Ferdy.
"Baiklah kita pulang!" Ajak Rico terhadap sahabatnya itu.
Akhirnya mereka berdua pun pulang dengan mengendarai mobil masing-masing, Sudah cukup lelah bagi mereka seharian beraktivitas di luar rumah.
__ADS_1