
Mira memutar gagang pintu lalu membukanya, Tiba-tiba ada suara dari dalam ruangan yang mengagetkan dirinya.
"Dari mana? Kenapa baru kembali ke kantor jam segini?" Tanya orang tersebut dengan tatapan yang tajam, seperti menghunjam tepat di ulu hati.
"Kan tadi sudah minta ijin, mau keluar sama Anita!" Jawab Mira sambil menundukkan kepala, sungguh tidak berani untuk menatap wajah sang suami kalau dia sedang marah wajahnya akan terlihat menakutkan.
"Kenapa ijinnya keluar sebentar, dan ini, lihat ... sudah berapa jam meninggalkan kantor itu artinya kalian pergi dari kantor di jam kerja, dengan kepentingan pribadi, sudah tahu, kan, apa yang akan di terima jika lakukan itu?" Ucap Jack dengan penuh penekanan, sambil menunjuk ke arah jam di tangannya.
Mira pun terus berjalan perlahan mendekat ke arah suaminya, yang masih berdiri sambil tangan di silang di depan dada. Sungguh membuat Mira merinding di buatnya.
"Maafkan saya, Mas, saya Jani, tidak akan mengulangi lagi," Ucap Mira dengan nada penuh permohonan.
"Tidak ada kata maaf, harus menerima hukum sesuai dengan kesalahan!" Kata Jack.
Mira pun sudah berada di dekat Jack, tepat berdiri di hadapan suaminya. Dengan penuh keberanian dia menatap mata pria itu meskipun keraguan sempat menghinggapi hatinya.
"Mas... masa tega, sih, menghukum wanita hamil, sungguh bos yang jahat kalau lakukan itu, tahu?" Ucap Mira pelan tetapi, masih terdengar jelas di telinga Jack. Sebenarnya dia tidak marah sungguhan, dia hanya ingin melihat reaksi istrinya jika dimarahi di kantor, seandainya saja Jack marah pada istrinya di rumah, mungkin Mira sudah berbalik memarahi dirinya. Tentu saja jika di sini Mira akan memosisikan dirinya sebagai karyawan, dan bukan istrinya, makanya, dia tetap pasrah.
"Jika aku dihukum, berarti Anita juga sama yah?" Tanya Mira terhadap suaminya.
"Anita biar urusan Rico, Aku hanya akan menghukum kamu!" Tegas Jack terhadap istrinya.
"Mas... ngomongnya sambil duduk saja, yah? pegel ini kaki dari tadi berdiri terus!" Ucap Mira meminta suaminya untuk duduk.
Mira berjalan perlahan menuju arah sofa, di mana dia akan duduk, sejujurnya sangat merasa lelah. Setelah bepergian jauh tadi, dia merasakan pegal di beberapa bagian tubuhnya.
Mira duduk di atas sofa lalu, membuka sepatunya. Setelah itu dia angkat kakinya dan meluruskannya di sana.
Jack mendekat ke arah istrinya dan duduk di sisinya, seraya bertanya, "Apa itu terasa sakit?"
"Tidak, hanya terasa pegal saja," Jawab Mira sambil memijat pelan kakinya.
"Belum juga dihukum, sudah pegal-pegal apalagi nanti," Ucap Jack sambil menatap lekat wajah sang istri, penuh kasih sayang, dia merasa prihatin karena wajah itu semakin tirus dari hari ke hari. Apakah ini ada hubungannya dengan penyakit yang di derita istrinya atau hal yang berbeda? Jack juga tidak mengerti.
__ADS_1
"Mas... Jadi bos itu jangan galak-galak loh, nanti karyawan nya pada kabur," Kata Mira.
"Kalau nggak galak, ya mereka bisa seenaknyanya, dong," Jawab Jack santai.
"Mas, memang sih, kamu dari dulu itu selalu galak sama aku, bahkan pas Zay mau operasi saja tidak boleh libur kerja," Ucap Mira sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Itu, kan, semua peraturan kantor yang sudah di sepakati kedua belah pihak, jadi bukan salahku, saja,"
"Iya sih, bos tidak pernah salah," Jawab Mira.
"Enggak gitu juga sih, tergantung situasinya, jika menguntungkan maka hukumannya batal," Ucap Jack sambil menatap lekat wajah sang istri, yang membulatkan mata. Mira sudah mencium aroma modus dari suaminya, pasti ini hukuman yang di maksud dalam arti lainnya. sungguh Mira baru paham apa yang di maksud Jack dengan ucapannya.
"Jangan hukum aku di sini ya, mas... nanti saja di rumah," Ucap Mira dengan wajah penuh permohonan.
"Memangnya hukuman apa di rumah, kan, kantornya juga di sini?" Tanya Jack terhadap istrinya.
"Apa aja boleh, kan di rumah banyak pekerjaan, bisa membersihkan taman atau apa saja" jawab Mira santai.
"Kalau aku maunya di sini bagaimana?" Tanya Jack.
"Tidak ada tawar menawar pokoknya," Ucap Jack.
"Mas... makin hari rasanya badanku makin berat untuk di gerakan, ini lihat kaki saja mulai bengkak lagi!" Ucap Mira terhadap suaminya.
"Kan dari kemarin juga udah aku suruh berhenti kerja saja, lagi pula aku sanggup untuk nafkahi kamu dan Zay, jadi, tidak perlu untuk bekerja. Apalagi sekarang posisimu lagi hamil," Jelas Jack.
"Iya, tapi sekarang belum mau berhenti kerja mas... cuma lagi butuh asisten saja, kok!"
"Lah, buat apa asisten kan, ada aku, Anita dan yang lainnya, jika butuh sesuatu tinggal bilang," Jawab Jack.
"Butuh seseorang yang selalu Stay di ruangan ini, jadi tidak susah jika lagi butuh bantuan, lagi pula kalian semua juga punya pekerjaan Masing-masing," Jelas Mira.
"Iya, terus kamu mau asisten yang seperti apa? Biar aku suruh Rico untuk mencarinya."
__ADS_1
"Sudah ada orangnya, tinggal kamu setuju atau tidak sama orang itu," Ucap Mira
"Memangnya ketemu di mana sama orang itu, terus dia mau atau tidak?" Tanya Jack terhadap sang istri.
"Sepertinya dia mau, Mas... anaknya baik, nanti jika aku sudah berhenti bekerja dia bisa menggantikan posisiku, di perusahaan ini. Dia juga lulusan arsitektur sama seperti aku, jadi, tidak sulit nantinya mencari pengganti. Sekalian mengajari dia juga," Ucap Mira panjang lebar.
"Apa kamu yakin dia anak yang baik?" Tanya Jack terhadap istrinya.
"Kemarin, aku minta bantuannya untuk merapikan file-file itu, dia rapi, kok, kerjanya," Ucap Mira sambil menunjuk ke arah loker tempat penyimpanan berkas.
"Memangnya sekarang dia bekerja di bagian apa, kok, aku tidak tahu?" Tanya jack terhadap istrinya.
"Dia bekerja sebagai petugas kebersihan," Jawab Mira.
"Jika dia punya ijazah tinggi kenapa mau jadi petugas kebersihan?"
"Dia bilang daripada tidak ada pekerjaan, tidak masalah apa pun itu pekerjaannya. yang penting halal," Jelas Mira.
"Jika menurut kamu baik dan dia orang yang tepat buat dampingi, aku sih tidak masalah. Yang penting kamu nyaman," Ucap Jack.
"Nanti jika usia kandunganku, sudah memasuki bulan ke tujuh atau sudah tidak kuat. Pasti bilang untuk berhenti bekerja,"
"Ya sudah terserah kamu saja, aku ikut semua keputusan, yang penting itu terbaik buat kamu dan janin yang ada di kandunganmu," Ucap Jack sambil menggeser duduknya lalu, mengusap perut sang istri, yang masih rata. Hal itu membuat Mira geli.
"Mas... geli, ih!" Kata Mira sambil tertawa kecil.
Setelah cukup lama mereka berbicara, ternyata waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor, sungguh tidak terasa bagi Mira yang baru saja tiba, tapi, ternyata sudah waktunya bekerja sudah berakhir, padahal masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
Mira segera bangun dari duduknya dia berniat untuk mengajak suaminya untuk pulang.
"Mau ke mana? Tanya Jack sambil menarik tangan istrinya dengan lembut, tapi tetap saja membuat Mira terjatuh ke dalam pelukannya.
Apa yang akan di lakukan keduanya??
__ADS_1
Tunggu besok ya🤪🤪🤪