Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Bukan masalah serius#


__ADS_3

setelah kembali dari ruangan dokter Vierra menarik nafas panjang, ternyata Vivian, hanya mengalami sakit bisa yang diakibatkan oleh kurang nya istirahat dan selalu terlihat makan, meskipun dia adalah pemilik restaurant tapi Vivian bukan wanita yang bisa mencicipi semua menu yang ada, dia selalu sibuk dengan pekerjaan nya yang juga memegang kendali atas butik milik ibunya itu.


sementara Juni langsung pamit pulang bersama dengan Jessi dan Vierra, karena Andra yang meminta mereka untuk menjaga Vivi.


Vivian tertidur dengan pulas setelah minum obat, sementara Andra bekerja dengan laptopnya, malam pun semakin larut kini keduanya dan sudah tertidur di tempat terpisah Vivian di atas ranjang sementara Andra di sofa tapi meskipun begitu Andra sesekali akan bangun untuk mengecek keadaan Vivian, setiap kali ia terjaga.


sementara itu di kediaman Vierra, dia tengah terduduk di sofa, tepat pukul satu dini hari, dia tidak tau jika Jessi telah menghubungi Jerry secara diam-diam dan pria itu meminta Vierra untuk menjaga putri nya dengan baik, meskipun pada kenyataannya orang tua Vivian bukan hanya dirinya seorang dan Vivian juga bukan anak kecil lagi, tapi kata-kata Jerry begitu menyakitkan Jerry berkata "Jaga semua putri ku dengan baik jika kamu tidak ingin kehilangan mereka untuk selamanya karena aku akan merebut mereka dari mu suatu hari nanti kita mereka sampai kenapa-napa"Jerry dengan tidak berperasaan nya berkata seperti itu.


Vierra langsung berderai air mata, dia tau Jerry akan berkata seperti itu jika dia benar-benar sangat emosi tapi, apa? salah dirinya jika anak-anak mereka tiba-tiba saja jatuh sakit, Vierra masih menangis sesenggukan, pria yang dulu sangat dia cintai saat ini sudah tidak bisa ia kenali lagi.


hingga ia membaringkan tubuh di atas ranjang nya, Vierra tidak bisa memejamkan mata nya.


bayangan kehidupan nya, dengan pria itu, terus berjalan seperti film yang diputar di bioskop.


kilas balik kehidupan bahagia yang dulu mereka jalani, sekarang hanya tinggal kenangan, bahkan perlakuan manis Jerry yang dulu kini sudah tidak ada lagi, Jerry benar-benar sudah berubah, tangis Vierra semakin terdengar memilukan hingga akhirnya ia benar-benar terlelap dengan mata nya yang bengkak.


sementara itu Vivian, sudah mulai membaik dan demam nya sudah bisa duduk, dengan memangku tangan yang di pasangi selang infus dan dia mencoba merapihkan rambut panjang hitam legam dan terawat itu, kini dia kesulitan untuk menata nya.


Andra yang baru bangun pun, langsung menghampiri Vivian, pria itu langsung mengambil alih, ikat rambut Vivian dan mengikat rambut kekasih nya itu, meskipun tidak terlalu rapi seperti Vivian.


Vivian pun menatap wajah tampan dengan rambut yang sedikit berantakan itu tapi dia terlihat semakin seksi, pria itu benar-benar ciptaan Tuhan yang sempurna, dengan bibir yang merah alami garis rahang yang tegas dan alis tebal yang hitam legam.


"Sayang belum puas melihat wajah ku heumm"ucap Andra.


"Andra, langsung bergegas menuju kamar mandi setelah melihat Vivian melotot ke arah nya.


setelah selesai membersihkan tubuh nya dan kembali berpakaian rapi, Andra pun keluar dari dalam kamar mandi dan sudah menggunakan dasi juga jas yang semalam asisten nya kirim kan.


"Sayang aku kekantor dulu hari ini tapi sebelum itu kita sarapan pagi bersama dulu kamu mau aku belikan bubur , atau makanan sandwich isi "tanya Andra.


"Arkana Narendra Aku belum laper "ucap Vivian.


"Panjang benar manggil nya sayang kan udah di beri singkatan Andra"ucap nya sambil nyengir kuda.


"Andra itu tidak bagus untuk mu, kamu cocok dengan nama asli mu, Arkana Narendra"ucap Vivian.


"Terserah kamu saja Sayang yang pasti aku lebih senang kamu memanggil ku sayang"ucap Arkana sambil menatap lekat wajah cantik itu.


"Aku belum terbiasa dengan itu"ucap Vivian.


"Heummm, tidak masalah panggil saja aku sesuka mu"ucap nya, sambil tersenyum.


"Aku panggil Daddy mau"ucap Vivian.


"Mommy romantis banget"ucap Arkana.


"Hahaha sungguh sangat menggelikan" ucap Vivian.


"Siapa? yang mulai"ucap Arkana.


"Habis kamu yang mulai namanya disingkat begitu"ucap Vivian.


"Panggil aku, sayang saja"ucap Arkana, sambil mengecup bibir Vivian.


"Arkan, aku belum gosok Gigi"ucap wanita itu yang langsung menutup bibir nya.

__ADS_1


"Tidak masalah toh masih wangi"ucap pria itu sambil tersenyum, tiba-tiba pintu terbuka menampakkan asisten pribadi nya membawa paper bag berisi sarapan untuk nya juga untuk belajar Vivian, yaitu bubur di dalam kotak.


Vivian mengambil botol infus nya, wanita itu ingin pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, tapi Arkana langsung mengambil alih tubuh Vivian dan membawa nya kedalam toilet tersebut.


"Sayang aku panggil suster dulu ya untuk bantu kamu bersih-bersih, karena tidak mungkin kamu mau aku sentuh untuk bersih-bersih"ucap Arkana sambil terkekeh.


"Arkana kamu pergi saja dan ingat jangan ngintip aku bisa bersih-bersih kalo hanya mencuci wajah saja"ucap Vivian tegas.


"Ya aku tau sayang tidak usah sewot begitu"ucap Vivian.


pria itu pun keluar dan langsung bergegas menuju meja dia harus segera sarapan pagi.


sementara itu Vivian, masih membersihkan wajah nya membilas nya dengan Air, tampak wajah pucat nya, tiba-tiba darah menetes dari hidung nya, Vivian, kaget kenapa? ada mimisan, padahal dia hanya demam biasa, dia menengadah ke atas, tidak lama darah itu langsung berhenti, Vivian langsung membersihkan bekas darah itu, dia pun berjalan keluar, dilihat nya Arkana sudah selesai sarapan pagi dengan kopi dan sandwich yang terlihat hanya bungkusan nya itu.


Arkan langsung memapah Vivian untuk kembali ke atas ranjang nya, dan langsung bergegas mengambil kotak bubur ayam komplit.


"Buka mulut nya, aku akan menyuapi mu"ucap Arkana.


"Aku tidak mau Arkana, rasanya sudah sangat pahit"ucap nya.


"Heummm benarkah, sini aku cium dulu biar jadi enak makan nya"ucap pria itu.


"Arkana jangan lakukan itu, aku sedang tidak ingin bercanda, aku akan tidur saja"ucap Vivian tampak tidak bersemangat.


sementara itu di kediaman Vierra, wanita itu sudah bersiap dengan dengan bawaan nya dia akan menemui putri nya, saat ini karena hari ini giliran dia untuk menjaga putri nya itu.


sesampainya di rumah sakit tepat di depan pintu masuk ruang rawat VVIP, Vierra berhenti sejenak dan melihat dirinya di kaca, apa? penampilan wajah nya tidak akan membuat putri nya itu curiga bahwa dia sudah menangis.


saat masuk kedalam terlihat putri nya, sedang tertidur dia benar-benar tidak tega melihat wajah putri nya yang semakin pucat padahal hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Vivian hanya demam biasa.


sementara itu di lain tempat gadis yang kini berusia dua puluh empat tahun itu, Sedang berusaha untuk menolong seorang pria tua dengan dagangan yang berhamburan dari gerobak nya, dia tidak tega melihat pria tua itu ditindas oleh beberapa orang preman.


wanita itu langsung menghentikan mobilnya dan langsung menerjang para preman itu dengan membabi buta dengan senjata kunci stir yang dia pegang semu preman itu kocar-kacir tanpa bisa melihat wajah Juni, sigadis jagoan itu.


"Bapak tidak apa-apa?"tanya Juni.


"Tidak apa-apa? neng hanya saja dagangan puya orang sudah rusak bapak tidak mungkin lagi menjual nya"ucap nya terlihat sangat sedih.


"Berapa? semuanya"ucap Juni.


"Tiga juta neng total semua nya, ini biasanya sudah selesai diantarkan ke rumah pemesanan, tapi bapak malah dihajar oleh mereka"ucap bapak tua tersebut.


"Ini ada sedikit rejeki ambilah setidaknya cukup untuk mengganti uang orang, dan cukup untuk bapak berjualan dengan modal sendiri"ucap Juni.


"Tidak usah neng bapak tidak ingin merepotkan Eneng, sudah ditolong pun bapak sudah bersyukur"ucap bapak tersebut, tapi Juni langsung memberikan amplop itu ke tangan pria itu.


"Ambilah anggap saja semua rejeki keluarga bapak"ucap Juni, yang langsung pergi dari hadapan bapak tua itu.


terlihat bapak itu pun berjalan memunguti barang yang sudah berserakan di pinggir jalan sepi yang sering Juni lewati untuk pergi ke kampus, dan selalu saja ada kejahatan yang menjadi makanan sehari-hari Juni, untuk ia tolong.


sesampainya di depan kampus, akhirnya Juni, langsung masuk kedalam karena dia sudah terlambat, wanita itu pun berbicara pada dosen yang kini tengah mengajar mohon ijin karena tadi ia terlambat setelah menolong orang lain.


akhirnya dosen tersebut pun mengijinkan gadis itu untuk masuk kuliah dan mengikuti materi yang tengah ia sampaikan.


Juni, langsung berjalan menuju bangku miliknya, saat ini di kelas ternyata banyak yang tidak hadir.

__ADS_1


Juni mengikuti mata kuliah hingga selesai setelah itu dia pergi ke kantin, dan langsung duduk di pojokan seorang diri, karena dia tidak memiliki teman lain selain dua wanita yang saat ini kompak tidak masuk, mereka bahkan tadi sempat mengajak Juni, bolos karena sugar Daddy mereka akan pulang dari perjalanan bisnis.


sementara Juni, jangan kan sugar Daddy, pacar biasa saja tidak punya dan mungkin juga saja tidak ada yang pernah mau berpacaran dengan nya, karena dia yang tidak suka jika didekati oleh pria,lain selain keluarga nya.


bahkan Juni, membenci laki-laki, baginya semua laki-laki itu sama tidak ada bedanya.


Hingga selesai makan siang, Juni langsung bergegas pergi, dari kantin untuk mengikuti mata kuliah terakhir, gadis itu begitu terlihat sangat lelah saat keluar dari dalam ruangan, mungkin karena tugas kuliah yang begitu banyak saat ini.


Juni, berjalan gontai sesekali terlihat menarik nafas, gadis itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Juni menjalankan mobilnya menuju apartemen nya yang tidak jauh dari kampus tersebut sesampainya di sana, dia melihat wanita cantik tengah bergelayut manja di lengan seseorang yang pernah ia tolong.


Juni, semakin percaya bahwa semua laki-laki tidak ada yang benar-benar setia, maka dari itu dia mendukung Vierra untuk berpisah dengan Jerry.


karena baginya Daddy nya sudah tidak sayang pada keluarga nya lagi, sampai saat ini Daddy nya pun tidak peduli dengan semua yang terjadi bahkan saat kakaknya sakit saat ini dia tidak menelpon untuk menanyakan kabar Vivian, yang dia lakukan malah memaki ibunya.


Juni pura-pura tidak tahu saat Jessi menghubungi Daddy nya, gadis cengeng itu tidak pernah bisa jauh dari Jerry, selalu saja menelpon Daddy nya untuk mengadu, tidak hanya itu dia bahkan tidak pernah memikirkan apa? yang ibunya rasakan.


Juni, tiba di apartemen, dia langsung merebahkan tubuhnya di sebuah sofa wanita itu bahkan mengingat kejadian tadi,


dia seperti mengenal siapa wanita yang berdandan sangat menor itu.


ya dia adalah sahabat nya, sendiri Juni tidak habis pikir kenapa? harus pria itu, yang menjadi sugar Daddy nya.


dia pun memejamkan mata nya, hingga malam hari tiba, wanita itu terbangun dia harus segera kerumah sakit, untuk bergantian menjaga sang kakak, kebetulan besok adalah weekend.


Juni bergegas menuju kamar mandi setelah itu dia langsung mengganti pakaian dalam dan setelah selesai bersiap dia pun bergegas turun ke basement apartemen nya untuk mengambil mobil nya, setelah itu dia langsung tancap gas menuju rumah sakit, gadis yang tidak mengenal rasa takut itu kini sudah berada di tengah perjalanan, untuk menuju rumah sakit.


Juni, berhenti sejenak untuk mengisi bensin, setelah mengantri panjang dia pun mendapat giliran, saat menoleh ke samping tiba-tiba dia melihat seseorang yang sangat familiar tengah bercumbu di mobil, dia benar-benar tidak mengira pria yang belum lama ini pulang ke asalnya.


"Arjuna, tidak mungkin dia Arjuna, aku harus meyakinkan bahwa dia Arjuna ,atau bukan tidak mungkin Arjuna, baru kembali dari kantor"ucap Juni yang langsung merogoh ponsel.


Juni menghubungi Arjuna, tapi sayang ternyata mobil yang tadi dia lihat sudah tidak ada, Juni langsung melakukan panggilan video, untuk meyakinkan.


saat sambungan telepon diangkat Arjuna sedang duduk manis di kamar nya.


"Kenapa? apa? kau kangen padaku nona manis"ucap Arjuna.


"Ceh laga nih orang sudah kaya paling tampan saja, barusan gue lihat Lo, sedang bercumbu di mobil"ucap Juni


"Aduh parah tadi mommy bilang aku sedang di butik dengan seorang wanita, padahal sudah dari siang gue dirumah karena gue gak enak badan"ucap Arjuna.


"Gue lihat hantu Lo barusan"ucap Juni, yang sudah selesai mengisi bensin, dan segera pergi meninggalkan pom bensin tersebut.


hingga akhirnya dia tiba di sebuah rumah sakit tempat Vivian dirawat, dan itu adalah rumah sakit milik Daddy nya, Jerry membeli rumah sakit tersebut, dari ayah Sky, saat ketahuan Sky, menikah lagi dengan wanita lain dan menghianati cinta Jane ,sang adik entah bagaimana kabar Daddy Arjuna tersebut, meskipun tidak ada hubungan darah diantara mereka, tapi pria itu sudah resmi mengangkat Arjuna, sebagai anak nya.


hingga tiba di ruangan tempat kakak nya dirawat Juni langsung masuk dia melihat Vivian, tengah dijaga oleh Andra.


" kak Andra disini"ucap Juni kaget.


"Kenapa? kaget begitu, aku sengaja datang untuk menjaga Vivi"ucap Andra.


"Mommy mana"tanya Juni.


"Mommy sudah kembali ke Mension, kamu dari mana?"tanya Vivian.

__ADS_1


__ADS_2