Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Kesedih Juni#


__ADS_3

Juni pun pulang, dengan membawa mobil nya dan ada hadiah pemberian dari acara yang dia ikuti tadi dan meskipun berkali-kali Juni sudah menolak hadiah tersebut.


setelah sampai di apartemen milik nya dia langsung memarkir mobil nya di basement apartemen tersebut dia juga langsung naik ke atas lantai teratas apartemen mewah itu adalah miliknya, dia seakan tinggal di satu rumah besar, karena dia membeli satu unit yang berukuran lebar tersebut, dengan berbagai macam ruangan khusus di dalam nya, gym , salon kecantikan, kolam renang pribadi dan beberapa kamar yang sangat mewah dapur, dan juga mini bar, bioskop mini, dan berbagai ruang santai, Juni membeli itu semua, dengan uang nya sendiri.


mencapai puluhan milyar bahkan ratusan, semua itu dia dapat dari hasil kerja keras nya sendiri selama bertahun-tahun wanita itu sudah bisa hidup mandiri, dan kini dia menikmati hasil kerja keras itu.


Juni berjalan membawa tas berisi uang ratusan juta, rencananya dia akan memberikan itu pada anak-anak yatim Piatu besok, Juni pun merebahkan diri nya di atas ranjang empuk nya setelah selesai membersihkan diri.


wanita itu bahkan hanya menggunakan baju dalam saja dia memejamkan mata nya dibalik selimut dengan suhu ruangan yang begitu dingin.


sampai beberapa jam kemudian dia sudah kembali terbangun karena, dia merasa ada, seseorang yang tengah mengawasi tempat tinggal nya, Juli langsung meretas Cctv gedung yang berdekatan dengan nya sekeliling gedung tempat tinggal nya pun dia retas hingga terlihat seorang yang sangat mencurigakan, Juni langsung menelpon seseorang,untuk membereskan semua nya.


Juni pun kembali tidur dengan tenang, dan sampai pagi, dia langsung menghubungi Arjuna, saat itu juga.


📱"Juna datang ke jalan xx, aku ingin bicara, sekarang juga"ucap Juni.


hingga Juni, selesai bersiap dia langsung membawa uang yang ada di dalam tas tersebut menuju ke sebuah tempat, yang tadi di sebut kan oleh Juni.


"Ada apa? yang"ucap Arjuna yang sudah berani memanggil sayang pada wanita cantik yang hanya tersenyum miring itu.


"Arjuna aku sedang tidak ingin bercanda mood ku, sedang sangat buruk jadi aku mohon jangan pernah pernah katakan itu"ucap Juni.


"Baiklah sayang "ucap Arjuna lagi.


Juni langsung berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun.


"Juni, apa? yang kamu ingin katakan"ucap Arjuna.


"Ambil itu dan tolong berikan kepada orang yang membutuhkan, aku sudah terlambat ke kampus"ucap Juni.


hingga gadis itu tiba di kampus, seseorang yang ia curigai langsung mendekat ke arah nya.


"Kau hebat"ucap nya singkat.


"Terimakasih pak polisi, tapi sorry, aku tidak punya receh"ucap Juni, yang langsung membuat laki-laki itu bertanya.


"Siapa yang telah memberitahu mu"ucap Roby.


"Aku tidak perlu orang lain untuk mengetahui setiap orang yang aku temui"ucap Juni sambil berlalu pergi, begitu saja.


Juni langsung masuk ke kelas nya, sementara Roby, mengikuti langkah nya dari jauh.


"Juni" ucap Roby.


"Tolong jangan bocorkan ini pada siapapun"ucap pria tampan itu.


"Tenang saja karena aku tidak suka bergosip, tapi jika kamu ingin tau buruan mu sudah tidak ada lagi di sini, dia sudah pergi beberapa minggu yang lalu, dan waspadalah ada banyak jebakan di sekitar mu"ucap Juni.


"Boleh aku minta alamat mu"ucap Roby lagi.


"Jika ingin bicara kau tidak perlu tau alamat ku dimana, nanti akan aku kirim semua data dari informasi yang kau butuhkan"ucap Juni.


"Terimakasih"ucap Roby.


"Tidak perlu berterimakasih, cukup traktir aku makan makanan yang lezat, sudah cukup"ucap Juli sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Apapun itu"ucap Roby.


Juni masuk bersama dengan Roby, dia duduk di samping Juni, yang tengah mengeluarkan laptop milik nya, dan Roby, sempat melirik melihat wanita cantik itu Juni memang cantik dia lebih mirip Vierra, hanya saja Juni tomboi.


"Aku baru melihat wanita cantik yang sesungguhnya" gumam Roby lirih.


"Jangan fokus melihat ke arah ku, lihat apa? yang aku kirim kan"ucap Juni yang langsung membuat Rony tercengang karena Juni tidak hanya mengirimkan data orang yang dia cari tapi dia juga mengirimkan semua bukti mulai dari rekaman Cctv dan juga berbagai bukti yang hilang, Roby, tercengang sambil berpikir bagaimana wanita yang bisa tau tentang semua nya, itu yang menjadi pertanyaan Roby.


"Tidak perlu bertanya aku dapat dari mana, yang pasti korban adalah teman ku saat kami masih kecil, dan dia bukan wanita yang seperti di berita, aku juga mengejar orang yang sama karena aku ingin nyawa dibayar dengan nyawa"ucap wanita itu terlihat terbawa emosi.


"Sudah ada yang lebih berwenang, manusia hanya bisa menjalankan tapi tidak bisa mengadili mereka dengan seadil-adilnya.


Juni, sempat terdiam, "Setidaknya saat dia tertangkap aku akan berdoa semoga malaikat maut mencabut nyawanya dengan perlahan, hingga dia bisa merasakan bagaimana sakitnya sesuai dengan perbuatannya"ucap nya lirih.


jam perkuliahan berakhir, Juni pun pulang dengan mobilnya, menuju apartemen nya, sesampainya di sana dia langsung menuju unit nya dan setelah masuk kedalam dia langsung menyimpan laptop, perlahan tapi pasti senyum manis itu terlihat, saat melihat orang yang sangat ia cintai ada di hadapannya.


seorang pria yang lebih dewasa berada di hadapan nya, dia adalah pria tampan dan gagah yang selama ini selalu menjadi sandaran nya, pria yang bahkan tidak pernah membuat dia kecewa.


Juni langsung menghambur memeluk nya,ada tangis yang kini ia tumpahkan, dihadapan pria itu yang berasal dari rasa lelahnya menghadapi ujian hidup nya,entah itu masalah keluarga,atau yang lainnya.


"Heummm kenapa? sayang kamu tidak biasa rapuh seperti ini"bisik nya di telinga Juni.


"Aku lelah kak, rasanya ingin mati saja"ucap gadis itu.


"Heummm, sudah sekarang sebaiknya kamu istirahat dan tidur, kakak akan menemani mu di sini"ujar pria itu.


"Janji tidak akan pernah pergi lagi"ucap Juni.


Pria itu tersenyum kecil" sejak kapan wanita kuat ku menjadi wanita yang cengeng, aku harus pulang istri ku menunggu ku, tapi, jika kamu mau aku disini, tidak masalah" ucap pria itu.


pria itu menolong Juni dan membawa nya ke sebuah apartemen mewah milik nya, hingga Juni siuman pria itu tetap berada di samping nya.


semenjak itu, Juni merasa terlindungi oleh pria yang ternyata sudah beristri, dan pria itu adalah pria yang jujur, dia menyayangi istrinya, tapi dia juga jatuh cinta pada pandangan pertama pada Juni dan Juni pun begitu, tapi hubungan antara mereka hanya hubungan layaknya teman,saling menghibur saling membantu tapi tidak dengan saling berhubungan intim, Juni hingga saat ini dia masih suci, hanya saja dia selalu ingin ditemani saat dia sedih seperti saat ini.


🌹💖💖💖🌹


Andaikan waktu bisa terulang kembali, mungkin semua tidak ingin hidup nya menderita, semua berharap hidup nya akan selalu baik-baik saja, itu yang terjadi pada Juni.


Juni bahkan tidak pernah berkeluh kesah terhadap siapapun, tapi pria itu mampu membuat hati nya nyaman, dan pria itu tempat dia berkeluh kesah.


"Mandi lah dulu sudah sore kakak harus segera kembali, karena tadi dari rumah hanya bilang kalau mau mencari udara segar sebentar"ucap nya.


"Pulang lah dia lebih penting dari pada aku"ucap Juni, yang langsung berdiri dan hendak pergi, tapi tangan kekar itu langsung meraih tangan Juni, dan Juni menoleh,lalu berkata.


"Aku tidak apa-apa pulang lah"ucap Juni lembut, dia hanya ingin pria itu pergi tanpa beban, karena memang Juni tidak terlalu penting untuk terus bisa meminta laki-laki itu bertahan dengan nya.


"Juni"ucap pria itu lembut.


"Aku tidak apa-apa pulang lah, aku akan pergi tidur"ucap Juni sambil melepaskan tautan tangan mereka, tapi pria itu langsung berdiri di hadapan Juni.


"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat dia kecewa"ujarnya.


"Itu bagus,,, dan itu artinya kita tidak usah lagi bertemu, terimakasih untuk waktu mu selama ini untuk ku"ucap Juni, datar .


"Juni, bukan begitu yang aku maksud"ucap pria itu mencoba menjelaskan, karena jujur dia tidak bisa pergi dari Juni untuk selamanya.

__ADS_1


"Aku tau, tapi jauh lebih baik, jika semuanya berakhir"ujar Juni sambil berjalan cepat menuju kamar nya dia langsung menutup pintu kamar nya itu.


"Juni buka pintu nya maafkan aku, hey jangan seperti ini buka Juni please"ucap pria itu memohon tapi dia kembali sadar gadis itu terlalu keras kepala, jika harus dia bujuk saat ini juga, mungkin akan semakin memperlambat waktu nya untuk kembali ke rumah nya.


"Aku akan kembali besok, istirahat lah jangan terlalu banyak pikiran"ucap nya lembut, Juni yang masih berdiri di balik pintu dia hanya bisa meneteskan air matanya.


dia semakin berpikir bahwa di dunia ini tidak ada pria yang benar-benar tulus mencintai, Juni, semakin yakin bahwa dia akan hidup menyendiri selamanya.


"Selamat tinggal cinta, selamat datang sepi"lirih nya.


Juni langsung masuk kedalam kamar mandi, dia mengisi air dalam bathtub, dan membubuhinya dengan sabun aroma terapi, dan tidak lama setelah itu dia melepaskan, seluruh kain yang menempel di tubuh nya,lalu masuk ke dalam sana untuk berendam, dan Juni pun mencoba untuk memejamkan mata nya melupakan semua kenangan yang ada.


hingga hampir tiga puluh menit lamanya, wanita itu masih berada di dalam bathtub, bahkan Air yang dia gunakan untuk berendam sudah berubah dingin.


perlahan Juni bangkit dan membersihkan sisa sabun yang menempel sambil menggosok pelan tubuh mulus nya itu.


Juni sudah menggunakan bathrobe, dan sore itu juga dia tidak lagi keluar dari kamar nya, dia tidur, sejenak dengan hanya menggunakan pakaian dalam seperti biasanya setelah itu dia bangkit karena malas keluar dia pun mengambil roti dan buah-buahan dari lemari pendingin yang ada di dalam kamar nya, dengan sebotol air mineral dingin.


Dia pun memakan itu, lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang sambil memainkan ponsel nya, Juni sedang chating dengan teman sekolah nya di Paris, tiba-tiba telpon,masuk dari pria yang meninggalkan nya tadi.


Juni, menolak panggilan nya, lalu pesan pun masuk.


"Maaf, tunggu aku besok akan kembali"ucap nya tapi Juni hanya melihat nya sekilas tanpa mau membalas nya.


Juni langsung menelpon Arjuna, yang sedari tadi banyak panggilan masuk tak terjawab dari nya.


lama mereka mengobrol, Arjuna lebih awal memberitahu bahwa Vierra,sang Mommy sedang sakit, Juni langsung bangkit dan langsung bergegas menggunakan baju mencuci wajah nya lalu memakai baju, dengan Hoodie dia langsung meraih ponsel dan juga dompet yang langsung dia masukkan ke dalam saku Hoodie nya sambil berjalan meraih kunci mobilnya, dan bergegas pergi meninggalkan apartemen milik nya.


Juni saat ini mengemudi dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin terlambat, karena Arjuna bilang ibunya kembali terkena serangan jantung, Juni benar-benar merasa bersalah pada sang Mommy.


hingga tiba di rumah sakit, dia awalnya ragu untuk masuk, tapi kemudian dia memberanikan diri untuk melihat ibunya yang terbaring lemah hingga tangis Juni pun pecah dia memeluk ibunya sambil menangis sesenggukan, Vierra, menyentuh kepala putri nya itu.


"Maaf kan Mommy, sayang"ucap nya lirih.


"Tidak Mommy, mommy tidak bersalah, yang salah itu Juni, tidak seharusnya Juni meninggalkan Mommy, tapi Mommy tidak usah khawatir Juni baik-baik saja, Juni tinggal di apartemen mom... Mommy, cepat sembuh nanti mommy bisa menginap atau tinggal di apartemen Juni"ucap gadis itu sambil mencium seluruh wajah ibunya.


"Mommy, hanya takut kamu hidup menderita di luar sana"lirih Vierra.


"Tidak Mommy, lihat apa? Juni terlihat menyedihkan"tanya Juni dan Vierra menggeleng pelan.


Vierra, berangsur membaik setelah dua hari dua malam dirawat dan Juni, selalu ada di sisinya, saat ini wanita itu ingin pulang.


Juni hanya mengantar nya hingga gerbang, setelah itu dia pamit pada sang Mommy, untuk , segera pergi kuliah, dan Vierra pun mengiyakan nya.


sementara itu, Juni tidak benar-benar pergi kuliah di lampu merah bertemu dengan Roby, yang langsung mengajak nya untuk pergi ke sebuah restoran karena, dia ingin berterima kasih, karena berkat informasi yang Juni berikan dia dapat menangkap tersangka kasus yang sedang dia tangani.


hingga tiba di sebuah restoran mewah, mereka berdua berjalan beriringan, tanpa mereka sadari, ada mata yang tengah memperhatikan interaksi mereka yang cukup membuat seorang pria mengepalkan tangannya.


mereka berdua makan bersama, sambil mengobrol panjang lebar dan ada sedikit canda tawa, hingga Juni kembali ke apartemen nya, ternyata pria itu sudah menunggu nya di sana.


"Siapa?? dia, Juni jangan pernah menguji kesabaran ku, jauhi dia"ucap pria itu.


Tapi ku Juni, tidak menggubris pria itu hingga akhirnya, dia menarik lengan Juni.


"Apa kau tidak dengar, jauhi dia mengerti"

__ADS_1


__ADS_2