Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Baby raksasa#


__ADS_3

Juli, hanya terdiam sambil menunggu,di ruangan tersebut,sambil melihat ke arah putra nya yang kini masih terbaring, menunggu siuman pasca operasi, walaupun dokter menyatakan operasi telah berhasil seratus persen, dokter menjamin kesuksesan, karena semangat dari pendonor dan yang menerima donor begitu besar.


dokter meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja,di antara pasien anak yang mereka tangani baru kali ini melihat semangat untuk sembuh yang di miliki oleh Jerry.


"mommy, tidak tau apa? hubungan kalian berdua, tapi yang pasti mommy, tidak akan membiarkan mu pergi dari mommy apa pun akan mommy lakukan suatu saat mommy yakin bahwa kita akan hidup bahagia"gumam Juli lirih.


Juli masih menatap cemas kepada Jerry, ada ketakutan yang begitu besar dalam diri Juli,Juli takut jika yang dikatakan oleh sahabat nya itu benar bahwa Edgar adalah ayah kandung putra nya.


"Aku akan membawa putra ku pergi jauh jika Edgar, ingin merampas nya dari ku, semoga saja mereka bukan ayah dan anak, agar kami berdua bisa pergi tanpa beban setelah semua ini"gumam nya lagi.


satu Minggu sudah berlalu kini keduanya sudah siuman dan dokter pun memindahkan mereka berdua ke ruang rawat inap, Edgar bahkan sudah bisa duduk sambil memangku laptop nya, saat Juli datang untuk mengurus semua kebutuhan nya seperti biasa.


"Tuan, anda baru saja bangun , kenapa ?.. sudah bekerja lagi"ucap Juli,sambil meletakkan makanan kesukaan Edgar.


"Kenapa?... apa ??...kau mengkhawatirkan aku"ucap Edgar,sambil menyunggingkan senyuman ke arah Juli.


"Bukan begitu, saya hanya tidak ingin tuan sakit karena semua itu pasti akan sungguh merepotkan karena kalian berdua adalah tanggung jawab ku"ucap Juli, sambil menunjuk ke dinding sebelah ruang VIP, yang bersebelahan.


"Tenang saja kau tidak akan pernah repot karena aku akan memindahkan putra "ucapan Edgar terjeda"putra mu itu kemari"ucap Edgar serius.


"Tidak tuan itu tidak mungkin kalian beda usia, putra ku masih sangat kecil, masih harus berada di ruang anak"ucap Juli.


"kau meremehkan ku, aku bahkan bisa membeli rumah sakit ini jika kamu lupa"ucap Edgar, kesal.


"iya saya tidak lupa"jawab Juli, sambil melirik ke arah lain meledek Edgar, yang menyombongkan diri.


tidak lama setelah Edgar, berbicara tiba-tiba Jerry, dibawa ke ruangan tersebut dengan ranjang pasien nya dan monitor lengkap untuk memantau perkembangan nya.


"mendekat lah "pinta Edgar, setelah memastikan putra nya Jerry, sudah istirahat.


"Saya sedang menemani Jerry"ucap Juli.


"masih ingat dengan tugas mu sayang"ucap Edgar, sambil menatap kearah Juli.


"ma maafkan saya"ucap Juli sambil berjalan perlahan dan mendekat.


"setelah pulang dari sini, Jerry, akan tinggal di rumah ku"ucap Edgar.


"Tidak tuan , Jerry dan aku masih punya rumah"ujarnya ketakutan.


"Kau tau aku tidak bisa di bantah"ucap Edgar, yang masih menatap kearah nya.


Juli, semakin mendekat, tiba-tiba Edgar meminta nya menyuapi nya makan bubur nya yang tadi sempat tertunda karena Juli tidak ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Aku lapar suapi aku makan"pinta Edgar lagi.


"heumm"Juli hanya bergumam pelan.


Juli pun mengambil mangkuk lalu ia menyendok bubur itu lalu di sodorkan ke bibir Edgar, dan dia langsung membuka mulutnya menerima suapan demi suapan hingga bibir itu tandas.


setelah itu Juli, memberikan gelas pada Edgar, tapi Edgar tidak ingin mengambil nya dia hanya ingin Juli, yang memegang gelas dan meminum kan nya.


"Tuan tolong pegang dulu gelas nya saya mau ngambil obat untuk tuan"ucap Juli.


"simpan saja dulu apa kamu tidak melihat saya sedang apa?.. heumm"ucap Edgar tidak mau kalah.


Juli hanya bisa menghela nafas panjang lalu kembali menyimpan gelas tersebut dan langsung mengambil obat lalu kembali memberikan obat tersebut lebih dulu lalu air.


Edgar, sudah selesai minum obat,lalu dia meminta Juli, untuk mencium bibir nya.


"cium di sini"ujar Edgar, menunjukkan bibir nya.


"T tuan , nanti ada orang yang datang"ucap Juli, sambil melirik ke arah pintu, dia sebetulnya malas tapi mau bagaimana lagi Edgar, lebih berkuasa, di sana dia juga tidak bisa menolak permintaan pria yang sudah mau menolong putra nya itu, terlepas benar atau tidak nya apa yang menjadi kecurigaan sahabat nya itu, yang jelas Juli hanya ingin balas Budi.


"suka rela atau aku paksa"ujar Edgar.


"Ya, baiklah-baiklah tuan"jawab Juli sambil mendekat, dia hendak mengecup bibir Edgar sekilas, tapi kemudian Edgar, langsung menarik tengkuk nya dan mengunci nya akhirnya, ciuman itu tidak sekedar kecupan tapi menjadi lu ****n dan gigitan kecil, diantara kedua nya, beruntung putra mereka masih terlelap karena pengaruh obat untuk pemulihan pasca operasi.


sementara Jerry, masih harus tinggal di rumah sakit tersebut, karena untuk pemulihan Jerry, masih butuh waktu lama sekaligus memantau perkembangan pasca operasi tersebut, apa Jerry benar-benar sudah sembuh sepenuhnya atau masih ada yang harus di tindak lanjut lagi.


Edgar, pun menempatkan orang kepercayaan nya, termasuk para dokter ahli untuk meninjau ulang kondisi putra nya itu masih secara diam-diam Edgar, tidak ingin membebani Juli, saat ini, dengan berbagai macam dugaan, bahkan Edgar meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan bahwa dia yang mendonorkan sum-sum tulang belakang dan dia beralasan bahwa saat dia keluar dari ruang operasi tersebut hanya karena dia kecelakaan dan kebetulan operasi nya bersamaan dengan operasi Jerry, dan itu dibenarkan oleh dokter atas suruhan Edgar .


pria itu punya cara tersendiri untuk mengendalikan semua nya, dia sudah berpikir tidak akan mudah memberitahu hal yang sebenarnya pada Juli, apalagi setelah Edgar, melakukan penyelidikan tentang kehidupan Juli, selama dia mengandung dan berjuang mati-matian untuk menghidupi dan memperjuangkan keselamatan putra semata wayangnya, tapi ada satu hal yang Edgar,belum ketahui, bahwa Jerry memiliki saudara kembar yang kini sudah tiada saat dia dilahirkan.


Edgar, ingin Juli, bisa menerima kehadiran nya, sebagai ayah kandung Jerry, secara perlahan,agar Juli tidak merasa di perlukan tidak adil dilihat dari jatuh bangun nya Juli, selama ini berjuang demi kehidupan putra nya seorang diri, bahkan harus mencari uang bekerja keras siang dan malam bahkan tak sedikit pekerjaan nya,di tempat berbahaya.


seperti club'malam dan tukang bersih-bersih di sebuah pusat perbelanjaan yang tak jarang penuh resiko saat ia harus membersihkan kaca dinding pembatas di gedung tersebut.


sungguh gadis yang malang,di usia nya yang hampir menginjak kepala tiga, dia harus berjuang hidup sendirian ditengah kerasnya kehidupan di luar, mungkin bukan masalah jika ia menjalani nya sedari kecil, tapi Juli yang seorang putri satu-satunya yang sangat di cintai keluarga dan hidup bergelimang harta, tiba-tiba harus dibuang dari keluarga di saat ia menerima kenyataan pahit pernikahan nya dibatalkan begitu saja, hanya karena dia mengandung dan tanpa mencari tahu asal usul nya semua menghujat nya.


bukan hanya itu, bahkan Juli seakan tak di ijinkan untuk berada di kota kelahirannya sendiri, setiap tempat yang ia datangi saat itu, menolak kehadiran nya, mungkin karena pengaruh dari keluarga kekasih nya yang merupakan pejabat di kota tersebut.


padahal jika di pikir-pikir, kehidupan di tempat kelahiran Juli, masih memiliki kebebasan untuk berhubungan **** dengan bebas nya tidak ada larangan untuk itu, tapi bagi keluarga Juli yang menjunjung tinggi kehormatan, semua yang terjadi pada Juli, adalah aib besar yang mencoreng nama baik keluarga nya, itulah kenapa?... hingga saat ini keluarga nya tega membuang nya, bahkan Kakak Juli, yang sudah mengetahui kebenaran tentang kepergian sang adik dari rumah nya, tidak bisa berbuat apa-apa karena tekanan dari keluarga besar nya.


🌹💖💖💖🌹


satu bulan berlalu, Juli kini masih terus bolak-balik rumah sakit dan Mension Edgar, dia begitu merasa lelah tapi kontrak itu masih harus Juli, selesaikan, meski tuntutan menjadi penghangat ranjang itu jarang di penuhi karena kesibukan Edgar, dan entah apa yang terjadi, dengan Edgar, akhir akhir ini, dia memperlakukan wanita itu seperti seorang istri pada umumnya, dia begitu perhatian tak jarang Edgar, akan membawa kan oleh-oleh untuk Juli, sekembalinya dari perjalanan bisnis seperti saat ini.

__ADS_1


Edgar, membelikan tas branded limited edition, seperti kebanyakan para wanita yang berburu Edgar, memesan itu langsung dari perusahaan ternama tersebut, spesial di hari ulang tahun Juli, tapi satu hal yang Edgar, tidak katakan langsung pada Juli, dia lebih suka Juli, mengetahui maksud nya lewat tulisan yang ada di kartu ucapan yang di masukkan ke dalam tas yang terbungkus rapi itu.


"Sayang, apa kau merindukanku aku"ucap Edgar, yang langsung membuat Juli mematung.


"T tuan"ucap Juli gugup.


"kenapa?... heummm apa ada yang salah"ucap Edgar.


"Maaf tuan anda menghalangi pandangan saya"ucap Juli memberanikan diri karena ada sesuatu yang mengalihkan fokus nya dari Edgar.


"Matikan"pinta Edgar.


"Sebentar saja tuan saya mohon"ujar Juli.


"Juli, aku bilang matikan, apa ?.. kamu tidak dengar"ujar Edgar marah.


"Tanggung tuan"ucap Juli, sambil sekuat tenaga menahan air mata nya, bagaimana tidak, Juli tengah menyaksikan acara perhelatan Akbar pernikahan mantan pacar nya, bersama kekasih baru nya yang tak lain adalah sepupunya sendiri, dan disitu dia melihat kedua orang tua nya dan kakak nya sedang tersenyum bahagia, Edgar langsung merampas remote tv nya lalu mematikan TV, setelah itu dia melempar nya ke sembarang arah.


"sudah berapa kali aku katakan jangan melihat apa pun lagi tentang masa lalu mu lagi, karena kamu tidak pantas menitikkan air mata untuk para bajingan itu, dan aku tidak suka itu , apa kamu paham"ucap Edgar.


Juli, terbengong melihat dan mendengar apa yang tengah di ucapkan oleh Edgar, saat ini dia merasa heran, dari mana Edgar,tahu bahwa acara itu adalah acara milik orang di masa lalu nya, padahal dia tidak pernah bercerita atau pun, memberitahu kan asal usul nya.


"Ma maafkan aku tuan, tapi apa ?... maksud tuan dengan masalalu saya, t tadi saya sedang menonton, acara perhelatan Akbar pernikahan anak pejabat di kota sebelah"ucap Juli.


"Itu mantan kekasih mu, dan tamu yang tadi di sorot kamera adalah keluarga mu, yang dengan mudah nya membuang mu seperti sampah dan berani menolak anugerah yang di titipkan tuhan pada mu"ucap Edgar sedikit emosi.


"Baiklah, apa yang dikatakan tuan memang benar, tapi semua tidak sepenuhnya salah mereka, karena disini saya lah yang salah karena kebodohan saya, tidak ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi saat itu, sehingga semua nya terjadi begitu saja, dan ucapan tuan yang terakhir yang mengatakan bahwa saya adalah sampah itu benar karena saya memang sudah menjadi sampah bukan hanya untuk keluarga saya, tapi juga untuk semua orang, karena sampah tidak pantas di simpan di tempat istimewa, itulah kenapa?... tuan sendiri pun memperkenalkan aku sama seperti yang mereka lakukan pada ku"ucap Juli sambil berurai air mata.


Edgar, langsung mematung saat itu juga, dia tidak tau bahwa kata-kata nya, akan menyakiti Juli, lebih dalam lagi, dia hendak meraih tangan Juli, tapi wanita itu menepis nya dengan kasar, dia langsung pergi begitu saja dari hadapan Edgar, mengarah ke pintu utama.


"Juli,stop di situ atau aku tidak akan pernah membiarkan mu, pergi keluar untuk selamanya"ucap Edgar, yang langsung menghentikan langkah.


"Jangan pergi Maaf jika aku telah menyinggung perasaan mu, tetap lah di sini aku baru saja kembali aku lelah bisakah menemani ku, sebetar saja"ujar Edgar.


Juli langsung berbalik badan, dan berkata.


"Tuan, sekali ini saja, tolong biarkan saya pergi terserah tuan mau memasukkan ini dalam catatan hutangku atau apa pun itu, aku mohon, aku tidak kuat jika harus tinggal aku mohon, aku janji setelah semuanya baik-baik saja aku akan kembali kemari"ucap Juli dengan derai air mata nya.


Edgar, langsung menghampiri dan memberikan pelukan"menangis lah untuk kali ini saja aku akan meminjam kan bahu ku sebagai sandaran, tapi satu hal yang ku minta dari mu, jangan pergi di saat kondisi hati mu hancur, seperti saat ini"ujar Edgar, tapi Juli menggeleng cepat dan itu membuat Edgar melepaskan pelukannya dia menatap tajam kearah Juli, meski pun Juli tidak melihat ke arah nya.


"maafkan aku "ucap Juli sambil berlari pergi tidak menghiraukan panggilan Edgar, tiba-tiba orang-orang nya menghampiri tuan nya itu, ingin bertanya.


"Jangan di cegah biarkan saja, yang penting kamu awasi dia jangan sampai terjadi apa-apa pada nya, karena jika Juli tergores sedikit saja nyawa kalian taruhan nya"ucap Edgar, dengan tatapan yang menyala.

__ADS_1


"Baik tuan"ucap ke empat nya, Edgar pun berlalu menuju kamar pribadi nya, dia meminta kepala pelayan untuk menyiapkan air, dia begitu lelah ingin berendam,tak lupa dia juga meminta agar barang milik Juli, yang tadi ia bawa di taruh di kamar nya.


__ADS_2