Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Benci#


__ADS_3

"Kak,.... Jerry"


"Aku sudah peringati kamu tadi pagi"ucap Jerry yang langsung mengangkat tubuh Rara yang kini mau mengalungkan tangannya di leher Jerry.


"Maaf"ucap Rara.


"Rara sayang kamu harus berikan penjelasan untuk ini"ucap Lion.


"Tuan, apa??... kamu tidak punya malu mendekati calon istri orang lain.


Jerry membawa Rara ke dalam kamar nya, sementara Lion, pergi dengan penuh tanda tanya.


"Vierra, aku sudah bilang jangan berhubungan dengan dia lagi apa??... kamu tidak mendengar ku"ucap Jerry.


"Aku tidak tau dia datang kak maaf"ucap Rara lirih.


"Kamu jangan terlalu memaksa kan diri, kita akan melakukan pengobatan dan terapi secara rutin, sayang jadi jangan bergerak tanpa ada yang mengawasi"ucap Jerry.


"Baik"ucap Rara, tidak ingin berdebat, tapi tiba-tiba handphone Jerry, bergetar seseorang menelpon Jerry yang masih memangku Rara, pun langsung merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelepon Jerry hendak mematikan ponsel nya tapi Rara , langsung merebut nya dan menggeser layar tersebut otomatis tersambung.


"Halo honey"ucap penelepon yang memiliki nama The queen of my heart, tersebut.


"Ha halo honey "ucap Jerry gelagapan, seperti orang ketahuan berselingkuh.


sementara itu Rara hendak turun dari pangkuan Jerry, langsung ditahan oleh orang nya.


"Aku sedang sibuk cepat katakan apa?.. ada yang penting"ucap Jerry.


"Honey, pulang aku kangen Jorge nanyain kamu terus"ucap Dena.


"Aku kan sudah bilang aku pindah ke sini kenapa??... kamu ngotot ingin tetap tinggal di Paris"ucap Jerry datar.


"Aku pikir aku gak akan cepat kangen dengan belaian mu honey, aku rindu kan itu"ucap Dena.


Deg....


Serasa jantung berhenti berdetak kala itu juga sakit yang dirasakan Rara, dia benar-benar merasa terhina sudah tubuh nya cacat ditambah lagi, dia akan dijadikan orang ketiga di antara mereka, Rara, menahan air mata nya sekuat tenaga dia menggigit bibir bawahnya.


Jane yang melihat itu dia langsung membawa kursi roda milik Rara, dia tau bagaimana rasanya menjadi Rara, saat ini, dia sendiri pernah ngerasain itu dulu, saat Sky, bercumbu mesra di hadapan nya dengan istri nya saat ini.


"Kak"ucap Jane sambil menatap kearah Jerry, mengisyaratkan bahwa Rara harus pergi tapi Jerry tidak setuju.


"Jane, tolong kursi roda nya, aku mau mandi sebentar lagi harus makan"ucap Rara, beralasan.


Jerry pun membantu Rara duduk di kursi roda dia langsung mengecup kening Rara, setelah itu Rara langsung pergi menuju walk in closed, villa itu, sudah di desain ulang untuk memudahkan Rara, bergerak kesana kemari dengan kursi roda nya, Rara langsung masuk ke dalam walk-in closed dan dia buru-buru mengambil baju ganti yaitu dress, selutut untuk mempermudah nya memakai baju tersebut.


Rara terlihat keluar dari walk-in closed dan langsung menuju kamar mandi, Rara langsung mengunci pintu kamar mandi dia juga bergerak menghidupkan shower .


Rara menangis pilu dibawah guyuran shower dia merasa benar-benar hancur dan tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia benar-benar menganggap bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi.


satu jam sudah Rara, didalam kamar mandi, saat ini masih terdengar guyuran air shower, tapi wanita itu sudah selesai membersihkan diri dan sudah berpakaian rapi, hanya rambut sebahu nya yang masih terbungkus handuk karena masih basah, Rara hanya duduk di depan meja rias yang tersedia di dalam kamar mandi sana, dia merapihkan penampilan dengan menggunakan skincare di wajah nya dan memoles lipstik di bibir tipis nya itu.


lipstik berwarna pink,itu sangat membantu nya menyembunyikan warna bibir yang tampak membiru karena kedinginan.


Rara, keluar masih dengan kursi roda nya yang tampak kering karena Rara mengeringkan itu dengan headlayer


"Kamu, sudah selesai Ra, yu katanya mau makan"ucap Jane.


Rara, melihat kesana kemari Jane yang mengerti apa yang Jane,cari saat ini dia cari.

__ADS_1


"Kakak, pergi ke kantor katanya ada urusan penting tapi dia janji kalau nanti malam akan pulang ke sini"ucap Jane.


"Aku mencari bang Lionel"ucap Rara, yang langsung membuat Jane, salah tingkah, karena merasa kepedean.


"Jane apa?... mereka masih"ucapan Rara, terhenti dia langsung mengurung kan niat nya untuk bertanya tentang Jerry.


"Mereka masih resmi suami istri, aku juga tidak tahu apa??... yang sebenarnya kakak harapkan dari pernikahan itu"ucap Jane sambil menunduk bingung harus bagaimana menjelaskan nya.


"Mereka saling mencintai, lalu kenapa?... dia ngotot ingin me nikah dengan ku"ucap Rara yang kini sudah berpindah duduk di atas kursi depan meja makan tersebut.


"Mbak, tolong nasi putih dan semur daging sapi saja itu juga capcay goreng nya, udah itu aja"ucap Rara, pada pelayan yang sudah menunggu nya sedari tadi, karena mereka selama ini selalu makan bersama.


"Baik Nona, minumnya air putih atau jus jeruk"ucap asisten rumah tangga tersebut.


"Jus jeruk saja,Oya nanti malam siapkan puding dan susu yang biasa, aku mau bekerja setelah ini, mungkin sampai larut, aku tidak makan mbak, masak buat sendiri saja ya,atau jika nona Jane,mau menginap masak buat dia"ucap Rara, sambil menyantap makanan nya.


"Ra, tidak baik kerja terlalu di berlebihan begitu, kamu dilarang duduk terlalu lama"ucap Jane.


"Aku , harus bekerja sayang jika tidak aku dapat dari mana biyaya hidup ku, selama ini, kamu tenang saja aku baik-baik saja"ucap Rara.


"Kamu masih mendesain gaun pengantin kan??... ucap Jane.


"Aku desain,kalo ada yang pesan saja karena tidak punya ruang yang cukup besar untuk memajang semua itu, tapi ada beberapa juga sih yang udah jadi, kemarin ada yang memesan, tapi belum juga di ambil mungkin karena aku waktu itu ada acara di kota J, bersama vamela, jadinya gak ada yang melayani nya, maklum aku kerjakan semua nya sendiri"ucap Rara.


"Kenapa??.. tidak minta bantuan ke pelayan butik ku, mereka nganggur"ucap Jane.


"Aku tidak punya uang untuk memberi upah pada mereka, apa lagi aku sendiri sedang membutuhkan uang untuk biyaya renovasi rumah dan villa ini, karena orang cacat seperti ku, tidak bisa bergerak bebas jadi ya butuh semua itu"ucap Rara, yang langsung membuat Jane, menatap sendu pada Rara.


"Aku minta maaf Ra, aku tidak ada saat kamu butuh, aku pikir vamela, masih disini bersama mu , ternyata dia malah pergi ke Amerika, sudah gitu menikah pula"ucap Jane, merasa sangat bersalah.


"Jangan ucapkan kata maaf, karena kamu tidak pernah berbuat salah, semua orang bebas menjalani pilihan hidupnya, walaupun saat itu aku juga sempat berpikir bahwa kalian semua kompak menjauh dari orang cacat ini, tapi lama-lama aku mulai bisa terima, bahwa tidak selamanya semua orang yang dekat dengan kita, akan selalu ada buat kita, karena mereka juga memiliki pilihan hidup masing-masing jadi di sini tidak ada yang patut disalahkan.


setelah makan siang bersama Jane, akhirnya kembali pulang menuju rumah nya, saat itu dia kaget ketika berada di depan gerbang masuk rumah nya, dia melihat ada mobil yang tidak ia kenal sebelumnya.


Jane langsung turun dari mobil setelah masuk kedalam pekarangan rumah tersebut.


"Sayang apa??... kabar mu"ucap Sky, seakan tak pernah terjadi masalah.


"Maaf, siapa yang kamu panggil sayang barusan"ucap Jane, sambil celingukan.


"Siapa lagi jika bukan kamu "ucap Sky.


Jane, langsung pergi dari hadapan Sky.


'Yang maafkan aku, aku bisa jelaskan semua nya"ucap Sky.


"Untuk apa??... semua penjelasan itu, sudah tidak ada gunanya,nasi sudah menjadi bubur tidak mungkin kembali utuh lagi, yang seharusnya dilakukan saat ini adalah kamu harus lupakan aku dan semua yang pernah terjadi di antara kita, aku bukan siapa-siapa kamu lagi"ucap Jane tegas dia langsung masuk dan menutup pintu meski sempat ditahan oleh Sky.


"Sayang buka pintu nya, semua ini bukan keinginan ku, aku bahkan di usir oleh bunda ku sendiri, karena dia juga tidak tahu semua nya, semua yang terjadi"ucap Sky.


Jane yang mendengar itu dia hanya menutup kuping, dia tidak ingin lagi, memikirkan semua itu, karena baginya Sky, benar-benar seorang penghianat.


Jane berlari pergi menuju kamarnya wanita itu tidak menangis hanya duduk di atas ranjang bersandar di kepala ranjang sambil memejamkan mata nya.


semua nya, sudah terjadi, lalu untuk apa??... dia sesali.


di villa kini Rara, masih berkutat dengan pekerjaan nya, dia tengah merancang sebuah gaun pengantin yang cukup menyita waktu nya, bagaimana yang memiliki panjang mencapai tiga meter itu benar-benar memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi dan tidak main-main Rara, menghabiskan dana tiga miliar rupiah untuk membuat sebuah gaun pesta pernikahan tersebut.


saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan seharusnya Rara, sudah makan malam tapi dia bahkan belum menyentuh camilan malam dan susu yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu itu.

__ADS_1


Rara, terus mengisi detail gaun tersebut dengan berbagai macam aksesoris penunjang selain mutiara di gaun tersebut juga memiliki bulu sintetis menyerupai bulu angsa yang lembut dan halus, tapi lebih halus lagi, yang membuat pancaran mutiara kecil itu semakin muncul dari bahan kain nya.


hingga Jerry, tiba di sana suasana sepi seperti tidak berpenghuni hanya saja lampu di ruangan kerja Rara, masih menyala saat mobil terparkir rapi di garasi Jerry langsung turun dan membawa beberapa paper bag, dia langsung disambut oleh asisten rumah tangga Jane.


"Tuan muda sudah kembali"ucap wanita yang lebih tua dari Jerry tiga tahun itu.


"Dimana??... Nona Vierra"ucap Jerry.


"Nona, masih bekerja tuan, sedari siang dia belum juga keluar"ucap wanita itu.


"Apa??... dia sudah makan malam"ucap Jerry khawatir.


"Nona, hanya mengangguk mantap minta dibuatkan susu dan salad buah tuan, dan saya sudah mengantarnya tiga puluh menit yang lalu"ucap sang asisten.


Jerry langsung memberikan paper bag yang ia bawa tadi"simpan ini di kamar Nona dan ini tolong siapkan di meja,satu lagi tolong ambilkan koper saya di mobil, saya lupa ini kunci nya"ucap Jerry.


"Baik tuan"ucap wanita tersebut, sementara Jerry langsung berjalan menuju pintu masuk ruangan kerja Rara, yang sudah hampir penuh dengan gaun dan berbagai alat untuk mendesain semua itu.


sementara Jane wanita itu terlihat meneliti setiap inci gaun pengantin yang sangat terlihat menarik perhatian Jerry itu, sambil sesekali mencoret di buku sketsa milik nya yang ada di pangkuan nya, Jerry kagum dengan kegigihan calon istri nya itu, wanita itu begitu pekerja keras dan tidak suka yang instan.


sampai beberapa menit kemudian, Jerry langsung berjalan menghampiri Rara .


"Yang... apa tidak lelah bekerja seharian penuh, apa lagi kamu melewatkan makan malam mu "ucap Jerry lembut.


"Kalau tidak merasakan lelah maka tidak akan ada hidup panjang, karena orang seperti ku, tak akan bisa bertahan hidup tanpa bekerja keras, aku sudah terbiasa saja, siapa sih yang mau bekerja hingga mati-matian setiap hari kalo bukan terdorong kebutuhan hidup"ucap Rara.


"Yang aku tidak melarang mu bekerja tapi kamu harus ingat waktu dan memperhatikan kesehatan mu, kalau seperti itu terus bukan tidak mungkin kamu akan sakit loh"ucap Jerry lembut sambil mengelus puncak kepala Rara, dengan sayang.


"Aku masih sibuk, nanti aku istirahat jika sudah terlalu lelah "ucap Rara.


"Aku akan mencari karyawan untuk membantu mu bekerja, mulai besok aku tidak ingin melihat mu seperti ini lagi, ucap Jerry, yang langsung menggendong Rara dari kursi roda nya.


"Kak, aku belum merapihkan barang-barang ku dulu"ucap Rara.


"Besok saja kan bisa sayang sekarang makan dulu"ucap Jerry.


"Aku makan salad buah saja itu semua tertinggal di sana dan susu itu"ucap Rara.


"Vierra sayang kamu harus makan dengan benar , aku belikan vitamin untuk mu"ucap Jerry sambil mendudukkan Rara,di atas kursi nya.


"Kak, kakak kenapa?... pulang ke sini, bukan nya di sana Jane sendiri"ucap Rara.


"Kenapa??... apa?.. tidak boleh, kalau aku menemani mu disini"ucap Jerry.


"Tidak kak, hanya saja bagaimana dengan Jane"ucap Rara lagi.


"Mbak, tidak usah ambil koper saya, Nona, Jane tidak suka saya disini"ucap Jerry, yang terlihat sangat kesal.


"Mbak,tolong ambilkan kursi roda ku"ucap Rara.


"Vierra, aku mohon, jangan begini,ayo makan lah setelah itu aku akan pulang aku janji"ucap Jerry.


"Mbak, ambilkan juga makan malam saya yang tadi"ucap Rara.


"Vierra, sayang , please"ucap Jerry lagi, mencoba berkata dengan sangat lembut.


"Saya, sudah lelah kak Jerry bisa makan bareng Novi, atau sendiri, aku ingin berendam dulu, terserah mau disini atau pulang, kamu tau apa yang harus dilakukan"ucap Rara yang kini hendak turun dari kursi tapi Jerry menahan nya.


"Please, sayang sekali ini saja tolong hargai aku, temani aku makan"ucap Jerry lembut sambil menatap sendu.

__ADS_1


Rara pun menarik nafas panjang,lalu ia hembuskannya Jerry mencoba tersenyum meski dia tau Rara, sedikit terpaksa saat ini.


__ADS_2