
Juni hanya terdiam, dia tidak mampu membalas ucapan Gavin, dia memang benar-benar, takut jika suatu saat nanti putra nya dijadikan ketua mafia, seperti rencananya kedua tetua di keluarga mereka.
Gavin mengusap wajah nya kasar, karena sang istri bahkan tidak merespon kata-kata nya Juni pergi begitu saja dari meja makan wanita yang sedang mengandung anak nya itu kini seolah tak ingin lagi bicara dengan nya.
sementara itu di dalam sebuah ruangan Juni tengah menangis dalam diam, sampai kapan hidupnya akan terus dibayang-bayangi oleh rasa takut bahkan wanita itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa dipercaya, hidup nya benar-benar sendiri saat ini.
Juni bahkan tidak pernah bisa bernafas lega sejak dia tau bahwa dirinya akan dijodohkan dengan keturunan mafia.
Gavin berjalan menuju ruangan tersebut, dia melihat istrinya tengah duduk di lantai yang begitu dingin itu, tidak hanya itu wanita itu juga bersandar di dinding dengan lelehan air mata yang membasahi pipi nya.
"Tuhan kenapa? aku harus terlahir di dunia ini jika hanya ada ujian bertubi-tubi yang kau ciptakan untuk ku, aku tidak kuat tuhan"ucap Juni lirih.
Gavin hanya berdiri mematung di balik pintu dia tidak ingin membuat istrinya semakin terluka, jika boleh memilih lebih baik dia melihat tangis seratus wanita lain, dari pada melihat tangis istrinya sendiri apalagi itu adalah wanita yang kini paling Gavin cintai.
"Sampai kapan aku begini, tidak ada lagi orang yang benar-benar bisa dipercaya bahkan dinding rumah ini saja sudah berhianat pada ku"ucap Juni lagi.
Gavin pun memejamkan mata, kemudian dia pun langsung bergegas menghampiri istrinya itu, dia langsung mengangkat tubuh Juni yang tengah rapuh tersebut.
hingga tiba di dalam kamar nya, Gavin membaringkan tubuh Juni diatas ranjang lalu dia pun menyelimuti tubuh istri nya itu.
"Sayang kamu makan di sini ya aku suapi "ucap Gavin seolah tak terjadi apa-apa.
"Aku tidak lapar"ucap Juni datar dan langsung memunggungi Gavin yang lagi-lagi mengusap wajah nya kasar.
"Sayang maafkan aku, tidak seharusnya aku menikahi mu saat itu meskipun nyawaku taruhan nya, bukan aku tak mencintai mu, tapi aku sudah tau semua akan seperti ini, karena saat melihat mu terkejut saat itu aku tau kamu tidak pernah ingin bersama dengan ku"ucap Gavin.
Juni langsung berbalik, "Aku hanya menolak karena kamu dan Daddy dan semua orang merahasiakan pernikahan kita, jika saja kamu jadi aku, aku bahkan harus rela melepaskan organisasi yang aku bangun dengan susah payah dan kini aku di cap sebagai penghianat, kau pikir saat itu aku tidak berdaya karena obat yang kau suntikan pada ku, kamu salah besar sekalipun tubuh lemah aku masih bisa melumpuhkan syaraf mereka, tapi aku tidak melakukan perlawanan semua karena sumpah ku, aku tidak akan melawan mereka sekalipun mereka menghabisi nyawa ku saat itu juga"ucap Juni panjang lebar.
"Sayang kamu sudah gila, bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu, bagaimana jika nyawa mu benar-benar terancam heuhhhhh"ucap Gavin.
pria itu begitu shock, saat mendengar semua itu, dan tidak habis pikir, Gavin juga mulai berpikir untuk menyingkirkan organisasi tersebut .
"Jika memang begitu saat kamu bepergian aku harus memperketat penjagaan untuk melindungi mu"ucap Gavin.
"Tidak perlu repot-repot aku malah senang jika saja ada orang yang bisa menghabisi nyawa ku, karena dengan begitu aku dan anak ku tak perlu berada di dunia yang kejam ini"ucap Juni.
"Sayang jangan bicara sembarangan aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mu, sekalipun harus ditebus dengan nyawa ku"ujar Gavin.
Juni tidak bicara sepatah kata pun lagi wanita itu sudah tidak mau mendengar alasan apapun lagi.
Gavin pun menyusul masuk kedalam selimut dia memeluk erat istrinya itu.
Juni sendiri membiarkan Gavin memeluk nya, karena dia sudah tidak ingin lagi berdebat dengan pria itu.
__ADS_1
hingga pagi menjelang, Juni langsung berlari menuju kamar mandi, karena seperti biasa morning sicknis nya kambuh Gavin yang merasakan pergerakan cepat dengan derap langkah kaki tanpa alas itu langsung membuka mata terlihat pintu kamar mandi tertutup dengan di banting keras oleh Juni.
"Sayang kamu kenapa terburu-buru begitu, kamu tidak sedang sakit perut bukan"ucap Gavin yang langsung berlari menuju kamar mandi tapi pintu nya terkunci Juni yang kini tengah sibuk memuntahkan cairan dari dalam perut nya, membuat dia terkulai lemas karena hal itu menguras tenaga nya, secara berlebihan jika Juni boleh memilih wanita itu lebih memilih untuk bertarung dengan orang lain yang jumlahnya banyak, dan mungkin rasa lelahnya akan sebanding dengan saat ini.
Juni pun terduduk sambil bersandar di dinding kamar mandi tersebut tidak menghiraukan Gavin, yang sedari tadi menggedor pintu.
Gavin yang takut Juni kenapa-napa akhirnya pria memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mandi, tapi saat hendak mengangkat kakinya Gavin kaget saat melihat Juni keluar dengan wajah pucat pasi dan terlihat begitu lemas dan dia tidak berkata apa-apa.
Juni berjalan gontai menuju ke atas ranjang sementara Gavin yang baru kali ini menyaksikan betapa menderitanya wanita hamil, dia semakin tidak tega pada istri nya itu.
Gavin yang tersadar dari lamunannya langsung bergegas menghampiri Juni lalu berkata"Sayang kamu kenapa? heummm apa ada sesuatu yang membuat mu sakit"ucap Gavin.
"Aku tidak apa-apa, hanya terlalu lemas aku akan tidur, kakak bersiap saja sendiri aku tidak bisa menyiapkan semua kebutuhan mu pagi ini"ucap nya lemah.
"Hi, jangan pikirkan itu,, aku tidak masalah dengan itu, aku bisa bersiap sendiri, aku sangat mencemaskan mu honey apa? perlu aku panggil dokter kesini atau kita kerumah sakit saja"ucap Gavin.
"Tidak mas buat apa? aku ke rumah sakit lagipula aku tidak keguguran, atau pun mau cek kandungan aku hanya terkena morning sickhnes, aku baik-baik saja"ucap Juni.
wanita itu meraih sesuatu di nakas samping ranjang nya lalu menaruh nya di tangan dan memakan nya.
"Sayang kamu makan apa? itu"ucap Gavin yang meraih bungkusan alumunium foil,lalu mencium nya, dan dia mencium wangi lemon barulah ia ngeh kalo itu adalah sebuah permen lemon.
"Kenapa...? kak, apa? kakak mau juga ambil masih banyak ko di nakas"ucap Juni cuek.
"Aku tidak akan mungkin meracuni anakku sendiri kak, dia darah daging ku, dan aku tidak akan pernah berhianat seperti kalian padaku"ucap Juni tegas.
🌹💖💖💖🌹
"Sayang kamu mau sarapan apa? biar aku buatkan"ucap Alvin.
"Aku sedang ingin makan nasi goreng"ucap Juni.
"Baiklah sayang ku tunggu aku"ucap Gavin yang turun langsung menuju lantai bawah dengan secepat kilat pria itu merasa bahagia ternyata istri nya menginginkan sesuatu, dan dia akan langsung mewujudkan itu semua meskipun Gavin harus pergi jauh untuk mewujudkan semua itu.
Gavin langsung meminta pelayan membantu untuk menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat nasi goreng spesial untuk sang istri tentunya tanpa minyak goreng.
bukan hanya itu Gavin membuat nasi goreng itu dengan sangat sempurna dan terlihat sangat menggugah selera hingga akhirnya selesai dia juga menyiapkan susu untuk ibu hamil yang ia beli semalam sebelum pulang ke rumah tersebut.
nasi goreng dengan berbagai toping sudah siap segelas susu dan segelas air putih, Gavin berjalan menuju lift biar aman karena baru kali ini dia membawa nampan berisi makanan sendirian.
sesampainya di atas dia langsung dibantu oleh pelayan untuk membuka pintu dan tampak lah sang istri yang kini tengah bersandar di headbord.
Juni melirik pada yang Gavin bawa dia tidak percaya bahwa suaminya benar-benar seantusias itu untuk membuatkan sarapan pagi untuk nya, dengan kesulitan di awal tapi akhirnya jadi juga dan sangat menarik, dan juga menggugah selera.
__ADS_1
diam-diam Juni mematikan ponsel nya, yang tersambung pada Cctv, dia meretas Cctv rumah nya itu, agar dia tau apa? saja yang Gavin lakukan saat ini.
"Sayang makanan nya sudah jadi aku suapi ya"ucap Gavin.
Juni hanya mengangguk sambil tersenyum mengingat tingkah suaminya saat membuat itu, dia bahkan tidak sengaja memegang penggorengan yang sudah sangat panas karena nasi goreng itu tidak menggunakan minyak goreng, dia menunggu alat masakannya panas dulu untuk membuat nasi goreng tersebut.
Gavin menyendok nasi goreng itu dengan sangat apik dan menyodorkan sendok berisi nasi goreng tersebut ke mulut Juni, tapi bumil itu malah menggeser posisi sendok tersebut dia mendekat kan wajah nya pada Gavin dan cup...satu kecupan mendarat sempurna di bibir Gavin, membuat pria itu membulatkan matanya tak percaya, tapi sedetik kemudian, dia langsung tersenyum pada sang istri dan berterima kasih.
"Terimakasih sayang I love you more ❤️"ucap Gavin.
"Love you too, and thank you so much for everything"ujar Juni yang langsung meraih sendok yang ada di tangan Gavin mengarahkan nya pada mulut nya dan menyuap kan makanan tersebut ke dalam mulutnya, sedetik kemudian dia kembali tersenyum sumringah ternyata itu sangat lezat.
Juni juga mengambil alih sendok dan menyendok nasi goreng itu, lalu mengarahkan nya ke bibir Gavin, dan pria itu pun langsung membuka mulutnya, dan nasi goreng di sendok yang sama itu masuk dengan sempurna di bibir Gavin yang super tampan di mata Juni saat ini.
"Kakak pintar masak, bisa ajarkan aku dong"ucap Juni.
"Sayang kamu lebih jago untuk itu, aku sudah lama tidak pernah melakukan hal, itu dan untung saja, masih bisa membuat nya dengan rasa yang sama"ucap Gavin jujur.
"Memang nya di rumah kakak tidak ada pelayan"ucap Juni dengan sengaja.
"Di rumah mertua mu ada banyak sekali orang-orang kepercayaan, mulai dari koki handal sopir pelayan yang suka bersih-bersih dan lain sebagainya, tapi kedua mertua mu mendidik kami untuk bisa dalam segala hal, bukan hanya soal kemandirian, tapi juga soal bela diri dan seberapa tangguhnya Suamimu ini hingga menjadi layak untuk menjadi pewaris tahta"ucap Gavin dengan antusias, menjabarkan bagaimana peraturan yang berlaku di rumah nya dulu.
"Pasti lebih tertekan dari ku iya kan...?"ucap Juni.
"Aku pernah berada di fase, terendah dimana orang tua ku, membuang ku dengan sengaja di hutan belantara, dan ternyata tidak hanya itu, disana sudah banyak binatang buas yang menyambut ku, mungkin kejam nya pistol tidak sebanding dengan kekejaman mereka saat itu, kamu bisa bayangkan bagaimana keadaan ku saat itu, saat aku baru lulus SMA, tapi aku jamin putri atau pun putra kita tidak akan pernah mengalami hal itu, meskipun nyawaku taruhan nya"ujar Gavin begitu antusias.
"Terimakasih kak, maafkan aku jika selama ini aku selalu membuat mu kesal"ucap Juni yang terlihat sendu.
"Tidak sayang kamu tidak seperti itu, aku sangat mencintaimu, itulah kenapa? aku selalu menjaga mu diam-diam dan disaat kamu mengalami kecelakaan waktu itu, akhirnya aku pun terpaksa muncul di hadapan mu, kamu adalah segalanya bagiku, dan jika selama ini aku selalu menolak untuk terlalu dekat dengan mu, aku hanya ingin kau baik-baik saja tanpa merasa terbebani dengan semua ini, aku juga pernah membuat permohonan terhadap kakek, agar membatalkan semua perjodohan diantara kita, bukan aku tak cinta tapi aku hanya tidak ingin kamu berada di posisi sulit seperti ini, dan kita masih bisa berhubungan dengan baik, tapi tidak akan ada janji yang akan mereka ingkari karena itu adalah sebuah pantangan bagi seluruh keturunan ku, jadi harus, berpikir matang-matang jika ingin menjanjikan sesuatu"ucap Gavin.
Gavin, benar jangan suka mengumbar janji, jika pada akhirnya kita tidak bisa memenuhi nya.
tidak terasa nasi goreng lezat itu pun habis oleh mereka berdua di pagi ini, tidak hanya itu Gavin dengan telaten menunggui istri minum segelas susu ibu hamil itu, yang tidak suka dengan itu dia sempat merajuk tapi Gavin dengan sabarnya dan membujuk Juni untuk meminum susu tersebut, hingga akhirnya habis tak bersisa, setelah itu Gavin juga mengusap sisa-sisa susu yang menempel di bibir istri nya.
"Sudah selesai Sayang, terimakasih karena kamu sudah menghabiskan semua ini, akhirnya hasil kerja keras ku"ucap Gavin sambil mengecup bibir Juni.
"Aku yang seharusnya berterimakasih pada mu suamiku sayang"ucap Juni sambil tersenyum.
setelah itu Gavin pun pamit untuk berangkat ke kantor, sambil mengecup puncak kepala istrinya sedikit lebih lama dan membenamkan wajahnya di perut sang istri.
"Daddy berangkat kerja dulu sayang ingat jangan nakal jaga Mommy kalian ya, nanti Daddy pulang bawakan oleh-oleh untuk kalian"ucap Gavin sambil mengecup perut rata Juni.
karena usia kehamilan Juni baru genep tiga bulan, jadi tidak terlalu kentara dan masih terlihat rata, tidak hanya itu perut Juni juga tidak seperti perempuan kebanyakan karena dia adalah seorang petarung sejati jadi perutnya tidak lembek seperti wanita pada umumnya, perut Juni berotot meskipun tidak berbentuk kotak-kotak, tapi cukup kokoh.
__ADS_1