Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Puncak dari kemarahan Gavin#


__ADS_3

"Sayang sebentar saja"ucap Jerry.


"Oke"jawab Juni, sementara Gavin terus menatap lekat wajah cantik yang benar-benar membuat dia terbakar emosi.


"Ada apa? Daddy" ucap Juni.


"Daddy hanya ingin kenalkan kamu sama Gavin dia anak teman Daddy"ucap Jerry.


"Heummm baiklah-baiklah salam kenal kak Gavin"ucap Juni yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Juni sayang kamu mau kemana"ucap Jerry marah.


"Daddy, Juni sedang ada pekerjaan penting dengan Arjuna"ucap Juni.


"Sepenting apa?" tanya Gavin.


"Kakak bisa lihat sendiri"ucap Juni.


"Uncle, boleh saya ikut Juni"ucap Gavin.


"Pergilah"ucap Jerry.


Gavin pun langsung bergegas pergi menuju ke lantai atas, dan betapa marahnya Gavin, saat melihat Juni duduk di pangkuan Arjuna yang kini tengah memasang kan kalung di leher Arjuna.


"Juni" ucap Gavin sedikit penuh penekanan.


"Sebentar kak tanggung susah kali sih Jun"ucap Juni dengan sengaja.


"Juni"ucap Gavin lagi.


"apa? kak sabar kenapa"ucap Juni.


tiba-tiba saja Gavin menarik tubuh Juni dan membawa gadis itu pergi, bahkan tidak menghiraukan panggilan Jerry.


"Uncle, apa? uncle tega mau menjodohkan Juni pada pria seperti dia"ucap Arjuna.


"Kamu tidak bisa ikut campur Arjuna, jangan kan kamu uncle saja tidak bisa membantah opah mu"ucap Jerry.


"Tapi Daddy dia sudah punya istri"ucap Vivian.


"Istri yang tidak direstui' akan berbeda dengan Juni yang memang sudah mendapatkan restu nya"ucap Jerry.


sementara itu Gavin pergi membawa Juni ke apartemen milik Juni.


"Kak, kamu itu kenapa? sih"ucap Juni.


"Kamu! yang kenapa? Juni, sudah aku bilang jangan pernah pergi dari sini, tapi kamu terus membangkang"ucap Gavin.


"Aku tidak membangkang, aku punya hak dan kebebasan selama aku masih sendiri, kedua orang tua ku saja tidak pernah mengekang ku"ucap Juni.


"Aku adalah jodoh mu Juni, sejak kamu belum lahir pun kita sudah dijodohkan"ucap Gavin.


"Tidak mungkin kak, jad selama ini aku mengadu kepada orang yang salah, dan kenapa? Daddy ingin menjodohkan ku dengan pria beristri"ucap Juni.


"Aku memang sudah menikah dengan dia tapi pernikahan kami tidak pernah direstui aku akan mendapatkan restu jika menikah dengan mu, itulah kenapa? aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk dekat dengan orang lain"ucap Gavin.


Juni langsung terduduk lemas di sofa bagaimana pun kini kebebasan yang dia miliki sudah direnggut paksa oleh sejumlah orang yang bahkan termasuk golongan manusia yang paling berbahaya.


Juni mengingat ucapan Arjuna yang saat itu menyatakan cinta, rasa bersalah itu menyeruak tatkala ia mengingat perjuangan Arjuna demi membuktikan bahwa dia benar-benar serius mencintai dirinya.


"Maaf kan aku Juna, andaikan saja aku punya waktu untuk membalas cintamu itu, aku akan melakukan nya, tapi semua sudah terlambat aku sudah berada di jurang yang dibuat oleh keluarga ku sendiri, aku tidak berdaya"gumam Juni dalam hati.

__ADS_1


Gavin meraih tangan Juni dia berkata dengan lembut, dan jika sudah seperti itu, Juni tidak berdaya karena wanita yang terlihat sangat kuat dan penuh ketegasan itu, sebenarnya dia lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang yang tidak bisa ia dapatkan dari keluarga yang terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya memiliki banyak masalah.


Dan hanya sang Mommy dan juga Arjuna yang memberikan itu, selebihnya mereka lebih suka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


sementara itu Juni kini menangis sesenggukan, dia tidak peduli Gavin menganggap dia wanita rapuh tapi yang pasti saat ini dia sudah sangat lelah dengan hidup nya, dia tidak pernah kekurangan materi tapi dia kekurangan kasih sayang dan perhatian karena orang tua dan orang-orang dewasa itu lebih sibuk dengan urusan masing-masing berbeda dengan Jessi yang selalu memaksakan kehendak nya terhadap kedua orang tua nya, Juni lebih memilih untuk mandiri dan bahkan cenderung mengasingkan diri, sedari kecil dia tidak punya tempat untuk mencurahkan semua rasa yang pernah hadir dalam hidup nya, apalagi jika itu menyangkut permasalahan dirinya sendiri, Juni tidak ingin membebani Vierra yang sudah terlalu banyak beban pikiran yang tidak berkesudahan, karena Daddy nya itu.


hingga akhirnya Juni memutuskan untuk berjuang sendiri, menghidupi dirinya dengan kecerdasan yang ia miliki, Juni yang jago bela diri dia selalu mengikuti ajang pertarungan yang menghasilkan pundi-pundi uang, setelah itu dia pun mulai membeli saham perusahaan sedikit demi sedikit, tapi dengan kerja keras Juni akhirnya dia bisa mewujudkan mimpi nya menjadi wanita mandiri dan tidak bergantung pada kedua orang tua nya.


Juni bisa membeli apartemen yang mewah dan juga sangat luas, tidak hanya itu, Juni juga memiliki banyak saham yang memberikan banyak keuntungan selama ini.


Juni juga berharap suatu saat jika dia tidak pernah berjodoh dengan pria idaman nya, dia tidak akan pernah merasakan kesepian karena dengan banyak harta dia bisa memiliki banyak teman, seperti yang selalu ada untuk nya, selama ini, diam-diam Juni memiliki teman dan perkumpulan teman terbaik yang selalu ada untuk nya.


"Tolong tinggalkan aku sendiri kak"ucap Juni yang langsung pergi meninggalkan Gavin yang kini menatap kepergian nya menuju kamar utama nya.


"Juni setidaknya jika kamu tidak mencintai ku, jadilah partner dalam pernikahan kita nanti, kamu boleh menentukan mau memiliki anak atau pun tidak, tapi mungkin jika tidak memiliki anak kita akan selamanya terikat, tapi jika kita punya anak kamu boleh pergi setelah anak kita lahir nanti"ucap Gavin.


gadis itu pun menoleh ke arah Gavin lalu berkata"Aku tidak ingin anak ku mengalami hal yang sama dengan ku, maka dari itu tidak akan ada pernikahan diantara kita"ucap Juni tegas.


"Tidak bisa begitu Juni,siap atau pun tidak kita akan tetap menikah dan satu lagi, aku akan membawa mu pergi jauh setelah itu"ucap Gavin.


"Terserah kakak saja mau bicara sampai kapan pun,aku tak akan pernah mengubah keputusan ku meskipun nyawaku taruhan nya.


"Juni!" teriak Gavin tapi tidak kunjung mendapatkan kan respon dari Juni yang langsung menutup pintu kamar nya.


Juni tidak ingin menjadi bagian dari Gavin, setelah tau siapa sebenarnya Gavin, terlepas dari tanggapan negatif yang di berikan orang-orang terhadap dunia mafia, yang menjadi penghalang dari semua itu, adalah Juni, adalah memiliki organisasi Anti mafia.


sementara rasa kagum nya pada Gavin harus dia kubur sedalam-dalam nya.


karena kini dia sudah tahu siapa? Gavin sebenarnya jika saja pria itu bukan dari bagian mereka mungkin saat ini Juni, masih bisa terima jika Gavin adalah pria beristri.


🌹💖💖💖🌹


Ghealova sedang menghadiri acara perayaan ulang tahun sebuah perusahaan di Jakarta dia datang seorang diri, dengan menggunakan gaun yang sangat elegan dan semakin mempercantik penampilan nya, hingga menjadi pusat perhatian karena dianggap terlalu glamor.


sementara itu di sana juga hadir Adam dengan calon istri nya, mereka semua berpasangan hanya Ghealova yang datang sendiri bahkan tanpa asisten pribadi nya.


saat dia bersalaman dengan pemilik pesta tersebut, dia tidak sengaja bersenggolan dengan Vio, yang sedari tadi bergandengan tangan dengan Eleanor, wanita yang sudah memberikan dia seorang putra.


"Maaf, saya tidak sengaja ucap Ghealova sambil terus berlalu pergi menuju tempat yang tenang dari hinggar-bingar pesta tersebut.


Ghealova pun berdiri di tepi kolam renang yang ada di hotel tempat pesta itu digelar.


"Ghea"ucap seseorang yang sangat mengenal dirinya.


"Ya ada apa? tuan Vio"ucap Ghealova bersikap formal.


"Bisa kita bicara biasa saja"ucap Vio.


"Dengan saya tuan"ucap Ghealova sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja"ucap nya.


"Maaf tuan saya tidak punya waktu, lagi pula istri anda sepertinya dia sudah tidak sabar menunggu anda"ucap Ghealova.


"Ghea, please jangan seperti ini"ucap Vio yang hendak meraih tangan Ghealova.


Tapi kemudian dia langsung menyapa seseorang yang berjalan menghampiri Vio.


"Apa kabar nyonya Eleanor, eh maaf salah maksud Nyonya Vio"ucap Ghealova berbasa-basi.


"Kabar ku baik, nyonya Ghealova seperti yang anda lihat, iya kan honey"ucap nya meminta persetujuan dari Vio.

__ADS_1


sementara itu Vio hanya mengangguk pelan.


"Ghealova"ucap Adam dari samping.


'Hi... tuan Adam, apa? kabar...ini calon istri anda wah selamat ya anda sangat beruntung mendapatkan calon istri secantik beliau"ucap Ghealova sambil tersenyum ramah, dia pintar menyembunyikan luka di hati nya akibat pertemuan tersebut.


"Terimakasih atas pujiannya, Nona Ghealova"ucap wanita cantik itu dengan ramah.


"Silahkan kalian lanjut ngobrol nya, maafkan saya sedang terburu-buru, masih memiliki pekerjaan yang menanti"ucap Ghealova sambil berjalan meninggalkan mereka berempat setelah pamit pada mereka berempat.


"Maafkan aku sayang bukan maksud aku untuk menggantikan posisi mu dengan dia, tapi putra ku sangat membutuhkan sosok ibu, jika saja kamu bersedia untuk tetap bertahan dan mau membesarkan nya mungkin tidak akan seperti ini"gumam Vio dalam hati.


Ghealova pun pun pergi meninggalkan pesta tersebut menuju kamar hotel yang sempat ia pesan untuk bermalam di sana.


hingga dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk tersebut, dan mencoba memejamkan mata nya, meskipun sulit untuk tertidur tapi akhirnya dia berhasil juga.


hingga pagi menjelma, gadis itu pun bangun dan langsung bergegas membersihkan diri, setelah selesai mandi dia pun menggunakan dress selutut berwarna krem, dan setelah merapihkan penampilan nya, akhirnya Ghealova pun turun diikuti oleh seorang pelayan hotel yang membawa kan koper miliknya, dia sampingnya.


hingga tiba di lobi hotel, Ghealova memutuskan untuk pergi ke restaurant hotel tersebut dan dia pun mendarat kan bokong nya di kursi singgel depan meja bulat tersebut, dan memesan makanan favorit nya untuk sarapan.


hingga saat dia akan makan tiba-tiba seseorang duduk dan menarik kursi yang ada di hadapannya itu, dia lah Adam yang tidak terima dengan perlakuan Ghealova semalam yang berani memuji calon istri nya, dan juga telah bersikap formal pada nya.


"Kamu tega bersikap seperti itu padaku"ucap Adam, tiba-tiba.


"Oh tuan Adam, maaf saya sedang kurang fokus, bisa di ulang lagi pertanyaan anda tadi"ucap Ghealova.


"Ghea aku tidak menyangka kamu bisa sedingin ini, setelah kita melewati hari-hari bersama selama ini"ucap Adam.


"Maksud anda apa?"ucap Ghealova.


"Ghea aku kecewa dengan sikap mu ini"ucap Adam, yang mencengkram erat tangan Ghealova.


tapi gadis itu tidak sedikit pun mengeluh kesakitan atau pun meminta ampun, Ghealova bahkan terlihat sangat santai hingga Adam, terus menatap lekat wajah cantik Ghealova yang sedikit pucat itu.


"Ghealova, katakan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja"ucap Adam.


"Tidak tuan Adam, saya baik-baik saja dan saya tidak perlu simpati dari anda"ucap Ghealova yang hendak melepaskan cengkraman tangan kekar itu, tapi bukan nya terlepas tapi malah semakin kuat.


"Maaf tuan saya harus sarapan, jika anda terus menggenggam tangan saya, bagaimana saya bisa makan"ucap Ghealova.


"Ghea, ada apa? dengan mu heuhhhhh, kenapa? kamu bersikap formal seperti ini, Ghealova kita, bukan orang yang baru bertemu dan tidak saling mengenal, apa yang terjadi dengan mu"ucap Adam terus bertanya.


"Tolong lepaskan tuan saya harus sarapan pagi jangan sampai aku manggil scurity"ucap Ghealova lirih, tapi masih bisa didengar oleh Adam.


Adam pun mengalah dia pun melepas tangan Ghealova tapi kemudian dia mengambil alih sendok sendok tersebut dari tangan Ghealova dan menyendok nasi goreng siput tersebut dan menyodorkan sendok tersebut ke bibir Ghealova yang sedari tadi terus menatap lekat wajah tampan itu.


"Kamu pilih makan dari tangan ku atau dari bibir ku"ujar Adam.


"Silahkan makan sendiri tuan jika anda mau, saya bisa pesan lagi untuk saya sendiri"ucap Ghealova yang masih bersikap formal.


"Ghea!" teriak Adam yang sudah habis kesabaran nya, pria itu pun menarik tangan Ghealova dan pergi dari hadapan orang-orang yang menatap kearah mereka berdua.


"Tuan Adam lepas"ucap Ghealova yang berusaha untuk melepas kan genggaman tangan Adam, tapi pria itu semakin menggenggam erat tangan Ghealova.


"Terus saja bicara seperti itu aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Adam tegas.


hingga Vio lewat kearah mereka, Vio langsung melepaskan tangan Adam dari tangan Ghealova.


Ghealova langsung berlari meninggalkan mereka berdua yang saat ini tengah beradu argument dan hampir saling tonjok jika kedua pasangan mereka tidak datang.


sementara Ghealova yang melihat itu dia pun langsung bergegas pergi meninggalkan hotel tersebut, hingga dia memutuskan untuk berkunjung ke kota Bandung, tempat sahabat nya dulu, Ghealova yang belum sempat sarapan pun, dia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran, wanita itu sudah sangat kelaparan hingga akhirnya ia makan dengan lahap, Ghealova juga berhenti di sebuah butik di kota tersebut dan membeli sepuluh steel pakaian dan beberapa keperluan lainnya selama ia tinggal di villa yang tidak jauh daerah itu.

__ADS_1


__ADS_2