
Satu bulan berlalu, sejak saat itu rumah tangga Juni dan juga Gavin masih terlihat adem, dan harmonis karena Gavin selalu ada untuk Juni, tapi kemudian saat istri pertama Gavin mengetahui pernikahan mereka.
wanita itu selalu diam-diam membuat masalah tanpa sepengetahuan Gavin wanita itu membuat Juni berulang kali hampir mencelakai Juni, tapi karena Juni adalah wanita dengan sejuta akal dan kewaspadaan setelah ia bisa menerima pernikahan itu, Juni juga harus siap dengan konsekwensinya.
Juni tidak mungkin akan terus baik-baik saja, untuk pantas menjadi pendamping Gavin selama nya, karena musuh nya bukan hanya berada di satu pihak, Gavin adalah anak bontot dari tiga bersaudara yang juga haus akan kekuasaan dan tidak hanya itu semua saudara nya adalah pria berdarah dingin.
Juni akan tersingkir kan begitu saja jika dia tidak punya otak cerdik, dan siapapun tidak akan ada yang bisa menolong nya, kecuali Gavin melepaskan Juni dari hidup nya untuk selamanya, sementara wanita yang Gavin nikahi tidak pernah mereka ganggu karena wanita itu dianggap tidak membahayakan sama sekali, bagi kelangsungan generasi mereka.
sementara Juni adalah wanita pilihan sang kakek, dan semua itu, sudah menjadi ultimatum.
hingga satu hari saat Juni sedang berada di mall bersama dengan beberapa orang rekan bisnis nya, sedang shopping bareng, rekan bisnis perempuan yang kini mengajak mereka berbelanja.
seorang wanita meraih barang yang sama yang Juni ingin kan tapi Juni ngotot tidak ingin mengalah hingga wanita itu langsung melaporkan Juni pada suaminya yang tak lain adalah Gavin yang kini mematung, dihadapan keduanya.
"Baby, lihat lah tas yang aku inginkan wanita ini tidak mau mengalah bagaimana jika bayi ku ngiler nantinya"ucap wanita itu yang merengek meminta Gavin untuk mengambil paksa tas itu.
"Sayang kita cari lagi tas yang lebih bagus di tempat lain jika perlu aku pesan langsung dari negara nya ok"ucap Gavin.
Juni langsung melempar tas itu dan pergi begitu saja bersama dengan rekan bisnis nya, saat itu juga ponselnya berdering nyaring, wanita bahkan tidak perduli Juni bahkan memblokir nomor suaminya itu.
Juni langsung pergi menuju pulau milik Ghealova yang sempat di ajak ke sana saat Ghealova menghadiri rapat.
dia menggunakan helikopter milik Adam atas perintah Adam, untuk mengantar Juni ke pulau Adam.
sesampainya Juni di pulau milik Adam dia kembali naik speed boat menuju pulau seberang milik Ghealova, sesampainya di sana Ghealova menyambut nya dengan pelukan hangat sebagai saudara perempuan nya yang paling respek.
"Selamat datang di pulau ini sayang"ucap Juni.
"pantas saja kakak hilang tanpa jejak ternyata pulau ini yang membuat mu lenyap"ucap Juni.
"Kakak tidak tinggal di sini selama ini, kakak tinggal di luar negeri"jawab Ghealova.
"Aku akan tinggal di sini seumur hidup"ucap Juni.
"Terserah kamu saja kak, yang penting kamu betah disini"ucap Ghealova.
"Sayang dia sudah datang"ucap Adam.
"Iya "jawab Adam.
"Widia kemarilah kenalkan dia sepupu mantan ku, dia kakak sepupu ku"ucap Ghealova.
Juni duduk santai bersama ketiga nya setelah beberapa saat kemudian cahaya sunset yang di sore ini begitu indah Juni langsung keluar untuk menikmati itu, diikuti oleh Widia.
"Seperti nya kau sedang kecewa Juni"ucap Widia.
"Hidup itu tidak akan berwarna tanpa rasa itu, dan yang terjadi pada diriku saat ini pernah dirasakan oleh Ghealova, itulah kenapa? aku memilih untuk belajar dari nya, saat ini namun sayangnya ruang gerak ku tak selebar diri nya, kamu lihat itu"tunjuk Juni pada beberapa helikopter yang kini tengah terbang di atas pulau tersebut dan tidak lama mendarat di sana Gavin turun diikuti oleh anak buah nya.
"Sayang kamu sedang apa? disini ayo segera kembali"ucap Gavin.
"Aku sedang berlibur, untuk apa? kau mencari ku kak, aku tidak akan pulang"jawab Juni tegas.
"Kita perlu bicara"ucap Gavin.
"Bicaralah"ujar Juni.
"Ikut aku sayang"ucap Gavin.
"Aku sudah bilang aku tidak mau pergi"ucap Juni.
__ADS_1
"Sayang kamu tau konsekwensinya, bukan"ucap Gavin penuh penekanan.
"Lakukan apapun yang kamu inginkan, aku tidak peduli"ucap Juni tegas.
"Hancurkan pulau i"ucap Gavin terhenti saat Juni langsung mengangkat tangan agar Gavin menghentikan ucapannya.
"Pulang lah aku hanya ingin menenangkan pikiran ku, saat ini aku akan pulang nanti"ucap Juni.
"Tidak aku bilang pulang sekarang"ucap Gavin.
"Kak, kamu ingin aku mati perlahan-lahan bukan, silahkan lakukan apapun yang kamu inginkan"ucap Juni.
akhirnya Gavin pun pergi dengan sangat kecewa saat ini dia tidak bisa terus memaksa Juni, dan membuat wanita itu stress bisa-bisa dia tidak akan bisa mengandung anak nya nanti.
setelah kepergian Gavin, Ghealova langsung bergegas menghampiri Juni.
"Kamu harus kuat, semoga suatu saat nanti kita semua akan baik-baik saja"ucap Ghealova.
"Tidak ada yang akan baik-baik saja, kecuali kematian"ujar Juni.
"Tuan Adam tolong pinjam kan kapal mu, aku dan Widia akan pergi berlayar"ucap Juni.
"Lakukan apapun yang kamu inginkan Juni"ucap Adam.
"Jangan ajak Widia berenang dia tidak bisa berenang"ucap Ghealova.
"Tenang saja aku akan pasang pelampung di tubuh nya,agar dia tidak tenggelam"ucap Juni yang langsung bergegas membawa isi koper nya.
"Widia Ayo ikut aku"ucap Juni.
"Oke, kita bisa senang-senang"ucap Widia.
mereka pun akhirnya pergi menggunakan speed boat,menuju kapal besar dengan bikini yang benar-benar memperlihatkan tubuh nya yang sangat sempurna itu, tanpa cacat sedikitpun meskipun Juni adalah seorang petarung.
keempat nya kini terjun ke laut, dan mereka tidak ada yang menggunakan pelampung kecuali Widia, ketiga nya menikmati keindahan air pulau tersebut yang terlihat tenang di samping kapal.
Ghealova tidak jauh dari Adam karena pria itu sedari tadi terus dalam dekapan Adam, kadang mereka juga menyelam berdua dan kembali muncul di permukaan berdua sementara Juni sedari tadi bersama Widia, menikmati indahnya air laut sambil menjaga janda kembang tersebut.
Widia berstatus janda, setelah resmi berpisah dari suaminya yang bahkan tidak pernah memberikan dia nafkah lahir maupun batin.
pernikahan mereka hanya lah status.
"Widia kita berenang ke tepian yu, jika kamu menang aku akan belikan pulau tercantik untuk mu"ucap Juni.
"Kau bukan menawarkan aku pulau tapi kau menawari ku kuburan"ucap Widia, sambil mengerucutkan bibirnya.
sontak Juni tertawa terbahak-bahak sambil menarik Widia menjauh dari kapal wanita itu menjerit berteriak dengan heboh nya karena Juni membawa dia pergi jauh dari kapal .
"Juni bahkan tidak menghiraukan teriakan Ghealova, yang langsung di bungkam oleh Adam saat ini juga, Adam yang langsung membawa Ghealova ke atas kapal.
🌹💖💖💖🌹
setelah selesai bermain air, saat ini mereka tengah menikmati acara barbeque di atas kapal, sambil bersantai ria, sementara Juni sedang menggunakan teropong untuk melihat ke sekeliling pulau dan ternyata hampir di semua sisi dia diawasi oleh orang suruhan Gavin.
Juni hanya menghela nafas panjang, hidup nya bahkan sudah tidak punya ruang untuk bergerak bebas.
wanita itu pun duduk santai di tempat bersantai sambil menikmati semua jenis siput laut yang terhidang bahkan semua makanan laut .
hingga malam tiba akhirnya mereka pun menginap di kapal tersebut, dan keesokan harinya Juni pun pamit pulang dengan menggunakan helikopter Ghealova, dia pun pulang dengan hati yang enggan untuk itu, tapi dia tidak ingin Gavin membuat Ghealova atau pun Adam terkena imbas nya.
__ADS_1
sesampainya di Jakarta, Juni langsung pulang menuju apartemen nya, dia benar-benar tidak ingin melakukan aktifitas apapun saat ini dia hanya ingin tidur seharian, Juni merasa seluruh tubuhnya lemas.
Juni pun langsung berbaring di atas ranjang empuk nya, sesampainya di apartemen, tanpa mengisi perut nya terlebih dahulu wanita itu memilih untuk terdiam.
hingga pintu kamar itu terbuka, sosok laki-laki yang enggan untuk di temui nya.
Juni langsung bangkit dari ranjang nya, dan duduk bersandar di headbord, dan Gavin langsung menghampiri nya, mencium bibir Juni, hingga beberapa detik setelah itu dia duduk di samping Juni sambil menatap lekat wajah cantik itu.
"Aku tidak tau bahwa dia bisa hamil secepat itu"ucap Gavin.
"Untuk apa? kau membahas nya, dengan ku, itu tentang hidup kalian, tidak ada hubungan nya dengan ku, dan seharusnya kamu bersyukur karena kamu akan mendapatkan pengakuan dari keluarga mu"ucap Juni.
"Sayang tidak seperti itu, semua itu hanya sebuah kesalahan"ucap Gavin.
"Heummm kesalahan ya, sudah lah silahkan lanjutkan semua kesalahan mu itu"ucap Juni.
"Yang kamu itu kenapa? aku sudah bilang jika dia hamil dan melahirkan pun putra atau putri ku dari istri ku itu tidak akan pernah diakui dan dia hanya akan menjadi pelayan putra kita nanti kecuali jika kamu bersedia menjadikan mereka sebagai anak mu"ucap Gavin.
"Oke aku minta cerai dan setelah itu anak kalian akan menjadi anak ku, dan akan aku didik hingga dia menjadi tangguh seperti yang keluarga mu ingin kan"ucap Juni yang membuat Gavin menatap tajam kearah Juni.
"Aku sudah bilang tidak akan ada perpisahan diantara kita sekalipun kamu memohon sampai mati"ucap Gavin.
"Kak, apa? yang ada di otak mu, kamu itu mencintai dia dan untuk apa? kamu pertahankan pernikahan ini jika hanya untuk sebuah pengakuan atau pun harta silahkan ambil semua yang aku miliki dan jika kamu butuh pengakuan, aku akan meminta itu pada kakek mu sekarang juga"ucap Juni.
"Kau pikir aku semakin itu, hingga butuh sumbangan dari istri ku sendiri, heuhhhhh, Juni, aku bertahan kan pernikahan ini karena aku sangat mencintaimu, dan kakek ku menginginkan semua ini"ucap Gavin.
"Ya, baiklah-baiklah, karena cinta, tapi aku minta kamu menyingkirkan dia untuk ku jika kamu memang mencintai ku"ucap Juni hingga Gavin terdiam dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Heeuh....aku tau itu tidak akan pernah mungkin, sekarang pergilah jangan pernah temui aku lagi, silahkan hancurkan apapun yang ingin kau hancurkan sekalipun itu semua tentang ku, aku tidak peduli karena hidup pun tetap percuma, aku hidup tapi mati"ucap Juni.
Gavin masih duduk sambil menatap Juni yang kembali berbaring menutup seluruh tubuh nya hingga kepala dengan selimut tebal,ada tetes air mata yang jatuh hanya karena cinta bodoh dari Juni yang hingga saat ini membelenggu dirinya.
Gavin masih diam dan tidak bergeming sama sekali hingga saat Juni bangkit dan mengambil ponselnya dari dalam nakas, wanita itu langsung menghubungi Edgar sang kakek yang telah membuat keputusan ini.
dia bicara panjang lebar dan membicarakan tentang perpisahan nya dengan Gavin yang langsung mengambil ponsel itu dan membantingnya ke dinding ponsel itu hancur berkeping-keping, Juni langsung pergi dengan meraih Hoodie nya.
Gavin langsung meraih tangan Juni lalu menyeretnya ke atas ranjang nya Gavin mengikat wanita itu di sana .
"Lepas kak, aku janji jika aku lepas dari sini aku akan mengakhiri hidupnya saat ini juga"ucap Juni.
"Kau masih punya tenaga untuk itu"ucap Gavin yang membawa suntikan entah berisi obat apa? tapi yang pasti Juni langsung melemas dan tidak lagi berontak.
Juni langsung memejamkan mata wanita itu bahkan tidak lagi bergerak Gavin meneteskan air mata sebenarnya dia tidak tega membuat istrinya itu tidak berdaya tapi dia melakukan itu semua agar istrinya tidak lagi meminta untuk bercerai.
Juni adalah wanita yang sangat ia cintai, sedari awal Gavin ingin melindungi Juni, dan tidak untuk dijadikan istri, asalkan dia tetap bersama dengan gadis itu, tapi Juni selalu memancing emosi nya dan selalu membuat Gavin kesal karena takut kehilangan Juni.
Gavin pun langsung menghubungi Edgar, untuk memberikan penjelasan kepada pria itu, agar Edgar tidak berpikir yang macam-macam.
Gavin berbaring memeluk erat istrinya dan berkali-kali mencium puncak kepala istrinya.
hingga malam menjelang, Gavin bangun dia menyiapkan makan malam bersama dengan istrinya.
Juni juga sudah mulai membaik meskipun tidak sesegar tadi, Juni duduk terdiam di kursi dan Gavin menyuapi dia makan.
Juni menjadi sangat penurut entah obat apa? yang Gavin berikan pada Juni, sehingga Juni menjadi seperti boneka.
Gavin kembali membawa istrinya ke kamar sampai Juni kembali tidur Gavin tetap setia berada di samping Juni memeluk nya tanpa meninggalkan nya sedikit pun, Gavin benar-benar merasa sangat bersalah karena efek obat itu akan berlangsung lebih lama.
obat itu sudah lama dikembangkan di laboratorium milik Gavin.
__ADS_1
Juni seperti hidup tanpa jiwa wanita itu mandi dan bersolek seperti kebanyakan wanita yang sudah bersuami duduk di depan meja rias menghadap cermin menyisir rambut, dan menggunakan wewangian setelah itu dia berjalan menuju sofa wanita itu duduk menonton televisi, tapi matanya tidak fokus pada televisi entah dimana pikiran nya berada.
Gavin pun duduk di samping nya mendekapnya, sambil mengelus puncak kepala Juni yang tetap berdiam diri.