Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Hujan#


__ADS_3

Saat itu akhirnya Berlian mengeluarkan sebuah gulungan matras dari belakang ransel nya, untuk dijadikan payung sementara hingga hujan benar-benar reda dan tidak lama kemudian hujan pun sedikit reda tapi mereka tidak mungkin untuk terus berada di sana dengan keadaan basah kuyup.


mereka pun memaksakan diri untuk turun kebawah menuju sebuah pondok yang didirikan oleh para pendaki gunung, dengan saling berpegangan tangan, dalam rasa canggung yang begitu besar, mereka pun turun Zayn yang memimpin langkah di depan.


kabut gelap itu seakan tak mau pergi, mereka berdua harus terus berhati-hati, hingga akhirnya mereka pun tiba dengan susah payah di sana, tidak hanya ada pondok ternyata disana juga ada sebuah perapian yang cukup untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan.


tapi sayang mereka berdua tidak ada yang bisa menyalahkan api, karena pria itu juga tidak merokok, tapi wanita itu tau cara untuk menghidupkan api dengan menggunakan batu yang tersedia di sana, hingga percikan api itu muncul dan membakar kertas, yang diambil dari buku catatan milik wanita itu.


akhirnya apa menyala dan semakin lama semakin besar dan menghangatkan tubuh baju yang tadi basah pun kembali kering.


mereka pun bersandar di tiang saling membelakangi hingga akhirnya malam pun tiba, mereka tidur beralaskan matras masing-masing,di malam yang gelap dua insan yang tidak melakukan interaksi lebih jauh itu tertidur dan sesekali Zayn terbangun karena nyamuk nakal, dan dia harus berjaga jika sewaktu-waktu ada binatang buas yang datang ke pondok tersebut.


hingga pagi menjelma mereka pun, bersiap untuk turun gunung karena cuaca juga sudah mulai cerah.


dua orang insan yang bahkan tidak pernah berkenalan itu, hanya saling mengangguk satu dan yang lainnya sebagai tanda bahwa, mereka saling menghormati.


saat keduanya akan melangkah pergi pria itu pun berkata"Hujan kemarin sore adalah hari dimana perkawinan rubah terjadi"ucap Zayn.


"Hujan adalah takdir, dan karena hujan kita pun berjumpa, dan ini takdir"ucap Berlian.


"Takdir dari awal kisah kita dimulai, begitu maksudnya"ujar Zayn.


"Bisa jadi iya, bisa juga tidak, tapi yang jelas aku sangat berterimakasih "ucap wanita cantik yang memiliki pembawaan yang lembut itu.


"Suatu saat nanti, saat hujan ini datang kau bisa mengenang pertemuan kita"ucap Zayn.


gadis itu pun mengangguk, sambil berjalan turun lalu menanjak lalu datar dan disana mereka melihat ada sebuah aliran air yang jernih hanya semata kaki tapi yang membuat Zayn tersenyum saat melihat tingkah gadis itu yang tiba-tiba berteriak dan tersenyum bahagia saat melihat segerombolan bunga yang indah, bunga kala Lily putih, dan sampai aliran air dan ada juga bunga yang lebih cantik tapi dia lebih suka dengan bunga Lily putih tersebut dia langsung mengeluarkan kamera dan memotret nya, tidak hanya itu dia juga menghampiri Zayn yang membuang pandangannya ke arah lain karena tersenyum manis melihat tingkah gadis itu.


"Tuan bisa pinjam kan aku pisau itu, dan satu lagi tolong foto aku dengan bunga-bunga itu"ucap berlian.


"Kau lebih antusias saat melihat bunga itu ketimbang membersihkan badan mu dan wajah mu yang kotor itu"ucap Zayn.


tiba-tiba saja kamera itu terjatuh,saking shock nya wanita itu karena Zayn, memberitahu penampilan nya yang sangat buruk menurut nya.


hingga kamera itu bisa di selamatkan oleh Zayn, yang kini berusaha menjaga keseimbangan di bebatuan yang licin itu.


saat itu juga Berliana langsung menyimpan ransel dan membasuh wajah dengan air juga membersihkan kotoran dari bekas tanah yang becek sementara Zayn mengabadikan momen tersebut dengan ponselnya sambil sesekali tersenyum mengingat tingkah konyol gadis yang ada di hadapannya.


setelah itu Zayn diam sudah memetik bunga tersebut dan mengikatnya seperti buket bunga tidak hanya satu warna dia bahkan menggabung ketiga warna.


bunga Kala Lily tersebut kini terpajang cantik di atas batu yang lumayan besar dengan kamera di samping nya.


pria itu pun juga membasuh wajah nya, dengan air jernih yang menyejukkan .


mereka pun menjemur kemeja di atas bebatuan sambil mengistirahatkan tubuh yang lumayan lelah.


"Kau bisa makan ini jika lapar, aku masih kuat berjalan hingga di bawah"ujar Zayn yang memberikan sebungkus roti.


"Aku bisa membagi nya tuan, cukup minum air yang banyak saja aku yakin air ini lebih jernih dari air yang kita konsumsi di kota"ucap nya.


"Ambilah sebentar lagi akan ada orang ku yang menjemput ku"ucap nya.


Zayn pun mulai bersiap dan kembali menggunakan kemeja yang ia jemur tadi.


tuan tolong"ucap nya saat melihat kakinya kembali berdarah Zayn langsung bergegas menolongnya, dia kini mengambil pisau dan merobek kemeja milik nya di bagian lengan,lalu merobek nya menjadi beberapa bagian, setelah itu dia pun kembali membalut luka itu, dan berusaha memapah wanita itu .


"Sudah cukup sepertinya ini tertinggal"ujar Zayn yang memberikan bunga itu.


"Terimakasih"ucap nya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


mereka pun melanjutkan perjalanan nya hingga tiba di bawah tempat di jalan raya, sebuah mobil mewah menghentikan langkah keduanya.


"Orang ku sudah menjemput ku, RAIN apa? kau ingin aku antar pulang"tawar pria itu.


"Berlian owh syukur lah, kamu baik-baik saja aku sangat mencemaskan dirimu"ucap seseorang yang juga turun dari mobil, wanita yang sedikit lebih tua dari gadis itu pun melirik ke arah Zayn yang sudah menggunakan kacamata hitam tersebut.


"Zayn" gumam Juni lirih dan setelah itu tiba-tiba Juni mengalami sesek napas Gavin yang melihat itu langsung memencet tombol emergency yang ada di atas headbord pasien tersebut.


tidak lama dokter pun datang dengan sedikit berlari kecil, dan langsung meminta Gavin dan Adam menunggu di luar, Gavin bahkan sulit untuk dikendalikan saat ini karena dia tau istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


Adam terpaksa menyeret Gavin keluar dari ruangan tersebut.


Juni pun seakan sudah berakhir tidak ada nafas kehidupan ataupun denyut jantung dan nadi nya hingga dokter pun keluar dengan gelengan kepala, tapi Gavin langsung berlari kedalam dia berteriak dia mengguncang tubuh Juni, tangis nya pun pecah.


"Siapa? pun yang mendonorkan jantung ini pada istri ku, aku mohon berikan istri ku kesempatan hidup, aku sangat mencintai nya aku sangat mencintai nya tuhan"ujar Gavin.


hingga air mata nya terjatuh tepat di bagian jahitan di dada Juni, sambil memukul-mukul ranjang pasien tersebut, tiba-tiba suara monitor detak jantung itu kembali.


Gavin langsung berteriak memanggil dokter, dengan tangis bahagia dan juga kecemasan menjadi satu.


...🌹💖💖💖🌹...


Juni masih memejamkan mata nya meskipun dia sudah kembali bernafas dengan normal, hingga satu Minggu berlalu, saat ini Gavin masih setia menjaga Juni, sementara kedua putranya di rawat oleh Adam dan Ghealova yang setia menjaga mereka.


hingga Minggu kedua Gavin yang baru saja terlelap dengan posisi kepala di atas ranjang dan tangan itu menggenggam tangan sang istri.


"Kak, aku haus"ujar Juni lirih.


Gavin pun terbangun dengan reflek dia menoleh ke arah Juni yang ternyata tengah menatap ke arah nya.


"Sayang, kamu sudah siuman"ucap Gavin sambil menatap tak percaya.


"Sedari tadi" ucap nya pelan.


"Ahhhhhh, sakit kak"ucap Juni .


"Maaf,,, aku terlalu bahagia sayang "ujar Gavin yang langsung menghapus air mata yang jatuh.


"Kak aku rindu kedua putra kita"ujar Juni.


"Aku akan meminta ijin untuk itu pada dokter"ujar Gavin, Juni pun mengedipkan mata nya sebagai tanda setuju.


Gavin pun membiarkan Dokter untuk memeriksa kondisi Juni, tapi dokter menyarankan agar tidak terlalu banyak orang yang datang menjenguk dan Juni hanya harus puas dengan panggilan video call.


hingga satu bulan berlalu sejak saat itu, Juni masih berada di rumah sakit, hanya untuk melakukan pemulihan sementara Ghealova dan Adam sudah kembali ke Indonesia, dan kedua putra mereka pun di urus oleh Widia yang kini menyusul mereka bersama dengan Aluna.


tapi mereka tinggal di rumah Juni yang ia beli dua tahun lalu saat kepergian nya dari Indonesia.


rumah itu cukup besar dan sangat indah bergaya minimalis modern dengan perpaduan warna abu dan putih di setiap ruangan tersebut.


Juni pun sudah diperbolehkan pulang, tapi dengan catatan harus sering cek up.


Juni pun kembali ke kediaman nya dia bahkan begitu bahagia kerena kedua putranya yang selama ini dia rindukan ada di sana menyambut nya dengan sebutan Mommy.


Juni pun duduk dan memeluk kedua putranya dengan sangat hati-hati.


"Sayang Mommy sangat mencintai kalian berdua, jangan pernah pergi lagi"ucap Juni lirih.


"Tidak akan sayang kita akan selamanya bersama dalam suka maupun duka"ujar Gavin.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untuk mu"ucap Gavin lagi.


"Terimakasih kak"ucap Juni.


mereka pun kembali menuju kamar karena Juni masih butuh istirahat.


sementara kedua putranya yang begitu aktif kini tengah berada di dalam kamar yang luas itu tengah bermain susternya Widia dan Aluna, suster sementara waktu karena mulai besok mereka akan pulang bersama anak-anak mereka yang sedang tertidur.


Gavin sendiri kini tengah tidur pulas karena sudah hampir enam Minggu berlalu menjaga sang istri di rumah sakit.


Gavin pun tertidur pulas hingga malam tiba, dia pun bangun dan menyiapkan makan malam untuk istrinya itu, meskipun di sana sudah ada pelayan sejak Juni membeli rumah tersebut.


dia membuat semacam sup khusus untuk kesehatan jantung, yang dia pelajari selama ini atas saran dari dokter.


dengan telaten dia menyuapi sang istri seperti yang selalu ia lakukan selama ini, setelah itu dia pun melihat sikecil yang tengah tertidur pulas setelah makan malam mereka.


"Daddy mereka kelihatan nya, sangat bahagia bisa memiliki Daddy seperti mu"ujar Juni.


"Mereka justru sangat merindukan mu, hampir setiap waktu aku memutar video tentang mu selama ini, aku juga sangat tersiksa, apalagi saat malam datang kedua putra kita hanya tidur di dalam pelukan ku"ucap Gavin sambil menatap sendu.


"Terimakasih kak, terimakasih atas semua yang telah kamu lakukan, sehingga anak-anak tidak melupakan ku, atau membenci ku"ujar Juni.


"Kamu tidak pantas untuk dilupakan sayang andaikan saja, saat itu kamu mau mendengarkan penjelasan ku, dan mau memaafkan ku, mungkin perpisahan kita tidak perlu terjadi, dan mungkin sampai saat ini kita masih terus bersama, tapi disini kita berdua hanya dipermainkan oleh takdir, sekarang kita akan selalu bahagia untuk selamanya"ucap Gavin.


mereka pun kembali merebahkan diri, Gavin membantu istrinya untuk merebahkan diri nya di atas ranjang empuk itu, disusul oleh nya yang langsung memeluk dan memberikan kecupan hangat di puncak kepala istrinya itu.


"Aku sangat bahagia bisa bersama dengan mu lagi honey, tetap lah disisi ku sampai hari tua nanti, sampai maut menjemput kita berdua"ucap Gavin lirih.


sampai akhirnya mereka terlelap dalam mimpi yang indah, dalam keadaan saling berpelukan, Widia dan Aluna pun tersenyum saat mereka hendak memberikan botol susu untuk kedua putra Gavin dan Juni.


"Semoga tidak ada lagi prahara yang datang dalam rumah tangga kita semua"ujar Widia.


mereka pun akhirnya pergi setelah memberikan botol susu untuk keduanya.


sementara itu di tempat yang lain, sudah hampir dua bulan ini, pria yang bernama Zayn, tidak pulang ke kediaman utama milik keluarga nya, pria itu selalu menghabiskan waktu untuk bekerja dan bekerja, hanya ada waktu istirahat beberapa jam untuk memejamkan mata nya, dia bahkan tidak pernah bisa melupakan semua kenangan terindah bersama dengan kekasih nya itu.


Hingga Zayn memutuskan untuk pergi ke luar negeri, untuk bisa melupakan semua nya, meskipun rasa sakit atas kehilangan seseorang yang sangat ia cintai itu tidak lah mudah.


sementara itu di bandara yang sama, Juni dan semua nya, hendak kembali ke Indonesia, dimana mereka tinggal semula, dan ketika tiba di bandara internasional, tiba-tiba hujan pun turun meskipun tidak terlalu lebat dan Juni langsung berdiri di samping mobil menengadah ke atas langit.


"Rubah sedang kawin"ujar Juni.


tanpa sadar jantung nya berdebar kencang.


hingga seseorang menatap lekat wajah nya.


Juni terus mengelus dada nya sampai Gavin merangkul pinggang nya dan membawa kedua putranya dengan stroller baby yang dibelikan oleh Ghealova.


"Sayang kamu tidak apa-apa?kan"tanya Gavin yang kini berjalan sambil mendekap nya, sementara kedua putranya diambil alih oleh asisten pribadi yang baru selesai menyimpan seluruh barang kedalam jet pribadi nya.


"Kak, jantung ku berdebar kencang"ujar Juni.


"Apa? kita batalkan saja kepulangan kita"ucap Gavin.


"Tidak perlu kak, aku sudah rindu dengan rumah kita"ucap Juni.


"Semua sudah siap"ujar Gavin.


sementara pria itu terus berjalan sambil mengikuti langkah Juni, meskipun tidak satu arah , tapi hatinya terus menuntun dirinya untuk berada di dekat wanita itu.

__ADS_1


sementara itu Gavin, terus membawa istrinya dalam pangkuan nya, Gavin tidak membiarkan Juni berjalan sendiri.


hingga saat mereka berpisah pria itu masih menatap kearah Juni yang terlihat sangat cantik," Lian"


__ADS_2