
"Sayang kita harus menyiapkan semua nya, dan tidak boleh terburu-buru mommy tidak ingin pernikahan putra Mommy tidak dirayakan sama sekali"ucap Jane.
"Mommy Arjuna tidak ingin perayaan besar-besaran hanya akad nikah saja di hadiri keluarga besar itu sudah cukup, Juna tidak mau pesta yang Juna mau kami menikah"ucap Arjuna.
"Tapi sayang"protes Jane.
"Please Mom... kasihan Widia dia sebatang kara saat ini jadi kalaupun terjadi pesta besar-besaran dia tidak punya pendamping lain dari pihak keluarga nya hanya ada kak, Ghealova"ucap Arjuna.
"Baiklah sayang ku"ucap Jane yang begitu menyayangi putra semata wayangnya itu.
"Widia Mommy harap kamu bisa menjadi istri sekaligus ibu untuk putra dan cucu Mommy kelak"ucap Jane.
Widia hanya bisa mengangguk wanita itu bahkan tidak berani lagi menatap kearah wanita paruh baya yang kecantikan nya sungguh sangat sempurna itu.
"Sayang lihat kamar kita yu"ucap Arjuna yang langsung membuat Jane kembali angkat bicara.
"Belum saatnya boy, kamu harus tahan dulu"ucap Jane yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya memberikan kabar pada seluruh keluarga besar nya, dari mulai Asia hingga Eropa setelah itu dia membawa Widia menuju ke tempat dimana Jane selalu merancang gaun pengantin dan yang lainnya.
Widia begitu tercengang di sana terdapat begitu banyak gaun pengantin yang benar-benar tidak ada duanya.
Jane sudah menyiapkan semua nya untuk pernikahan putra semata wayangnya dan juga untuk para klien nya.
hingga semua tersusun begitu apik di setiap ruangan yang terbuat dari kaca.
"Kamu bisa pilih yang kamu mau untuk pemotretan nanti sayang mommy sudah setuju kalau pernikahan itu hanya di lakukan sederhana dan hanya ijab qobul tanpa pesta pernikahan, tapi Mommy ingin kalian melakukan sesi pemotretan , dengan gaun pernikahan yang Mommy sudah siapkan dan untuk itu butuh persetujuan Arjuna, dan Mommy yakin kamu bisa membujuk nya"ucap Jane karena wanita itu tidak ingin semua persiapan nya sia-sia.
"Terserah Mommy saja, saya juga berterima kasih karena anda mau menerima saya"ucap wanita itu.
"Widia, kita sama-sama wanita saya pun tidak tau rasanya mendapatkan penolakan baik dari pihak laki-laki ataupun dari orang yang kita cintai, rasanya sungguh tidak enak, dan saya sudah menyiapkan semua ini, untuk siapapun wanita yang Arjuna cinta Mommy akan melamar nya"ucap Jane lembut.
"memang nya selama ini Arjuna tidak pernah mengenalkan pacar nya?"tanya Widia.
"Putra ku adalah anak yang baik dia tidak suka bermain-main tidak jelas, dia selalu serius dalam segala hal termasuk dalam mencari jodoh, dia ingin menikah satu kali seumur hidup, makanya saat dia menemukan mu, dia langsung serius, meskipun Mommy tau siapa dirimu dan masalalu mu"ucap Jane tegas.
"Maaf jika saya lancang, apa? anda memata-matai ku selama ini"tanya Widia.
"Tidak, tapi saya tau semua data diri dan asal usul mu, hanya sekali menjentikkan jari, karena orang kepercayaan saya adalah orang-orang terbaik"ucap Jane yang mengatakan kejujuran.
"Apa? anda adalah berasal dari keluarga mafia"tanya Widia.
Jane tidak menjawab dia hanya tersenyum simpul, dan jika pun dia mengatakan tidak pun keluarga besar Edgar, selama ini memang memiliki ikatan mafia.
"Kamu bisa menyimpulkan nya sendiri, karena jika di jawab pun mungkin butuh waktu yang sangat panjang, tapi percayalah kami bukan orang jahat, tapi jika ada yang berbuat jahat pada kami mereka tidak akan pernah ada yang selamat"jawab Jane tegas.
"Maaf kan saya jika saya lancang"ucap Widia.
Jane sudah memperlihatkan gaun mana saja yang akan Widia kenakan dalam sesi pemotretan, beserta jas yang akan digunakan oleh Arjuna.
setelah mereka keluar dari ruangan tersebut, Arjuna sudah menyambut nya dan langsung membawa wanita itu ke lantai atas menuju kamar nya.
pria itu tidak menjawab pertanyaan Widia yang sedari tadi bertanya-tanya mau dibawa kemana, oleh Arjuna.
Arjuna langsung membuka pintu nya setelah berkeliling ruangan hendak menuju kamar nya dan kini sudah didepan kamar, nya pria itu langsung membuka pintu kamar nya dan menarik Widia masuk.
Widia begitu tercengang melihat ke sekeliling ruangan kamar milik Arjuna yang begitu besar dan megah melebihi kamar sweet room hotel berbintang, hingga matanya tertuju pada satu foto yang terpajang di dinding kamar pria yang dua tahun lebih muda dari nya itu.
terpajang dengan apik foto seorang wanita cantik berambut pendek, yang terlihat tengah bertarung melawan seorang yang tidak ada di foto itu, mungkin sudah di edit tapi wanita itu terlihat sangat cantik dilihat dari sisi mana pun dengan gaya nya yang tomboi.
__ADS_1
sementara satu lagi foto saat Arjuna bersama dengan wanita sedang duduk di sebuah bukit paralayang yang sangat indah mereka terlihat begitu akrab.
Arjuna pun melirik ke arah Widia yang tidak bergerak sedikitpun saat ini dengan tatapan mata mengarah pada foto dirinya dengan Juni.
"Dia kakak sepupu ku, dan sudah menikah mungkin sekarang masih sibuk berbulan madu"ucap Arjuna.
"Kalian serasi ya bahkan tidak tampak seperti sepupu lebih mirip kekasih, karena tidak ada sepupu yang aku tau, mau memajang foto sebesar itu di dalam kamar nya"ucap Widia.
"Heummm benarkah, tapi sayangnya dia bukan jodohku dan kamu adalah jodoh ku"ucap Arjuna yang mendaratkan kecupan di pipi Widia yang langsung melirik ke arah Arjuna.
"Mungkin itu perasaan ku, saja tapi yang aku lihat kalian saling mengagumi satu sama lain"ucap Widia.
"Ya apapun itu, yang pasti adalah aku sangat mencintaimu saat ini dan selamanya"ucap Arjuna, meskipun tidak bisa dipungkiri Juni, masih setia bertahta di hati terdalam nya, dan mungkin takkan terganti tapi anggap lah dia serakah karena dia juga mencintai Widia, dan kenyataan itu tidak pernah bisa di pungkiri lagi.
"Ayo duduk lah, aku punya sesuatu untuk mu calon istri ku"ucap Arjuna.
"Apa? itu Juna"tanya Widia.
"Rahasia"ucap Arjuna yang langsung meminta Widia untuk memejamkan mata.
"Aku takut Juna"ucap Widia.
"Jangan takut sayang aku tidak gigit"ucap Arjuna yang langsung sedikit berlari kecil hendak mengambil sesuatu dari dalam laci nakas samping tepat tidur nya.
"Jangan buka mata dulu sayang aku belum siap"ucap Arjuna yang kini berjalan menghampiri Widia lalu meminta Widia membuka mata.
"Sayang sudah siap kamu boleh membuka mata"kata Arjuna, sambil menyodorkan sebuah kota persegi berukuran lima cm .
"Semoga kamu suka sayang ku, mungkin harganya tidak seberapa? tapi itu aku beli khusus untuk mu"ucap pria itu lembut sambil tersenyum manis.
🌹💖💖💖🌹
"Sayang kenapa,, apa? kamu tidak suka"tanya Arjuna.
"Sayang tolong cubit aku, aku benar-benar tidak sedang bermimpi bukan, jika ini mimpi aku harap aku tidak terbangun lagi, agar terus ah...sakit"ucap Widia yang langsung tersadar saat Arjuna mencubit pipinya saat wanita itu meminta nya.
"Sayang ini nyata, dan itu milik mu"ucap Arjuna.
"Terimakasih Juna sayang tapi aku mohon jangan jadikan aku wanita materialistis, aku takut suatu saat nanti aku, semakin lupa bersyukur"ucap Widia.
"Tidak masalah sayang uang Mommy ku banyak dan tidak akan habis walau hingga tujuh turunan"ucap Arjuna.
"Heummm, sombong, tapi tidak masalah asalkan aku bisa bahagia bersama dengan mu"ucap Widia dengan senyum ceria nya.
"Itu sudah pasti sayang ku, kamu akan selalu aku manjakan dengan semua yang aku miliki"ucap Arjuna.
mereka pun mengobrol panjang lebar setelah Arjuna memasang kalung berlian yang sangat indah itu, di leher calon istri nya itu.
sementara itu di kediaman Gavin dan Juni, wanita itu kini tengah sibuk bolak-balik kedalam kamar mandi karena Juni tengah kurang enak badan, dan wanita itu kini terus muntah-muntah hingga wajahnya terlihat pucat dan Juni terduduk lemas wanita itu hanya sendirian di dalam kamar, wanita itu bahkan enggan untuk meminta bantuan kepada suaminya yang kini tengah berada di rumah istri tua nya.
Juni tidak ingin mengganggu ritual melepaskan rindu, diantara mereka setelah hampir satu bulan lebih Gavin, berbulan madu bersama dengan nya, sementara itu istrinya yang tengah mengandung dengan usia kandungan nya yang kini menginjak lima bulan itu, hanya tau bahwa Gavin tengah melakukan perjalanan bisnis keliling dunia, padahal bisnis berbulan madu dan berbuah madu.
Juni akhirnya menyerah setelah dirinya benar-benar tidak bisa lagi bergerak, dia menelpon dokter pribadi keluarga Jerry yang ada di kota itu.
Juni pun berbaring dan merebahkan diri di kasur setelah kembali dari dalam kamar mandi hingga dokter tiba, saat Juni hampir memejamkan mata nya.
"Selamat malam nona muda, apa? yang anda rasakan saat ini"ucap sang dokter yang langsung masuk bersama dengan wanita paruh baya yang tak lain adalah pelayan di rumah tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak enak badan, dan sedari tadi muntah-muntah terus, tapi aku tidak mau masuk rumah sakit, aku mau dirumah saja"ucap Juni.
"Baiklah saya akan memeriksa kondisi anda terlebih dahulu"ucap dokter itu.
Dokter pun bergegas memeriksa kondisi Juni saat ini tapi tidak ditemukan gejala penyakit apapun, dan kemudian dokter pun bertanya, kapan terakhir kali anda mendapatkan tamu bulanan"tanya sang dokter sambil menatap kearah Juni.
"Sudah hampir tiga bulan yang lalu dokter, karena memang jadwal nya kadang tidak menentu"jawab Juni.
"Saya tidak bisa memastikan secara jelas, tapi sebaiknya anda datang ke dokter spesialis kandungan, untuk lebih jelasnya, karena yang saya lihat dari gejalanya anda sedang mengandung"ucap sang dokter.
"Benarkah"ucap Juni.
"Benar, nona muda"ucap sang dokter sambil tersenyum.
"Tapi saya sudah mengecek nya, sendiri saya tidak sedang hamil"bohong Juni langsung memberikan lampiran yang sudah sangat lama dia siapkan, untuk mengelabuhi semuanya, dia sadar semua itu sedari awal kehamilan, wanita itu hanya sedang menyembunyikan itu dari semua nya yang tampak nya, tidak ada satupun yang tau, dan semua itu berkat bantuan Edgar, yang menarik mundur orang-orang di sekitar nya, karena Juni mengancam akan bunuh diri.
sementara itu kehamilan nya yang sudah menginjak tiga bulan tersebut bahkan lebih, dan kali ini jika pun Gavin tau, wanita itu dia akan tetap merahasiakan semua nya dari Gavin.
wanita itu tidak ingin, kedua anak nya dijadikan penerus, keluarga mafia, Juni ingin keturunan nya, hidup normal seperti orang lainnya tapi sepertinya untuk mencapai semua itu membutuhkan waktu yang lama dan sangat beresiko.
Juni pun meminum vitamin khusus untuk ibu hamil yang dia sembunyikan di bawah tempat tidurnya.
setelah selesai dan sedikit lebih baik dia pun langsung memejamkan mata, hingga pagi tiba dia terusik dengan sebuah kecupan manis dari seseorang yang sangat ia kenal.
"Aku masih ngantuk tolong jangan ganggu"ucap Juni.
"Tapi ini sudah pagi sayang ayo bangun"ucap Gavin.
"Kak, aku lelah dan begitu sakit' seluruh tubuh ku terasa lemas"ucap Juni
"Ayolah Sayang, aku ingin sarapan bersama dengan mu, sebelum masuk kantor"ucap Gavin.
"Kak, aku mohon, aku sedang tidak ingin kemana-mana"ucap Juni.
"Tapi aku hanya ingin kamu temani sarapan sayang setelah itu kamu boleh bobo lagi"ucap Gavin.
"Ya baiklah-baiklah"ucap Juni sambil menahan rasa mual yang datang setiap pagi Beberapa hari ini.
wanita itu pun masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan air, hingga menghidupkan kedap suara muntahan di dalam sana.
Juni sudah keluar dengan wajah sedikit pucat dan bahkan terlihat lemas tapi saat Gavin hendak bertanya, wanita itu langsung seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Juni langsung bergelayut manja di lengan Gavin, yang untuk menutupi semua nya sampai mereka tiba di meja makan Gavin membantu Juni duduk di kursi depan meja makan.
wanita itu tampak tergoda dengan semua menu yang terhidang di meja makan tersebut.
"Makan lah yang banyak agar kedua anak kita jauh lebih sehat"ucap Gavin.
sontak wanita itu tersedak dengan Saliva nya sendiri.
"Apa? maksud mu"ujar Juni pura-pura tidak tahu .
Gavin pun mendekat dan memeluk istrinya lalu memberikan hasil pemeriksaan yang Juni sembunyikan.
"Aku anggap ini adalah terakhir kalinya kamu berbohong sayang"ucap Gavin.
"Bohong bagaimana kak, aku tidak pernah menyembunyikan apapun dari mu, aku bahkan tidak tau tentang semua hal yang terjadi saat ini"ucap Juni.
__ADS_1
"Sayang, aku tau kamu ketakutan tapi tidak seharusnya kamu melakukan ini, yang mungkin akan memancing emosi dan dia bisa berbuat nekad,jadi jangan coba-coba membuat kakek murka karena aku sendiripun tidak akan mampu untuk melindungi mu"ucap Gavin.