
Juni hanya mematung di tempatnya, saat pria itu berbicara sedikit keras pada nya.
sampai Juni tersadar beberapa detik kemudian dia baru merespon kata-kata dari Gavin Anderson, pria tampan yang selama ini menjadi tempat nya untuk berkeluh kesah.
wanita itu kemudian menatap wajah pria tampan itu.
"Apa? hak mu melarang ku, untuk tidak berhubungan dengan pria itu kak, aku punya hak untuk memutuskan dengan siapa? aku harus dekat, karena selama ini nyatanya diantara kita tidak punya hubungan apapun, tidak ada hubungan yang benar-benar serius kau hanya menganggap ku, sebagai teman, atau hanya sebatas rasa kasihan saat melihat wanita seperti ku, tidak ada ikatan yang mengharuskan aku harus patuh pada mu"ucap Juni tegas.
"Jadi kamu anggap apa? hubungan kita selama ini"ucap Gavin.
"Tidak ada ka, karena nyatanya disaat aku butuh kamu pun, kamu tidak bisa untuk terus ada di samping ku, karena kamu punya prioritas dan itu bukan lah aku"ucap Juni.
"Juni jangan keterlaluan kamu, aku selalu serius selama ini dengan mu aku bahkan mengikuti semua keinginan mu Juni, aku bahkan selalu datang disaat kau butuh teman untuk bicara dan aku bahkan rela meninggalkan dia sendirian di saat dia sakit"ucap Gavin.
"Ya kamu memang datang saat itu tapi tidak lama karena alasan istri mu yang sedang sakit, kak dan aku bisa memaklumi semua itu, aku memaklumi semua nya, dan aku sadar bahwa aku hanya teman disaat kamu butuh untuk berkeluh kesah, dan apa yang kamu sebut sudah memberikan semua untuk ku, apa?? aku pernah meminta materi atau yang lainnya, tidak pernah kak, yang aku minta hanya waktu mu, disaat aku benar-benar membutuhkan mu, dan aku sadar saat kau hadir memenuhi itu, aku tau kamu sedang memikirkan dia, jadi aku sudah tegaskan sebaiknya kita akhiri hubungan tidak jelas ini, karena aku tidak pernah ada di sini"ucap Juni sambil menunjuk dada sebelah kiri Gavin.
"Kau salah Juni, justru karena kamu ada di sini itulah yang selalu membuat ku gelisah,aku bahkan bingung harus memilih yang mana satu diantara kalian berdua,aku benar-benar dibuat bingung kamu ngerti gak sih" ucap Gavin.
"Aku tidak pernah meminta kamu memilih kak, aku bahkan tidak pernah mengatur kamu harus selalu ada untuk ku, aku hanya minta sesekali di saat aku benar-benar butuh seseorang yang sangat aku percaya, tapi nyatanya aku hanya beban bagi mu, jadi sebaiknya kita akhiri semua nya"ucap Juni tegas.
"Kita akhiri semua nya"ucap Gavin, menirukan kata-kata Juni, tapi setelah itu dia kembali ke mode tegasnya.
"Hubungan ini bukan hubungan biasa Juni, kita, tidak akan pernah bisa terpisahkan titik"ucap Gavin, tegas.
"Terserah, aku sudah cape aku lelah sekarang terserah kakak mau bagaimana yang jelas aku sudah memutuskan untuk tetap sendiri"ucap Juni yang langsung membuat Gavin kecewa pria itu langsung menarik Juni kedalam dekapannya nya, pelukan nya sangat erat dan bahkan seolah dia ingin meremukkan tulang Juni tapi wanita itu tidak bergeming atau pun menjauh tapi Juni, malah memeluk erat pria itu tidak peduli dengan tatapan yang pria itu berikan saat ini, Juni mungkin mengatakan semua itu karena dia sedang sangat marah pada Gavin, pria itu kembali tersenyum karena kelembutan yang Juni tunjukkan.
"Pulang lah, aku tau istri mu sedang sakit"ucap Juni lembut.
"Maaf kan aku yang belum bisa memperjelas hubungan antara kita"ucap Gavin.
"Tidak memang sudah seharusnya seperti ini, jadi tidak akan ada yang terluka"ujar Juni.
"Aku mencintaimu"ucap Gavin.
"Tidak itu hanya untuk dia"ucap Juni.
"Terserah kamu saja, ayo bersiap bukan nya kamu ada kuliah"ujar Gavin.
"Tidak aku hanya ingin istirahat rasanya sungguh sangat lelah setelah dua hari berada di rumah sakit"ucap Juni.
"Kamu sakit, tapi kenapa? tidak pernah mengabari ku"ucap Gavin.
"Aku rasa itu tidak penting untuk mu"ucap Juni, sambil berjalan menuju kamar nya.
"Juni, kenapa? kamu bisa menyimpulkan seperti itu"ucap pria itu terlihat marah, dia meraih tangan Juni.
"Kurasa kita, sudah tidak ada hubungan apapun lagi, setelah waktu itu, jadi apapun tentang ku sudah tidak penting lagi bagimu"ucap Juni.
__ADS_1
"Kau salah Juni, ada atau tidak nya hubungan antara kita aku akan tetap peduli padamu"ujar Gavin.
"Ya aku tahu kepedulian mu, sebagai orang asing, dan aku tidak butuh itu"ucap Juni, sudah dulu ya kak, aku benar-benar lelah"ucap Juni yang langsung masuk kedalam kamar mandi tidak menghiraukan bahwa masih ada Gavin, di sana.
Juli mandi tanpa berendam dan hanya sepuluh menit dia sudah berada di dalam kamar dengan bathrobe, dan handuk yang melilit di kepala, tanpa melihat ke belakang dia langsung melepas handuk yang ada di kepala nya,lalu mengeringkan rambut nya.
hingga rambut nya kering sempurna, akhirnya wanita itu pun memakai pelembab wajah dan tubuh, setelah itu dia masuk ke dalam walk in closed untuk mengunakan pakaian dalam.
Juni selesai menggunakan kimono tidur nya dia keluar dari walk in closed dan langsung berjalan menuju ranjang nya dan membaringkan tubuhnya di balik selimut tebal tersebut, sementara Gavin hanya duduk menatap Juni, yang bahkan tidak peduli dengan keberadaan nya.
"Apa setiap kamu tidur selalu seperti ini"ucap nya lirih tapi tidak ada jawaban dengkuran halus itu, terdengar dia berjalan menghampiri Juni lalu mengelus puncak kepala gadis itu.
"Aku pulang dulu karena masih ada pekerjaan, nanti setelah santai aku kembali"ucap nya, yang langsung pergi begitu saja.
Juni yang sudah ada di alam mimpi nya saat ini dia tidak perduli dengan pria yang telah pergi meninggalkan nya.
sementara itu di tempat lain, Arjuna sedang bingung karena saat datang ke panti asuhan, tiba-tiba saja ada seseorang yang mirip dengan nya bagaikan pinang dibelah dua, dia bernama Arkan , pria itu memanggil Arjuna sebagai adik nya, dan ibunya pria itu langsung pingsan di tempat saat melihat Arjuna.
"Arjuna"panggil Jane, saat melihat putranya melamun.
"Mom..."jawab nya lirih.
"Ada apa? sayang Mommy, kenapa? kamu bisa melamun seperti itu"ucap Jane.
"Mom... apa? aku diadopsi dari sebuah panti"ucap Arjuna, ragu-ragu tiba-tiba Jane mematung dan tangis nya pun pecah, Arjuna langsung memeluk Jane, seketika itu juga.
"Hey... Mommy, maafkan Arjuna, jika Juna, membuat Mommy, terluka dan bersedih Arjuna hanya sedang bingung, tapi Mommy tidak usah jawab juga tidak apa-apa ko"ucap Arjuna yang masih memeluk Jane yang tengah terisak.
setelah Jane tenang dia pun menceritakan semua nya tanpa ada yang di tutupi, karena menurut nya sudah saatnya dia tau yang sebenarnya.
Arjuna pun menyimak dengan baik jika saja, dia tidak diadopsi oleh Jane mungkin hidupnya tidak akan sebaik saat ini, dan dia juga tidak tau nasibnya akan seperti apa? tapi dia sangat bersyukur dan Arjuna, sangat berterima kasih kepada Jane dan seluruh keluarga.
"Sayang Mommy, sudah memberitahukan semua terhadap kamu nak, Mommy, tetap akan menyaingi mu sebagai putra Mommy, satu-satunya meskipun kamu memilih untuk tinggal bersama dengan mereka"ucap Arjuna.
"Mommy thank you for everything,I love you Mommy, mommy tenang saja Arjuna, akan tetap bersama dengan Mommy, meskipun mereka adalah keluarga kandung Juna, Juna akan menghargai mereka sebagai keluarga Juna, dan sama-sama akan menyaingi mereka, tapi bagi Juna Mommy, adalah prioritas Juna sampai kapan pun"ucap Arjuna.
lagi-lagi Jane menangis sesenggukan di pelukan Arjuna, dia tidak menyangka bahwa putranya akan memilih nya untuk tetap menjadi Mommy, nya seumur hidup nya.
mereka pun akhirnya mengadakan pertemuan keluarga, Arjuna dengan ramah menyambut wanita yang telah melahirkan nya, meskipun dia tidak pernah merawat dirinya, sejak dia lahir.
tapi kemudian wanita itu juga merelakan putra nya memilih untuk tinggal bersama dengan Jane, asalkan dia bahagia seperti saat ini wanita itu bahkan sangat berterimakasih pada Jane, dan seluruh keluarga, telah merawat putra nya yang hilang.
urusan Arjuna kelar, tapi di sisi lain, Vamela benar-benar dibuat sakit hati, saat melihat putra pertamanya sakit, Vio bahkan sudah berhari-hari terbaring di rumah sakit, karena merindukan Ghealova dan sangat menginginkan Ghealova untuk tetap bersama nya, selamanya, tapi Vamela tidak ingin memaksa menantunya itu untuk terus bersama dengan putra nya jika Ghealova tidak menginginkan itu.
"Vio sayang tolong ikhlas kan Ghealova nak, kasihan dia jika harus terus bertahan dalam rasa sakit nya, setidaknya kamu masih sangat muda dan masih bisa menikah dengan wanita lain, Mommy tidak akan menghalangi mu lagi jika kamu memang mencintai Eleanor, asalkan kamu mendapatkan nya dengan cara baik-baik"ucap Vamela.
"Tidak Mommy, aku hanya khilaf, dengan nya, yang aku cintai hanya Ghealova, dia istri Vio, yang paling setia dan sabar selama ini Vio, berulang kali menyakiti dia Mommy, Vio ingin menebus kesalahan Vio, dan Vio mohon Mommy bantu Vio jika tidak lebih baik Vio mati saja"ucap pria dewasa itu.
__ADS_1
"Memang nya, Abang pikir mati itu enak"celetuk Jay.
"Aku tau, itu tidak mudah, tapi setidaknya aku bisa melupakan dia"ucap Vio.
"Aku punya alat untuk menghilangkan ingatan, Abang mau coba? tapi aku tidak jamin jika Abang kehilangan semua ingatan Abang"ucap Jay.
"Jay"Tegur Vamela.
"Tapi Jay benar Mommy, kami sudah menciptakan alat itu"ucap Hay.
"Lakukanlah Jay kakak siap jika harus kehilangan seluruh ingatan kakak, tapi kakak mohon, bimbing kakak, jika suatu hari nanti kakak lupa dengan kalian semua"ucap Vio.
"Tidak lebih baik kamu tetap seperti ini dari pada kamu harus kehilangan ingatan mu"ucap Vamela tegas.
"Tapi aku menginginkan Ghealova kembali Mommy"ucap Vio.
"Sadar Vio jalan terbaik adalah melepaskan nya, kamu pilih dia atau putra mu Mommy kembalikan pada dia"ucap Vamela mengancam.
"Mom... jangan buat pilihan yang berat mereka berdua begitu berarti untuk ku"ucap Vio lirih.
"Kamu pikir Mommy, tidak berarti dengan pilihan yang kau buat sendiri, kamu pikir mudah menjadi Ghealova, dan satu lagi apa kamu pikir Mommy tidak sakit melihat kau terbaring lemah seperti ini heuuh, jangan egois Vio, jika memang kamu tidak bisa buat dia bahagia dan malah menyakiti nya, untuk apa? di pertahankan kasihan anak orang sayang apa? kamu tidak ingat dengan apa? yang terjadi pada Mommy mu dulu, dia itu wanita, sama seperti Mommy"ucap Vamela.
seketika Vio berbalik menatap Vamela.
"Mom...boleh aku tau apa? alasan Mommy, kembali pada Daddy"tanya nya.
"Takdir yang membuat kami tetap bersama Vio, coba kamu lepaskan relakan dia untuk pergi dari penjara cinta mu, ingat jika kalian benar-benar berjodoh, maka Tuhan akan mempersatukan mu kembali dengan nya"ucap Vamela memberikan jawaban.
"Baiklah Mommy, Vio akan menguatkan hati untuk bisa ikhlas, melepaskan Ghealova meskipun itu sangat sulit"ucap Vio.
"Ghealova, sayang maafkan aku, mulai saat ini aku mengikhlaskan kau pergi, semoga kamu bahagia"ucap nya lirih.
setelah Vio menandatangani surat perceraian tersebut Vamela menghubungi asisten pribadi Ghealova, dan dia pun terbang ke Indonesia, untuk mengambil surat cerai tersebut.
sementara Vio, mencoba menguatkan diri dia menghubungi Ghealova, yang saat ini baru mau mengangkat panggilan nya, setelah Vio menandatangani surat perceraian mereka.
📱" Ya mas" jawab Ghealova lirih.
📱" Kamu menang sayang, mas minta maaf untuk semuanya, sekarang mas ikhlas melepas mu, walaupun berat tapi sekuat hati mas mencoba untuk kuat, semoga kamu bertemu dengan bahagia mu, suatu saat nanti, kamu boleh membenci mas, tapi mas harap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali"ucap Vio lirih.
📱"kebahagiaan ku sudah terkubur sejak lama mas, saat kau mutuskan untuk bersama dengan nya,aku harap dia akan menjadi pilihan terakhir mu, dan semoga kalian selalu bahagia dengan buah hati kalian"ucap Ghealova, sambil menangis dalam diam meskipun Isak tangis yang ia tahan lolos juga dan begitu memilukan.
📱"Ghea sayang aku tidak pernah kembali padanya, aku membesarkan putra ku sendiri, dan tolong jangan menangis sayang maaf kan semua kesalahanku, tolong Ghea aku sakit mendengar mu menangis, aku mohon kembalilah kepada ku, saat ini juga jika kamu sudah bisa memaafkan ku, meskipun itu sulit"ucap Vio.
📱"Aku sudah memaafkan mu, mas tapi untuk kembali rasanya sangat sulit, kuharap mas segera mendapatkan pengganti ku secepatnya"ucap Ghealova.
📱"Kamu tidak akan pernah tergantikan sayang kamu akan tetap selamanya di hati ku"ucap vio.
__ADS_1
sambungan telepon pun terputus, Ghealova, dengan Vio sama-sama menangis sambil memeluk ponsel mereka, dan terduduk di lantai bersandar di pintu dan samping ranjang.
Seberapa kuat pun Vio mencoba mempertahankan hubungan mereka, tidak akan pernah bisa terus bersama karena Vio, selalu terjebak di dalam jurang yang sama, andaikan saja dulu Vio, lebih awal menyadari kesalahannya mungkin Ghealova tidak akan pernah terluka terlalu dalam seperti saat ini