Jerat Cinta Sang Duda Tampan

Jerat Cinta Sang Duda Tampan
#Keputusan Jane#


__ADS_3

Saat Jane, dan Juli keluar dari kelas untuk kembali pulang ke rumah, tiba-tiba Edgar menghadang nya di tengah jalan yang sudah hampir sampai di rumah nya.


"Honey, kita harus bicara please "ucap Edgar.


"Sudah lah Ed...di antara kita sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan"ucap Juli tegas.


"Sayang kamu itu adalah istri sah ku, hingga saat ini dan itu artinya kita masih suami istri"ucap Edgar.


"Kamu keliru, Ed, bukan kah agama mu telah mengajarkan hukum dari sebuah pernikahan, jika istri dan suami berpisah lama dan tidak mencukupi kewajiban nya sebagai suami atau pun sebaliknya itu sudah bisa dikatakan resmi berpisah, apa??... aku salah"ucap Juli.


"Sayang, aku tak pernah bisa menemukan mu, bagaimana bisa, aku memberikan mu nafkah lahir batin, sedang kamu menghilang tanpa jejak, apa aku salah karena aku juga selama ini selalu mengisi saldo rekening Bank milik mu tapi baru-baru ini Aku tahu kamu meninggalkan semua itu"ujar Edgar.


"Heeuh... sungguh alasan yang klise, aku tidak ingin mendengar nya lagi, bagiku saat ini di antara kita sudah tidak ada hubungan lagi"ucap Juli, yang kini melanjutkan langkahnya.


"Sayang aku mohon tunggu, kita belum selesai bicara"ucap Edgar, yang kini merangkul pinggang Juli dari belakang.


"Mas... lepas aku tidak ingin orang lain mengira aku wanita nakal yang bisa sembarang orang pegang"ucap Juli.


"Baiklah, kalau begitu kita bicarakan semua di mobil"ucap Edgar, sambil menunjuk ke arah mobil.


"hanya satu jam gak lebih, dan itu di rumah kami"ucap Juli.


"Ok"ucap Edgar, tanpa berpikir panjang, dia hanya ingin bicara dengan Juli, setelah itu dia akan mencari alasan lain, untuk terus bersama dengan Juli nanti.


Edgar langsung masuk ke dalam mobilnya lalu menghampiri mereka dengan mobilnya, sementara Jane yang sudah mengantuk Gadis kecil itu tertidur pulas di pelukan sang bunda.


Edgar langsung membawa mereka berdua untuk mengajak masuk kedalam mobil dan Juli tidak menolak sampai saat ini karena dia tidak ingin ribut, sungguh dia sudah sangat lelah untuk itu .


Sesampainya di dalam rumah, Juli membuka kan pintu untuk Edgar, saat ini dia bahkan langsung masuk ke dalam menuju kamar, untuk membaringkan putri nya.


Edgar, langsung duduk di sofa yang terlihat sudah usang meski masih empuk, hanya warna nya saja yang pudar dimakan waktu.


Juli, sudah keluar dari dalam kamar dia langsung pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk Edgar.


Setelah beberapa menit dia kembali, sambil membawa satu gelas air putih di atas nampan.


"Maaf hanya ini yang aku punya"ucap Juli.

__ADS_1


"Tidak apa-apa yang penting kamu masih ingat dengan suamimu"ucap Edgar.


sementara Juli, hanya menggeleng kan kepala tak kuasa menahan air mata nya.


Juli memalingkan wajahnya pura-pura tidak mendengar perkataan Edgar.


"Duduk lah honey kita bicara"ucap Edgar.


"Mas sebaiknya pulang"ucap Juli.


"Kenapa?... kita bukan nya harus bicara bukan"ucap Edgar.


"Tidak ada yang harus kita"


"Banyak sayang, kita harus bicara saat ini juga, kenapa??... kamu harus pergi dari ku kenapa?... kamu tega meninggalkan ku apa kesalahan yang sudah kulakukan pada mu, dan kau harus menjelaskan semua, setelah itu kamu harus ikut pulang dengan ku"ucap Edgar, memotong perkataan Juli, Edgar tidak terima Juli berbicara seakan tak ada jawaban dari semua masalah.


"Mas, sudah lah aku tidak ingin membahas semua itu, karena percuma ujungnya kembali lagi kau akan menyalakan aku,atas semua itu"ucap Juli tegas.


"Honey, aku tidak bisa membiarkan mu hidup seperti ini berdua dalam keadaan sulit, sekalipun kenyataan pahit ini harus ku terima aku tidak rela melihat keturunan ku hidup menderita dan kamu adalah istri ku, aku bekerja siang dan malam hanya untuk kalian, kalian lah tujuan ku"ucap Edgar berapi-api.


"Tidak mas, bukan hanya aku dan anak-anak, kamu juga punya dia, dan aku sudah melakukan hal yang tepat dengan jalan hidup yang kupilih saat ini, kamu sudah punya penerus Jerry dan Jordan jenny tolong biarkan aku hidup dengan tenang bersama putri kecil ku"ucap Juli.


"Aku sengaja meninggalkan mereka demi kebaikan mereka, aku tidak ingin mereka hidup dalam kekurangan seperti dulu, sudah cukup hanya Jane yang akan terus bertahan di sisi ku, tapi jika kamu tidak sanggup merawat mereka, kirim mereka bertiga kesini, aku masih mampu untuk memberikan mereka makan dan menyekolahkan mereka meski di sekolah sederhana seperti Jane saat ini"ucap Juli.


"Tidak aku tidak rela jika kamu membiarkan mereka, ikut merasakan kehidupan disini,Jane juga harus tau dimana keluarga yang sesungguhnya, dia berhak bahagia"ucap Edgar.


"Ya... kamu benar mas, aku egois, aku terlalu mementingkan perasaan ku, hingga aku lupa dengan kebahagiaan putra-putri ku, tapi apa??... kamu pernah bertanya pada diri mu sendiri, dari mana semua itu berasal, kamu boleh membawa Jane jika dia mau aku tidak ingin dia menderita lagi jika terus hidup dengan ibu yang bahkan tidak becus menjaga satu anak saja, aku tidak bisa membahagiakan dia dengan materi, aku hanya ibu yang tidak memiliki apapun dan tidak ber"ucapan Juli langsung terpotong saat suara tangis Jane, terdengar nyaring.


"Sayang, kamu kenapa??.."ujar Juli yang langsung bergegas menuju kamar nya.


Edgar pun mengikuti Juli, saat ini dari belakang.


"Sayang ada apa??..."ucap Juli.


"Mommy, aku tidak mau ikut Daddy, aku tidak mau mommy sendirian di dunia ini, aku tidak apa-apa tidak memiliki Daddy, seperti mereka asal mommy tetap bersama dengan ku, aku sayang mommy, aku tidak ingin hidup banyak uang jika mommy tidak bersama dengan ku"ucap Jane, rupanya Jane mendengar obrolan mereka.


Deg....

__ADS_1


Sakit rasanya hati Edgar, dia benar-benar tidak di harapkan oleh putri bungsu nya itu, meski Edgar,sadar itu adalah kesalahan nya, tapi apa??... dia bisa terima semua kejujuran hati dari seorang anak kecil yang bahkan baru berusia tiga tahun, yang kini telah memiliki pikiran yang belum seharusnya ia miliki, tapi kembali lagi semua karena keadaan yang memaksa nya untuk berpikir seperti orang dewasa.


Edgar pun berlutut di hadapan Jane, dia mensejajarkan tinggi mereka.


'Honey Daddy tau Daddy begitu bersalah karena selama ini tidak bisa menemukan mu dan memberikan kasih sayang seperti layaknya seorang anak butuhkan, tapi semua itu bukan kesengajaan nak seandainya Daddy, Daddy tau dari awal, Daddy takan membiarkan kamu dan mommy mu hidup dalam kondisi seperti saat ini, sayang Daddy begitu mencintai mommy dan semua anak Daddy, Daddy sangat mencintaimu, hanya saja keadaan yang memaksa kita harus hidup terpisah, Daddy tidak menyalakan mommy mu, semua atas kesalahan Daddy, tapi apa??.. kalian tidak ingin memaafkan Daddy, pria berengsek ini"ucap Edgar lembut, sambil mengelus putri nya itu.


Juli yang tak kuasa melihat semua itu, dia langsung pergi ke arah teras belakang rumah dia menangis dalam diam ingin rasanya ia menjerit, jika saja semua itu tidak akan membuat Jane, merasa tersakiti saat ini, Juli terduduk lemas di lantai air mata nya mengalir deras wajah nya tertunduk di atas lutut, Juli sadar semua ini karena keegoisan nya, tapi apakah salah jika dia ingin meliindungi hati nya yang sudah terluka dalam seperti saat ini.


Edgar, menyusul nya sambil menggendong putri bungsu nya itu di dalam dekapan nya.


Edgar langsung memeluk Juli yang masih terduduk di lantai tubuhnya bergetar hebat karena saat ini dia tengah menangis Edgar, mendarat kan ciuman di kepala Juli," Sayang aku mohon kembali lah"ucap Edgar lirih, tapi Juli menggeleng.


🌹💖💖💖🌹


kini sudah hampir tiga puluh menit Juli terdiam di tempat, dan Edgar yang kini berada di samping nya, masih memeluk nya menyalurkan kerinduan, meski sesekali Juli mencoba melepaskan diri dari Edgar, tapi Juli sedikit menahan diri karena Jane juga masih dalam dekapan Edgar.


Jane turun dari pangkuan Edgar, dia memberikan ruang bagi kedua orang dewasa itu tapi bukan nya mereka bicara baik-baik Juli malah bangkit dan berjalan ke arah kamar dia membuka lemari mengambil empat buah kalung dengan ukuran sama berliontin kan pecah berbentuk matahari dan jika disatukan akan berbentuk matahari Juli bekerja keras untuk bisa memesan itu selama dua tahun terakhir dia ingin keempat anak nya menggunakan itu semua dia juga membawa dua buah boneka kesukaan kedua putrinya itu keluar dari kamar.


"Aku titip ini untuk mereka semua jika kelak aku sudah tidak ada,di dunia ini tolong bahagiakan mereka, bilang pada mereka aku sangat mencintai mereka, kamu boleh membawa Jane pergi bersama dengan mu, sudah cukup selama ini ia hidup menderita bersama dengan ku disini"ucap Juli yang menyimpan semua itu di atas meja di hadapan Edgar.


pria itu menatap lekat wajah Juli yang kini menunduk derai air mata mengalir deras dari pelupuk mata Edgar, wanita yang sangat ia cintai saat ini benar-benar tidak ingin kembali untuk hidup bersama dengan nya.


"honey, aku tidak ingin semua ini, aku ingin kamu dan anak kita hidup bersama dengan ku, aku mohon kembali, jika tidak aku sudah tidak ingin hidup lagi, lebih baik aku mati dari pada harus menjalani hukum ini apa ??... selama ini aku terlalu menyakiti mu honey, Maaf kan aku jika aku sudah membuat mu terluka dalam, maafkan aku jika semuanya sudah membuat mu sakit hati, aku memang egois karena mencintai kalian berdua, tapi aku tidak bisa mengambil keputusan, saat ini karena Angela, sedang sekarat, dia juga membutuhkan ku, dia selalu meminta ku untuk mencari kalian berdua, dia ingin meminta maaf kepada mu"ucap Edgar .


tapi Juli tidak merespon dia mengambil mantel dan tas nya lalu "Aku akan pergi bekerja, dan setelah aku tidak ada kamu bisa membawa nya pergi bersama mu"ujar Juli yang langsung berlari pergi dengan derai air mata nya.


dia tidak sanggup jika harus melihat putri nya pergi, meninggalkan nya tapi dia juga tidak sanggup lagi melihat putri nya hidup dengan banyak kekurangan jika terus bersama dengan nya.


"Maaf kan mommy mu ini Jane, mommy hanya tidak ingin kamu menderita lagi dan kesepian, jika terus bersama dengan mommy"Gumam nya lirih, Juli terus berjalan tanpa menoleh ke arah Edgar yang kini menatap kepergian nya dari halaman rumah nya.


tepat pukul satu malam Juli kembali ke rumah nya, dia masuk ke dalam lalu mengunci pintu dia melihat sekeliling rumah nya begitu sepi meski lampu sudah menyala karena nyonya Morin, selalu menyalakan lampu ketika Juli belum pulang saat malam tiba dari saklar lampu yang ada di luar.


Juli terduduk lemas di lantai lutut nya yang kini menjadi penopang kepalanya yang tertunduk ia benar-benar menangis pilu saat ini dia sudah kembali hidup sebatang kara, Juli memeluk erat lutut nya saat ini jika bunuh diri tidak akan mendapatkan pengampunan dosa, maka saat ini juga Juli akan melakukan nya, hingga air mata nya mengering Juli baru merebahkan tubuh nya di atas ranjang .


kini tidak ada lagi gadis kecil yang selalu ia rindukan saat dirinya bekerja, tidak ada lagi tangis, saat gadis itu merengek meminta seorang Daddy, tidak ada lagi tawa disaat dia mereka tengah bermain petak umpet, tidak ada lagi Gadis kecil yang selalu memakai make up miliknya secara diam-diam disaat dia sibuk membersihkan rumah, Jane kecil telah pergi bersama dengan ayah nya, sosok ayah yang selama ini ia dambakan, semua menghilang, semua nya sudah hilang yang tersisa saat ini hanya tinggal gambaran kenangan di setiap sudut ruangan, Juli pun sudah tak melihat apa pun di sekitar nya.


saat pagi menjelang, Juli enggan membuka mata, dia berharap putri nya, masih ada bersama dengan nya, perlahan dia meraba, kasur tepat di samping nya itu berharap putri nya benar-benar masih ada tapi semua hanya harapan.

__ADS_1


dia semakin memejamkan mata nya Air mata itu tumpah ruah"Jane mommy tidak kuat, lebih baik mommy mati saja"ujarnya lirih.


Juli, bangun dari tidur nya dia duduk di tepi ranjang dia membuka laci kecil dari bagian nakas, dia mengambil sebuah botol bening berukuran kecil berisi butiran kecil obat yang selama ini mampu membuat nya tidur dengan nyenyak tanpa harus mengingat kepedihan karena harus meninggalkan ketiga anak nya, Juli mengeluarkan semua nya di atas telapak tangan nya,dan langsung meminum seluruh nya, bayang-bayang kehidupan nya selama ini melintas di otak nya dari mulai masa kecil dirinya yang diliputi kebahagiaan hingga penderitaan nya selama hidup yang kini ia jalani, hingga dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2