
Udara malam ini begitu sejuk, langit begitu cerah di sinari bintang_bintang malam, namun suasana tak seindah langit.
Suasana malam ini begitu sunyi. Aku terbangung dari tempat tidur, tiga malam terakhir aku berada dalam kegelisahaan, mata selalu terpejam, bayangan mama selalu menghalangi tidurku. Jarum jam menunjukkan pukul 00.15 Wita. Tidak seperti biasanya aku tidur sendiri, mama yang selalu memelukku di sepanjang malam, mama yang selalu memberikan kehangatan di sepanjang dingin, namun sekarang hanya menjadi khayalan.
Sebuah buku harian tak terlihat jelas, pandanganku di kaburkan air mata. Ku rangkai beberapa kata hingga menjadi sebuah kalimat sebagai pelampiasan rindu.
*Mah aku tidak bisa terus_terusan seperti ini, aku kangen mama aku tidak bisa tidur tanpa mama di sampingku. Mah aku ingin pulang, aku tidak mau melanjutkan pengurusan berkas_berkasku, tanpa kuliah aku bisa hidup, aku bisa dapat uang, aku bisa belajar di rumah bersama mama.
Hanya air mata yang menemani malamku sedang air mataku tinggal sedikit, setiap malam aku mengeluarkannya, aku tidak bisa menahannnya dan aku membiarkannya saja keluar agar aku bisa tenang sedikit. Aku khawatir entah siapa yang akan menemani malamku nanty di saat air mataku telah habis. Mah..................., Aku mau pulang*.
Sejam berlalu, wajahku di aliri gumpalan air mata. Aku belum bisa mengikuti jejak kak Rifal dan kak Reza. Mereka kakak kandungku. Tak salah kalau dulu teman_temanku di sekolah selalu memanggilku anak manja.
Untuk malam ini aku tidak pengen tidur, aku mau pulang kerumah.
Aku tinggalkan berkasku di sini. Aku segera membereskan pakaianku untuk pulang. Setelah semua beres. Tepat pukul 01. 20 Wita aku memulai melangkahkan kakiku untuk keluar, aku membuka pintu kamarku dengan hati_hati karena aku takut ada orang yang mendengarku. Aku pamit dengan kakakku melalui surat yang telah aku tulis dan lalu k letakkan di meja TV.
Aku mulai membunyikan motorku saat aku keluar dari lorong rumah kakaku. Aku mengendari motorku dengan penuh rasa cemas, tetapi aku tidak pernah lepas dari doa_doa di sepanjang jalanku.
Kurang lebih 2 jam aku mengendarai motor dari kota ke desaku. Akhirnya aku tiba di depan rumahku, aku tidak sabar untuk memeluk mama. Aku melihat lampu kamar mama menyalah itu tandanya kalau mama sudah bangun dan mungkin mama sekarang lagi sholat Tahajjud. Aku mengetuk pintu seraya memanggilnya, dengan suara tangisku,
mama.. Aku pulaaaaang........
Teriakanku membuat papa terbangun dari tidurnya, sementara mama masih sholat, mama terkejut dengan teriakanku sehingga segera menghentikan sholatnya. Papa yang lebih duluan keluar daripada mam, muka papku saat itu kelihatan sangat marah padaku.
“ pah, di mana mama...? tanyaku padanya, namun tak memberikan jawaban padaku.
Aku masih berdiri di depan papa yang lagi kesal dengan kedatangannku, dan bayangan mama langsung muncul di balik gorden dengan mukenah dan sarungnya yang belum ia lepaskan. Aku segera berlari masuk dengan suara tangisku dan langsung memeluknya..
“Mah.... Maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkan pengurusan berkasku, aku tidak bisa jauh dari mam” Seruanku terhadap mama saat aku memeluknya. Namun mama tak pernah mengeluarkan sepatah kata. Aku merasakan kalau apa yang aku rasakan selama ini sama seperti apa yang di rasakan mama. Aku tahu mama juga tidak bisa jauh dari anak bungsunya.
.
.
.
__ADS_1
Suasana subuh itu penuh tangisan, aku belum melepaskan pelukanku dari mam. Mama mengusap_ngusap kepalaku dengan perlahan, sementara papa sudah kembali ke kamarnya. Selang beberapa menit kemudian, mama mengajakku masuk kamar. Di dalam kamar, mama memberiku selimut yang selalu aku pakai ketika aku di rumah, aku sempat berfikir kenapa mama mengambil selimut ini dari lemari padahal dulunya mama selalu menyimpannya di atas kasur. Mama sengaja menyimpan selimut itu dalam lemari karena mama juga selalu menangis di sepanjang malam ketika melihat barang-barang yang selalu aku kenakan.
Aku berbaring diatas kasur dengan penuh kebahagiaan. Mama yang baru datang dari luar kamar entah apa yang dia kerjakan selama beberapa menit yang lalu. Mama menciumku dan berkata “asal kamu tahu nak, aku seperti orang hidup sebatang karang tanpa kamu di hari_hari mama, hampir setiap hari aku menangis ketika melihat pakaianmu, selimut ini sengaja aku simpan di dalam lemari karena ini yang selalu memancing air mataku”.
Mendengar curhatan mama membuatku semakin tidak bisa jauh darinya, Aku kembali menangis di selah_selah waktu subuh.
Tak lama kemudian adzan subuh dikumandamkan di mesjid. Mamabangkit dari tempat tidur menuju tempat wudhu, setelah itu ibu sholat. Sementara aku baru saja bangkit untuk mengambil air wudhu, namun aku harus menunggu papa selesai wudhu. Papa lewat begitu saja di hadapanku tanpa sepatah kata yang dia keluarkan dari mulutnya, sepertinya papa masih marah sama aku. Aku mengambil air wudhu lalu aku sholat.
.
.
.
Suasana pagi hari itu sangat sejuk, dedaunan di halaman rumah masih terlihat basah, embun di pagi hari membuat halaman rumahku terlihat adem . Teh hangat dan kopi serta kue buatan mama sudah siap dicerna. Mama dan papa sedang duduk di ruang tengah, mereka sedang menikmati air panasnya. Sementara aku masih di tempat tidur, aku mengintip mereka akan apa yang mereka bicarakan. Beberapa menit kemudian kesunyian diantara mereka hilang, papa membuka pembicaraan. Sebelumya aku tak menyangka bahwa papa akan berbicara seperti itu.
Lagi_lagi papa memunculkan keinginannya yang membuatku sedih, papa ingin segera menikahkanku dengan seorang calon Magister mudah yang sementara itu menempuh S2nya di Australia yang tak lain keponakan papa sendiri. Jujur saja keluarga papa rata_rata memiliki pendidikan yang tinggi, juga termasuk kakakku lulusan S2nya di Korea, tetapi aku tidak mengerti dengan pikiran papa yang ingin menjodohkanku sejak aku tamat SMP, tetapi kakak tertuaku menolaknya karena aku masih terlalu mudah dan kakakku juga tidak mau kalau adik perempuan satu_satunya menikah dengan orang orang berpendidikan tinggi dibanding aku.
Terus terang aku menolak itu, mama sama s’kali tak memberi respon terhadap keinginan papa. Mama pengen setelah aku mencapai S1 ku, tapi bagaimana aku bisa mencapainya sedang aku tidak bisa jauh darinya...
“ pah, aku minta maaf karena sampai saat ini aku masih bandel, aku masih manja. “ Aku membuka pembicaraan di tengah kesunyian.
Kamu dan mamamu tak ada bedanya, sama_sama manja. Jawab papa yang sepertinya masih kesal.
Ini semua karena mama kamu yang setiap hari menangis, itu kan akan berdampak ke kamu. Namanya juga kontak batin antara ibu dan anak. Tambah papa dengan intonasi suara yang masih kesal.
Aku mau kamu jawab pertanyaanku ini. Tambahnya lagi, sekali papa bicara tak pake spasi. Aku dan mama hanya diam.
Kamu mau lanjut kuliah atau kamu menikah saja.?
Pah, aku tidak mau menikah cepat, aku mau melanjutkan kuliahku, walau aku harus jauh dari mama, aku mencoba untuk hidup mandiri. Jawabku rela.
Lalu bagaimana dengan mama kamu yang tidak bisa jauh darimu.
Aku bisa kan pah pulang tiap minggu untuk ketemu mama. Jawabku seraya membujuknya.
__ADS_1
Itupun kalau mama bisa bertahan, baru 3 hari saja kamu di sana, dia sudah menangis tiap hari lebih_lebih satu minggu. Tambah papa tidak percaya.
Mah, aku bisa kan tinggal satu minggu di kota lalu aku kembali. Mah ini demi masa depanku, aku tidak mau terus_terusan jadi anak manja. Aku mau hidup mandiri.
Mama masih saja diam mendengar bujukanku, mama sepertinya tidak rela jika aku tidak ada dalam hari_harinya. Rasa khawatir mama terlalu tinggi, itulah yang membuat aku selalu teringat dengan mama karena dia juga tidak bisa lepas dariku.
Berkali_kali aku membujuk mama hingga akhirnya setuju. Lagi_lagi aku menangis mendengar persetujuan mama sambil aku memeluknya. Papa menghela nafas melihat sikap manjaku terhadap mama.
.
.
.
Sudah dua hari aku di rumah. Besok adalah hari kesedihan dimana aku harus pergi melanjutkan pengurusan berkasku yang sempat aku hentikan beberapa hari yang lalu.
Malam ini kembali aku membereskan pakaianku untuk aku pakai selama aku di sana. Sementara mama membuatkanku bekal sebagai oleh_oleh untuk kakakku, dan papa sama s’kali tidak memiliki kesibukan, papa hanya duduk di depan TV menyajikan informasi_informasi baru seputar maraknya penculikan di kota_kota.
Pagi telah tiba setelah malam berlalu, aku siap_siap berangkat pagi ini. Mama mencoba menahan air matanya ketika melihatku berpakaian, aku pun begitu. Melihat mata mama berkaca_kaca, aku berpura_pura untuk tidak melihatnya agar kesedihan diantara kami tidak begitu terhanyutkan.
Sambil aku meminum teh dan papa meminum kopinya sambil dia mengajakku berincang_bincang tentang jurusanku, papa pun menyuruhku berhati_hati dalam berkendara dan memperingatkan agar tidak meninggalkan kewajiban yang 5 waktu itu. Mama hanya duduk disampingku tanpa mengajakku berbicara, sepertinya mama terhanyut dalam kesedihan tetapi dia menahannya.
Mama melihat jarum jam dinding yang tertempel di atas tembok rumahku, dan telah menunjukkan pukul 09.00, papa menyuruhku untuk memperbaiki perasaanku dan segera bersiap_siap. Pukul 09.15 Wita, papa menyuruhku untuk segera pergi. Aku pun pamit. aku memeluknya erat dan serasa pelukan itu sangat hangat membuatku tidak ingin melepaskannya, tapi inilah keputusanku untuk melanjutkan kuliahku.
Aku masih berada dalam pelukan mama dengan sedikit terisap tangis. Sementara papa masih duduk di kursinya dengan sengaja memberikan isyarat padaku untuk segera melepaskan pelukan itu.
Dengan rela aku melepas pelukan mama walau mama masih menahannya. Aku pun segera pamitan kepada papa , menyalami tangannya lalu mencium kedua pipinya dan meminta doa restu kepadanya atas perjalananku, semoga aku bisa memberikan yang terbaik untuknya dan juga untuk mama tercintaku, ini awal perjuangannku pah, mah doakan aku selalu. Aku pamit dengan mengucapkan salam kepada mereka.
.
.
.
***
__ADS_1
Selamat membaca😍