JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 50


__ADS_3

"Lalu?" Balas Bram singkat. Syifa mengernyitkan dahinya melihat reaksi Bram. Sedari tadi Bram hanya menjawab dengan datar tanpa ekspresi.


"Aku gak nyangka orang tampan seperti dia belum punya pacar" ucap Syifa .


"Terus kamu mau gitu jadi pacarnya?" Tanya Bram dengan datar dan menatap jalanan. Syifa semakin bingung dengan perkataan Bram


"Kamu kenapa sih, Bram ?" tanya Syifa tidak


mengerti.


"Gak apa-apa. Lalu kalau Reyhan belum punya pacar, kamu mau gitu jadi pacarnya?" Ucap Bram. Syifa semakin tidak mengerti dengan Bram.


"Ya gak lah" sahut Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"kenapa? Bukannya Reyhan kata kamu itu tampan?" Ucap Bram dengan nada datar dan menahan cemburu.


"Aku gak ngerti apa maksud kamu. Bram. Kenapa kamu malah tanya begitu? Kan aku sudah menikah mana mungkin aku jadi pacarnya" ucap Syifa dengan polosnya. Ada-ada saja suaminya ini yang bertanya tidak masuk akal menurut Syifa. Sudah tahu jika mereka suami-istri mana mungkin Syifa mau berpacaran dengan Reyhan lagipula Syifa juga tidak tertarik pada Reyhan.


"Kalau kamu belum menikah, kamu mau jadi pacarnya?" Tanya Bram dengan pertanyaan


Yang sama dengan datar dan tanpa ekspresinya membuat Syifa jengah


"Kamu ini kenapa sih. Bram? Kok daritadi kayaknya kamu sinis gitu sama aku" Syifa mengerucutkan bibirnya. Kok malah jadi dirinya yang disudutkan oleh Bram .


"Jawab aja pertanyaan aku yang tadi!" ucap Bram datar dengan nada tegasnya.


"Aku gak ngerti maksud kamu" jawab Syifa dengan polosnya. Bram semakin sabar menghadapi istrinya yang tidak peka ini..


"Aku tahu, kamu cemburu ya?" ucap Syifa didetik berikutnya yang tersadar jika Bram cemburu padanya. Pantas saja jika Syifa membicarakan Reyhan pasti Bram selalu datar


"Gak. Mana mungkin aku cemburu!" Bram tergelak dan tidak mau mengakui jika dirinya cemburu pada istrinya.


"Alah gak mau ngaku. Aku tahu kamu cemburu, Bram " Syifa sengaja menggoda suaminya itu.


"Gak" sanggah Bram yang masih tidak mau mengaku.


"Hahaha kamu lucu juga kalau cemburu gitu" Syifa tertawa melihat wajah Bram yang menurutnya lucu itu.


"Iya aku cemburu. Puas?" sahut Bram dengan datarnya.


"Tuh kan benar apa kata aku" Syifa tersenyum kemenangan akhirnya Bram mau mengakui bahwa dirinya cemburu.

__ADS_1


"Ingin rasanya aku tonjok wajah Reyhan" ucap Bram kesal. Syifa bergidik ngeri. Seram juga kalau Bram cemburu.


"Aku gak suka kamu tertawa lepas dan bebas berbicara dengannya. Hanya aku yang boleh melakukan itu sama kamu" ucap Bram melembut seraya mengelus telapak kanan Syifa dan menciumnya lembut membuat Syifa tersentak.


"Wow ternyata bule mesum ini bisa cemburu juga" ucap Syifa yang malah takjub pada suaminya.


"Wajarlah. Kamu itu istri aku. Mana ada suami yang gak cemburu melihat istrinya akrab dengan pria lain?" sahut Bram lalu meraih dagu Syifa dan menciumnya


"Bram kamu lagi nyetir!!" Bentak Syifa. Bram hanya terkekeh.


Welcome to Jerman". Syifa berseru senang sambil mendorong kopernya.


Bram dan Syifa baru saja tiba di bandara Berlin Tempelhof. Bram hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Syifa sudah berjalan duluan di depannya.


Syifa pun ingin menyetop taksi, namun Bram menahan tangannya dan melarang Syifa untuk menyetop taksi.


"Kenapa?" Tanya Syifa mengernyitkan dahinya.


"Kita gak usah naik taksi" ucap Bram


"Lalu kamu naik bus umum?" Tanya Syifa dengan polosnya. Bram terkekeh.


"Sayang, kamu lupa ya? Kita akan di jemput


ke hotel" ucap Bram. Syifa melongo.


"Itu dia. Ayo kita naik, sayang" ajak Bram begitu melihat sebuah mobil audi hitam berhenti tepat di depannya.


"Good afternoon, Mr and Mrs Joseph" ucap supir itu membungkuk hormat pada Syifa dan Bram.


"Good afternoon" balas Bram. Supir itupun membukakan pintu mobil untuk Bram dan Syifa Juga tidak lupa ia menaruh koper-koper yang dibawa Bram dibagasi mobil.


Selama diperjalanan menuju hotel, tidak ada satupun yang membuka pembicaraan. Sementara Syifa sibuk dengan ponselnya yang memperbarui statusnya, sedangkan Bram Sibuk dengan ipadnya.


Tak terasa mobil yang membawa mereka sudah tiba di hotel Pierdrei Hotel Hafencity Hamburg yang akan menjadi tempat penginapan Bram dan Syifa.


"Thank you" ucap Syifa pada supir Bram yang sudah mengantarnya ke hotel.


"You're welcome, Mrs. If you need more help. just call me" sahut supir itu dengan ramah.


Syifa membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Bram pun meregistrasi ke bagian resepsionis yang menyambutnya dengan ramah.


"Welcome to our hotel, sir. Can do for you?" Ucap sang resepsionis itu dengan ramah.


"I was booking one room with name Bram James Joseph "ucap Bram . Sang resepsionis itupun tersenyum ramah dan mulai mengecek kamar yang sudah di pesan Bram.


"Oh. Mr. Joseph. This the card of your room. And a bellboy will show your room "Resepsionis itu pun memberi sebuah kunci berbentuk kartu pada Bram dan memanggil seorang pelayan hotel untuk mengantarkan mereka menuju kamar.


"Thank you very much" ucap Bram.


"Pleasure. Have a nice day! "Sahut sang resepsionis.


Seorang pelayan pun membantu Bram membawa dua koper. Bram menggandeng tangan Syifa untuk menaiki lift.


"Thank you" ucap Syifa pada sang bellboy yang sudah mengantarnya sampai depan kamar.


"You're welcome, miss" sahut bellboy tersebut. Bram pun memberikan tip pada bellboy tersebut.


Syifa masuk ke dalam ruangannya. Syifa langsung berlari ke arah jendela besar hotel tersebut yang memperlihatkan pemandangan yang indah


"Wow. This is amazing!" Serunya melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang megah.


"Bram, aku mau melihat patung Laboe Naval Memorial!" Ucap Syifa seperti anak kecil pada Bram yang duduk tak jauh darinya.


"Kita baru sampai, sayang. Emangnya kamu gak capek? Ucap Bram. Syifa kalau soal jalan-jalan tidak pernah lelah seperti pada waktu mereka di Hawaii, Syifa langsung meminta bermain di pantai dan merengek seperti anak kecil.


"Kalau soal bertamasya aku gak pernah capek lah" ujar Syifa.


"Hmm kalau soal dikamar kamu capek gak?" Ucap Bram menggoda


"Hah?" Syifa tidak mengerti apa yang dikatakan Bram. Senyuman Bram berubah menjadi seringaian yang membuat Syifa bergidik


"No. stop!" Syifa menghentikkan reaksi Bram yang semakin mendekatkan jaraknya dengan seringaian yang masih tertera diwajahnya.


Syifa sudah paham betul tentang seringaian Bram yang ditunjukkan padanya. Oleh karena itu lebih baik Syifa bertindak dahulu sebelum Bram yang bertindak lanjut


"Oliver, aku bilang stop!" Ucap Syifa sedikit meninggikan suaranya. Bram senang sekali melihat ekspresi Syifa yang merona


"Kok stop? Memangnya aku taksi pakai di stopin segala!" Sahut Bram yang gemas dengan Syifa .


"Maksud aku, kamu jangan dekatin aku. Tetap disitu aja" Ucap Syifa dengan kesalnya. la membuat jarak tempatnya berdiri dengan tempat Bram berdiri yang tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa sayang? Masa aku mau dekat dengan istri aku sendiri gak boleh?" Ucap Bram mengernyitkan dahinya.


"Gak boleh pokoknya. Sudah ah, aku mau ke kamar beresin baju-baju" ucap Syifa lalu meninggalkan Bram yang sedang cengengesan. Bram selalu dibuat gemas oleh tingkah Syifa.


__ADS_2