JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 64


__ADS_3

"Lho, kalau aku lepas dari jabatan CEO, siapa yang akan jadi penerus perusahaan? Anak kita kan belum lahir." Sahut Bram dengan santainya.


"Aku akan kasih jabatan CEO untuk Pak Kardi" sahut Syifa asal karena kesal dengan suaminya.


"Serius sayang?"


Ya. Kamu akan jadi supir pribadi" jawab Syifa. Bram menyunggingkan senyumnya.


"Wow, keren! Aku mau dong jadi supir pribadi kamu." Ucap Bram yang malah membuat Syifa membelalakkan matanya tak percaya.


Bram terkekeh menatap wajah kebingungan


istrinya. Syifa langsung menatapnya dengan


galak.


"Hmfpt-" Syifa dengan kesal langsung membekap mulut Bram. Bram sedikit terkejut dengan tingkah istrinya itu.


"Aku gak mau kamu bicara! "Syifa melototi suaminya dengan galak. Bram geli dalam hatinya. Istrinya sangat agresif sekali.


"Hai, Syifa. Sorry lama, gue harus minta izin sama kakak lo di kantor tadi." Ucap Alika menghampiri Syifa yang sudah menunggunya. Mereka berada di cafe langganan mereka.


Gak apa-apa kok. Alika" Syifa tersenyum. Alika langsung melirik sahabatnya itu dan tatapannya Jatuh pada perut Syifa yang sudah membuncit


"! OH MY GOD! Syifa, perut lo sudah besar aja!" Alika langsung mengusap perut Syifa yang membuncit la juga turut bahagia mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu.


"Hehe iya. ka" Syifa tersenyum dan membiarkan Alika mengusap perutnya.


"Sudah berapa bulan, fa? Terakhir kali lo cuma chat gue bilang bahwa lo hamil.” Tanya Alika. Mereka memang belum bertemu lagi secara langsung setelah kepulangan Syifa dari Jerman.


Alika bahagia mendengar berita kehamilan Syifa. Siang ini, mereka ketemuan dan Alika sangat terkejut dan bahagia melihat perut Syifa yang sudah membesar saja.


"Enam bulan." Sahut Syifa tersenyum.


Ternyata sudah lama ya kita gak ketemuan secara langsung. Ucap Alika.


"Gue ikut bahagia dengar kabar kehamilan lo, fa. Akhirnya gue punya keponakan juga. yeay!" Lanjut Alika senang.


Thanks, Mel. Gimana pekerjaan lo?" Tanya Syifa.


"Hmm selama ini berjalan lancar dan gue mulai terbiasa" sahut Alika.


"Bagus deh." Ucap Syifa.


"Wait, itu apa di leher lo, Syifa ? Alika memicingkan matanya ke arah leher Syifa.


"Maksud, lo?" Syifa mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Itu leher lo, kok merah?" Ucap Alika lagi.


Tiba-tiba Syifa langsung tersadar dan langsung menutupi lehernya yang jika dilihat orang berwarna kemerahan.


"Bukan apa-apa kok, Alika " ucap Syifa. Dalam hatinya Syifa bergumam kesal. Pasti itu perbuatan suaminya saat di kantor tadi.


"Lo habis buat stempel?" Alika menyunggingkan senyum menggoda.

__ADS_1


"Hah?" Syifa melongo tidak mengerti apa yang diucapkan Alika .


"Aduh fa. Perut lo sudah besar juga. lo masih aja gak paham apa kata gue, ckck" Alika menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Sahabatnya satu ini masih saja lola.


"Maksud gue, itu stempel karya si ganteng kah?" Ucap Alika menaik turunkan alisnya menggoda Syifa.


Syifa terdiam cukup lama dan akhirnya ia mengerti apa stempel yang dimaksud Alika. Pipi Syifa merona dan langsung melototi Alika.


"Alika!" Ucap Syifa dengan horornya. Alika tertawa. Akhirnya sahabatnya itu mengerti juga apa yang dimaksudnya.


"Bagus juga hasil karya si ganteng" sahut Alika


Syifa langsung menatapnya tajam.


"Alika. sudah deh!" Ucap Syifa. Wajahnya sudah memerah antara malu dan marah sekaligus.


"Hahaha." Alika malah tertawa terbahak-bahak melihat Syifa yang kesal dengannya.


"Alika" Syifa membentaknya. Alika langsung terdiam dari tawanya melihat Syifa yang kesal.


"Sorry "ucap Alika lirih. Bumil kalau marah. seram juga. Attuutt! Batin Alika.


Syifa pun hanya menatapnya dan ia segera memanggil pelayan untuk memesan minuman.


"Hmm, Syifa. Lo sudah coba usg kandungan lo?" Tanya Alika setelah pelayan yang melayaninya kembali ke dapur.


"Belum "Syifa menggelengkan kepalanya. Memang selama enam bulan ini ia belum USG kandungannya.


"Kenapa belum?" Tanya Alika lagi.


"Wah, cewe maupun cowo anak lo pasti lucu deh" sahut Alika. Syifa ikut senang. Ternyata banyak orang yang menantikan kelahiran anaknya. Syifa janji akan menjaga kandungannya baik-baik hingga lancar pada saat proses persalinan nanti.


"Iya dong. Siapa dulu mommy nya?” Syifa membanggakan dirinya sendiri.


"Dan kalau anak lo cowo. gue yakin pasti dia ganteng kayak bapaknya" ucap Alika .


"Dan kalau cewe pasti cantik kayak gue" ucap Syifa memainkan rambutnya centil.


Alika hanya mencebikkan bibirnya. Sahabatnya ini pede sekali. Sudah jelas-jelas Alika lebih setuju kalau anaknya Syifa lebih mirip ayahnya.


Syifa dan Alika pun mengobrol tentang yang lainnya seperti pekerjaan kantor. Kadang mereka tertawa hingga pelayan di cafe ini sudah memaklumi karena mereka berdua adalah langganan sejak masih duduk di bangku SMA


Bram sedang dilanda panik sana-sini mencari istrinya. Setelah mereka makan bersama di kantin kantor, Syifa hanya izin pergi sebentar dan sampai sekarang sudah dua jam lebih Syifa tak kunjung kembali ke ruangannya lagi.


Angga yang melihat Bram mondar-mandir sana sini pun mengerutkan dahinya. Bahkan Bram sampai bolak-balik ke ruangan Angga dengan tujuan yang tidak jelas.


"Lo kenapa sih. Bram ?" Tanya Angga memperhatikan sahabatnya yang sedang mondar-mandir di ruangannya.


"Bram, lo kayak setrika rusak aja, mondar-mandir di ruangan orang tanpa tujuan yang jelas. "Ucap Angga lagi.


"Istri gue kemana ya. Angga ?" Tanya Bram seperti sedang menanya alamat yang Angga tidak tahu.


"Bukannya tadi sama lo? Mana mungkin dia ke sini". Ucap Angga menaikkan alisnya.


"Iya, tapi Syifa izin keluar dan sekarang belum balik-balik juga. Gue khawatir, ngga" ucap Bram cemas. Angga sangat paham dengan perasaan Bram sekarang. Apalagi Syifa sedang hamil membuat Bram semakin cemas.

__ADS_1


"Lo udah coba telepon belum?" Tanya Angga. la pun menghentikan pekerjaannya sebentar dan menatap sahabatnya yang sedang khawatir.


"Handphone nya ada di ruangan gue. ngga" sahut Bram. Pada saat makan siang tadi, Syifa memang tidak membawa ponselnya.


"Hmm. Lo sudah coba tanya Pak Kardi, supir lo? Kali aja Karen minta dianterin pak Kardi ke suatu tempat." Ucap Angga. Astaga, Bram tidak memikir sampai kesitu. Benar juga apa kata sahabatnya.


"Benar juga. Angga . Ok, gue cari Syifa dulu ya! Handle kerjaan gue sebentar." Bram pun langsung pergi meninggalkan ruangan Angga


"Dasar gak tau terima kasih!" Angga menggeleng-gelengkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Syifa, btw lo sudah izin sama si ganteng kalau lo kesini?" Tanya Alika.


"Hmm." Syifa mengangguk seraya menyeruput milkshake nya.


"Takutnya lo gak bilang nanti malah gue yang kena amukan si ganteng. "Ucap Alika.


Baru saja dibicarakan, tiba-tiba saja Bram muncul mengagetkan keduanya.


"Sayang, kamu lagi apa disini?" Bram langsung duduk di bangku samping Syifa yang kosong. Syifa sedikit terkejut dan hampir saja tersedak milkshake nya.


"Bram, kok kamu-" ucapan Syifa sudah disambar terlebih dahulu oleh suaminya


"Kenapa aku tahu kamu disini? Sayang, kamu itu buat aku khawatir Kamu lagi hamil. Untung saja kamu diantar Pak Kardi. Aku takut kamu kenapa-kenapa "ucap Bram mengelus perut buncit Syifa dengan sayang.


Alika dapat melihat bagaimana Bram yang cemas pada sahabatnya. Ia juga ikut senang.


"Hai, ganteng!" Alika menyapa Bram dengan


cengiran lebarnya.


"Hai. Alika" sahut Bram tersenyum manis kearahnya.


"Gue ikut bahagia atas kehamilan Syifa dan lo sudah wujudkan keinginan gue mendapat keponakan" ucap Alika senang.


Tenang aja. Mel. Lo bakal punya banyak keponakan" sahut Bram tersenyum penuh arti.


"Wah bagus itu. Sekalian bikin kesebelasan ya ganteng!" Alika mengedipkan sebelah matanya. Bram hanya terkekeh.


"Pasti, sampai dua puluh gue sanggup kok." Timpal Bram. Syifa langsung mencubit pinggang suaminya dengan gemas


"Kamu apa-apaan sih!" Ucap Syifa berbisik


"Gak apa-apa sayang. Aku kuat kok buatnya. Kamu tenang aja "Balas Bram berbisik dengan senyuman menggodanya.


" kamu kira aku kucing?" Syifa mencubit pinggang Bram.


"Awh... Ampun sayang!"


"Kamu itu gak di rumah, kantor, cafe masih aja mesum ya!" Syifa tak habis pikir dengan suaminya ini.


"Mesum itu sehat, sayang. Apalagi mesumnya sama kamu." Bisikan Bram membuat Syifa bergidik sekaligus mual.


"Crazy husband!" Ucap Syifa menjauhkan


tubuhnya.

__ADS_1


But you love this crazy husband, right?" Ucap Bram dengan kekehannya. Syifa hanya mendelik sebal suaminya.


__ADS_2