
Aneh, tapi ia tidak merasa bahwa keanehannya itu adalah ngidam la hanya merasa ingin sesuatu saja.
"Makanya itu kita perlu ke dokter
untuk memastikan "ucap Bram . Syifa menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak. BramAku gak sakit. Kamu ini ada-ada aja"
ucap Syifa keras kepala. Syifa tidak merasa sakit mengapa sejak kemarin suaminya ini menyuruhnya untuk ke rumah sakit.
"Aku cuma ingin memastikan feeling aku benar atau gak" ucap Bram, la semakin yakin jika istrinya ini memang sedang ngidam Dan Bram akan senang jika itu memang benar.
"Pokoknya aku gak mau!" ucap Syifa mengerucutkan bibirnya.
"Harus, sayang" Ucap Bram dengan tegas.
"Gak
"Harus
"GAK MAU"
"HARUS!"
Jadilah mereka berdua sedang berdebat. Bram tak habis pikir jika Syifa juga menjadi keras kepala seperti ini. Biasanya Syifa akan menuruti apa kata Bram jika ia mengucapkannya dengan nada tegasnya. Namun kali ini Bram tak habis pikir.
"Aku bilang gak mau!" tolak Bram lagi.
"Ha--" Baru saja Bram ingin berkata, namun
Syifa menghembuskan nafas leganya. Bram segera mengangkat panggilan yang berasal dari Angga .
"Halo."
Benarkah?"
"Ya sudah kalau begitu, besok gue dan Syifa balik ke Jakarta
Thanks infonya, Angga "
Bram memutuskan sambungannya dengan Angga. Syifa sangat penasaran apa pembicaraan Bram dengan Angga di telepon itu. Kelihatannya sangat penting sehingga la mendengar jika besok ia dan Bram kembali ke Jakarta.
"Ada apa Bram?" Tanya Syifa dengan penasarannya.
"Besok kita harus pulang" sahut Bram langsung
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Syifa lagi.
"Angga sudah menemukan sekretaris baru buat aku. Besok kita harus balik ke Jakarta" jawab Bram Syifa mengangguk mengerti.
Bram sebenarnya tidak suka ada sekretaris baru, la hanya ingin Syifa yang mendampinginya saat bekerja. Namun ia juga tidak mau Syifa kelelahan bekerja. Cukup dirinya saja yang bekerja dan mencari nafkah untuknya.
Pagi ini Bram dan Syifa sudah tiba kembali di Jakarta. Bram memutuskan untuk langsung ke kantor karena Angga yang terus menghubunginya memberi kabar bahwa sekretaris barunya itu sudah tiba di kantor.
Syifa mau tidak mau mengikuti Bram yang langsung pergi ke kantor tanpa pulang ke apartemennya dahulu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"Ayo turun, sayang!" Bram membuka pintu mobil begitu tiba di depan kantornya.
Syifa mengikuti Bram yang masuk ke dalam kantor. Seperti biasa. Syifa memberikan senyuman ramahnya kepada para pegawai kantor ini.
Bram menekan tombol lift yang akan membawanya ke ruangannya. Angga sendiri sudah di depan ruangannya menunggu kedatangan Bram sejak tadi.
"Akhirnya pak bos tiba juga". Ucap Angga begitu ia melihat Bram keluar dari dalam lift bersama Syifa.
Bram sudah rapi dengan setelan jas abu-abu serta kemeja biru dongker. Disampingnya Syifa menggunakan gaun santai berwarna peach selutut. Angga dapat melihat wajah lelah Syifa disamping Bram. Mungkin itu efek kepulangan mereka yang dari Jerman langsung ke sini.
Dimana sekretaris barunya. Angga?" Tembak Bram langsung. Ia tidak mau berbasa-basi lama-lama.
"Ada di dalam "sahut Angga seraya mempersilahkan Bram masuk ke ruangannya.
"Hai Angga!" Sapa Syifa tersenyum manis pada Gerald
Mereka pun masuk ke dalam ruang kerja Bram yang sudah terdapat seorang wanita yang tengah duduk di sofa.
"Baiklah Nona Raisa. ini Mr Joseph, CEO kantor ini yang akan menjadi bos anda." Ucap Angga Wanita yang sedang duduk disofa itu pun menoleh.
la tersentak dengan wajah CEO nya. la sangat hafal betul siapa CEO ini. Hatinya melompat senang.
"Kak Bram?" Gumam wanita itu dengan berbinar. Bram mengernyitkan dahinya. bagaimana calon sekretarisnya ini bisa tau?
Setelah Bram lama terdiam. Sementara Syifa dan Angga saling memandang bingung.
"Maaf apa sebelumnya kita pernah bertemu?" Tanya Bram dengan tatapan bingungnya.
Wanita di depannya hanya berdecak kesal. Mungkin Bram lupa dengannya mengingat mereka hanya bertemu sekali dan itupun sudah sangat lama. lebih tepatnya empat tahun yang lalu.
"Kak Bram benar-benar lupa dengan aku? Ckck" wanita yang bernama Raisa itu berdecak kecewa.
"Maaf tapi saya tidak mengenal anda" sahut Bram. la sendiri benar-benar tidak mengenal wanita didepannya.
"Mungkin kakak lupa. Aku Raisa kak. Aku
__ADS_1
sepupu kak Lidia pacar kakak dulu." Ucap Raisa
berharap Bram mengingatnya.
Bram masih menerka-nerka. la tidak ingat. Sementara Syifa, ia bingung dengan kata-kata wanita itu
Lidia? Pacar Bram? Batin Syifa mulai penasaran. Bram bahkan tak pernah cerita padanya tentang yang satu itu.
"Sepupu Lidia? Saya tak ingat dengan anda" ucap Bram
"Apa kak Bram masih berhubungan dengan Kak Lidia?" Tanya raisa penasaran. Bram langsung menatapnya. Bisa-bisanya wanita Ini menyebutkan nama yang ingin sekali ia musnahkan.
Syifa tak dapat berkata-kata la mendengar nama itu dengan jelas. Bram tak pernah menceritakannya tentang masa lalunya Suasana di ruangan Bram menjadi tegang.
"Tidak Saya tidak mengenal wanita itu. Tolong Jangan membawa masalah pribadi anda ketika berada di kantor" ucap Bram dengan tatapan mautnya. Namun sepertinya wanita di depannya tidak merasa terusik.
"Apa? Kak Bram tidak mengenal kak Lidia? Bukankah kalian berpacaran?" Namun rupanya Raisa tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Bram. Apa benar jika Bram sudah putus hubungan dengan kakak sepupunya itu? Raisa penasaran akan hubungan mereka berdua
"Saya tidak mengenalnya dan saya mohon untuk tidak berbicara tentang orang lain di kantor. Saya sudah memiliki istri. Nona Raisa." Ucap Bram dengan tegas namun tak tersulut emosi. la masih tenang dan tidak terbawa emosi walaupun Bram merasa tidak nyaman dengan percakapannya dengan Raisa.
Angga dapat menyadari perubahan pada ekspresi Syifa. la yakin, Bram belum menjelaskannya pada Syifa. Angga hanya bisa diam. Sedangkan Syifa masih menatap Bram dan wanita yang bernama Raisa itu dengan pandangan yang bertanya-tanya.
"Benarkah kak? Bukannya kak hanya cinta mati pada Kak Lidia?" Jantung Bram rasanya ingin menyembul keluar. Mengapa wanita ini sangat keras kepala dan malah membuat suasana menjadi tegang. Bram sudah tak mau kembali ke masa lalunya
Hati Syifa tercelos mendengar apa kata Raisa Tiba-tiba saja air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi. la tidak tahu menahu tentang Bram la jadi teringat pada saat mereka dijodohkan, apa Bram hanya terpaksa berjodoh dengannya?
"Siapa Lidia itu, Bram ?" Tanya lirih Syifa tanpa bisa mencegah air matanya keluar.
Bram semakin tertohok melihat Syifa yang
mengeluarkan air mata.
"Sayang, aku bisa menjelaskannya." Bram menghampiri Syifa,
Namun Syifa mengangkat tangannya agar Bram tak mendekatinya. Syifa tidak merasa dirinya bersedih, seperti ada dorongan lain yang membuatnya merasa sangat sedih.
"Stop. Aku mau pulang saja." Ucap Syifa serak lalu berbalik menuju pintu keluar ruangan. la butuh waktu untuk menyendiri.
Bram mengacak rambutnya kasar. Mengapa hari ini sangat kacau. Semua ini gara-gara wanita yang bernama Raisa yang mengaku sepupu Lidia
Angga yang melihat Syifa keluar, ia langsung berlari mengejar Syifa .
"Puas? Apakah anda sudah puas melihat istri saya yang pergi?" Ucap Bram dengan nada tinggi. Wajahnya memerah marah menatap Raisa.
Sedangkan Raisa ia tidak tahu jika Bram sudah memiliki istri. Raisa menundukkan kepalanya tak berani menatap Bram yang emosi padanya.
__ADS_1
"Maafkan aku kak. "Ucap Raisa lirih.
Bram membanting barang yang berada di sekitarnya. Raisa menunduk takut akan amukan Bram.