JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 22 Papa Apa Yang Terjadi


__ADS_3

Suatu hari ketika aku selesai siaran, aku merasa terkejut ketika melihat handphoneku begitu banyak panggilan dari papa. Aku merasa panik, ada apa dengan mereka di kampung, kenapa papa menelfonku berkali_kali. Aku kembali menghubunginya. Mendengar perkataan papa dalam telfon, aku semakin penasaran di buatnya. Bagaimana tidak, dia menyuruhku untuk segera datang ke rumah yang di kampung. Pikiranku tentang mama, pasti ada apa_apa dengan mama. Aku segera pamit dengan teman_temanku di kantor untung hari ini aku banyak free. Jadi aku bisa pulang memenuhi permintaan papa


Setelah beberapa jam aku mengendari motor dari kota ke desa, akhirnya aku tiba di rumah. Saat aku turun dari motor aku melihat ada yang berbeda dengan suasana rumahku. Gorden warna putih di padukan kain pink menghiasi pekarangan rumahku namun tak seorang yang aku lihat saat itu, aku bingung mau bertanya kepada siapa. Perlahan aku berjalan masuk ke halaman rumah, tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat di sana ada meja yang tertata rapi juga di hiasi kain berwarna putih di padukan kain berwarna pink di setiap sudut meja berbentuk pita_pita berukuran besar. Aku segera menghampiri meja itu, tak lama setelah aku tiba di depan meja. Orang_orang pada keluar dari dalam rumah, aku melihat di sana ada mama, papa, kak Reza, kak Rifal dan istrinya dan juga Ayla di depan mama serta keluargaku yang lain. Mereka begitu tampak bahagia dengan keberadaanku di depan meja ini yang di tandai dengan senyumannya yang mereka lemparkan padaku, namun aku tidak mengerti maksud mereka. Perlahan aku berjalan dan menghapirinya lalu bertanya atas rencananya. Namun tak satupun bibir yang berbicara menjawab pertanyaanku. Aku tetap berdiri di depan mereka dan menatapnya satu per satu. Di tengah tatapan mataku tiba_tiba seseorang yang muncul dari belakang papa dan mama Aku semakin terkejut, orang yang pas berdiri di depanku ini yang baru saja keluar dari persembunyiannya membuat bibirku kaku tak mampu mengeluarkan sepatah kata untuknya. Mataku begitu tak asing dengan penampilan, wajah, dan senyumannya. Apa mataku tidak salah lihat.? Ataukah aku bermimpi.? kataku dalam hati sambil menatapnya.


Aku menampar pipi kananku


. Aooo,,, rasanya sakit ini bukan mimpi kan.? Tanyaku pada mereka.


Iya, Ini bukan mimpi. Jawab kak Arsy.

__ADS_1


Aku kembali menatap orang ini. Kak Arsy, dia adalah kak Arsy dosenku sekaligus kekasihku dulu. Penampilan dan ekspresinya ketika di depanku tak ada perubahan sama s’kali. Perlahan dia gerakkan kedua tangannya menyentuh jari_jari tanganku. Sentuhan tangannya membuat jantungku berdetak kencang hingga menghasilkan getaran pada kedua tangannku. Aku merasa berbeda ketika dia menyentuhku saat ini dengan dia menyentuhku dulu.


Kualihkan pandanganku ke tanah. Aku terasa terhipnotis dengan sentuhan tangannya. Kembali aku tutup mulut dan tak bisa berkata apa. Sementara keluarga besarku yang ada di depan kami terlihat sangat bahagia. Kak Arsy menggandeng tanganku ke meja yang tadi. Di balik hiasan meja ada sebuah kotak kecil berbentuk hati berwarna merah maron. Perlahan dia duduk di depanku dan kembali dia menggenggam kedua tangannku. Tangan dan hati yang tak henti_hentinya bergetar walau kedua tangan ini sudah dalam geggaman tangan kak Arsy. Getaran di dada merupaka sebuah tanda bahwa aku belum bisa menerimanya kembali, namun bibir tak sanggup mengungkapkan itu. Luka di hatiku terasa masih membekas, tak segampang itu terobati. Dulu dia yang meninggalkanku dengan alasan yang tidak jelas, kini dia kembali dengan keadaan yang tidak jelas pula. Aku bingung entah bagaimana cara aku menolak pertunangan ini yang berlangsung mendadak, sementara kebahagiaan yang terpancar di mata keluargaku begitu besar tertutama kedua orang tuaku, apa tega aku merusak kebahagiaan mereka. Aku benar_benar di lemah.


Tangan mulus, putih yang masih menggenggam di kedua tangannku dan sebentar lagi sebuah cincin emas yang akan terpasang di jari manisku sebagai tanda pertunangan, namun sebelum cincin itu terpasang aku berusaha untuk membuka bibir. Namun terasa tergembok dengan kegugupan.


Perlahan cincin itu menyentuh ujung jari manisku.


Sementara kak Arsy terlihat pasrah dengan keadaanku yang tak bisa mengungkapkan kepaastian. Aku menatapnya begitu dalam memberikan isyarat bahwa aku belum bisa menerima ini, terpancar wajah yang sulit ku pahami apakah dia mengerti maksudku atau tidak. Dengan pandanganku yang teralihkan namun kurasakan bahwa kedua tanganku kembali dalam genggamannya dengan kecupan dingin di bibirnya. Air mata nyaris tumpah, tak nampak kebahagiaan di wajahku.

__ADS_1


Maafkan aku.! Tak seharusnya seperti ini, tapi ini paksaan dari hati. Kata yang memecahkan kepedihan. Lalu kuberlari di tengah kerumunan orang_orang yang aku cintai. Ku berlari dengan deraian air mata yang tak terbendung.


Dengan rela kak Arsy melepaskan genggamannya, rasa bersalah menghantui dirinya. Tolakan secara tidak jelas membuatnya ingat akan apa yang telah terjadi. Maafkan aku nindia, gumamnya dengan rasa bersalah.


Ini yang kedua kalinya dia memasangkan cincin jari manisku. Aku sama skali tidak mengerti drama perjodohan ini. Sesak untuk bicara tetapi hati mengatakan iya, aku masih mencintainya. Tapi belum bisa menerima kenyataan ini. Semua orang d luar sana mengerti perasaanku'. Mereka tetap di tempat masing-masing dengan expresi yang seakan tak terjadi apa-apa meski paham kalau aku sedang menangis.


Putri, maafkan aku yang banyak bersalah padamu. Tiba" kak Arsy masuk di kamar' menyeka air mataku. Aku tidak paham drama ini kak, jawabku...


Kau datang di saat aku mulai belajar melupakan tentang luka. Di saat kau pergi dengan alasan yang alasan yang tidak masuk akal. Aku menerima keputusan konyolmu saat kau minta ingin pergi, tapi sekarang aku tidak bisa menerima keputusanmu untuk kembali. Kak Arsy diam seribu bahasa.

__ADS_1


Sekarang kamu tidak punya hak memberi keputusan, tapi papa yang punya hak. Tiba-tiba suara itu lantang membuatku tak bisa berkutip. Papa dengan nada membentak. Sama skali aku tidak paham akan sedramatis ini. Meski aku tahu dari dulu papa ingin skali menjodohkan aku dengan kak Arsy. Baru kali aku lihat papa marah, menangis hanya karena menolak lamaran kak Arsy. Entah mengapa papa sangat egois, hatiku benar-benar kacau. Aku tidak bisa menerima lamaran ini, hatiku berbisik. Terlalu sakit aku menerimanya kembali.


__ADS_2