JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 67


__ADS_3

Bram duduk pada kursi tunggu di depan ruang UGD. Tampak ia yang berantakan. Rambut yang acak-acakan, jas yang sudah ia lepas serta kemeja yang sudah ia gulung hingga siku.


Bram tak henti-hentinya memanjatkan doa agar Syifa dan calon anaknya selamat. la tak bisa membayangkan jika ada apa-apa dengan keduanya.


Sejak kejadian itu. Bram merasa bersalah. la merasa dirinya lalai menjaga istrinya yang hamil. Coba saja tadi ia menemani Syifa.


Tak lama, Angga, mama dan papa Syifa beserta kakak iparnya, Dion pun datang. Dion tidak membawa serta ivana datang ke rumah sakit, karena istrinya itu sudah hamil besar memasuki bulan ke sembilan.


Bram, bagaimana keadaan Syifa, nak?" Ucap mama Syifa menghampiri Bram dan ikut duduk di sampingnya.


Sungguh ia sangat khawatir dengan putrinya saat menantunya itu menghubunginya memberi tahu bahwa putrinya dilarikan ke rumah sakit


"Maaf. Maafin Bram ma, belum bisa menjadi menantu yang baik. "Bram langsung memeluk ibu mertuanya itu. la menangis di dalam pelukan mama Syifa.


"Sudah, sayang. Kamu gak boleh menyalahkan diri seperti itu." Mama Syifa mengelus lembut punggung Bram .


Bram melepas pelukannya pada mama Syifa lalu langsung bersimpuh di kaki papa Syifa yang yang berdiri di depannya. Papa Syifa terkejut mendapati menantunya yang bersimpuh begitupun dengan Dion yang melihatnya.


"Maafin Bram pa. Maafin Bram. Bram belum bisa jadi suami yang baik buat putri papa. Maaf Bram belum bisa menjadi menantu papa yang baik." Ucap Bram bersimpuh dengan tangisannya.


Papa, Mama, Dion serta Angga yang melihatnya merasa prihatin dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bram tampak begitu kacau dan merasa sangat bersalah.


"Bram, kamu gak perlu bersimpuh di kaki papa. Papa gak menyalahkan kamu." Papa Syifa menarik lengan Bram agar terbangun. Bram pun berdiri sejajar dengan papa Syifa .


"Maafin Bram pa." Bram terisak Papa Syifa dapat melihat wajah Bram yang memerah menangis. Menantunya itu selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Bukan salah kamu Syifa begini. Itu sudah rencana Tuhan. Tuhan tahu yang terbaik bagi hambanya. Kita sekarang hanya bisa berdoa agar Syifa dan calon cucu papa selamat". Ucap papa Syifa dengan bijaknya.


"Tapi pa. Bram merasa ini salah Bram. Harusnya tadi Bram menemani Syifa ke kantin. Bram menyesal. Sungguh menyesal." Ucap Bram terdengar putus asa.


"Sudah. Bram. Kita berdoa aja supaya Tuhan memberikan mukjizatnya pada Syifa dan calon anak kamu." Mama Syifa Syifa mengelus lembut bahu menantunya yang sedang merasa bersalah itu.


"Gue yakin kok, Syifa dan calon keponakan gue pasti baik-baik aja." Sahut Dion yang turut prihatin pada adik iparnya itu.


"Jangan khawatir. Syifa dan calon anak lo pasti sehat, Bram " Angga ikut menepuk bahu sahabatnya yang kacau itu.


"Bram gak akan pernah memaafkan diri sendiri jika terjadi sesuatu pada Syifa." Ucap Bram


yang lagi-lagi menyalahkan dirinya.


"Sudah kamu gak boleh sembarangan ngomong. Mama yakin, Syifa kuat. Dia pasti bertahan, sayang" ucap mama Syifa memberi semangat pada menantunya.


"Bram, setiap rumah tangga pasti tidak selalu mulus. Selalu ada cobaannya. Untuk itu kamu bersabar, dan tetap setia mempertahankan rumah tangga kamu dengan baik." Ucap Papa Syifa menasihati berusaha memberi Bram kekuatan.

__ADS_1


"Papa bangga punya menantu seperti kamu yang bisa bahagiain putri papa. Papa gak salah memilih menantu seperti kamu." Ucap papa Syifa lagi. Bram menganggukkan kepalanya.


"Yang sabar, adik ipar. Gue juga pernah di posisi lo saat kandungan ivana tujuh bulan. Dia jatuh di kamar mandi dan untungnya baik-baik saja sampai sekarang dikit lagi sudah mau lahiran. Intinya, lo tetap sabar dan serahkan diri pada Tuhan juga tetap setia mendampingi Syifa kapanpun." Ucap dion la juga merasakan seperti apa di posisi Bram.


"Pasti. Gue akan selalu ada di samping Syifa kapanpun "ucap Bram tegas. la berhenti dari sahabatnya selalu setia mendukungnya.


"Makasih ma, pa. Dion, dan Angga atas dukungannya." Ucap Bram sudah kembali tenang.


"Sama-sama, sayang" ucap mama Syifa menepuk pelan bahu Bram.


Cklek.


Suara pintu ruangan terbuka. Bram langsung menghampiri pria dengan jas putih itu.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Tanya Bram tak sabar. Mama dan Papa Syifa menunggu jawaban itu dengan cemas


"Apa anda keluarga dari pasien?" Tanya dokter itu dengan santainya.


"Saya suaminya, dok" sahut Bram cepat


"Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun istri anda masih koma "ucap dokter itu.


"Tapi istri saya baik-baik saja kan dok?" Tanya Bram lagi. la tidak mau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Lalu bagaimana keadaan bayinya, dok?" Tanya mama Syifa.


Wajah dokter itu semakin sulit diartikan. Bram menunggu jawaban dokter itu dengan cemas


Dok, Jawab dok! Bagaimana keadaan anak saya?" Ucap Bram tak sabaran karena dokter itu pun belum berkunjung membuka suaranya.


Tiba-tiba senyum pun terbit di wajah dokter itu membuat yang melihatnya turut lega atas jawaban dokter itu.


"Anak anda baik-baik saja. Tuan la sehat dalam kandungan ibunya. Ia hanya terkejut saat mendapati si ibu yang terjatuh dan itulah yang menyebabkan si ibu berkontraksi dan mengalami pendarahan." Jelas dokter tersebut membuat Bram membelalakkan matanya tak percaya.


"Syukurlah. Terima kasih Tuhan." Mama dan papa Syifa tersenyum lega. Putri dan calon cucunya baik-baik saja.


"Terima kasih, dok" ucap Bram terharu.


"Sama-sama. Tapi ada yang ingin saya sampaikan bahwa pasien kekurangan darah karena tadi mengalami pendarahan yang cukup hebat. Maka dari itu kami akan mencarikan donor darah untuk pasien." Jelas dokter tersebut.


"Ambil darah saya dok. Golongan darah saya sama dengan adik saya." Ucap Dion langsung.


"Baiklah kalau begitu, anda ikut saya untuk pemeriksaan :ucap dokter.

__ADS_1


"Dok, apakah saya boleh melihat istri saya?" Tanya Bram.


"Oh ya, tentu. Keluarga boleh menjenguknya. Tetapi tetap menjaga pasien karena pasien masih belum sadarkan diri" ucap dokter


"Baik dok" sahut Bram.


Setelah dokter tersebut meninggalkan ruang UGD beserta Dion yang mengikuti dokter tersebut untuk pemeriksaan donor darah. Bram langsung masuk ke dalam ruangan itu diikuti mama dan papa Syifa beserta Angga.


Bram langsung duduk di kursi samping ranjang Syifa dan memegang telapak kanannya dengan sebelah tangannya dan tangannya yang satu lagi mengelus perut Syifa yang masih membuncit dengan penuh kasih sayang.


Syifa memakai alat bantuan nafas alias oksigen di hidungnya. Kulitnya tampak pucat. Bram tak henti-hentinya mengecup telapak tangan Syifa dan keningnya bergantian.


"Sayang, kamu yang kuat ya. Maafin aku. Maafin karena tadi gak bisa nemenin kamu. Sayang. cepat bangun ya." Ucap Bram berbisik pada Syifa. Entah Syifa sadar atau tidak.


"Sayang, aku sangat bersyukur kamu dan little Bram baik-baik saja." Bisiknya lagi tanpa berhenti dan mengecup telapak tangan Syifa dengan sayang.


Mama dan papa Syifa serta Angga yang melihatnya turut bahagia. Mama Syifa merasa bahagia karena menantunya itu tetap setia pada putrinya dan terlihat sangat menyayangi Syifa.


Angga yang melihatnya juga turut bahagia. la baru melihat Bram yang seperti ini. Bram yang begitu penyayang dan tampak putus asa jika Syifa tidak baik-baik saja. Bahkan Angga juga begitu penyayang dan tampak putus asa jika Syifa tidak baik-baik saja. Bahkan Angga juga bisa melihat bahwa Bram benar-benar sudah sangat mencintai istrinya.


Angga pun menghampiri Bram. la ingin


berpamitan untuk kembali ke kantor karena pekerjaan masih menumpuk


"Hmm. Bram, gue balik ke kantor ya. Semoga Syifa lekas sembuh" ucapnya menepuk pelan


bahu Bram.


"Iya, Angga. Makasih ya lo sudah bantuin gue bawa Syifa ke rumah sakit. Kalau gak ada lo, pasti gue gak tau apa-apa." Ucap Bram tulus pada sahabatnya ini.


"Santai aja. Sudah tugas gue sebagai sahabat, bro sahut Angga. Bram mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lo boleh balik ke kantor. Gue minta lo--" Ucapan Bram sudah dipotong lebih dahulu oleh Angga


"Handle kerjaan lo kan? lya bakal gue handle. Tapi gue minta bonus lebih" sahut Angga seakan tahu apa yang akan diucapkan Bram.


"Tahu aja lo. Pasti gue tambahin bonus buat lo Makasih banyak ya. Angga " ucap Bram.


Kembali kasih. Jagain Syifa ya. Bram Semoga Syifa cepat siuman" ucap Angga. Bram mengangguk.


Angga kemudian pamit juga kepada mama dan


papa Syifa.

__ADS_1


__ADS_2