JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 59


__ADS_3

"Maksud aku, kamu sedikit berbeda. Lalu aku perhatikan kamu agak berisi" sahut Angga. Syifa langsung melotot padanya.


"Jadi kamu mau bilang aku gendut gitu?" ucap Syifa dengan sewotnya "Eh, bukan. Berisi sama gemuk itu beda" Angga menggelengkan kepalanya.


"Aku juga aneh dengan diri aku sendiri, ngga. Aku jadi suka makan banyak, gampang emosi, gampang juga menangis." Syifa mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Angga disampingnya tersenyum.


"Kamu hamil, Syifa?" tanya Angga. Syifa terkejut. Sudah ada dua orang yang bilang begitu padanya. Tetapi Syifa tidak merasa jika dirinya hamil.


"Hamil? Enggak ngga" Syifa menggelengkan


kepalanya.


"Kamu sudah periksa belum? Jangan asal ngomong aja" ucap Angga


"Belum" Syifa menggelengkan kepalanya. Syifa jadi teringat Bram yang sangat bersikukuh untuk mengajaknya ke dokter saat di Jerman.


"Yaudah kalau gitu, nanti kita periksa. Siapa tahu aku dikit lagi aku punya ponakan "ucap Angga .


Gak, ngga. Aku gak hamil" Syifa tidak mau.


"Sudah ah, aku mau ke sana dulu! "Syifa beranjak menuju tempat bermain anak-anak. Angga menggelengkan kepalanya lalu mengikuti Syifa di belakang.


Syifa suka sekali melihat anak-anak kecil. la merasa anak kecil itu menggemaskan dan membuatnya ingin sekali mencubit pipinya. Sekarang ia sedang berdiri di dekat tempat bermain anak-anak. Kemudian menghampiri anak-anak itu dan ikut bermain bersamanya.


"Kak, gimana? Apakah aku diterima jadi sekretaris kakak?" tanya raisa setelah lama mereka terdiam dan Bram yang masih terlihat frustasi.


"Kakak dengar aku kan?" ucap Raisa lagi karena Bram mengabaikannya.


"Kak bra--"Bram dengan cepat memotong ucapan Raisa.


"DIAM!!" Bram membentaknya. Raisa langsung


terdiam karena terkejut Bram membentaknya.


"Maaf." lirihnya.


Bram menjambak rambutnya. Entah sudah berapa kali ia menjambaknya hingga rambutnya acak-acakan. Lihatlah sekarang ruangannya berubah menjadi kapal pecah. Pecahan beberapa barang tergeletak dimana-mana.


Raisa kesal karena la diabaikan oleh pria di depannya. Ia pun membuka suaranya lagi.

__ADS_1


"Kak jadinya aku diterima jadi sekretaris atau tidak?" tanya raisa dengan tangan yang dilipat di dadanya


"Tidak. Saya tidak butuh sekretaris "sahut Bram dengan ketusnya. Raisa menatapnya tidak


"Bukankah perusahaan ini sedang membutuhkan sekretaris?" tanya raisa. la pasti tidak salah jika RAIN Company yang beberapa hari lalu ia baca di internet, sedang membutuhkan sekretaris. Jadi ia mendaftarkan dirinya secara online di situs resmi RAIN Company dan pada akhirnya ia tidak percaya jika ia dipanggil ke kantor ini.


"Tidak Saya sudah punya sekretaris. Jadi sebaiknya kamu pulang saja!" usir Bram dengan seenaknya, la sudah tidak peduli lagi sekarang.


"Apa? kakak kok usir aku?" ucap Raisa mengerucutkan bibirnya.


"Ya. Pulanglah. Ibumu mencarimu!" ucap Bram asal


"Kak, please. Apa aku benar-benar tidak boleh bekerja disini? Aku sedang membutuhkan pekerjaan". Raisa memasang wajah memelasnya. Bram menoleh padanya dengan malas.


"Carilah ke tempat lain. Disini tidak ada lowongan" ucap Bram dengan acuh tak acuhnya. Raisa menatapnya dengan kesal.


"Apa? Bagaimana bisa jika tidak ada lowongan kantor ini memasang iklan di google?" sahut Raisa.


"Memang. Tetapi untuk jasa cleaning-service. Kamu tetap mau?" ucap Bram lagi-lagi dengan asal dan wajah yang datarnya. Raisa mengerucutkan bibirnya kesal. Bagaimana bisa perusahaan sebesar ini mempunyai pemimpin yang begitu menjengkelkan?


"Maaf sepertinya anda harus angkat kaki dari kantor saya. Silahkan pintu keluar sebelah sana "Bram menunjuk pintu ruangannya dengan santai.


Setelah kepergian Raisa dari ruangannya. Bram teringat akan Syifa, la khawatir Syifa akan marah padanya, la takut Syifa tidak memaafkannya. Bram tahu, ia memang pengecut, la tidak berani menceritakan semua masa lalunya pada Syifa.


Tadi seingatnya, Angga langsung berlari mengejar Syifa. Bram pun mengambil ponselnya lalu mengetik pesan untuk Angga


"Angga, Syifa baik-baik aja kan?


Tak lama kemudian, Angga langsung membalas pesannya sehingga ponsel Bram bergetar.


" aman, bro. Syifa sudah aman bersama


gue."


Bram dengan cepat langsung mengetik balasan.


:Sekarang, lo ada dimana?"


Bram menunggu pesan Angga dengan tidak sabaran.

__ADS_1


Bram langsung beranjak dari duduknya segera menyambar kunci mobilnya. la pun tidak peduli lagi dengan ruangannya yang masih seperti kapal pecah Paling juga nanti cleaning service yang akan membersihkannya, batin Bram. Yang terpenting sekarang menemui Karen lebih penting dibanding bergulat dengan tumpukan kertas atau ceceran barang pecah.


lBram mengendarai mobilnya dengan tidak sabaran dan kecepatan maksimal. Untung saja jalanan sudah tidak terlalu macet. Akhirnya ia sampai dan memakirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Ayolah. Angga. Ini asyik!" seru Syifa saat dirinya sedang bermain ayunan bersama anak-anak di taman itu.


"Tidak Kamu aja" Angga lebih memilih duduk tak jauh dari area bermain anak-anak, la tidak menyangka Syifa begitu menggemaskan saat dirinya tengah bermain dengan anak-anak di taman itu.


Tante, ayo kita bermain yang itu tante." ucap anak-anak pada Syifa. Mereka menunjuk perosotan yang terdapat di taman itu.


"Kalian mau bermain apa?" tanya Syifa beranjak dari duduk di ayunannya.


"Perosotan, tante!" jawab mereka semua


dengan riang.


"Ayo!" Syifa pun langsung menggandeng anak-anak itu.


Mereka bermain perosotan. Karena perosotannya untuk anak kecil. jadinya Syifa


Taman pinggir kota. Tempat favorit gue.


Lah yang berjaga dibawah menangkap anak-anak yang bergantian berseluncur Mereka tertawa bersama.


"Tante, om ganteng nya gak diajak bermain?" tanya salah satu bocah laki-laki dengan pipi yang sedikit chubby. Syifa menyubit pipinya pelan


"Tidak. Om nya capek" sahut Syifa.


"Tante, om itu pacarnya tante ya?" tanya seorang bocah perempuan dengan rambut bob dan gigi depan yang ompong terlihat lucu. Syifa mengernyitkan keningnya. Bagaimana bocah ini bisa mengenal yang namanya pacaran?


"Ah bukan. Tante sudah punya suami. Tapi dia gak disini" sahut Syifa pada anak-anak polos di depannya.


"Lalu dimana suami tante cantik?" ucap bocah laki-laki berpipi chubby itu.


"Dia lagi bekerja" sahut Syifa tersenyum.


Mereka pun melanjutkan bermain perosotan


Bram akhirnya menemukan Angga yang sedang duduk di bangku di dekat area bermain anak-anak la sedang sibuk dengan ponselnya. Bram pun duduk disampingnya. la dapat melihat istrinya yang sedang tertawa lepas bermain dengan anak-anak.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang luar biasa. Bram jadi membayangkan jika dirinya dan Syifa mempunyai anak. Pasti Syifa menjadi ibu yang sangat hebat untuk anak-anaknya. Syifa terlihat menggemaskan dan sifatnya menjadi


__ADS_2