JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 63


__ADS_3

Hari ke hari, serta bulan ke bulan. Perut Syifa yang tadinya rata, sekarang sudah mulai terlihat membuncitnya. Dan juga Syifa lebih sering lelah bekerja karena berbadan dua. Padahal Bram sudah menyuruhnya istirahat dirumah, namun Syifa bersikukuh untuk tetap bekerja menjadi sekretaris Bram.


Bram juga menepati janjinya. Bahkan ia sangat protektif pada Syifa dan tentu membuat Syifa bete. Bram juga jadi lebih siang berangkat ke kantor. Bahkan, ruangan Syifa dipindahkan ke ruangan Bram agar Bram dapat memantau istrinya bekerja.


"Sayang, sini" Panggil Bram. Syifa menoleh dan sejenak meninggalkan berkas yang sedang dikerjakannya.


"Ada apa. Bram?" Tanya Syifa heran. Bram


menariknya agar duduk di pangkuannya.


"Gak apa-apa. Aku cuma mau menyapa Little Bram" ucap Bram dengan senyumannya.


"Bram, aku ini berat. Jangan pangku-pangku"


ucap Syifa dalam pangkuan Bram


"It's okey, sayang. Bagi aku, kamu gak berat. Tetap sama rasanya "ucap Bram mengelus perut Syifa yang membuncit.


"Apa kabar Little Bram?" Bram memulai interaksinya pada calon anaknya di dalam perut Syifa


"Baik, daddy" sahut Syifa.


"Daddy gak sabar deh kamu lahir. Daddy mau mengajak main bola sama kamu." Ucap Bram.


"Bram, kalau anak kita perempuan masa kamu mau ajak dia main bola sih? "Ucap Syifa merespon Bram yang sedang berbicara pada anaknya.


"Ya gak apa-apa dong, biar anak kita perempuan yang kuat" ucap Bram seenaknya.


"Enak aja! Kamu mau anak kita jadi seperti laki-laki?" Ucap Syifa tak terima, la maunya anaknya perempuan yang anggun dan feminim.


"Ya sudah kalau gitu, mendingan laki-laki aja" sahut Bram dengan santainya. Syifa memutar kedua bola matanya malas.


"Hmm sayang, semakin hari. tubuh kamu semakin berisi deh." Bram mencubit pipi Syifa yang mulai terlihat chubby dengan gemas


"Yaiyalah kan aku lagi berbadan dua" ucap


Syifa


"Selain itu kamu juga makan terus, itu yang buat kamu jadi berisi" ucap Bram.


"Itukan bukan keinginan aku. Tapi anak kamu yang minta" sahut Syifa.


"Bagus deh. Dengan begitu, kamu jadi terlihat lebih menggoda di mata aku." Ucap Bram berbisik di telinga Syifa membuat Syifa meremang.

__ADS_1


"Bram, kamu itu dari dulu sifat mesumnya gak hilang-hilang!" Ucap Syifa sebal


"Wajar dong, sayang. Aku ini pria normal. Kalau aku gak mesum, mana mungkin Little Bram hadir." Ucap Bram dengan senyuman kebanggaannya lalu mengelus perut Syifa.


"Tapi gak usah berlebihan sifat mesumnya" ucap Syifa" mengerucutkan bibirnya.


"Kamu juga senang kalau aku mesumin" celetuk Bram membuat pipi Syifa merona.


"Apa? Gak!" Sanggah Syifa. Bram tersenyum penuh arti padanya.


"Ah masa sayang? Buktinya aja kamu selalu pasrah. Ya walaupun setiap kita melakukannya. pasti kamu selalu gigit bahu aku. Aku gak menyangka kamu seliar ini." Ucap Bram dengan gamblangnya dan tanpa rasa malunya.


Wajah Syifa semakin memerah. Itu membuat Bram semakin gemas dengan wajah merona Syifa dan juga pipinya yang chubby


"Eh-enggak, Bram. Sok tahu kamu!" Ucap Syifa.


"Oh kamu mau bukti? Ayo, kita lakukan. Lagipula sudah lama juga aku gak mengunjungi Little Bram." Sahut Bram lagi dengan gamblangnya


Syifa langsung menjitak dahi suaminya dengan gemas. Enak saja main ngomong seenaknya.


"Aduh. Kok aku dijitak sih?" Bram mengusap


dahinya dengan sebelah tangannya.


"Hahahaha." Bram malah tertawa. Syifa semakin mengerucutkan bibirnya sebal


"Kok kamu malah ketawa? Mau aku jitak lagi?" Telinga Syifa panas sekali mendengar ledekan Bram yang menertawainya.


"Tuh kan, kamu lagi hamil itu semakin menggoda, sayang. Semakin seksi dengan perut buncit kamu." Ucap Bram dengan nada menggoda yang membuat Syifa mual.


Pletak


Satu jitakan mendarat dengan mulusnya di dahi Bram. Bram tak menduga Syifa akan menjitaknya lagi.


"Aw! Kok aku dijitak lagi?" Protes. Bram Kali ini Syifa menjitaknya dengan lebih kencang. Bram mengelus dahinya yang terkena jitakan maut Syifa.


"Rasain! Makanya jadi orang jangan mesum-mesum. Ini kantor. Bram. Masih sempatnya aja kamu berfikiran mesum." Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"What's wrong? This is my office. Jadi terserah aku mau ngapain aja. Apalagi ada kamu, aku jadi semakin mau apa-apain kamu." Sahut Bram dengan senyuman yang menurut Syifa menyebalkan.


Syifa ingin menjitaknya lagi dengan keras. namun tangan Bram sudah lebih dulu menahan tangan Syifa yang ingin menjitaknya lagi.


"Hayo, kamu mau jitak aku lagi?" Ledek Bram. Syifa menepis tangannya.

__ADS_1


"Ishh, kamu tuh nyebelin banget ya!" Ucap Syifa menyebikkan bibirnya kesal


Cup. Oliver langsung mengecup bibir Syifa yang mengerucut. Syifa sedikit terkejut la selalu saja terkejut jika Bram menciumnya.


Kan kalau begini, kamu jadi diam" ucap Bram dengan senyum kemenangannya. Syifa hanya mendesis.


Syifa bosan hanya duduk dipangkuan Bram. la ingin beranjak melanjutkan pekerjaannya. namun Bram menahannya dan malah pekerjaannya dipindahkan ke dalam file di laptop Bram. Jadilah Syifa tetap bekerja namun masih dipangkuan Bram.


Bram tak henti-hentinya mengelus perut Syifa yang membuncit, walaupun istrinya itu sedang sibuk dengan laptopnya.


Syifa sendiri membiarkan Bram yang mengelus perutnya sesekali mengecup bahunya yang sedikit terbuka karena ia mengenakan V-Neck


Namun lama kelamaan, tingkah Bram itu semakin menyebalkan bagi Syifa. Lihat saja. Bram main cium lehernya sembarangan sewaktu dirinya sedang bekerja. Membuat Syifa risih.


"Bram. aku lagi kerja. Bisa diam gak?" Ucap Syifa dengan nada menekannya namun tangannya tak lepas dari keyboard untuk mengetik


Bram tak mengindahkan ucapan Syifa. Ia terus memeluk Syifa dari belakang dan mengecup leher hingga bahunya. Syifa merasa, ia salah memakai kostum hari ini.


"Shh. Bram!" Syifa berbalik dan langsung menjauhkan wajah Bram dari leher juga bahunya.


"Kamu itu bisa jangan ganggu aku!" Ucap Syifa sedikit meninggi. Bram hanya menyengir dengan tampang tak berdosanya


"Aku gak tahan untuk cium kamu, sayang" sahut Bram dengan tampang tak berdosanya


"Awas aja, sekali lagi kamu ganggu aku, besok aku gak mau seruangan sama kamu!" Ucap Syifa dengan nada peringatannya. Bram hanya terkekeh.


Syifa pun melanjutkan kembali berkasnya. Sedangkan Bram, pekerjaannya sementara ia alihkan demi bisa berpelukan dengan istrinya di pangkuannya.


Syifa lagi-lagi mendesis sebal. Suaminya


itu masih saja menciumi bahu dan lehernya bahkan menggigit kecil lehernya membuat Syifa tidak nyaman dengan pekerjaannya "Aduh!" Bram mengaduh saat tiba-tiba Syifa


menyikut perutnya dengan lumayan kencang.


"Bram, kamu itu gak bisa diam banget sih!" Syifa mencubit pinggang Bram dengan gemasnya


"Eh iya iya ampun, sayang" ucap Bram. Sebetulnya ia tidak merasa kesakitan. melainkan merasakan geli dengan cubitan Istrinya.


Kamu jadi CEO mesum banget sih!" Syifa mencubit pinggang Bram dengan sedikit kencang.


"Awh iya, sayang. Kan aku mesumnya sama kamu doang." Sahut Bram lalu terkekeh


"Kalau kamu masih gangguin aku. jabatan CEO kamu aku cabut!" Ucap Syifa dengan kesalnya

__ADS_1


__ADS_2