
"Umurku masih dua puluh enam, sayang. Enak aja kamu bilang aku tua!" Sahut Bram yang tidak terima dirinya dibilang tua.
"Pokoknya kamu awas aja kalau berani cari perhatian. Aku gak mau tidur sekamar sama kamu!" Ancam Syifa dengan nada yang mampu membuat Bram bergidik.
"Jangan dong, sayang. Kalau kita pisah kamar. aku gak bisa kunjungin Little Bram ini." Bram mengelus perut Syifa yang buncit dengan tangan kirinya.
"Sayang, nanti kalau kamu sudah besar jangan mesum seperti daddy kamu ya. "Syifa mengelus perutnya dan berbisik pada bayi di dalam perutnya. Bram menaikkan alisnya mendengar Syifa .
"Buah jatuh gak jauh dari pohonnya, sayang" Bram menyahuti dengan terkekeh.
"Hah apa maksud kamu?" Ucap Syifa bingung.
"Lupakan." Sahut Bram la masih terkekeh dengan Syifa. Syifa hanya mencebikkan bibirnya
Sekitar pukul 11, Bram dan Syifa baru tiba di kantor. Seperti biasa. Angga selalu memarah-marahi Bram karena beberapa hari belakangan ini sahabatnya itu selalu datang siang. Dan tentu saja Bram tak terpengaruh ocehan Angga. la pikir kantornya itu miliknya sendiri.
"Tanda tangan ini." Syifa memberikan sebuah berkas ber map biru pada Bram.
Bram menghentikan kegiatannya yang asyik mengetik. Lalu menatap istrinya yang masih menunggu.
"Jangan kelamaan natap aku. Cepat tanda tangan!" Sentak Syifa. la kesal dengan suaminya yang sepertinya sengaja. "Iya, sayangku. Galak banget sih!" Bram
dengan cepat mengambil map itu lalu
menanda tanganinya supaya istrinya itu tidak
marah-marah.
Bram menyerahkan map itu kembali pada Syifa yang masih berdiri di depannya dengan setia
"Oke. Bram, aku ke kantin dulu ya. Aku mau beli camilan buat Little Bram." Syifa mengelus perutnya.
"Kamu disini aja. Biar aku suruh office boy yang belikan kamu camilan "ucap Bram. la tidak mau Syifa pergi ke kantin sendirian, sedangkan pekerjaannya masih menumpuk.
"Gak apa-apa. Bram. Aku gak mau ngerepotin orang lain. Apalagi jam segini jam sibuk bekerja "ucap Syifa memohon pada suaminya itu.
"Ya? Boleh ya? Aku sekalian ngajak jalan-jalan Little Bram, dia bosan kalau di dalam nungguin mommynya yang bekerja". Syifa memasang wajah memohonnya pada suaminya.
Bram menghela nafas la tak tega pada istrinya. Dengan berat hati, ia mengizinkan.
"Ya sudah. Kamu hati-hati. Jangan lupa bawa handphone kamu!" Ucap Bram la tidak mau seperti kemarin Syifa tiba-tiba menghilang dan tidak membawa ponselnya.
"Iya. Makasih daddy. Muaachh." Syifa lalu menghampiri Bram dengan girangnya, la pun mengecup pipi Bram lama.
"Yang ini kamu gak cium juga?" Bram menunjuk bibirnya setelah Syifa melepaskan kecupannya di pipinya.
Cup "Syifa mencium sekilas bibir Bram.
"Bye, daddy" ucap Syifa.
"Hati-hati. Maaf aku lagi banyak pekerjaan jadinya gak bisa nemenin kamu." Ucap Bram. Syifa hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Sepanjang Syifa berjalan, tak henti-hentinya para pegawai menyapanya. Syifa membalas nya dengan ramah sesekali sambil mengelus perutnya.
Setelah membeli beberapa camilan seperti kentang goreng. burger, dan jus buah naga. Syifa kembali ke ruangannya. Tak lupa juga ia membeli beberapa camilan buat Bram juga.
Di dekat lobby menuju lift. Syifa bertemu dengan Angga dan menyapanya.
"Hai. Syifa " sapa Angga
"Hai, Angga " balas Syifa
Tumben kamu ke kantin sendiri?" Tanya Angga. Biasanya Syifa kemana-mana selalu bersama Bram.
"Bram lagi banyak kerjaan. Aku juga lagi pingin ngemil buat Little Bram ." Sahut Syifa tersenyum dan mengelus perutnya.
"Oh gitu. Sehat terus ya buat Little Bram". Ucap Angga tersenyum.
"Amin. Doain aja semoga sehat hingga
persalinan nanti" ucap Syifaa. Angga hanya
mengamini.
"Angga, aku ke atas duluan ya. Bye" Syifa pamit meninggalkan Angga.
"Bye." Sahut Angga.
Syifa menyeruput jus nya lagi lalu berjalan menuju lift.
terjatuh dengan bokongnya yang menghantam
lantai Seluruh tubuhnya merasa nyeri.
"Aaaa. "Syifa berteriak. Angga yang mendengar teriakan Syifa langsung berbalik badan dan menghampiri Syifa.
"Syifa, kamu gak apa-apa?” Angga berjongkok dan terlihat Syifa memegangi perut besarnya dan menahan sakit.
Tepat saat itu juga, para pegawai langsung mengerubutinya.
"Perutku sakit, Angga " ucap Syifa menahan tangisnya agar tidak keluar.
Tiba-tiba Angga melihat darah segar mengalir di paha hingga di sekujur kaki Syifa. Angga panik.
"Astaga, kaki kamu berdarah, Syifa !" Ucap Angga. Syifa hanya menahan sakit pada perutnya.
"KALIAN TOLONG PANGGIL BRAM SEKARANG!!" teriak Angga pada pegawai yang mengerumuni nya. la kesal pada para pegawai itu, Bukannya menolong malah menontonnya.
Teriakan Angga mampu membuat salah satu pegawai langsung berlari menuju lift dan memanggil CEO nya itu.
"Syifa, kamu yang sabar ya. Kita akan ke rumah sakit!" Ucap Angga menenangkan Syifa.
"Sakit. Angga . Aku gak kuat!" Keringat Syifa terus bercucuran la menahan sakit yang amat luar biasa.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian. Bram datang
dengan wajahnya yang sangat panik.
Orang-orang yang mengerumuni pun langsung
memberi jalan untuknya.
"Kamu kenapa, sayang?" Bram langsung berjongkok di samping Syifa dengan wajah panik.
"Sakit, Bram!" Hanya kata itu yang mampu di ucapkan Syifa.
Bram terkejut mendapati darah yang mengalir di kaki Syifa. Tanpa ba bi bu, ia langsung menggendong Syifa ala bridal style.
KALIAN SEMUA BUBAR! Angga. cepat siapkan mobil, kita ke rumah sakit!" Ucap Bram Angga dengan sigap langsung berlari ke parkiran.
Syifa hanya memeluk Bram dengan erat. la sangat merasakan sakit pada perutnya.
Bram mendudukan Syifa di kursi penumpang begitu pula dirinya yang ikut duduk di samping Istrinya. Angga melajukan mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit.
"Bram, sakit." Lirih Syifa terus mencengkram jas yang dikenakan Bram.
"Sabar, sayang. Kita sedang menuju rumah sakit "Bram mengecup kening istrinya berusaha menenangkan Syifa.
"Aku gak kuat. Bram ! Sakit." Ucap Syifa dengan wajahnya yang sudah memucat
"Kamu pasti kuat, sayang!" Bram meraih telapak tangan Syifa dan menciumnya.
"Sakit" pada saat itu juga Syifa memejamkan
matanya pingsan
"Sayang." Pekik Bram yang panik melihat istrinya yang pingsan serta darah yang terus mengalir di kakinya.
"Angga, CEPAT! teriak Bram membuat Angga tersentak. la pun menancapkan pedal gas dengan sangat cepat.
Begitu sampai di rumah sakit, Bram langsung menggendong Syifa yang sudah tak sadarkan diri.
"SUSTER. SUSTER! TOLONG SELAMATKAN ISTRI DAN ANAK SAYA!" Bram teriak sekencang-kencangnya.
Para suster itupun langsung membawakan sebuah brankar. Bram membaringkan Syifa di brankar tersebut. Lalu masuk ke dalam ruang UGD
"Maaf, bapak tunggu di luar" ucap salah seorang suster menahan Bram yang ingin masuk
Tapi sus, istri saya di dalam!" Ucap Bram sedikit meninggi.
Tapi maaf, bapak harus tunggu diluar demi keselamatan pasien "ucap suster itu dengan sabar.
"Arrgghh!" Bram menjambak rambutnya sendiri. la sungguh panik dan khawatir terjadi apa-apa dengan istri dan calon anaknya.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan anakku." Lirih Bram menundukkan kepalanya dengan bahu gemetar.
__ADS_1
la memohon agar Tuhan selalu melindungi istri dan calon anaknya.