JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 17 Orang ke-3


__ADS_3

Calon Dokter


Malam dan siang silih berganti, waktu terus saja berlalu. Kujalalani hari_hari dengan penuh semangat. Semua rencanaku berjalan lancar, kuliahku pun tidak ada yang ketinggalan, dan tak terasa tahun ini aku mulai menyusun proposal. Di sela_sela waktu luangku, aku menghabiskan waktuku dengan tetap belajar dan sharing_sharing ilmu kepada junior_junior yang masi butuh ilmu dasar. Tak lupa pula aku laungkan waktuku untuk dosen tercintaku. Tiada hari tanpa beliau, beliau yang selalu mengisi hari_hariku dan beliau pula yang di percayakan oleh kedua orang tuaku dan juga ke dua kakakku untuk menjagaku.


Kedekatanku dengan kak Arsy makin hari makin romantis. Yang aku ingat, aku tidak pernah bertengkar dengannya seperti pacaran anak SMA, itu mungkin karena sikap dan umur yang sudah dewasa. Dia memang tidak pernah membuatku marah. Sesekali aku curiga, karena aku jarang s’kali memegang handphone miliknya, tetapi kecurigaanku tidak pernah aku nampakkan kepadanya. Aku percaya dengannya, karena satu_satunya yang bisa membangun kesetiaan adalah kepercayaan.


Namun kepercayaanku dia manfaatkan mengambil kesempatan dengan seorang mahasiswa calon dokter. Beberapa gosip yang aku dengar di luar sana tentang hubungannya dengan calon dokter, bahkan saat aku pun mengajar juniorku di komunitas belajar yang aku dirikan beberapa waktu lalu, mereka sempat bertanya padaku bahwa apakah benar calon istri pak Arsyad itu adalah calon dokter, betapa beruntungnya orang yang menjadi istrinya. Perkataan mereka membuatku penasaran. Aku bertanya kepada mereka dimana mereka dapat gosip, dan salah satu dari mereka menjawab bahwa mereka mendengar perbincangan dari pak Arsyad dengan temannya sendiri. Aku tetap tenang mendengar gosip itu, walau sebenarnya aku sudah lama mengetahuinya dan aku pun berusaha tegar untuk tidak ketahuan kepada mereka kalau aku lagi cemburu.


Beberapa saat kemudian, aku segera pamit dari perkumpulan mereka dengan alasan punya urusan dengan teman. Aku meninggalkan tempat belajar mereka tadi, aku segera pulang kerumah untuk menengangkan diri, bagaimana tidak aku tidak tenang kalau selama ini aku selalu menjaga telingaku untuk tidak mendengar hal_hal buruk. Namun apalah yang terjadi, sesuatu yang ku hindari malah ku alami. Di tengah perjalanannku aku terbawa pikiran dengan apa yang tadi mereka katakan, apakah itu benar. Calon Dokter..? Pikiranku yang semakin tidak tenang.


Sesampai di rumah, aku segera masuk kamar. Aku terbaring lemah di atas kasurku, aku masih belum percaya bahwa apa yang di katakan oleh mereka tadi itu benar. Aku berusaha untuk menenangkan diri tetapi hatiku begitu gelisah.

__ADS_1


Aku tidak boleh terburu_buru mengambil keputusan, aku tahu dia orang yang baik dan dia tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tetap percaya dengannya walau itu benar terjadi tetapi aku belum melihat bukti dari mata kepalaku sendiri. Ini baru gosip yang aku dengar. Aku harus tetap percaya.


@@@


Sementara kak Arsy sedang duduk di kamar yang kelihatan begitu gelisah, sepertinya memang terjadi sesuatu dengan dirinya. Di tengah kegelisahannya, dia mengambil handphonenya dan segera menghubungiku, ketika aku melihat panggilannya di layar telfonku, aku merasa jengkel, namun aku harus memastikan gosip_gosip yang tersebar di kampus.


Mendengar suaranya yang begitu lemas, aku menanyakan tentang kabarnya hari ini karena sudah dua hari aku tidak bertemu. Namun dia hanya menutup_nutupi masalahnya saat itu, dia memintaku untuk menemuinya dan sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


Setelah aku berusaha untuk membuka genggamannya, dia lalu memandangku begitu sedih dan berkata, sulit kan genggamanku kau buka, maka sesulit itu juga aku melepasmu. Katanya sambil mencium tanganku.


Aku tidak mengerti maksudnya, aku meminta untuk menjelaskan arti dari perkataanya, dan ternyata maksudnya dia ingin segera lepas dariku. Aku begitu terpuruk mendengar keputusannya.

__ADS_1


Dia memberiku sebuah cincin sebagai kenagan selama tiga tahun bersama dengannya dan sekaligus sebagai tanda maafnya.


Namun aku belum mengerti juga apa alasan dia melakukan ini. Dengan muka tegang dan sedihku aku bertanya tentang kebenaran gosip yang aku dengar, Apakah ini semua karena calon dokter itu.?


Kamu tahu dari mana.? Tanyanya dengan polos, dan tidak merasa kaget akan hubungannya yang aku ketahui.


Beberapa gosip yang aku dengar di kampus, namun aku tidak peduli dengan itu karena aku tidak punya bukti kuat. Karena itulah aku masih percaya denganmu. Kita sudah tiga tahun dan ini semua sudah di ketahui oleh kedua orang tuaku yang tak lain darimu, tetapi jika itu pilihan kak Arsy, aku siap menerimanya. Dengan keputusannya itu hatiku begitu piluh namun aku berusaha tegar di hadapannya.


Setelah beberapa saat kemudian, setelah aku tiba di rumah. Aku berusaha untuk menahan air mataku karena kak Rifal dan istrinya sedang duduk di ruang tengah, saat aku masuk mereka memanggilku untuk duduk di dekatnya. Aku menghampiri mereka dengan muka penasaranku.


Saat aku duduk, aku tidak berbicara apa_apa kepada mereka. Namun mereka yang memulai pembicaraan, mereka bertanya dari mana aku dan aku menjawab bahwa aku dari di rumah Wiwi’. Aku terpaksa berbohong kepada mereka, dan mereka pun percaya apa yang aku katakan, karena mereka juga sudah tahu siapa Wiwi’.

__ADS_1


Jaum jam menunjukkan pukul 08.15, setelah semua isi kamarku beres yang tadinya berantakan, aku memutuskan untuk istirahat.


__ADS_2