JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 8 Sang Motivator


__ADS_3

Tak terasa sudah dua minggu aku masuk kuliah, dan sebentar sore akan balik ke desa. Aku merasa sedih karena mama tidak di hari_hariku lagi.


Hari senin adalah hari di mana hari kebahagiaan teman_teman kelasku terkhusus perempuanya. Sementara aku di mana harus menahan malu. Bagaimana tidak, hari senin adalah jadwal mengajar pak Arsyad di kelasku.


Aku sengaja datang pagi_pagi ini karena aku takut pak Arsyad akan melapor ke papa kalau aku suka terlambat. Saat aku tiba di kampus, parkiran fakultasku sudah ramai dan aku lihat rata_rata motor teman kelasku, aku bisa menebak kenapa mereka semua cepat datang karena hari ini tepat pada jam 08.00 pak Arsyad yang akan mengajar di kelasku, mereka semua mau dibilang anak rajin.


Aku berjalan menuju fakultas, aku sama s’kali tidak melihat kalau orang yang berjalan di sampingku adalah pak Arsyad. Dia pun tidak mengeluarkan kata_kata dari mulutnya, dia hanya lewat begitu saja.


Aku segera naik dan mencari ruangan di mana aku belajar hari ini. Aku lupa melihat jadwalku sebelum aku berangkat tadi. Aku mencoba menelpon Wiwi’ tetapi dia tidak mengangkat telfonku. Aku kebingunan entah kepada siapa aku bertanya akan ruanganku hari ini, aku begitu bingung dan sedikit di selimuti rasa malu kalau misalnya pak Arsyad sudah masuk ruangan lebih awal daripada aku.


Aku mencoba membuka ruangan satu persatu yang ada di lantai tiga. Sudah dua ruangan aku buka dan aku tak satu orang pun yang aku kenal dalam setiap ruangan itu. Untuk ketiga kalinya, aku mencoba membukanya dengan yakin kalau untuk kali ini aku tidak salah ruangan lagi. Aku kemudian membukanya seraya membaca basmalah, namun sebelum aku membukanya tiba_tiba pak Arsyad datang dan bertanya “ Ruangan ini kan..?” katanya sambil menunjuk ke arah ruangan yang aku ingin buka. Dengan rasa percaya diriku, aku pun menjawab “iya pak” walaupun sebelumnya aku belum membuktikan kalau benar ruangan ini adalah ruanganku. Ku ucapkan basmalah dalam hatiku dan segera membuka pintu dan mengucapkan salam. Pak Arsyad pun ikut di belakangku. Aku masuk dan melihat Wiwi’ duduk cantik di kursi bagian depan. Sebenarnya ada satu kursi kosong di samping Wiwi’ yang sengaja dia kosongkan untuk aku, tetapi aku melewati kursi itu dan memilih untuk duduk di belakang di samping teman_temanku yang laki_laki.


Pak Arsyad segera meletakkan tas ransel hitamnya di samping bawah meja lalu dia duduk. Pak Arsyad segera memulai kelasnya karena dia pikir minggu lalu sudah perkenalan. Dia memulainya dengan membaca basmalah lalu memberi salam. Tak lupa dia tanyakan kabar kami semua, teman-teman pun dengan semangat menjawab serentak dengan jawaban sangat baik. Pak Arsyad kelihatan ikut semangat melihat semua mahasiswanya begitu semangat pagi ini.


Setelah itu, dia segera mengabsen. Saat namaku di sebut aku hanya mengangkat tangan, tetapi dia tidak melihatku. Dia langsung menyuruhku pindah ke depan di samping Wiwi’, katanya dia tidak mendengar suaraku. Dalam hatiku berkata “ ya bagaimana dia bisa mendengar suaraku kalau memang aku tidak bersuara”.


Pembelajaran pun segera dia mulai setelah semuanya asben. Satu pertanyaan yang dia munculkan tentang materinya untuk hari ini, tapi tak seoramg pun yang menjawabnya. Sebenarnya aku tahu jawaban akan pertanyaannya, tetapi aku malu menjawabnya karena aku takut salah, karena pemahamanku tentang Tenses kurang. Aku yakin diantara teman_temanku ada yang lebih mengetahiunya daripada aku, tetapi tidak ada yang berani menjawabnya. Setelah beberapa kali dia mengajukan pertanyaan itu bahkan dia menuliskannya di Whiteboard tetapi tidak ada yang menjawabnya. Hingga akhirnya pak Arsyad melihatku dan menyebutkan namaku secara lengkap. Putri Anindia Hasan apa yang kamu ketahui tentang Tenses, berapa banyak Tenses yang pernah kamu pelajari. Aku sedikit kaget saat namaku dia sebut, tadinya yang aku tunduk langsung mengangkat kepalaku dan tak sengaja aku melihatnya dan dia pun langsung mengangkat kedua alisnya, aku sedikit salting di buatnya. Aku berfikir sejenak bahwa pak Arsyad benar_benar melakukan perintah papa untuk membuatku banyak bicara di kelas. Aku pun meminta kejelasan atas pertanyaannya. Setelah dia jelaskan maksudnya, aku menjawabnya sesuai kemampuanku. Di setiap jawabanku dia selalu memunculkan pertanyaan_pertanyaan baru, tetapi Alhamdulillah semua aku jawab meski jawabanku tidak sempurna.


Teman_temanku semua pada iri melihatku karena aku bisa menjawab semua pertanyaan pak Arsyad. Dia meminta pendapat lain dari teman_temanku. Wiwi’ yang duduk di sampingku tak henti_hentinya bertanya, aku pun tidak tahu jawaban apa yang akan ku beritahu padanya. Aku melihat semua jawabanku diatas Whiteboard yang tadi pak Arsyad tulis dan ada satu yang aku lupa sebutkan. Aku pun segera memberitahu Wiwi’. Wiwi mengangkat tangannya dengan maksud ingin sedikit menambahkan jawaban dari jawabanku. Setelah Wiwi berbicara, pak Arsyad segera menjelaskan jawaban yang aku sebut dan juga jawaban tambahan dari Wiwi’. Sepertinya dia tidak merasa puas dengan jawabanku, tetapi aku sudah berusaha menjawab pertanyaannya.


Setelah penjelasannya selesai, dia memberi kami lima menit waktu untuk latihan dan setelah selesai dia memintanya untuk menulis jawabannya di atas Whiteboard. Sementara aku menulis, dia datang di depanku dan melihat pekerjaanku. Ada beberapa yang dia koreksi tetapi dia memberitahuku cara pembenarannya.


Lima menit telah berlalu, dia langsung menyuruhku untuk orang pertama menuliskan jawaban, lalu di lanjutkan oleh teman_temanku yang lain.


Setelah semuanya terjawab, ada beberapa jawaban dari teman_temanku yang dia koreksi karena tidak sesuai dengan apa yang dia jelaskan tadi.


Dia pun kembali menjelaskan karena masih banyak diantara teman_temnku yang belum mengerti akan materi hari ini. Teman_temanku pada serius memperhatikannya sambil mengangguk_ngakukkan kepalanya, itu tandanya bahwa mereka mengerti. Setelah selesai, pak Arsyad segera mengakhiri kelasnya untuk hari ini kemudian pamit keluar.


Setelah pak Arsyad keluar, teman_temanku semua pada memberiku ucapan selamat karena hari ini aku berhasil membuat pak Arsyad terkagum padaku. Aku hanya merespon perkataan mereka dengan senyuman tanpa ada sesuatu yang aku katakan.


Aku telah membuktikan pada pak Arsyad bahwa apa yang dia katakan pada papa itu tidak benar. Aku bisa lebih dari apa yang papa perintahkan pada pak Arsyad walau awalnya aku merasa malu dan takut.


Aku tetap di tempat dudukku yang tadi bersama dengan Wiwi, sementara sebagian teman_temanku keluar, entah kemana mereka, cuma sekitar tujuh orang yang tinggal di dalam kelas termasuk aku dan Wiwi’. Dengan asyiknya aku bercanda dengan Wiwi tanpa menghiraukan orang_orang di sekitarku. Tiba_tiba suara salam yang terdengar begitu lembut dan ramah, aku pun langsung memberhentikan candaku dengan Wiwi’ aku menoleh ke arah pintu dan seorang perempuan cantik yang sedang berdiri di sana dengan wajah yang begitu bercahaya dan konstumya sedikit syar’i. Dia bertanya akan jurusan kami, dan mata kuliahnya sekarang. Arwin sebagai ketua tingkat di kelasku menjawab pertanyaannya.


Perempuan cantik itu masuk dan meletakkan tasnya di atas meja sambil dia melemparkan senyumannya kepada kami semua.


Put, dia kah dosen kita, cantiknya.? Bisik Wiwi.


Iya Wi’ cantik cocok sama pak Arsyad, hihi’... Bisikku kepada Wiwi’.


Bisikanku membuat wajah Wiwi sedikit cemberut.


Bercanda keles Wi’ jangan cemberut donk, nanti pak Arsyad tidak mau sama kamu kalau suka cemberut. Gombalanku yang membuat Wiwi kembali tersenyum.


Perempuan cantik itu sibuk dengan handphonenya. Arwin segera keluar dan memanggil teman_teman yang belum masuk. Beberapa saat kemudian mereka datang satu persatu. Mereka masing_masing duduk di tempatnya yang tadi. Perempuan itu segera memulai kelas untuk hari ini dengan mengucapkan salam. Kami pun menjawabnya dengan begitu semangat. Kesemangatan kami membuat perempuan itu tersenyum kembali. Dia segera memperkenalkan dirinya, namanya begitu cantik dan enak di dengar dan juga menyentuh hati karena namanya islami banget seperti dengan orangnya. Nama dia Zahra Zulkaiyah Zuhran, di panggil Miss Kiya’ dia alumni S1 di Kampus ini juga dan S2nya Schoolarship di Canada. Dia menceritakan akan pengalamannya selama dia menjadi mahasisiwa. Ceritanya tidak jauh beda dengan kisahku saat pertama mau masuk kuliah jika di ceritakan, dia anak satu_satu dan juga anak manja sama sepertiku, katanya bahwa ada sekitar satu bulan ibunya ikut ngekos saat pertama kali masuk kuliah, dan hampir satu bulan juga hari_harinya di temani dengan air mata ketika ibunya sudah pulang. Dia begitu manja lebih manja daripada aku, tapi begitu hebatnya karena dia telah menginjakkan kakinya ke negeri orang. Dia sedikit memberi kami motivasi, dia berkata bahwa “Bermimpilah dengan keadaan tidak tidur, jangan pernah mencoba untuk bermimpi dengan keadaan tidur karena mimpi tidurmu itu tidak akan pernah jadi kenyataan.” Maksudnya sertai mimpimu dengan usaha dan doa, karena mimpi tanpa keduanya itu hanya menjadi angan_angan seumur hidup.”

__ADS_1


Ketika salah satu dari kalian yang sama sepertiku yang tidak bisa jauh dari kedua orang tua maka itulah proses perjuangan kalian, berusahalah untuk mencoba mandiri dan ketika kalian juga termasuk orang yang suka menangis ketika mengingat orang tua maka jadikanlah air mata itu sebagai semangat dan motivasi kalian. Apalah arti air mata jika itu hanya membasahi pipi kalian, hanya menghabiskan berbungkus_bungkus tisu. Tambahnya dengan suara lembut dengan nada tegas.


Kata_kata motivasinya dengan suara lembutnya menyampaikan membuat kami semua tersentuh. Aku baru sadar kalau ternyata kemanjaan dan air mata itu hanya pengeco kesuksesan. Kemanjaan terhadap ibu akan membuat kita semakin lemah.


Waktu Miss Kiya’ berlalu sekitar setengah jam hanya menceritakan pengalaman hidupnya dan sekaligus memotivasi kami semua. Sepertinya untuk hari ini dia baru kontrak perkuliahan karena baru hari ini dia masuk.


Sebelum dia lanjut ke pembicaraan selanjutnya dia sempat bertanya dosen yang mengisi kelas ini sebelum dia mengisinya. Teman_temanku serentak menjawab “Pak Arsyad”, Miss Kiya’ sempat terdiam sejenak mendengar nama itu, beberapa detik kemudian dia bertanya ”Pak Arsyad Ridwan yang lulusan S2nya di Australia .? Iya Miss,,, yang cakep itu. tambah Wiwi. Miss Kiya’ hanya tersenyum mendengar Jawaban Wiwi’.


Katanya, Dia begitu akrab dengan pak Arsyad semenjak pengurusan berkas dulu untuk schoolarshipnya. Kami semua baru tahu kalau ternyata pak Arsyad juga mahasiswa shcoolarship di Australia, dia memang agak sedikit tertutup sehingga menurutnya itu tidak penting untuk kami ketahui, padahal itukan bisa kami jadikan sebagai motivasi, tapi ya sudah lah. Miss Kiya’ juga sedikit bercerita tentang pak Arsyad katanya dia dulu mahasiswa andalan semua dosen karena selain kecerdasan intelektualnya dia juga rajin dan sopan. Mendengar pernyataan ini membuatku sedikit tersentuh. Papa tidak salah pilih untuk menjadikan dia sebagai pengganti posisinya nanti, hmmmdd aku sedikit menyesal telah menolaknya tiga tahun yang lalu, tapi yaaaa,,,, waktu itu aku masih anak-anak. “gumamku“. Aku masih punya kesempatan, bisa saja dia nanti berubah pikiran untuk kembali melamarku setelah aku selesai di sini, tapi itu masih terlalu lama, pak Arsyad akan ketuaan donk.....tambahku dalam hati mulai mengangumi pak Arsyad.


Aku hanyut dalam lamunan saat itu, sampai_sampai namaku di sebut tiga kali saat absen. Seandainya bukan Wiwi yang meneriakiku aku sama s’kali tidak mendengar namaku. Pikiranku saat ini tertuju pada pak Arsyad, aku tidak fokus lagi dengan pembicaraan dengan Miss Kiya’.


“Apakah dosenku saat ini akan jadi jodohku kelak.?” Hatiku bertanya_tanya.


Miss Kiya’ saat ini sudah tidak di ruangan lagi, tetapi aku masih melamungkan tentang pak Arsyad.


Oh My God, Apakah jodohku nanti akan seperti itu.? hati semakin bertanya_tanya. Ada apa dengan hati dan pikiran saat ini ya Allah.


Tak terasa orang_orang di ruangan itu tinggal sedikit. Sementara Wiwi’ yang duduk di sampingku belum bergerak sama s’kali belum ada tanda_tanda untuk dia keluar. Aku merasa kalau dari tadi Wiwi menatapku dengan curiga. Aku segera mengalihkan pikiran dengan makanan sebelum aku bangkit dari tempat dudukku karena aku takut salah ucap dengan Wiwi’ ketika aku bangkit sementara di pikranku masih pak Arsyad. Makan juga akan jadi alasanku nanti jika Wiwi’ bertanya tentang apa yang aku khayalkan tadi walau itu sama s’kali tidak masuk akal untuk aku jadikan sebagai alasan.


Aku segera keluar dan turun melewati beberapa anak tangga, saat aku di lantai bawah aku meihat pak Arsyad dari kejauhan. Aku berjalan cepat untuk menghindari penglihatanku. Untung Wiwi tidak melihatnya.


Aku berjalan menuju kantin dengan penuh rasa deg_degan. Aku takut rasa sukaku terhadapnya. Wiwi’ yang sedang berjalan bersamaku aku bayangkan sebagai pak Arsyad dan khayalanku itu sedikit membuatku kecoplosan. Untung saja Wiwi tidak curiga ketika aku memanggilnya kakak. Aku bayangkan kalau kelak aku akan memanggil kakak padanya.


@@@


Kamu tidak capek berteman dengan orang scerewet ini....? tanya kak Divan padaku sambil melirik Wiwi’


Aku tersenyum dan berkata bahwa dia teman yang asik, aku suka berteman dengan orang cerewet karena aku agak sedikit pendiam. Jawabku


Wiwi’ memang asik tapi nyebelin. Tambah kak Divan yang sepertinya lagi menguji Wiwi’


Dia nyebelin tapi ngangenin... jawabku sambil menggodanya.


Beberapa saat kemudian setelah kak Divan tidak bicara lagi... Wiwi meliriknya entah apa maksudnya.


Kak kenapa diam, aku kan suka di buli... tanya Wiwi’ pada kak Divan


Liat, dia nyebelin kan .? Tanyanya kak Divan ke aku


Aku hanya tersenyum, sambil melihat Wiwi yang masih dengan makannya. Sepertinya ada sesuatu di balik keakraban mereka, gumamku...


Beberapa saat kemudian, teman kak Divan datang. Dia duduk di samping kak Divan seraya bertanya siapa dia sambil melihatku. Kak Divan jawab bahwa aku adalah junior. Aku tersenyum kepada kakak itu. Dia mengajakku berkenalan.


Hay, aku Dion. Sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Iya, saya Putri kak. Jawabku sopan, sambil berjabat tangan dengannya.


Anhenya, dia tidak mau melempaskan tanganku. Sampai akhirnya tangan kak Dion di tarik oleh kak Divan. Aku sedikit menggeleng_ngelengkan kepala melihat tingkah kak Dion. Sepertinya kak Dion senior raja gombal. Pikirku.


Kak Dion mulai bertanya_tanya tentang aku. Aku curiga bahwa apa yang aku pikirkan ini benar. Kak Dion suka ngegombal.


Aku hanya cuek saja, supaya aku tidak jadi korban gombalannya. Aku memanggil Wiwi’ untuk segera meninggalkan tempat ini dengan alasan kuliah


Aku bertanya kepada Wiwi’ akan sifat kak Dion, dan ternyata pikiranku benar bahwa kak Dion memang raja gombal. Kata Wiwi sejak SMA. Bahkan Wiwi pernah jadi korbannya. Kak Dion memang keren tetapi kerjaannya cuma gombal, beda dengan kak Divan. Kak Divan dengan muka sederhananya membuat para wanita_wanita terkagum dengannya. Karena selain kelucuannya juga nyaman di ajak ngobrol.


@@@


Dering handphoneku membuat pembicaraanku dengan Wiwi terpotong. Kakakku yang menelfonku. Dia menyuruhku untuk pulang cepat karena dia ada urusan yang harus dia kerjakan dan memakan waktu sampai malam sehingga dia menyurhku untuk menjemput Ayla di kantornya. Aku bilang nanti selesai aku kuliah baru ke sana.


Saat aku tiba di depan fakultas, Arwin ketua tingkat di kelasku memberitahuku bahwa dosen sekarang tidak masuk. Aku segera pulang dan aku ingin menjemput Ayla di kantor ayahnya yang cukup jauh.


Hari ini Wiwi’ tidak bawa motor, jadi aku pulang sama karena kebetulan kantor kakakku searah dengan rumah tante Wiwi yang dia tinggali. Di jalan aku kembali melanjutkan ceritaku yang terpotong tadi.


Wiwi bilang sama aku kalau aku harus berhati_hati dengan sikap kak Dion. Bukannya aku baper, tetapi kenyataanya kalau kak Dion ingin dekat denganku. Baru juga kenal tingkahnya sudah lain, buat aku ilfeel.


Perjalananku saat ini terasa dekat, mungkin karena aku terlalu asik ngobrol dengan Wiwi di atas motor. Aku sudah masuk di lorong rumah tante Wiwi. Sekitar lima menit perjalanan masuk ke lorong rumah tante Wiwi dari jalan raya. Setelah Wiwi turun dari motor, aku langsung pergi dan menolak ajakan Wiwi untuk masuk ke rumah tantenya, karena aku akan menjemput Ayla.


Sekitar limabelas menit perjalananku dari rumah tante Wiwi dengan kantor kakakku. Saat aku tiba di kantor kakakku, aku mengirimkan dia sms kalau aku sedang di depan kantornya. Lama aku menunggu, sms pun tidak di balas. Aku mencoba menelfonnya namun tidak ada jawaban.


Mungkin dia sedang rapat... Gumamku,,,


Tak lama kemudian satpam di kantor itu mendekatiku dan bertanya.


Adek nunggu siapa..?


Oh, iya pak aku mau ketemu dengan pak Rifaldi, saya adeknya.


Silakan masuk saja dek, ruangan pak Rifaldi ada di lantai dua ruang 07.


Tiba_tiba saja kak Rifal keluar membawa Ayla. Oh iya pak aku tidak jadi masuk, kakak aku sudah keluar. Kataku kepada satpam.


Aku segera bertemu dengannya, dan mengambil Ayla. Ayla yang begitu kelihatan lelah, dan merasa ngantuk. Aku pamit kepada kak Rifal dan segera menuju ke parkiran menggandeng tangan Ayla.


@@@


Akhirnya aku sampai di rumah dengan rasa capek dan lelah. Aku segera masuk kamar untuk ganti pakaian sementara Ayla tinggal di ruang tengah sambil memainkan boneka berbienya.


Aku keluar mengunci pintu depan, lalu kembali masuk dan menonton. Suasana pada hari ini sangat sunyi. Beda dengan kemarin ketika mama belum pulang. Ayla sepertinya sedang sibuk dengan mainannya. Untuk menghilangkan rasa lelahku, aku tidur di depan TV, tanpa mengiraukan Ayla.


Sekitar satu jam aku tidur. Saat aku bangun, aku melihat Ayla tidur di atas mainannya tanpa bantal. Aku pun segera memindahkannya ke tempat tidurku yang tadi.

__ADS_1


@@@


__ADS_2