JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 46


__ADS_3

Selepas makan siang. Bram dan Syifa kembali ke kantor Bram. Syifa masih saja kesal dengan Bram soal wine yang diminum Bram saat di restoran tadi.


"Sayang, sudah dong ngambeknya" ucap Bram sambil menyetir.


"Aku masih kesal sama kamu pokoknya!" Syifa


mengerucutkan bibirnya dan mengalihkan


pandangannya keluar jendela.


"Nanti aku buatin kamu jus anggur deh. Jangan ngambek dong." Bram berusaha membujuk Syifa yang tidak mau menatapnya.


"Wine sama jus anggur itu beda, Bram" ucap Syifa. Ada-ada saja suaminya ini kalau buat jus anggur Syifa pasti bisa. Tinggal haluskan buah anggur saja di dalam blender.


"Aku gak bakal kasih kamu wine. Nanti kamu ketagihan, bisa membuat kamu mabuk" ucap Bram. la tidak mau membuat istrinya mabuk


"Kalau gitu, aku gak mau bantuin jadi sekretaris kamu. Aku mau pulang" ucap Syifa ngambek. Bram benar-benar penuh kesabaran jika Syifa sudah merajuk padanya.


"Kok gitu sih, sayang. Apa hubungannya wine sama sekretaris?" Sahut Bram. Syifa kalau sudah marah dan ngambek pasti selalu saja mengaitkannya ke hal-hal yang lain.


"Aku gak mau kembali ke kantor" ucap Syifa dengan datarnya.


"Kita pulang saja. Aku bisa seret pekerjaan aku ke rumah" ucap Bram tak mau kalah dengan senyum kemenangannya.


"Kok gitu sih? Kamu curang!" Sahut Syifa kesal. Bram terkekeh karena Syifa tak bisa berkutik lagi.


"Makanya kamu harus turutin aku" ucap Bram


dengan nada tegasnya membuat Syifa tak bisa membantahnya.


"Kamu memang nyebelin!" Umpat Syifa kesal.


Bram hanya terkekeh


"Nyebelin gini aku tetap tampan kan?" Syifa menoleh ke arah Bram dan dilihatnya Bram menaik turunkan alisnya menggoda Syifa. Syifa mendelik dan kembali memandang jalanan diluar.


"Hahaha." Bram tak bisa menahan tawanya melihat Syifa yang jengkel dengannya. Menggoda Syifa adalah salah satu kesukaannya.


Sudah setengah jam di perjalanan. Syifa merasa tidak sampai juga di Kantor Bram. Perasaan jarak dari Restoran ke kantor Bram tidak terlalu jauh. Syifa menoleh ke samping dan melihat Bram yang fokus memperhatikan jalanan di depannya.


"Bram, kita kok gak sampai-sampai di Kantor kamu?" Tanya Syifa pada Bram Bram menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.


"Tadi katanya kamu mau pulang?" Balas Bram.


Syifa tidak benar-benar mengucapkan kalau dirinya ingin pulang, la masih ingat kalau ada pekerjaan Bram yang harus diselesaikan.


"Ish aku gak serius." Ucap Syifa. Bram malah menanggapinya dengan serius.

__ADS_1


"Gak apa-apa. sayang. Aku tinggal minta Pak Kardi untuk mengambil berkas dan dokumen yang di kantor" sahut Bram dengan mudahnya.


Syifa hanya mendelik kesal suaminya. Suka bertindak seenaknya dan Syifa yang harus menuruti kemauannya.


Mobil yang Bram kendarai masuk ke dalam deretan perumahan elit yang berada di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Syifa mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah kesini sebelumnya dan terlihat asing baginya. Namun Bram terus mengendarai mobilnya hingga sampai di salah satu rumah bergaya eropa yang paling luas dan mewah.


Bram menurunkan kaca mobilnya dan berbicara pada security. Tak lama kemudian security itupun membukakan pintu gerbangnya.


Syifa berfikir kalau Bram mengajaknya berkunjung ke rumah saudara atau temannya. Tetapi, semua saudara Bram berada di London termasuk kedua orang tuanya dan tak mungkin ini rumah saudaranya. Maka pilihan kedua lebih tepat, yaitu rumah teman lamanya.


"Ayo turun, sayang" Bram melepaskan sabuk pengamannya dan mengajak Syifa turun. Syifa masih saja melongo dan menebak-nebak rumah siapa di depannya


"Ini rumah siapa. Bram?" Tanya Syifa begitu la sudah turun dari mobil.


"Ayo, masuk" Bram menggandeng lengan Syifa untuk segera masuk ke dalam rumah megah itu. Syifa hanya mengikuti Bram yang menggandengnya.


Bram pun membuka pintu utama rumah itu yang tidak dikunci. Syifa menatap takjub dengan desain rumah itu


"Selamat datang di rumah kita, sayang" lanjutnya. Syifa langsung menoleh menghadap Bram.


"Ini beneran rumah kamu,


Bram?" Tanya Syifa menatap Bram tidak percaya.


Bram dan Syifa pun masuk ke dalam rumah itu. Baru saja di ruang tamu, tiba-tiba seorang pembantu rumah tangga menghampiri keduanya.


"Selamat siang. Tuan dan Nyonya. Mau minum apa?" Tanyanya ramah menyambut majikannya datang.


"Siang. Bi Inem. Perkenalkan, ini istri saya" ucap Bram pada Bi Inem. Syifa pun mengulurkan tangannya pada Bi Inem.


"Saya Syifa, Bi" terlihat Bi Inem yang ragu-ragu ingin membalas uluran tangan majikannya itu.


"inem. Nyonya" sahutnya gugup. Ini merupakan


pengalaman pertama bagi Bi Inem mempunyai


majikan yang sangat ramah.


"Panggil Syifa aja, Bi" ucap Syifa tersenyum.


"Ta-tapi. Ucapnya tergugup seraya melirik Bram


"Ikutin aja permintaannya. Bi" sambar Bram langsung


"Ba-baik, Tuan" sahut Bi Inem mengerti.

__ADS_1


"Saya dan istri saya mau melihat-lihat rumah ini dulu, Bi" pamit Bram dengan sopan. Bi Inem pun mengangguk ramah dan kembali ke dapur.


"Bram, sejak kapan kamu beli rumah ini sudah lengkap dengan pembantu dan security segala lagi." Ucap Syifa yang malah terlihat takjub dengan suaminya.


"Rumah ini baru jadi sekitar sebulan yang lalu" sahut Bram


"Kamu kok gak kasih tau aku kalau kamu punya rumah?" Tanya Syifa. Selama ini Syifa tidak pernah mengetahui jika Bram diam-diam membangun rumah. Yang Syifa tahu, Bram hanya tinggal di apartemen.


"Aku mau kasih surprise ke kamu" ucap Bram dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Mereka berdua mengobrol sambil berjalan-jalan mengelilingi rumah megah ini.


Syifa sangat beruntung memiliki suami seperti Bram yang membuatnya bahagia. Selalu memberi kejutan yang tak pernah Syifa duga


"Kamu suka desainnya?" Tanya Bram hati-hati.


"Suka banget. Bergaya klasik khas eropa" sahut Syifa berbinar la sangat suka dengan desain rumahnya.


"Itu karena aku keturunan Eropa" ucap Bram.


"Ya aku tahu" sahut Syifa.


"Mau lihat kamar kita?" Tawar Bram Syifa


mengangguk. Bram pun menuntun Syifa menaiki tangga menuju lantai dua tepat letak kamarnya.


Ada sebuah pintu dua di pojok ruangan. Bram pun mengajak Syifa masuk ke dalam kamarnya


"Ini kamar kita nanti" ucap Bram.Syifa terperana melihatnya. Desain kamarnya benar-benar mirip seperti di istana bahkan sofa dan lemarinya pun persis seperti dalam dongeng


"Aku merasa seperti barbie". Ucap Syifa duduk di pinggir ranjang. Ia pun memegang bingkai foto yang berisi foto pernikahannya di atas nakas.


Bram memang benar-benar sudah mempersiapkan ini semua dengan baik


Bram terkekeh dan ikut duduk di pinggir ranjang disamping Syifa.


"Kamu niat banget bangun rumah ini sampai


foto pernikahan kita ada" ucap Syifa takjub


"Aku membangun rumah ini dengan sepenuh hati" sahut Bram


Syifa menaruh bingkai foto itu diatas nakas dan berkeliling ke penjuru kamar ini, la melihat ada dua pintu. Yang satu pintu kamar mandi. Dan yang satu lagi ia tidak tahu.


"Bram, ini pintu apa?" Tanyanya pada Bram.


"Oh ya, itu pintu kamar untuk anak-anak kita nanti. Kamu mau lihat?" Bram beranjak dari raniana dan menuntun Syifa untuk melihat

__ADS_1


__ADS_2