JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 68


__ADS_3

"Om, tante, saya pamit dulu. Masih banyak kerjaan di kantor "ucap Angga sopan.


"Makasih ya nak Angga" ucap mama Syifa


"Sama-sama tante, semoga Syifa cepat siuman" sahut Angga.


Setelah itu, Angga keluar ruangan dan menuju kantor dengan menaiki taksi. Karena tadi ia membawa mobil Bram .


Mama Syifa pun menghampiri Bram yang masih setia memegang erat telapak tangan Syifa sesekali mengelus perut buncitnya.


"Bram, sudah nak Syifa baik-baik saja" Mama menepuk pelan pundak Bram.


"Iya, ma. Bram masih mau nemenin Karen dulu


hingga siuman" sahut Bram


"Kamu istirahat dulu. Lihat penampilan kamu berantakan "ucap mama berusaha membujuk menantunya.


"Gak apa, ma. Bram gak capek kok" ucap Bram tersenyum pada mama Syifa .


"Ya sudah. Kalau kamu lelah, istirahat dulu" ucapnya sekali lagi. Bram hanya menganggukan kepalanya.


Tak lama kemudian, seorang dokter dan


beberapa perawat lainnya datang menghampiri.


"Maaf ibu, bapak. Pasien harus segera dipindahkan ke ruang rawat inap dan kami juga sudah mengambil donor darah untuk pasien. "Ucap dokter tadi yang memeriksakan Syifa.


"Baiklah dok. Saya minta ruangan VVIP yang terbaik di rumah sakit ini" sahut Bram langsung.


Dokter dan para perawat pun segera mendorong brankar Syifa untuk segera dipindahkan ke ruang rawat inap.


Bram mengikutinya di samping. Sedangkan mama dan papa Syifa mengikuti di belakangnya.


Syifa membuka matanya. Apa yang terjadi pada dirinya. Syifa mendapatkan cahaya putih yang menyilaukan penglihatannya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Seru Bram di samping Syifa yang masih setia memegang telapak tangannya.


"Kepalaku pusing. Bram" Syifa memijit keningnya.


"Jangan banyak gerak dulu, sayang. Minum dulu" ucap Bram menyodorkan segelas air putih untuk Syifa. Syifa langsung meminumnya hingga tandas.


"Bram, seberapa lama aku tidur?" Tanya Syifa pada suaminya.


"Tiga hari, sayang" sahut Bram seraya menaruh


gelas di atas nakas

__ADS_1


"Little Bram tidak apa-apa kan?" Syifa dengan panik langsung mengelus perutnya. Ia teringat dengan mimpinya.


Syifa bernafas lega mendapati perutnya yang masih membesar la takut anaknya pergi meninggalkannya bahkan sebelum lahir.


"Little Bram baik-baik saja. sayang" Bram


mengelus perut Syifa dengan sayang.


Bram menatap istrinya yang terus menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"kenapa tatap aku terus? aku tampan ya?"


ucap Bram dengan tingkat kepedeannya.


"mommy suka mata daddy yang biru." ucap Syifa dengan nada manjanya. Bram tersenyum.


"daddy suka mommy yang cantik dan manja.” Bram membiarkan tangan Syifa yang sedang mengelus wajahnya.


Bram terpejam menikmati sentuhan Syifa pada wajahnya. kemudian, Syifa berhenti mengelus wajahnya dan telunjuknya terhenti di bibir merah Bram.


Bram membuka matanya dan tiba-tiba Syifa langsung menarik tengkuknya dan mengecup bibir suaminya.


Bram sedikit terkejut, tapi kemudian ia membiarkan Syifa menciumnya. Syifa menciumnya dengan lembut seakan-akan Bram sangat berharga baginya.


"Wow, rupanya kamu sudah berani cium aku duluan." Goda Bram setelah Syifa melepas ciumannya.


"Bukan aku yang menginginkannya. Tapi anak kamu. Bram " ucap Syifa. la sendiri juga tidak tahu mengapa tiba-tiba saja ia mencium suaminya. Mungkin hanya terhipnotis saat melihat matanya tadi.


Pipi Syifa bersemu merah setelah ia mencium Bram. Sedangkan Bram gemas dengan pipi merah Syifa.


"Mommy." Panggil Bram lirih pada Syifa, Syifa menoleh.


" i love you." Lanjut Bram tersenyum. Entah kenapa Syifa merasa jantungnya berdebar.


"i love you more " balas Syifa


Sudah seminggu lamanya Syifa diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah pulih.


Sekarang kandungannya menginjak bulan ke sembilan, Syifa tinggal di rumah mamanya karena mamanya khawatir jika Syifa sendirian di apartemen apalagi Bram yang sudah melarang Syifa bekerja. Bram takut kejadian seperti beberapa bulan lalu terjadi lagi pada Istrinya.


Beberapa hari lagi, dokter memprediksi jika Syifa akan melahirkan di hari ke empat atau lima. Tentu saja, Bram yang sudah sangat tidak sabar menunggu buah hatinya itu keluar.


"Aduh, Syifa kamu itu sudah hamil besar mending aku aja yang siapkan sarapan "ucap ivana pada adik iparnya. ivana sudah melahirkan tiga bulan yang lalu saat Syifa baru saja pulang dari rumah sakit.


"Gak apa kak, lagipula aku gak banyak gerak


kok" ucap Syifa.

__ADS_1


"Jangan, Syifa. Mending kamu duduk manis aja dan siapkan roti untuk suami kamu" ucap ivana tersenyum. Akhirnya Syifa mengerti. la lalu duduk di salah satu kursi dan menyiapkan roti selai untuk Bram


"Kiara nya mana kak?" Tanya Syifa membuka pembicaraan.


"Kiara masih tidur. Syifa. Paling sebentar lagi dia juga bangun "ucap ivana sambil membereskan piring beserta sendok


Menjelang Syifa lahir, mamanya memang sengaja menyuruh Dion dan ivana tinggal di rumahnya. Bahkan mereka sudah tinggal selama tiga bulan. Mama Syifa ingin menyambut cucu-cucunya itu.


"Gimana kandungan kamu, Syifa?" Tanya ivana


"Baik kak. Aku juga merasa lebih berat dari biasanya" sahut Syifa. Ia meminum susu hamilnya,


mengacuhkan bahunya "Lho memangnya kamu tidak melakukan tes usg?"


"Tidak Karena aku dan Bram ingin menjadi


kejutan" Syifa tersenyum riang.


"Oh. Tapi kalau kakak lihat dari perut kamu. sepertinya bayi kamu tidak hanya satu" ucap ivana membuat Syifa bingung.


"Entahlah aku gak tau kak" sahut Syifa,


Tiba-tiba saja terdengar suara bayi menangis. Hoek hoek hoek Dion langsung menggendong putrinya dan menghampiri ivana yang masih menyiapkan sarapan


"Mami. Ucap Dion tergopoh-gopoh dengan rambut berantakannya serta hanya memakai celana boxer selutut tanpa memakai baju sama sekali. Wajahnya masih terlihat mengantuk.


"Astaga, kamu baru bangun pi?" ivana segera mengambil alih Kiara di gendongan suaminya.


Syifa memperhatikan kakaknya itu. Dengan tak tahu diri. Dion mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan ivana di atas meja.


"Hush. Belum mandi main ambil aja!" ivana menyentak tangan suaminya dengan sebelah tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi menyusui Kiara.


"Aku lapar, mami cantik"" ucap Dion.


"Orang mandi dulu. Ini masih telanjang. bau iler main makan aj"a celetuk Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ish sejak kapan kamu di sini?" Ucap Dion yang


ternyata tidak mengetahui keberadaan Adiknya


yang sedang duduk sedari tadi.


"Dari tadi. Makanya kak, cuci muka dulu terus bangun tidur baca doa" ledek Syifa.


"Tadi Kiara nangis, kakak panik karena ivana tidak ada di kamar "sahut Dion.


"Sudah sana mending kamu mandi. Bau tau!" Ucap ivana yang membuat Dion gemas.

__ADS_1


Lantas sebelum pergi mandi, Dion mencium pipi Kiara yang sedang menyusu pada ivana sehingga membuat bayi mungil itu menangis


Papi kamu apa-apaan sih!" ivana langsung menjauhkan wajah suaminya yang masih saja mengganggu anaknya.


__ADS_2