
dan akhirnya tercebur juga
"Tolong bantuin aku" Bram mengulurkan tangannya pada Syifa untuk keluar dari kolam. Syifa menarik tangan Bram
Namun apadaya tubuh Syifa yang lebih kecil daripada tubuh Bram. Syifa tidak kuat menarik Bram sehingga dirinya kehilangan keseimbangan.
"Kyaaa". Syifa malah ikut tercebur ke dalam kolam bersama Bram. Bram tertawa melihat ekspresi Syifa yang tercebur karena tak kuat menarik dirinya.
"Bram, kamu apa-apaan sih!" Bentak Syifa langsung memukul bahu Bram. Yang dipukul hanya tertawa.
"Hahaha maaf sayang" sahutnya menjauhkan tangan Syifa yang memukul bahunya.
"Gara-gara kamu baju aku jadi basah omel"
Syifa pada Bram
"Itu karena kamu yang gak kuat tarik tangan aku" sahut Bram tidak mau kalah.
"Bukan aku. Badan kamu aja yang berat!" Syifa tidak terima dirinya disalahkan oleh Bram.
"Badan kamu aja yang kurus" ucap Bram
"Apa kata kamu?” Syifa menyipratkan air ke Bram. Enak saja dirinya dibilang kurus. Itu mah badan Bram saja yang lebih besar dan berat darinya.
"Ampun, sayang" ucap Bram Dirinya dicipratkan
air oleh Syifa yang tidak berhenti.
"Aku kesal sama kamu!" Teriak Syifa.
"Sudah dong sayang!" Ucap Bram Namun Syifa tidak berhenti.
Bram lalu mengunci tangan Syifa dan menggendongnya membuat Syifa terkejut.
"Bram, kamu mau ngapain?" Tanya Syifa
was-was
"Ini akibat kamu yang tidak mau berhenti" Bram langsung melepaskan gendongannya pada tubuh Syifa membuat Syifa gelagapan karena terjatuh ke dalam air
"Bram!!!" Teriak Syifa setelah kepalanya timbul dari dalam kolam. Bram tertawa puas melihat ekspresi kesal Syifa.
"Sudah-sudah kita ganti baju sekarang" Bram membantu Syifa keluar dari kolam renang.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan
basah kuyup.
"Kamu ngapain ikutin aku?" Tanya Syifa saat menyadari Bram mengikutinya yang ingin masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mandi bareng" sahut Bram singkat.
"Gak boleh. Kamu sudah buat aku kesal seharian ini" tolak Syifa
Bram tidak mempedulikan ucapan Syifa. Langsung saja ia menggendong Syifa masuk ke dalam kamar mandi.
"Bram!!" pekik Syifa saat Bram tiba-tiba menggendongnya ala bridal style. Bram hanya terkekeh.
***
"Good morning baby." ucap Bram pada Syifa yang di sebelahnya baru saja membuka matanya.
Syifa mengerjapkan matanya. Astaga, ia ketiduran sampai pagi sampai tak sadar. Kemarin saat ia dan Bram tercebur ke kolam, Bram melarangnya untuk pulang ke apartemen terlebih dahulu karena menyuruh Syifa beristirahat. Dan setelah makan malam, Syifa kekenyangan dan tidur sampai pagi
"Nyenyak banget ya tidurnya." ucap Bram mengelus kepala Syifa dengan lembut dan merapatkan tubuhnya ke pelukan Syifa.
"Ini jam berapa?" Tanya Syifa dengan suara seraknya di balik dada bidang Bram.
"Hmm jam 8, sayang" sahut Bram melirik jam
dinding di kamarnya.
"APA?" Syifa langsung terbangun dan duduk. Kebo sekali dirinya sehingga jam 8 baru bangun. Bram yang melihat Syifa panik, ikut duduk juga disamping istrinya.
"Kok aku bisa bangun jam segini sih?" Tanya Syifa pada Bram. Tidak, lebih tepatnya pada dirinya sendiri.
"Kamu tidurnya nyenyak banget" sahut Bram menggendikkan bahunya.
"Memang" sahut Bram singkat.
"Kenapa sekarang kamu belum rapi?"
"Nanti aja aku berangkat kerja sama kamu agak slangan dikit "ucap Bram dengan entengnya. Santai saja kantornya punya ia ini. Jadi mau datang jam berapa saja bebas baginya
"Aku kan gak kerja" ucap Syifa mengernyitkan dahinya.
"Kamu lupa, sayang? kan sekarang kamu jadi sekretaris aku." Bram menggeleng-gelengkan kepalanya. Istrinya ini selalu saja lupa. Bahkan Bram tak habis pikir mengingat malam pertamanya dengan Syifa dengan Syifa yang amnesia pada pagi harinya.
"Oh iya, aku lupa. Hehe" Syifa menyengir tak berdosa. la lupa jika dirinya menjadi sekretaris suaminya sendiri.
Syifa pun beranjak dari ranjang untuk segera ke kamar mandi la ingin menyiapkan sarapan untuk Bram dan dirinya.
Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Bram
menahan lengan Syifa.
"Mau mandi lah Sahut Syifa.
"Mandi bareng sama aku ya." Bram memamerkan deretan giginya.
__ADS_1
"Gak! Mandi sama kamu bakal lama" Syifa mendelik, la tidak mau menghabiskan waktu di dalam kamar mandi jika dirinya mandi bersama Bram.
Syifa masih mengingat kejadian kemarin siang saat Bram menggendongnya paksa dan menurunkannya di bath up la mandi berdua
menurunkannya di bath up la mandi berdua Bram yang memakan waktu berjam-jam hingga dirinya merasa pegal karena Bram yang memintanya berdiri. (You know what I mean. hehe).
"Kan semalam kamu langsung tidur. Jadinya aku gak dapat jatah" pinta Bram dengan wajah memelasnya yang menggemaskan
Yang kemarin siang aja badan aku masih pegal-pegal. Bram " sahut Syifa dengan malasnya. Bisa-bisa ia tepar hari ini jika Bram mandi bersama dengannya. Bram hanya menyengir.
"Aku janji kita hanya mandi doang, gak lebih
ucap Bram
"Gak!" Syifa langsung menyanggahnya.
"Beneran sayang, aku janji" Bram menunjukkan
jari telunjuk dan tengahnya yang berarti tanda
peace pada Syifa.
"Bule mesum!" Syifa langsung menepis tangan Bram dan berlari kecil masuk kamar mandi sebelum Bram menggendongnya lagi dengan paksa.
Setelah mandi. Syifa turun ke dapur. Di dapur sudah ada Bi Inem yang sedang menyiapkan sayur-sayuran, daging, telur, dan lainnya untuk di masak pagi ini. Syifa menghampiri Bi Inem yang sedang memotong sayuran.
"Pagi, Bi" sapa Syifa yang sempat membuat Bi Inem terkejut.
"Pagi, Nyonya" sahut Bi inem tersenyum ramah.
"Ih, bibi kok masih panggil aku nyonya Syifa " berpura-pura cemberut membuat Bi Inem merasa bersalah pada majikannya ini.
"Eh iya. Bibi manggilnya pakai 'Non aja ya? Gak enak kalau bibi langsung panggil nama ucap Bi Inem la merasa tidak enak jika memanggil majikannya dengan menyebut namanya.
"Oke. Itu lebih baik" Syifa tersenyum Setidaknya tidak apa-apa jika Bi Inem memanggilnya dengan 'Non
"Bibi mau masak apa?" Tanya Syifa pada
Bi Inem yang asyik melanjutkan memotong sayurannya. "Bibi mau masak sayur sop kacang polong"sahut Bi Inem.
"Biar aku bantu ya, Bi" Syifa menawarkan dirinya.
Tidak usah, Non. Nanti tangan Non kotor "ucap
Bi Inem.
"Gak apa-apa. Bi. Aku biasa menyiapkan sarapan untuk Bram di apartemen" ucap Syifa. Bi Inem pun akhirnya mengalah dan membiarkan Syifa ikut membantunya memasak.
Syifa pun memasak sayur sop kacang polong spesial untuk suaminya. Setelah selesai, Bi Inem dan Syifa pun menyajikannya di meja makan.
__ADS_1
Bram menghampiri Syifa yang sedang menata makanan di atas meja. Ia membawa dasi serta jas biru tuanya yang tersampir di lengan kirinya.