JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bab 45


__ADS_3

"Kamu ke kantor papa?" Bram menaikkan salah satu alisnya.


"Aku cuma mau bertemu Alika aja, kok" ucap Syifa melembut la tahu jika Bram terkejut karena Syifa belum meminta izin pada Bram


"Ya sudah, Kamu bantuin aku untuk sementara aja ya sampai Angga sudah menemukan sekretaris baru" pinta Bram dengan tatapan yang tidak bisa Syifa tolak.


Syifa pun mengangguk. Bram memberikan sebagian berkas yang harus Syifa kerjakan.


Beruntung Syifa mempunyai pengalaman bekerja. Jadi ia tidak perlu belajar lagi tentang berkas-berkas itu. Syifa menyusun kegiatan yang akan Bram lakukan hingga tiga hari ke depan.


Syifa meletakkan pulpen yang habis la gunakan menulis. la melirik ke arah arloji yang menempel di pergelangan kirinya.


Pukul 12.14 itu tandanya sudah siang dan ia biasanya baru datang jam segitu untuk membawakan Bram makan siang. Dilihatnya Bram masih sibuk menatap laptopnya.


Syifa pun menghampiri Bram untuk mengajaknya makan siang. Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, la baru sadar jika selama ini Bram menyuruhnya membawakan makan siang karena pria itu pasti akan lupa makan jika dirinya tidak datang.


"Bram, aku lapar." Rengek Syifa berdiri disamping kursi Bram. Bram menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap Syifa.


"Sudah jam berapa ini?" Tanyanya pada Syifa.


“Jam 12.14" sahut Syifa. Bram tidak sadar kalau sudah siang. la terlalu hanyut dalam pekerjaannya.


"Pasti kamu selalu lupa makan kalau aku gak datang kesini bawain kamu makanan: ucap Syifa Bram hanya nyengir tak berdosa.


"Kamu itu jangan sibuk-sibuk, Bram. Kalau kamu sampai lupa makan, nanti kamu sakit Dan kalau kamu sakit kan aku yang repot" omel Syifa pada Bram Bram hanya memamerkan giginya yang putih.


"Itu sudah kewajiban kamu sebagai istri. Kalau aku sakit, kamu yang ngurusin aku" ucap Bram menarik lengan Syifa hingga Syifa terduduk di pangkuan Bram.


"Makanya kamu jangan sampai lupa makan. Pacaran terus sih sama kertas-kertas dan laptop" ucap Syifa kesal masih sedikit membentak Bram.


"Iya, sayang. Duh perhatian banget sih istri aku ini. Aku jadi mau-" ucapan Bram terpotong.


"Mau apa hah?" Sambar Syifa dengan garangnya. Bram jadi makin gemas dengan istrinya ini.


"Mau cium kamu, maksudnya: ucap Bram Syifa langsung menutup mulutnya sebelum Bram menciumnya secara tiba-tiba.


"No way!" Syifa menggelengkan kepalanya. Bram menatapnya bingung.


"Kenapa, sayang?"


"Kamu itu kebiasaan. Ini kantor" ucap Syifa. la takut ada orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Bram, seperti Angga misalnya.


"Memang kenapa kalau ini kantor? Orang-orang sini bahkan sudah tahu kalau yang aku cium itu istri aku sendin bukan istri tetangga." Ucap Bram yang gemas dengan Syifa. Bahkan Syifa masih saja malu jika Bram menciumnya di tempat umum.


"Tapi kan aku tetap aja-" Bram langsung membungkam bibir Syifa dan menciumnya dengan lembut.


Syifa langsung terdiam saat Bram melepaskan


tautannya.


"Kan kamu jadi gak berisik lagi" ucap Bram terkekeh

__ADS_1


"Bram!" Syifa langsung mencubit pinggang Bram dengan gemasnya membuat Bram terkikik kegelian.


"Aw.. Sakit, sayang" ucap Bram.


"Kamu itu nyebelin banget" Syifa mencubit pinggang Bram dengan gemas lagi. Bram terkekeh.


"Aw. Sudah dong. sayang. Kamu membuat adik kecil aku terbangun nanti" ucap Bram. Syifa langsung menarik tangannya dan bergidik ngeri


"Kamu kenapa diam?" Tanya Bram dengan senyuman menggodanya. Ia tahu, Syifa diam pasti karena ucapannya.


"Gak apa-apa" sahut Syifa dengan wajah datar


"Hmm. Aku jadi ingin melakukan itu. Sudah lama kita melakukan itu. Sepertinya di meja kerjaku juga gak masalah" ucap Bram menggoda Syifa.


"Apa maksud kamu?" Syifa tidak mengerti apa yang Bram katakan.


"Melakukan itu" sahut Bram singkat.


"Melakukan apa?" Bram gemas sekali. Syifa selalu saja lola jika la membahas yang satu itu.


Bram menyelipkan rambut Syifa ke belakang telinga Syifa kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Syifa dan berbisik.


"Program membuat anak, sayang" bisik Bram yang langsung membuat Syifa memelototkan matanya.


"Apa?" Sahut Syifa. Bram hanya tersenyum tidak jelas seraya menaik-turunkan alisnya.


"Aku cekik kamu sekarang juga kalau kamu mau melakukannya disini" ancam Syifa dengan tatapan garangnya.


"Gak kok, sayang. Aku bercanda" Bram terkekeh melihat wajah garang Syifa yang membuatnya lucu.


"Aku bakal senang terus kalau ada kamu setiap


Hari nemenin aku kerja" sahut Bram.


"Ayo, makan." rengek Syifa yang tidak


mempedulikan ucapan Bram barusan.


"Iya, iya ayo" ucap Bram mengalah. Karen berdiri dari pangkuan Bram.


Mereka berdua meninggalkan ruangan kerjaan Bram untuk mengisi perut


Sekitar tiga puluh menit mobil yang Bram kemudikan, tiba di salah satu restoran Italia atas permintaan Syifa. la sangat ingin makan pizza saat ini.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Bram sambil membuka buku menu ditangannya.


"Aku mau big cheese pizza, pepperoni pizza.


lasagna- "Syifa menyebutkan semua keinginannya. Bram langsung memotong ucapan Syifa .


"Stop. Nanti siapa yang mau habiskan semuanya?" Tanya Bram. la sendiri tidak masalah jika Syifa memesan banyak bahkan rela membeli satu restoran sekaligus jika Syifa yang memintanya. Masalahnya, ia keberatan jika makanan itu tidak habis.

__ADS_1


"Hmm. Kamu" sahut Syifa langsung menunjuk Bram.


"Aku? Enak aja. Aku gak mau makan pizza atau pasta" Bram menggelengkan kepalanya


"Terus kamu mau pesan apa?" Tanya Syifa.


"Aku mau lettuce salad dan potato salad aja" ucap Oliver Karen sudah tahu lika Oliver suka sayur, alias vegetarian.


"Cuma itu aja? Mana bikin kenyang?" Ucap Syifa.


"Kan aku pesannya dua salad" sahut Bram tak mau kalah. Namun bagi Syifa, porsi segitu tidak membuatnya kenyang.


"Oke. Aku mau pesan pizza semuanya" ucap Syifa.


"Dua porsi dengan 8 slice aja. Jangan semua jenis pizza disini kamu beli" ucap Bram dengan tegas.


"Padahal aku mau semua jenis pizza itu". Syifa menggerutu kecil.


"Nanti gak habis, sayang makanannya" ucap


Bram .


"Baiklah. Tuan Oliver James Joseph" sahut Syifa dengan kesalnya. Bram hanya mampu terkekeh melihat ekspresi kesal Syifa.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Syifa sudah menahan air liurnya saat melihat double cheese pizza yang terlihat menggiurkan.


"Selamat makan." Ucapnya lalu mengambil satu slice pizza double cheese itu dan melahapnya. Sedangkan Bram memakan lettuce salad nya.


Syifa makan pizza itu dengan lahap. Sudah empat slice pizza double cheese dan pepperoni yang ia makan secara bergantian.


Syifa sudah menghabiskan kedua salad nya. la pun menvesap wine khas Italia vana la pesan Syifa yang melihat Bram minum wine, dirinya jadi ingin wine. Seumur hidupnya Syifa tidak pernah mencoba berbagai jenis alkohol termasuk wine yang diminum Bram.


"Bram, aku mau coba dong" ucap Syifa. Bram mengernyitkan dahinya.


Coba apa?"


"Itu. Wine yang kamu minum" sahut Syifa.


"Tidak" sanggah Bram dengan tegas. Syifa langsung cemberut


"Kenapa gak boleh?" Tanya Syifa. Sewaktu dulu ia juga tidak diperbolehkan kakaknya saat melihat Dion minum wine.


"Ini berbahaya buat kamu." Ucap Bram Walaupun wine yang diminumnya sekarang dengan kadar alkohol yang rendah namun ia tetap tidak akan memberinya pada Syifa.


"Aku coba sedikit aja. Pasti gak berbahaya" pinta Syifa dengan tatapan memohon.


"Tidak Kamu minum saja cappuccino yang kamu pesan. Itu lebih baik" ucap Bram dengan tegas.


"Please. Bram . Aku gak pernah minum itu. Papa dan Kak Dion juga selalu melarang aku minum itu" ucap Syifa dengan tatapan memohonnya.


"Tidak. Sekali aku bilang tidak ya" tidak ucap

__ADS_1


Bram membuat Syifa tak bisa menolaknya lagi.


"Dasar menyebalkan!" Umpat Syifa kesal lalu memakan kembali pizza nya


__ADS_2