JODOH PILIHAN PAPA

JODOH PILIHAN PAPA
Bagian 18 Ombak Bawa Pergi Lukaku


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kebahagiaan yang pernah aku raih kini telah tiada, dia pergi bersama dengan derasnya air mata yang di bawa oleh aliran kesedihan.


Keadaanku sekarang tidak seperti dulu lagi, hati yang dulu cerah kini mendung. Kupandangi cincin pemberiannya yang melingkar di jari manis tangan kiriku membuat air mataku menetes dan kenangan_kenangan lainnya yang tak kuasa aku pandang.


Aku mengambil sebuah kotak_kotak kecil yang berada di dalam laci meja belajarku, aku memasukkan semua pemberian darinya termasuk cincin ini sebagai hadiah terakhir darinya.


Tepat pada pukul 15.45 setelah aku sholat adzar, aku menuju laut yang tak jauh dari perumahan rumah kakakku lalu aku lemparkan kotak itu ke dalam laut. Begitu beratnya tanganku untuk melemparkannya, sama seperti beratnya hatiku pisah darinya.


Kupandangi kotak yang berwarna merah itu di atas ombak besar yang semakin jauh semakin kecil. Aku berharap perasaan cinta dan kasihku akan segera hilang seperti hilangnya kotak_kotak itu di bawa ombak.


@@@


Tak kuasa aku menahan air mataku. Sekarang aku sudah dewasa, tidak seharusnya aku larut dalam kesedihan seperti ini. Mama dan Papa tetap bersamaku. Mereka tidak pernah bosan denganku.


Aku menghubungi papa untuk memberitahukan apa yang sedang aku alami sekarang. Namun papa tidak memberiku respon sama s’kali, dia hanya mengalihkan pembicaraan yang menyuruhku untuk tetap fokus dalam pelajaranku karena beberapa hari lagi aku seminar proposal.


Walau itu menyakitkan, tapi ada manfaatnya juga bagiku. Aku harus tetap fokus pada seminarku


Tiga hari berlalu. Hari ini adalah hari seminarku, aku telah mempersiapkan mental dan otakku. Walau aku masih larut dalam kegalauan tetapi itu tidak menghalangi semangatku untuk ikut ujian.


Setelah aku tiba di kampus, aku melihat di sana ada Wiwi’ dan Arwin yang sedang menanti kedatangannku. Aku segera menghampiri mereka, dan Arwin memberiku ucapan selamat dan doa agar ke duanya cepat nyusul.


Aku melangkahkan kakiku menuju ruang seminar. Arwin yang membantuku untuk memasang LCDnya. Setelah siap aku di suruh untuk berdoa semoga semuanya berjalan lancar karena kebetulan juga salah satu dosen sebagai audience dalam seminarku belum masuk ruangan. Aku berbincang_bincang dengan dosen lainnya sambil menunggu audience yang lain.


Di tengah perbincanganku, tiba_tiba audience yang di tunggu akhirnya datang. Dengan dinginnya hatiku saat aku melihatnya, sepertinya orang itu tak asing di mataku. Dia adalah pak Arsyad, aku tidak pernah menyangka kalau dia yang akan menjadi audience di seminarku hari ini. Aku mencoba untuk bersikap tegar walau hatiku lemah.


Beberapa menit kemudian, setelah aku memaparkan semua materi seminarku, pertanyaan mencuak dari audience, dan pak Arsyad saat itu tetap dalam tundukannya, sementara yang lain mengajukan pertanyaannya. Setelah aku tampung pertanyaan, aku mencoba untuk menjawabnya sesuai kemampuan dan pemahamanku dan Alhamdulillah semuanya clear, tetapi satu pertanyaan dari pak Arsyad yang membuatku sedikit bingung, ternyata di balik tundukannya tadi dia sedang memikirkan pertanyaan yang sulit untuk aku jawab, tetapi aku tidak menyerah. Aku mencoba untuk menjawabnya walau aku tidak yakin bahwa dia akan menerima jawabanku karena dia sukanya berdebat. Semua tanggapannya yang berupa pertanyaan aku jawab walau jawabanku tidak sempurna.


Beberapa waktu kemudian setelah seminarku selesai, diadakannya sesi pengambilan gambar. Beberapa gambar yang di ambil namun tak satu pun gambar pak Arsyad yang ada. Aku merasa bersyukur dia tidak ikut dalam sesi ini.


Aku merasa lepas dari satu bebanku, akhirnya seminarku selesai juga. Saatnya aku melanjutkan penelitianku.


Dengan berjalannya penelitianku di sebuah pesantren, aku merasa lebih tenang karena aku bisa berbagi dengan adik_adik. Penelitianku mengobati rasa galauku.


Aku mendapat banyak perubahan selama aku penelitian, rasa galau yang aku pikung selama ini kini perlahan pudar. Aku mengerti akan indahnya kehidupan bersama orang banyak, bukan hanya pada satu orang. Menghadirkan banyak orang di hatiku akan membuatku lebih bahagia.

__ADS_1


***


Sebulan setelah penelitianku, jadwal ujian skripsiku telah di tentukan dan aku akan segera menjadi sarjana pada bulan ini juga. Kabar bahagia untuk kedua orang tuaku dan juga keluargaku yang lain.


Beberapa hari setelah aku ujian, aku menyempatkan diriku untuk menemui kedua orang tuaku dan membawakan kabar bahagia ini. Rasa syukur yang tiada henti_hentinya aku panjatkan, di mana Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memberikan kebahagiaan pada mereka.


Beberapa hari terlewatkan tanpa ada kegiatan, kunikmati my free day di tanah kelahiranku dan besok aku harus pergi lagi menyiapkan acara wisudaku di kampus.


Aku menyebar undangan kepada semua kerabatku, dan juga dosen_dosen yang kukenal. Arwin dan Wiwi salah satu teman seperjuanganku di kampus namun aku mendahuluinya untuk menjadi seorang wisudawati.


Wiwi bertanya padaku mengenai undangan untuk para dosen, dan aku pun menjawab bahwa aku telah menyebar undangan di fakultas untuk para dosen yang kenal denganku.


Hari esok tiba. Aku berada di sebuah gedung yang sangat besar dan mewah, aku menggandeng tangan papa dan papa menuju tempat itu dengan penuh kebahagiaan.


Ini makna dari kesedihanku, Setelah aku tenggelam dalam kesedihan, kini saatnya aku berjalan lagi di atas kebahagiaan.


Di dalam gedung itu serasa penuh nikmat yang tiada akhirnya. Nama dan nilai telah di sebutkan untuk para wisudawan terbaik dan saatnya untuk wisudawati terbaik. Aku merasa terharu saat namaku pertama di sebut dengan nilai IPK 3.90. Saat nama Putri Anindia Hasan di sebut, papa dan mama yang duduk di kursi bagian depan tak kalah heboh. Hadirin pada saat itu juga ikut menghebokan dengan tepuk tangannya. Di balik kehebohannya mereka di landa dengan haru yang penuh bahagia, mereka tak kuasa menahan air matanya melihat putri bungsunya yang manja menjadi seorang wisudawati terbaik seuniversitas.


Ribuan wisudawan dan wisudawati yang ada dalam gedung itu hanya aku yang di beri kesempatan untuk mewakili mereka menyampaikan kesan dan pesan kepada orang_orang yang berjaza dalam hidup kami.


Dengan bangganya aku berdiri di depan para hadirin dari para keluarga dan orang tua wisudawan dan wisudawati di gedung mewah ini untuk mengucapkan rasa syukur kepada Allah, ucapan terimah kasi kepada orang tua kami yang senantiasa mendoakan kami dalam setiap sujudnya, dan juga ucapan terimah kasi kepada seluruh dosen_dosen dan para pembimbing kami di kampus, dan juga kepada kakak dan teman_teman yang selalu membantu kami di kala kesusahan.


Akhir kata, aku menyanyikan sebuah lagu spesial untuk kedua orang tuaku yang duduk selurus dengan panggung dimana aku berdiri. Di tengah laguku tak kuasa aku menahan air mataku yang tak lain dari air mata kebahagiaanku. Aku menghampiri mereka di tempat duduknya lalu mencium dan memeluknya, para hadirin di gedung saat itu sangat terharu melihat kebahagiaan kami.


Selepas mereka dari pelukanku, mereka kembali duduk dan aku pun berlutut di hadapan mereka dan menunduk kebawah di mana letak kaki mama lalu aku menciumnya. Surga ada di telapak kaki ibu, setelah aku lepas dari kakinya, aku kembali memeluknya dan berbisik mengucapkan rasa terimah kasi untuk kesekian kalinya, begitupun aku lakukan untuk papaku tercinta.


Make up ku sudah tidak di wajahku lagi, dia di lunturkan dengan derasnya air mata. Aku tidak khawatir mengenai itu.


Setelah acara wisuda selesai di gedung itu, aku kembali ke rumah bersama keluarga besarku dengan penuh bahagia di atas mobil Agya berwarna merah milik kakakku. Tak lupa mereka membercandaiku tentang kelanjutan hubunganku dengan kak Arsy, aku belum memberitahu mereka kalau kami break. Kakakku bilang bahwa katanya tadi kak Arsy datang di gedung itu untuk menyaksikanku di atas panggung, namun dia tidak bisa berlama_lama karena katanya dia punya urusan.


Aku hanya melemparkan senyum manjaku pada mereka dan memberitahu kalau memang dia akhir_akhir ini selalu sibuk dan waktunya hanya sedikit untuk aku.


Aku kembali berbohong di depan keluargaku, tapi kebohongannku ini juga punya tujuan untuk menjaga suasana kebahagiaanku, karena kapan aku bercerita tentang itu, maka akan memperburuk keadaan. Walau sebenarnya aku telah bercerita ke papa, tapi pada saat itu papa sama s’kali tidak memberi respon.


Sekitar setengah jam kemudian, kami sampai di rumah. Ayla yang duduk di dekatku sedang nyenyak dengan tidurnya. Aku menggendongnya masuk dan membaringkannya di kamarku.

__ADS_1


Suasana rumah kakakku pada saat itu sangat ramai dengan tamu undanganku. Semua teman_teman kelasku datang meramaiakan acaraku.


Arwin dan Wiwi adalah teman dekatku di kampus, mereka bertanya akan keberadaan kak Arsy.


Dimana pak Arsyad kenapa tidak muncul.? Tanya Arwin,


Mungkin dia sibuk, jawabku singkat.


Putri, kamu punya undangan kan untuk dia.? Tanya Wiwi’.


I.i.iyya punya.. Jawabku gugup dan berusaha untuk tidak memperburuk keadaan, aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu, walau mereka curiga.


Aku harap mereka tidak memperburuk suasana kebahagiaanku hari ini. Aku memang belum menceritakan masalahku pada mereka karena aku terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk bercerita tentang itu, karena menurutku ini butuh waktu yang tepat dan suasana pun mendukung.


Suasana pun semakin ramai dengan hadirnya semua dosen_dosen yang akrab denganku bahkan yang tak akrab pun datang meramaikannya.


Aku merasa sangat bangga dengan kedatangan meraka semua, dan yang paling membuatku bangga saat aku melihat mobil pak Dekan berhenti di depanku, aku lalu berdiri dan mencium tangannya sebagai tanda hormatku padanya.


Aku mempersilahkan semua tamu dosen untuk segera masuk.


Beberapa waktu kemudian, tiba_tiba suara mobil yang berhenti di depan di rumah serasa tidak asing di telingaku.


Mau tidak mau aku harus keluar dan menjemput siapa yang datang, walau sebenarnya aku sudah tahu tapi aku pura_pura tidak tahu agar mereka tidak curiga. Melihat dia turun dari mobilnya dengan penampilannya yang tak pernah berubah yang selalu kelihatan rapi dan bersih. Aku hanya melemparkan senyum padanya dan mempersilahkannya masuk. Dia pun meraih tangan kananku di sela_sela waktu yang tidak tepat bagiku. Aku melepaskan tanggannya dan menyuruhnya untuk masuk.


Aku pikir dia memang orang baik, meski aku tidak seperti dulu lagi tetapi dia tidak pernah memutuskan tali silaturrahimnya kepada orang tuaku yang tak lain dari keluarganya sendiri. Seandainya dia seperti laki_laki lain yang punya rasa malu dan gensi pasti dia tidak akan datang di acaraku ini, tetapi dia pikir betapa tidak enak hatinya ketika dia tidak datang menemui kedua orang tuaku yang sedang berbahagia dengan kebahagiannku. Aku rasa dia datang bukan karena aku, tetapi karena papa dan keluarga lainnya.


Betapa hebohnya mereka dengan canda tawanya di ruangan tamu. Pak dekan dan dosen_dosen lainnya sedang asik pula dengan perbincangannya bersama papa dan kedua kakakku.


Aku merasa sangat beruntung. Aku harap ini terus berlanjut untuk acara_acaraku selanjutnya. Aku akan mempertanhankan kebanggaan mereka. Berjuang dan terus berjuang untuk mencapai titik kesuksesan, ini baru jalan menuju kesuksesanku. Proses, perjuangan, doa dan usaha yang akan membantuku dan kesuksesan pun akan menanti datangnya diriku meraihnya.


Sebulan setelah aku Wisuda, seorang pengajar di sebuah tempat kursusan mewarkanku untuk bekerja sama dengannya, dan sekaligus aku sebagai mentor. Kursusan itu tak lain dari kursusan yang di dirikan oleh kak Arsy bersama teman_teman alumninya, tetapi dia tidak terlalu aktif di sana karena beberapa hal dan dia serahkan pada temannya kak Arfan. Kursusan itu di beri nama The In’crease Skill Course. Aku berfikir keras untuk menolak penawaran itu. Namun hatiku juga sangat berat untuk menerimanya, tetapi mereka sebenarnya membutuhkanku, apalah arti ilmuku jika hanya aku tampung dalam otakku. Dengan hati yang berat aku menerimanya, ini semua karena rasa kasihanku kepada member_membernya yang membutuhkan ilmu.


Walau ini pekerjaan ringan dan kecil tetapi aku berfikir ini awal pekerjaanku, memang tak semudah itu untuk mendapat pekerjaan yang langsung besar, semuanya di awali dari kecil. Seperti diri kan tidak langsung besar, awalnya kita kecil dulu. Begitu pun dengan kesuksesan, di awali dari kecil.


Di sela_sela waktu mengajarku di kursusan, tak lupa juga aku luangkan waktu untuk junior_juniorku di kampus. Walau sebenarnya sudah ada penerusku di comunitas yang aku dirikan beberapa waktu lalu tetapi itu tidak akan mengurangi ketidakpedulianku terhadap mereka.

__ADS_1


Aku punya hak untuk menjenguk mereka walau sekali saja dalam dua minggu atau sebulan.


Aku merasa memiliki banyak waktu kosong jika aku hanya sibuk dengan kedua tempat nongkrongku. Aku mencoba memasukkan berkas di stasiun radio yang sama s’kali tidak nyambung dengan jurusanku, tetapi sebenarnya itu cita_cita utamaku sebagai pekerja di dunia broadcasting dan jika aku di terima aku akan jadikan sebagai pelajaran dan juga pengalaman dalam dunia broadcasting. Sehingga suatu saat nanti aku merasa berpengalaman dengan pekerjaan broadcasting, sehingga aku tidak minder untuk mencoba di stasiun TV nanti.


__ADS_2