
Tubuhku terasa lelah aku segera merebahkannya di atas kasur tempat tidurku. Aku merasa capek banget untuk hari ini karena kuliahku full dan aku seharian di kampus. Aku segera istirahat dengan menyempatkan mataku tidur sejenak sebelum magrib tiba, tetapi tiba_tiba saja handphoneku berdering tanda telfon. Aku segera mengambilnya dari dalam tasku dan ternyata mama yang menelfonku. Aku senang s’kali. Aku bercerita banyak ke mama dan juga papa. Rasa capek dan lelahku yang tadi aku rasakan kini telah hilang. Betapa hebatnya seorang ibu dan juga ayah yang mampu menghilangkan rasa capek dan lelah yang aku rasakan. Betapa bahagianya diriku walau hanya suara mereka yang menemaniku sore ini.
Sekitar setengah jam aku berbicara dengan mereka. Setelah telfonnya tutup, aku mengecek BBM dan tertera nama Arwin di deretan pesan. Aku pun segera membalasnya.
Awalnya isi chat itu hanya basa_basi saja. Aku mencoba mengganti profil BBMku dengan fotoku bersama Wiwi’. Aku ingin memastikan perasaan Arwin terhadap Wiwi’, tetapi saat itu tidak ada komentar tentang fotoku dari Arwin. Chatku dengan Arwin aku pending sementara karena aku waktu magrib telah tiba.
Setelah aku sholat aku kembali mengecek handphoneku tetapi tidak ada balasan dari Arwin. Pas aku lihat Arwin update status tiga menit yang lalu, dan statusnya galau. Aku mencoba mengomentarinya. Beberapa lama kemudian Arwin membalasnya dan mulai curhat_curhatan. Isi curhatannya sepertinya memang dia sedang menyukai seseorang entah itu siapa. Aku juga tidak bisa langsung menebak gitu aja karena Arwin juga tidak memberitahu asal_asul orang yang dia curhatkan. Aku berfikir bahwa aku salah tebak, sepertinya bukan Wiwi’ yang dia suka karena apa yang dia curhatkan tidak sesuai dengan sikap Wiwi’. Arwin mengatakan bahwa orang itu sudah punya pacar. Sedangkan Wiwi saat ini tidak punya pacar. Aku mencoba bertanya siapa orang itu dan aku pun menggodanya bahwa aku akan mendekatmu dengan orang itu, tetapi dia masih tidak mau memberitahuku.
Sekian lamanya aku BBMan dengan Arwin, tiba_tiba sms masuk dan sms itu dari pak Arsyad, tetapi aku tidak membalasnya karena sebenarnya aku tidak suka dengan hubunganku saat ini.
Aku masih melanjutkan chatku dengan Arwin. Tiba_tiba pak Arsyad menelfonku, aku hampir tidak mengangkatnya karena aku merasa malu, tetapi di sisi lain aku juga merasa tidak enak dengannya.
Aku mengangkatnya. Ini komunikasi keduaku lewat telfon dengannya. Aku tidak banyak bicara saat ini, aku hanya diam dan menunggu dia bertanya, namun tak ada satu pun kata yang dia ucapkan. Aku mencoba memulainya dengan berdehem. Barulah dia bertanya, tetapi aku tetap saja diam. Sekitar tiga menit telfon itu berlangsung tetapi belum ada yang memulai pembicaraan akhinya aku tutup telfon itu. Awalnya aku pikir bahwa dia akan menelfon lagi, tapi ternyata tidak, entah kenapa. Aku pun tidak mempermasalahkannya, itu maunya dia kan.
__ADS_1
Beberapa lama kemudian, setelah aku sholat Isya, barulah dia menelfon. Aku mulai angkat bicara dengannya walau cuma sekata. Awalnya aku tidak tahu mau bicara apa, tetapi aku berusaha untuk membuat diam itu menjadi suara dengan pertanyaan_pertanyaanku yang mungkin menurutnya tidak pantas aku tanyakan, tetapi sebenarnya pertanyaan itu penting bagiku. Dia pun mulai bersuara, suaranya lewat telfon sangat berbeda ketika dia menjelaskan di kelas juga cara bicaranya yang layaknya bukan dosen. Aku kembali mengajukan satu pertanyaan buatnya sebelum pertanyaan_pertanyaan tadi dia jawab. Pertanyaan satu ini menurutku lebay. Bagaimana tidak, aku bertanya tentang akan panggilanku terhadapnya ketika ngobrol denganya, dan dia pun menyuruhku untuk manggil dia “sayang” Lebay kan. Iyuu....
Aku begitu ilfell mendengarnya. Seumurku aku tidak pernah memanggil sayang kepada laki_laki, baik papa atau pun kakakku apalgai kepada dia. Aku memberitahunya tentang hal ini, namun dia hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia cuma bercanda. Aku bilang, serius pun aku tidak akan memanggilnya “sayang”. Iiiihhhh sayang apa sih. “Modus” yang hanya terucap dari bibir bukan dari hati.
Mendengar aku berkata seperti itu, sepertinya dia tidak terima. Dia bilang bahwa sesuatu yang kita ucapkan itu tergantung untuk orang yang di tujunya, misal kata “Sayang” , ketika mengucapkan kata sayang untuk orang yang kita sayang berarti itu dari hati, beda loh ketika kata sayang itu hanya untuk orang biasa saja. Aku hanya diam sebagai tanda mengalahku, menurutku ini bukan hal yang penting untuk di perdebatkan.
Setelah kata “sayang” kelar, aku memutuskan untuk memanggilnya kakak, dan memintanya untuk tidak membahas itu lagi.
Sepanjang obrolanku dia tetap berbicara layaknya orang baru puber. Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku pun segera mengutarakan keinginannku bahwa aku ingin kita bicara sesuai dengan umur. Aku tidak suka dengan tingkahnya yang kekanak_kanakkan. Dia pun menerimanya, dan mulai saat inilah dia berbicara begitu serius dengan sopan, begitu bijaknya dia dengan semua kata_katanya. Aku baru merasa lega dan nyaman ngobrol dengannya karena setiap perkataannya aku bisa jadikan pelajaran. Aku pun meminta untuk memotivasiku, dan semua itu dia lakukan.
Obrolanku dengannya berlanjut sampai tengah malam karena aku merasa nyaman, beda dengan sebelumnya. Dia memintaku untuk segera tidur, tetapi aku meminta untuk di ceritakan sebuah cerita hasil karangannya. Namun permintaanku yang satu ini dia tidak lakukan, dia meminta untuk bernyanyi saja.
Dia menyanyikan lagu bahasa inggris dengan judul First Love yang sengaja dia ciptakan sebagai karyanya. Aku sangat suka dia bernyanyi. Setelah satu lagu selesai sebagai pengantar tidurku, dia segera menutup telfonnya.
__ADS_1
Keesokan harinya, saat aku di kampus aku melihat pak Arsyad dari jauh, namun aku pura_pura tidak melihatnya. Aku tidak ingin ada rasa kecewa di hatiku ketika aku bertemu secara dekat tanpa ada rasa peduli karena aku tidak suka bila aku di cuekin.
Setiap kali aku bertemu di kampus, baik dia yang melihatku ataupun aku yang melihatnya dari jauh, aku tidak akan menatapnya karena aku takut ada rasa sedih ketika dia tidak peduli dengannku karena seperti yang dia katakan bahwa jangan pernah ada sapaan yang menandakan bahwa kita punya hubungan lebih dari seorang mahasiswa dan dosen.
Ketika dia sedang mengajar di kelas, sekalipun dia tidak pernah melihat wajahku begitupun denganku. Ketika absen aku hanya melambaikan tangan dan biasanya dia itu hanya menyebut Anindia Hasan, dia tidak menyebut Putri. Entah ada apa dengan nama awalku. Teman_temanku selalu bertanya dengan hal ini, tapi aku hanya mengangkat bahuku sebagai tanda tidak tahuku.
Dia sama s’kali tidak pernah menatapku apalagi memanggilku Putri ketika di kelas. Selalunya Anindia yang dia sebut, atau bahkan dia memanggilku dengan nama papaku Hasan.
Aku selalu menyakan tentang nama panggilanku yang dia pindahkan ketika aku ngobrol lewat telfon dan katanya nama Anindia lebih berarti daripada nama Putri. Dia tidak mau menyebut nama Putri ketika di kelas karena rata_rata di kelas aku di domisili perempuan dan perempuan itu selalu di namai putri dan dia merasa bahwa ketika menyebut nama Putri itu semua merujuk pada teman_temanku yang perempuan, sedangkan dalam kelas itu hanya ada satu putrinya, yaitu aku. Dengan itulah dia tidak ingin menyebut nama Putri ketika di kelas karena Putrinya hanya aku.
Mendengar jawabannya yang sekaligus sebagai gombalannya, aku merasa semakin terbuai dengan sikapnya itu. Ada benarnya alasan yang dia kemukakan memindahkan nama panggilanku Anindia.
@@@
__ADS_1